DARI LANGIT - 45
DaLaM BEBERaPa tahun terakhir kita melihat perubahan dramatis dalam hubungan timurBarat. Kegagalan besar ko munisme dan dampakdampaknya merupakan salah satu peris tiwa politik dan ekonomi yang paling penting di abad kita.

Peristiwa penting lain dalam beberapa tahun terakhir ini adalah merosotnya Third-Worldism. hal ini mengubah hubungan ekonomi antara utara dan Selatan. Perubahan ini tidak dr amatisdan terjadi sepanjang 1980an hampir tanpa ledakan besar, tanpa revolusi.

Perubahan ini memperluas lingkup pasar duniabanyak negara Dunia Ketiga, yang terbiasa melindungi pasarnya, kini membuka pintunya dan menyatukan dirinya ke dalam kapit alisme global. Perubahan ini juga mengubah sikap banyak pe mimpin Dunia Ketiga terhadap praktikpraktik bisnis dan akumulasi modal dunia.

Di Dunia Ketiga, kebijakankebijakan yang berorientasi ke luar sekarang ini menjadi umum. Dampakdampaknya mungkin tidak sebesar runtuhnya komunisme. Namun jika pengalaman baru di hampir setengah penduduk dunia ini berhasil, seluruh dunia akan menjadi lebih baik.

Esai ini akan menjabarkan bagaimana Third-Worldism muncul dan mengapa ia merosot. Kegagalan Third-Worldism se bagai sebuah gagasan, atau sebuah ideologi, menurut saya, me rupakan salah satu faktor yang menjelaskan kemero sot annya.

Munculnya Third-Worldism

Dunia Ketiga, sebagai sebuah gerakan internasional, mulai pada pertengahan 1950an. Secara formal, ia dilancarkan oleh negaranegara asia, afrika, dan amerika Latin untuk mengungkapkan netralitas dan independensi mereka dari dua super power dunia yang saling bersaing. Dunia Ketiga ingin dilihat sebagai sebuah kekuatan pada dirinya sendiri, dengan kepentingankepentingannya sendiri.

apa yang mendasari gerakan ini adalah kekecewaan yang semakin besar pada sejarah pascakolonialnya: Dunia Ketiga melihat bahwa kemiskinan dan ketakberdayaannya terus berlanjut. Pada tahuntahun awal kemerdekaan mereka, banyak negara Dunia Ketiga dipenuhi dengan optimisme bahwa mereka akan segera ke luar dari kemiskinan mereka. Dekade 1950an membuktikan bahwa optimisme ini hanyalah ilusi: alihalih modernisasi ekonomi, apa yang dialami negaranegara ini adalah kemerosotan ekonomi.

Dengan kata lain, Dunia Ketiga merupakan sebuah gerakan yang dilancarkan bukan hanya untuk mengungkapkan netralitas politik, melainkan jugadan ini yang lebih penting untuk me nemukan cara untuk ke luar dari persoalanpersoalan kemis kin an dan ketidakberdayaan di asia, afrika, dan amerika Latin.

Dalam hal ini, apa yang diinginkan Dunia Ketiga tersebut adalah suatu penjelasan yang sistematis tentang kemiskinan dan ketidakberdayaan mereka yang berkanjang. Ia memerlukan suatu ideologi untuk menjelaskan mengapa kemerdekaan politik mereka tidak melepaskan mereka dari berbagai kesulitan mereka (Bissel, 1990: 24). Selain itu, dalam hal hubungannya dengan negaranegara lain, para pemimpin Dunia Ketiga membutuhkan suatu agenda internasional yang jelas yang bisa menarik perhatian dunia pada berbagai penderitaan yang dipi kul oleh rakyat mereka.

Jawabannya ditemukan dalam analisis teoriteori dependensia dan sistemdunia. teoriteori ini muncul dalam panggung intelektual dunia pada saat Dunia Ketiga tersebut perlu menegaskan sejarah pascakolonialnya dan tempatnya di arena internasional.

terdapat beberapa varian dalam aliran dependensia dan

juga dalam aliran sistemdunia tersebut. Bagi sebagian pemikir, seperti andre Gunder Frank, misalnya, satusatunya cara bagi Dunia Ketiga untuk memecahkan berbagai persoa lannya adalah dengan melancarkan sebuah revolusi menyeluruh untuk melepaskan perekonomiannya dari perekonomian imperialistik negaranegara utara yang kaya. Bagi sebagian yang lain, seperti Prebisch dan Wallerstein, revolusi tidak diperlukan karena nasib Dunia Ketiga bisa ditingkatkan jika sistem tatanan perekonomian internasional yang ada bisa diubah dan diperbarui kembali.

