MEMORIA - 47
Matamu menarikan ritmik seribu rintik

Seperti ketika hujan perlahan-lahan jatuh

Membasahi tubuhmu juga matamu nan lentik.

Menarilah hingga genderang ini pecah kutabuh!

Berkisar tentang cinta dan kesetiaan masa lalu,

Matamu mengembalikan padaku kenangan;

Saat cinta menjelma duka dan tangis pilu

Juga bahagia, canda ria, dan kesenangan.

Kerling itulah yang kelak menghentikan gerimis

Ketika matahari sudah lelah berpura mati.

Pelangi pun bangkit dengan warna miris

Dan sinar pagi menjelma tajam belati!

Tetapi kaulah cinta yangselalu seperti pagi

Bersinar dan menjanjikan; harapan tak pernah pergi.

(Naimata, 9 Juni 2010)