Negaranegara industri menghasilkan penghasilan du nia (The economist, 25/09/1993). Dengan kata lain, negaranegara ini adalah satusatunya kelompok negara yang mampu menc ipta kan permintaan yang tinggi atas barang dan jasa Du nia Ketiga. Ini lah alasan mengapa jika negaranegara industri maju tersebut me ngurangi permintaan mereka, karena berbagai alasan (misalnya: resesi atau proteksionisme), Dunia Ketiga akan menderita.
Dari perdagangan Dunia Ketiga bisa memperoleh matauang asing yang diperlukan untuk membeli mesin dan teknologi dari negaranegara industri maju itu, yang sangat penting untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih baik. Jika proses eksporimpor ini terus berjalan dalam jangka panjang, Dunia Ketiga akan menjadi lebih baik.
Kaum strukturalis atau para teoretisi dependensia benar, namun karena alasan yang salah. Sebagaimana yang dikem ukakan Pollins (1988: 57), terms of trade produkproduk primer Dunia Ketiga memang menuruntapi produkproduk primer bukan merupakan satusatunya barang yang bisa dibuat dan dijual Dunia Ketiga: mereka bisa bergeser ke produksi modern dan membuat barangbarang manufaktur atau semimanufaktur. Jika pemerintah Dunia Ketiga bisa menjalankan perekonomian yang bagus dan membangun lingkungan yang probisnis, dan bisa mendapatkan pertolongan yang masuk akal dalam hal keuangan eksternalnya, proses pergeseran ke produksi ekonomi modern bukan sesuatu yang mustahil. Dengan kata lain, perdagangan, pada dirinya sendiri, tidak mengodratkan Dunia Ketiga menjadi pecundang. Perdagangan, sebagaimana yang diyakini kaum liberal, merupakan suatu permainan positive-sum (Gilpin, 1987: 172180).
Sejarah tiga dekade terakhir ini memberi kita suatu contoh yang sangat jelas dari asumsi sederhana dan properdagangan ini. Negaranegara paling berhasil di Dunia Ketiga (yakni naganaga besar dan kecil asia timur dan tenggara) adalah negaranegara yang lebih bergantung pada ekspor barang dan jasa ke negaranegara industri (harris, 1986). Sebaliknya, negaranegara yang mengalami berbagai masalah sejak akhir 1970an (sebagian besar di amerika Latin dan afrika) adalah negaranegara yang sangat bergantung pada mekanisme penggantiim por atau pada orientasi swadaya (The economist, 23/09/1989).
Dengan demikian, dari asumsi properdagangan ini, kita dapat berkata bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan untuk mem bantu Dunia Ketiga adalah memelihara dan memperluas rezim perdagangan yang menjamin aliran barang dan jasa yang lebih bebas dari Dunia Ketiga ke negaranegara industri, dan sebaliknya. Dengan kata lain, apa yang harus kita lakukan adalah memperkuat rezim perdagangan liberal dunia. Dalam hal ini, tugas yang paling mendesak yang harus dilakukan dunia industri adalah menegaskan kembali Gatt sebagai tulangpung gung hubungan perdagangan kita.
Prinsipprinsip Gatt (misalnya, perjanjian nondis kri minasi) memungkinkan negaranegara Dunia Ketiga untuk se cara otomatis mendapatkan keuntungan dari konsesi dan tawarmena war yang dilakukan di antara negaranegara besar. Selain itu, Gatt mencegah negaranegara kuat untuk secara selektif member lakukan beacukai atau kebijakankebijakan lain yang mer ugi kan pihakpihak yang lebih lemah. Dengan de mikian, Gatt, da lam ungkapan Feinberg dan Boylan, meru pakan pelindung ter baik pihak yang lemah [yakni Dunia Ketiga] (1992: 194).
Dalam dua dekade terakhir Gatt diperlemah oleh beberapa kecenderungan baru dalam ekonomi dunia kita. Beberapa contoh di antaranya: pertama, proteksionisme baru (misalnya rintanganrintangan nontarif dan proteksionisme sektoral) sekarang ini lebih sering dijalankan oleh negaranegara besar. Buktibuktinya sangat meyakinkan: sebagai contoh, pada 1980 proporsi barang manufaktur terhadap rintangan nontarif adalah 20%, pada 1983 hal ini meningkat hingga sekitar 30% (Gilpin, 1987: 192). Kecenderungan kedua adalah pembentukan blokblok ekonomi regional. ada tandatanda bahwa blokblok ini akan menjadi pulaupulau yang dilindungi oleh temboktembok perdagangan (thurow 1993: 2766).
Sangat jelas bahwa jika kecenderungankecenderungan ini terus berlanjut, korban pertama adalah pihakpihak terlemah dunia kita (yakni Dunia Ketiga). Karena itu, jika negaranegara kaya menegaskan sekali lagi prinsipprinsip mulia Gatt, hal itu dilakukan juga demi kepentingan Dunia Ketiga.
tentu saja, untuk memperbaiki kehidupan Dunia Ketiga, tidak cukup jika kita hanya bersandar pada satu mekanisme (yakni perdagangan bebas). Sematamata perdagangan bebas tidak memadai. Negaranegara industri juga harus mengurangi kecenderungan matauangmatauang utama (dollar, yen, dan mark) menjadi terlalu tidak menentu. Jika nilai dollar atau yen terusmenerus naik turun dalam jangka waktu yang relatif pendek, para pengekspor dan pengimpor Dunia Ketiga akan sangat kesulitan untuk merancang suatu rencana jangka panjang. Selain itu, sebagaimana yang diperlihatkan oleh peristiwaper istiwa pada awal 1980an, perubahan mendadak nilai matauang utama (dalam kasus ini nilai dollar naik) akan menjerumuskan ba nyak negara Dunia Ketiga ke dalam persoalan keuangan besar.