Namun, terdapat gagasangagasan tertentu yang samasama diyakini oleh teoriteori ini. Bagi aliran dependensiayang mendasarkan banyak asumsinya terutama pada gagasangag asan Marx dan Leninkapitalisme global, dengan utara se bagai in tinya, menciptakan hubungan ketergantungan yang, dalam rumusan Gunder Frank, hanya meningkatkan keter be lakangan Dunia Ketiga. Sistem kapitalisme [global], tulis Paul Baran (1957: 249), yang pernah menjadi suatu mesin per kem bang an ekonomi yang begitu kuat [di utara], telah berubah menjadi beban yang sangat besar bagi kemajuan [di Dunia Ketiga].

Dunia Ketiga, menurut aliran dependensia, secara sistematis dihisap dan dihalangi untuk berkembang oleh utara yang kaya, kapitalis, industrial. Perdagangan internasional, bantuan ekonomi, dan perusahaanperusahaan multinasional merupakan mekanismemekanisme atau lembagalembaga yang melayani kepentingan utara untuk merampok kekayaan Dunia Ketiga. Paling banter, apa yang dilakukan utara untuk membantu mengembangkan Dunia Ketiga adalah sematamata mem perkaya beberapa kelompok orang yang, pada gilirannya, menghisap warga Dunia Ketiga yang lain.

Bagi aliran sistemdunia, struktur sistem ekonomi internasional secara inheren menghalangi Dunia Ketiga untuk menjalankan perdagangan yang menguntungkan dengan utara. alir an ini berpendapat bahwa syaratsyarat perdagangan antara utara dan Dunia Ketiga cenderung semakin menguntungkan yang pertama dan merugikan yang kedua. Demikianlah Dunia Ketiga dipaksa untuk mengekspor komoditaskomoditas primer dalam jumlah yang sangat besar untuk membiayai impor barangbarang manufakturnya dari utara. Dengan kata lain, pertukaran yang tidak seimbang ini, menjebak Dunia Ketiga dalam lingkaran keterbelakangan ekonominya.

Dengan demikian, bagi aliran dependensia dan sistemdunia ini, apa yang harus dilakukan Dunia Ketiga adalah melindungi dirinya sendiri sejauh mungkin dari utara yang imp erialistik atau dari ketidakseimbangan perdagangan in ter nasional. Secara domestik, pemerintah Dunia Ketiga harus melindungi pasarnya dan memajukan industri nasionalnya dengan mengambil langkahlangkah proteksionis dan dengan menjalankan kebijakankebijakan penggantiimpor. Secara internasional, Dunia Ketiga harus bersatu untuk memaksa utara menerima aturanaturan dan prosedurprosedur internasional baru yang menguntungkan atau setidaknya tidak merugikan kepentingan ekonomi Dunia Ketiga.

Sebagaimana yang telah kita lihat, teoriteori ini tampak memberikan suatu penjelasan yang kurang lebih menyeluruh tentang persoalanpersoalan dasar yang dihadapi oleh Dunia Ketiga terkait dengan kemiskinannya dan ketidakberdayaannya dalam hubungan ekonomi internasional. teoriteori ini memberikan berbagai penjelasan yang saling terkait dan yang bisa diubah menjadi tindakan politik dan program ekonomi.

Selain itu, teoriteori ini bisa memuaskan hasrat Dunia Ketiga untuk memahami dirinya sendiri sebagai entitas yang dihisap, dan yang kemiskinan dan ketidakberdayaannya bukan disebabkan oleh dirinya sendiri melainkan oleh orang lain. Karena itu, dengan menerima teoriteori ini para pemimpin politik Dunia Ketiga bisa menghubungkan kemiskinan dan ketidakberdayaan negaranya dengan bekerjanya kekuatankekuatan politik dan ekonomi global.

