Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 46
kau berjanji tak akan turut serta

memakan plecing

sebagai peneman baronang yang dibakar matang orang-orang yang dengan lahap mengunyah daun kangkung yang sudah disiang lupa rumah dan kata

jalan-jalan semakin sepi

karena angin mengabarkan barat siwa

pohon-pohon yang digoda seperti lelaki yang kian kurang beriman melihat dada bak dua matahari baru

atau kita berpisah, bila pedas dan harum tumisan

bumbu

setelah ditambahkan tomat, garam dan gula pasir

membuatmu lupa

hubungan kita kian lama kian layu bila di atas tungku, api yang terlalu gebu dan kau abai memaknai ombak kemarin

yang tiba-tiba terdampar melawan hukum muara

di sungai brang biji itu

alangkah, kita cukupkan hidup dengan aroma amis ikan

yang pandai berenang meski mendengar kabar dari utara hidup yang singkat akan percuma

bila tak sanggup melawan arus

siapa pun, kau, yang telah berjanji tak akan turut serta

memakan plecing kangkung

ingatlah, dalam satu hasta, kita telah berjanji untuk tidak mengumbar pandangan mata dan bersabar menanti wajah udara

mengusir bekas asap dan arang

dari ikan bakar di meja makan kita

dari godaan sukar di janji cinta kita