Penting juga untuk membantu keuangan eksternal Dunia Ketiga dan juga memberi bantuan untuk membangun infrastruktur ekonomi mereka. Dalam hal ini kita bisa melihat suatu kecenderungan yang menarik dalam keuangan internasional: bangkitnya (dalam bentukbentuk baru) aliran modal swasta ke Dunia Ketiga (The economist, 25/09/1993). Pada 1981, ketika aliran modal kotor ke Dunia Ketiga adalah $156,9 miliar, proporsi pinjaman bank komersial dan pinjaman resmi sangat tinggi (46,1% dan 26%). Sekarang ini (1992), ketika aliran modal ke Dunia Ketiga adalah $229,2 miliar, proporsi FDI (Foreign Direct Investment), surat obligasi, PE (Portfolio equity), dan dana bantuan dari sumbersumber keuangan swasta meningkat pesat.
Semua ini berarti bahwa Dunia Ketiga kini bisa kurang ber sandar pada pinjaman bank komersial, yang seringkali di sertai dengan bunga tinggi. hal ini juga berarti bahwa risiko modal yang dipinjam oleh Dunia Ketiga sekarang ini tersebar secara lebih aman. Dan yang paling penting: hal ini berarti bahwa se karang ini terdapat tekanan yang lebih besar bagi pem e rintah an di Dunia Ketiga untuk mereformasi kebijakan me reka (yak ni tidak banyak campurtangan dalam perekon omian). Para investor swasta tidak akan masuk ke negaranegara di mana ter dapat terlalu banyak aturan antibisnis yang di berlakukan oleh pemerintah yang sangat aktivis. hal ini sangat penting, ka rena salah satu persoalan yang paling mendasar dari negarane gara Dunia Ketiga bisa dilihat dari kenyataan bahwa pem erintah mereka (yang sebagian besar tidak kom peten) terlalu ikut campur dalam perekonomian. Dengan kata lain, bentukbent uk keuangan internasional yang baru ini bukan hanya me ngurangi risiko dan biaya modal, melainkan juga memaksa pe merintah di Dunia Ketiga untuk menjalankan ref ormasi ekonomi demi menciptakan suatu lingkungan bisnis yang lebih ber sahabat dan kondisi makroekonomi yang stab il.
Karena itu penting bagi negaranegara industri untuk mendorong kecenderungan baru dalam keuangan internasional ini. hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, namun yang paling penting, sebagaimana dikemukakan oleh Clive Crook dari The economist, adalah bagaimana negaranegara industri menjaga rumah mereka sendiri tetap tertib. Jika, misalnya, suku bunga di aS naik secara dramatis (karena pemerintah menghisap sebagian besar uang untuk membayar utangnya yang semakin besar), yang menjadikan para investor keuangan berpikir bahwa lebih baik memindahkan uang mereka ke sebuah bank di New york ketimbang membeli surat obligasi beberapa perusahaan di Malaysia atau Peru, kecenderungan internasional baru ini akan berbalik, dan sangat mungkin Dunia Ketiga sekali lagi akan terperosok ke dalam persoalan besar dan tidak mampu membayar utang mereka.
Penting dicatat bahwa kita tidak dapat membantu apapun jika negaranegara Dunia Ketiga tidak membantu diri mereka sendiri. Dalam dunia perdagangan liberal, mereka yang memiliki kinerja yang lebih baik akan bertahan. untuk melakukan hal itu, mereka harus mempraktikkan prinsipprinsip ekonomi yangbernas(misalnya,pembatasanfiskal,inflasiyangrendah,angka pajak yang masuk akal). Seperti yang telah saya kemukakan di atas, kecenderungan baru dalam keuangan inter nasional tersebut sekarang ini memaksa pemerintahanpe merintahan di Dunia Ketiga untuk melakukan hal ini. Namun pe ngaruh eksternal ini hanya sebagian dari cerita: apa yang juga diperlukan adalah motivasi dan tekad internal negaranegara Dunia Ketiga. Mereka yang tidak memiliki motivasi dan tekad ini akan menjadi pecundang dalam dunia baru kita.
Memang ada beberapa negara Dunia Ketiga (sebagian di afrika SubSahara, dan sebagian di asia Selatan) yang, menurut beberapa pemikir, bagaimanapun juga akan menjadi pecundang. Lihat saja negaranegara di afrika SubSahara. Banyak dari mereka yang masih berada dalam keadaan alamiah, dalam pengertian bahwa masingmasing kelompok suku di satu negara ingin menggorok tenggorokan satu sama lain dalam memecahkankonflikkonflikpolitik,ekonomi,danbudaya.Selainitu, banyak di antara mereka samasekali tidak memiliki sumberdaya ekonomi dan sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan untuk mulai membuat sesuatu untuk diekspor. Lester thurow, dalam bukunya yang menarik, Head to Head, menulis lelucon ini: jika karena alasan tertentu tuhan menghadiahi anda afrika SubSahara untuk anda perintah, satusatunya pilih an yang cerdas adalah mengembalikannya lagi kepadanya.
Bagi negaranegara ini (Dunia Ketiga di dalam Dunia Ketiga) mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan, paling tidak untuk sementara ini. Kita mungkin bisa memberikan bantuan kemanusiaan. Kita juga bisa memberikan pinjaman pem bangunan yang murah. Namun semua usaha mulia ini akan siasia, kecuali jika negaranegara ini mulai menjauh dari keadaan ala miah mereka.