Semua itulah alasan mengapa teoriteori ini diterima luas oleh para pemimpin Dunia Ketiga. teoriteori ini menjadi tulangpunggung teoretis dari apa yang seringkali disebut sebagai Third-Worldism, yang umum terdapat di Dunia Ketiga sepanjang 1960an dan 1970an.

tentu saja terdapat beberapa negara, terutama di asia timur dan tenggara, yang tidak menerima gagasan ThirdWorldism ini dari awal (misalnya, Singapura, Korea Selatan, hong Kong, thailand). Namun, gagasan ini tersebar luas mulai dari India dan Indonesia hingga Brasil, argentina, dan tanzania di beberapa negara (misalnya India, Brasil, dan tanzania) gagasan ini diterapkan sepenuhnya; di beberapa negara yang lain (mi salnya Indonesia dan Malaysia) gagasan ini umumnya dig u nakan sebagai retorika oleh para penguasa untuk memperluas dukungan politik dalam negeri dan memperkuat posisi inter nasionalnya.

Jadi, selama 1960an dan 1970an, di asia, afrika dan amerika Latin, kebijakankebijakan seperti nasionalisasi, penggantiimpor, dan redisribusi ekonomi berdasarkan garis populis dan antikapitalis berlaku. Menurut John Grimmon dari the Economist (13/11/1993), untuk menjalankan kebijakankebijakan itu pemerintahanpemerintahan Dunia Ketiga meng ambil risiko defisit bujet yang sangat besar dan menetapkan angkapertukaran yang tinggi.

Secara internasional, panggung utama Third-Worldism adalah forumforum dan konferensikonferensi PBB. Nada yang diungkapkan oleh para pemimpin Dunia Ketiga dalam forumforum dan konferensikonferensi ini seringkali konfrontatif.

Dalam hal ini, usahausaha Dunia Ketiga untuk me ningkatkan kepentingannya terwujud: uNCtaD dibentuk; utara menerima tawaran untuk menambahkan seksiseksi perda gangan dan pembangunan baru dalam kesepakatan Gatt; dan perlakuan istimewa dijalankan oleh semua negara maju (Spero 1977). Semua ini sangat substansial, meskipun bagi sebagian besar negara Dunia Ketiga hal itu dianggap kurang memunculkan hasilhasil yang memuaskan. Seksi baru pada Gatt tersebut, misalnya, memberikan kesempatan yang lebih besar bagi Dunia Ketiga untuk menjual produkproduk mereka di utara dan menutup lebih banyak pasar domestiknya karena, untuk alasan pembangunan, mereka diizinkan untuk tidak dikenakan penerapan prinsip nondiskriminatif.

Merosotnya Third-Worldism

Pada akhir 1970an dan sepanjang 1980an keadaan mulai berubah. Pada masa ini menjadi lebih jelas bahwa Third-Worldism tersebut tidak membawa Dunia Ketiga ke manamana. Berhadapan dengan berbagai kesulitan ekonomi dalam negeri, banyak negara Dunia Ketiga mulai melakukan reformasi dan internasionalisasi perekonomian mereka.

Selain itu, selama masa ini Dunia Ketiga terpaksa menerima kenyataan bahwa, alihalih konfrontasi, kerjasama dengan utara lebih realistik untuk memecahkan persoalan kemiskinan dan ketakberdayaannya.

Sebelum kita bergerak lebih jauh membahas perubahan ini, penting untuk diingat bahwa Third-Worldism, sebagai sekumpulan pengetahuan, pada dasarnya tidak meyakinkan. Popularitasnya yang begitu luas di Dunia Ketiga, sebagaimana yang dijelaskan Peter Berger (1986), pada dasarnya bukan karena keunggulankeunggulan teoretisnya, melainkan karena alasanalasan di luar lingkup wacana akademis. Peter Berger dengan jelas mengemukakan alasan nonakademis dari popularitas Third-Worldism ini:

Jika akarakar keterbelakangan tersebut dicari di luar masyarakat sendiri, seseorang seringkali terhindarkan dari introspeksidiri yang menyakitkan (dan memalukan), dan seseorang mendapatkan kambinghitam eksternal yang sangat memuaskan. Kombinasi motif politik dan psikologis ini cukup memadai untuk menjelaskan popularitas pandangan Third-Worldism ini di Dunia Ketiga (Berger, 1986: 128).

