YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 47
Alhamdulillah, sore ini saya bisa menulis lagi. Sebenarnya, banyak materi yang bisa ditulis beberapa hari ini. Namun, keterbatasan waktu saja yang belum mengizinkan saya memencet huruf-huruf yang ada di laptop saya.

Minggu lalu, ada beberapa momen yang mampu menyadarkan saya, betapa berharganya hidup ini. Kembali untuk menyadari betapa kita ini makhluk yang lemah, tak berdaya. Kita tidak tahu kapan masa edar kita di dunia ini akan berakhir. Sungguh teramat merugi jikalau masa yang sebentar ini kita sia-siakan.

Rabu siang pukul 12.09, ada SMS masuk ke handphone saya. Saya lihat pengirimnya adalah staf Quality Control (QC) saya, sekaligus teman baik saya. Umurnya 13 tahun lebih tua dari saya. Rumahnya tidak jauh dari rumah saya dan masih satu desa.

Bunyi smsnya, Maaf, Pak Wantik. Hari ini saya tidak bisa masuk kerja, karena istri saya harus opname di rumah sakit.

Ibadah Itu Gampang

Komunikasi kami lantas berlanjut dengan beberapa SMS berikutnya.

Lebih dari 3 tahun, istri teman saya ini sakit. Dan sakitnya termasuk berat. Mula-mula tekanan darah tinggi, lama kelamaan gagal ginjal. Akibat dari sakit ini, kedua matanya pun sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Dalam 6 bulan terakhir, dia harus cuci darah 2 kali dalam tiap minggunya. Mula-mula cuci darahnya di RS Sarjito Jogja, baru 3 bulan terakhir di RSUD Sukoharjo.

Praktis, teman saya ini harus mengantar bolak balik ke rumah sakit. Saya bisa membayangkan betapa berat posisi dia sebagai seorang suami yang juga harus mengasuh dua anak perempuannya. Saya salut karena dia kuat dan mampu menjalaninya dengan sabar.

137

Sore hari sekitar pukul 17.00, saya mendapat kabar, istrinya koma. Ya Allah, segera saya bersiap diri untuk menjenguknya. Sesampai di rumah sakit, saya lihat kondisinya memang sudah berat. Dari hasil cityscan, pembuluh darah di kepalanya sudah pecah. Saya diberitahu oleh kakaknya kalau kaki dan tangannya juga sudah mati.

Tidak lama saya di ruang perawatan, azan Isya berkumandang. Segera saya bergegas ke masjid di area rumah sakit tersebut. Setelah sholat, saya doakan yang terbaik untuk istri kawan saya.

Pukul 03.00 dini hari, saya sudah terbangun. Tak lama, handphone saya bergetar. Perasaan saya sudah tidak enak. Jangan-jangan SMS dari teman saya. Ternyata bukan. Sehabis Tahajud, saya pun berangkat ke masjid untuk Sholat Subuh.

Sepulang dari masjid, ketika saya membuka pintu, handphone saya bergetar, ada panggilan masuk. Saya lihat ternyata panggilan dari teman saya.

Dengan menangis, dia mengabarkan, Pak, semah kula sampun mboten wonten (Pak, istri saya sudah meninggal). Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Karena saya orang pertama yang dikabari, segera saya bergegas meluncur ke rumahnya untuk memberitahu keluarga dan tetangga lainnya. Setelah itu, saya berangkat ke rumah sakit untuk membantu pengurusan pemulangan jenazah.

Setelah Sholat Jumat, prosesi pemakaman dimulai. Saya lihat anak pertamanya histeris. Seakan-akan belum bisa menerima kenyataan kalau ibunya telah diminta pulang oleh Yang Mahahidup. Sementara anak yang kedua terlihat lebih kuat.

Pikiran saya kembali ke 31 tahun silam, ketika ayah saya meninggal. Saya bisa membayangkan betapa berat perasaan ibu saya saat itu. Beliau harus membesarkan kelima anak-anaknya yang masih kecil, sendirian. Tak terasa air mata saya ikut menetes. Inilah hidup. Hidup ini bukan milik kita, tapi milik Dia Yang Mahahidup.

04 Februari 2015

Peristiwa ini terjadi pada Februari 2007, sepulang saya pergi haji. Sehari setelah sampai di rumah, saya dihubungi lewat telepon oleh adik saya. Intinya, saat itu dia dalam kesulitan besar karena

terlilit utang yang banyak. Nilainya fantastis, lebih dari Rp500 juta.