Para ibu bapa dan guru yang berbahagia, ada sebuah pertanyaan besar dan sangat menarik buat kita. Mengapa perguruan yang begitu besar, terkenal, dan disegani tersebut tidak berjaya mempertahankan kewujudannya Apa yang salah dengan sistem pendidikan perguruan Shaolin tersebut sehingga dari zaman ke zaman prestasi dan ilmu silat dari para pelajarnya semakin menurun.
Penelusuran akhirnya dilakukan ke makam para suhu dan pegawai Shaolin. Setiap makam suhu ditandai oleh menara yang bertingkattingkat. Semakin tinggi tingkat menaranya, semakin tinggilah ilmu suhu tersebut. Namun, dari makam-makam itu juga diketahui bahawa dari setiap generasi ke generasi berikutnya, menara makam setiap suhu terus menurun, dan semakin kurang ketinggiannya. Terlihat jelas perbezaan yang mencolok antara menara dari makam suhu generasi pertama dengan makam para suhu di generasi terakhir.
Setelah lebih jauh diteliti, ternyata di perguruan silat Shaolin ada tradisi bahawa sang mahaguru tidak akan pernah menurunkan ilmunya secara menyeluruh kepada muridnya, bahkan murid kesayangannya sekalipun. Selalu sahaja ada ilmu yang tidak diturunkan. Demikianlah tradisi ini berlanjutan secara turuntemurun sehingga dari generasi ke genarasi kualiti keilmuannya semakin menurun, hinggalah akhirnya lenyap ditelan zaman.
Hal ini terjadi kerana, konon katanya, para suhu tidak ingin muridmuridnya lebih unggul dari dirinya sendiri. Jika seorang guru berjaya dikalahkan oleh muridnya, hal itu akan sangat memalukan bagi para suhu di sana.
Mari kita bayangkan jika fenomena ini juga terjadi kepada guruguru di tempat anak-anak kita bersekolah. Bagaimana jika para guru sering berasa tersinggung oleh pertanyaan murid-muridnya yang kritis sehingga akhirnya guru lebih menempatkan dirinya sebagai suhu yang tidak dapat diganggu gugat dan berasa selalu benar. Mereka bukannya menempatkan diri mereka sebagai suhu atau guru yang memberi tempat supaya pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut terus berkembang, untuk menguak kes-kes atau bidang-bidang keilmuan yang belum berhasil dijawab pada zaman sang guru dulu bersekolah.
Kita para guru dan ibu bapa bukanlah orang yang paling benar dan yang paling tahu segalanya, apalagi yang paling tinggi ilmunya. Berilah kesempatan agar ilmu itu terus berkembang dari generasi ke generasi. Para guru dan ibu bapa tidak perlu berasa rendah diri jika anak murid kita akhirnya jauh lebih hebat dari kita.
Bukan begitukah seharusnya sistem pendidikan dirancang Bukan begitukah seharusnya kita para guru dan ibu bapa berperanan Sebagaimana mendiang Plato yang telah menjadikan para muridnya untuk boleh lebih hebat dari dirinya sendiri.
Apakah masa-masa Renaissance kembali berulang pada zaman ini Apakah ilmuwan-ilmuwan berkaliber seperti Newton boleh kita lahirkan kembali pada abad ini Para ibu bapa dan guru yang berbahagia, mari kita renungkan.
Guru dan ibu bapa bukanlah orang yang paling benar dan yang paling tahu segalanya, apalagi yang paling tinggi ilmunya.