Sebagai sekumpulan pengetahuan, Third-Worldism tidak meyakinkan karena banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Third-Worldism mengatakan bahwa jika seorang kapitalis New york atau London mengakumulasi modalnya di Dunia Ketiga, ia melibatkan dirinya dalam sebuah proses imperialistik. Ia hanya merampok kekayaan Dunia Ketiga. Namun bagaimana jika seorang kapitalis New york mengumpulkan modalnya di Eropa Bagaimana jika seorang kapitalis Eropa atau Singapura berinvestasi di New york, apakah itu imperialistik Lebih jauh, bagaimana dengan hubungan di antara negaranegara nonkapitalisjika perekonomian Kuba atau Korea utara sangat bergantung pada perekonomian uni Soviet atau Cina (sebagaimana yang terjadi sebelum komunisme runtuh), apakah ini juga merupakan suatu hubungan ketergantungan, dan jika ya, mengapa hal ini terjadi tanpa kapitalisme Baik Wallerstein, Prebisch, maupun Gunder Frank tidak dapat memberikan jawaban bagi pertanyaanpertanyaan penting ini.

Bagaimana dengan Jepang Jika memang ada korban imperialisme, kata Berger, itu adalah Jepang (1986: 128). Keber hasilan modernisasi pertamanya terjadi selama masa Meijihal ini merupakan hasil langsung dari agresi imperialis, ke tika Kommodor Perry pada 1853, dengan todongan senjata, memaksa rakyat Jepang untuk membuka pintu mereka bagi penetrasi kapitalis. Mukjizat kedua Jepang terjadi setelah Perang Dunia II, di bawah kolonialisme militer amerika, dan di bawah bantuan langsung dan berskalabesar ekonomi amerika. Mengapa hal ini terjadi Jika hubungan ketergantungan memang mencegah suatu negara dari modernisasi ekonomi, bukankah kita sekarang seharusnya melihat Jepang sebagai salah satu negara termiskin di dunia

Selain pertanyaanpertanyaan yang tidak terjawab ini, Third-Worldism tidak meyakinkan sebagai suatu kumpulan pengetahuan karena terdapat banyak cacat di dalamnya. Ia melihat hubungan dagang sebagai suatu hubungan zero-sum. Ia juga mendorong mentalitas antibisnis dan antiperdagangan di kalangan politisi dan perencana ekonomi di Dunia Ketiga. Ia menjadikan orangorang di Dunia Ketiga gagal mengakui bahw a di zaman kita perdagangan internasional dan pasar inter nas ional merupakan potensi yang menunggu untuk dimanfaatkan dan dijelajahi dengan kreativitas kita.

Third-Worldism menyesatkan orangorang di Dunia Ketiga dengan membuat mereka melihat persoalan kemiskinan mereka terutama sebagai persoalan merosotnya perdagangan komoditas primer mereka. Ia gagal menunjukkan pada Dunia Ketiga bahwa persoalan utama bagi masa depannya adalah bagaimana mengubah perekonomiannya dari produsen komoditas primer menjadi produsen barangbarang manufaktur (lihat Gilpin 1987: 288). Dengan kata lain, Third-Worldism menanamkan pesimisme, bukan optimisme.

Secara teoretis, harga produkproduk primer cenderung me nurun dari waktu ke waktu, bukan terutama karena monopoli di utara atau karena hubungan imperialistik antara pihakpihak yang terlibat dalam perdagangan, melainkan karena perubahan teknologis dan perkembangan industri. Karena itu, merosotnya perdagangan komoditas primer hendaknya tidak terlalu dicemaskan sebuah negaraapa yang seharusnya ia lakukan adalah berkonsentrasi dalam meningkatkan daya saing globalnya dan membuka dirinya pada dunia untuk mengembangkan basis teknologi dan industrinya.

Cacat lain dari Third-Worldism bisa dilihat pada anjurannya untuk melakukan nasionalisasi dan penggantianimpor. Kedua langkah ini, jika sepenuhnya dijalankan, hanya akan sangat memperbesar campurtangan birokrasi. hal ini akan menciptakansebuahperekonomianyangsangattidakefisien.Dalamhal penggantian impor, tidak ada penjelasan yang meyakinkan yang diberikan oleh Third-Worldism. Selain itu, seluruh perusahaan penggantiimpor pada dasarnya sangat mahal bagi konsumen maupun pemerintahyang terakhir ini harus menga mbil risiko mengalami defisit bujet yang sangat besar untukmem bayar perusahaan ini.

terdapat kasuskasus di mana Third-Worldism membantu memberikan telur emas ke beberapa negara Dunia Ketiga. Sebagai contoh adalah keberhasilan Brasil, argentina, dan Meksiko pada 1960an dan awal 1970an. Dalam periode itu GDP per kapita negaranegara ini meningkat lebih dari 5% per tahun. Namun, keberhasilan ini ternyata tidak bertahan lama: pada 1980an perekonomian negaranegara ini runtuh (lihat Grimmond 1993; Crook 1989). Dalam periode ini utang mereka meningkat tajam, inflasi melambung, dan GDP per kapitamerosot.

Bagi sebagian besar negara Dunia Ketiga yang percaya pada gagasan Third-Worldism, telur emas yang dinikmati oleh Meksiko, argentina dan Brasil selama 1960an dan awal 1970an tersebut tidak pernah datang. Sebagian besar dari negara tersebut tidak pernah mengalami suatu periode pertumbuhan ekonomi yang cepat. Sebaliknya, andil keseluruhan mereka dalam ekspor barangbarang manufaktur dunia menurun.

Selain itu, bagi semua negara ini, akhir 1970an dan 1980an benarbenar merupakan suatu periode yang sangat buruk: karena kenaikan harga minyak dan resesi global yang terjadi tibatiba (pada awal 1980an), perekonomian mereka terpuruk dalam krisis yang sangat dalam. Bagi negaranegara ini, periode ini seringkali disebut dekade yang hilang.

Krisis inilah yang menyebabkan Third-Worldism menjadi kurang populer. Negaranegara Dunia Ketiga, pada awal 1980an, mulai melakukan reorientasi diri dan mengambil langkahlangkah yang tidak sesuai dengan Third-Worldism. Dunia Ke tiga mulai lebih membuka perekonomian mereka terhadap in ves tasi asing dan mengubah orientasinya dari perekonomian penggantiekspor ke perekonomian yang lebih berorientasi eks por.

Selain krisis ekonomi ini, ada satu faktor lagi yang tidak boleh dilupakan, yang juga menjelaskan mengapa ThirdWorldism menjadi semakin tidak populer. Pada awal 1980an, men jadi semakin jelas bahwa apa yang terjadi di asia timur dan tenggaradi mana Third-Worldism tidak pernah dianggap se bagai suatu gagasan yang bagusadalah suatu mukjizat ekonomi.

Selama 1960an dan 1970an, sementara sebagian besar per ekonomian Dunia Ketiga terseokseok, negaranegara asia timur dan tenggara ini mengalami angka pertumbuhan yang menakjubkan (sekitar 67% per tahun pada 1970an, dan 89% pada paruh kedua 1980an). Negaranegara ini, yang secara konsisten menjalankan kebijakan berorientasi ekspor, memperlihatkan kepada dunia bahwa Selatan atau Dunia Ketiga bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari perdagangan dan hubungan dekat dengan kapitalisme global. Mukjizat negaranegara ini pada dasarnya merupakan contoh tentang betapa menyesatkannya Third-Worldism (harris 1986; Bissel 1990; Berger 1986).

Masa Depan

Pada 1990 Third-Worldism tidak lagi populer di Dunia Ketiga. Sebagian besar negara penting di Dunia Ketiga kini mereformasi perekonomian mereka. Di sini kebijakankebijakan seperti deregulasi, devaluasi, serta debirokratisasi kini dijalankan untuk mengikis warisanwarisan lama Third-Worldism. Kini mereka lebih membuka diri kepada dunia.

Beberapa negara (seperti Meksiko) sangat berhasil dalam menjalankan reformasiperekonomian mereka bisa ke luar dari krisis 1980an dan mulai kembali tumbuh pada awal 1990an. Sebagian negara yang lain (seperti negaranegara di asia Selatan) masih harus menunggu bahwa langkahlangkah mereka dalam meninggalkan Third-Worldism membuahkan hasil.

Bagi pemerintahan di Dunia Ketiga, reformasi adalah sebuah pertaruhan. Jika hal ini tidak segera memperbaiki standar hidup orangorang di jalanan, pemerintah akan ditumbangkan. Reformasi akan menjadi kematian secara politik jika rakyat menganggap bahwa hal itu hanya meningkatkan beban kehidupan mereka. Third-Worldism, dalam satu atau lain ben tuk, akan kembali jika pertaruhan reformasi ini gagal.