DARI LANGIT - 47
(Bagaimana Peter Berger Bergerak ke Kanan)

SOSIaLISME DaN KaPItaLISME, sebelum Gorbachev mulai mengikis ajaranajaran dasar sosialisme pada pertengahan 1980an, dianggap sebagai dua pilihan paham yang saling bersaing bagi pembangunan di Dunia Ketiga. Memang, setelah Perang Dunia II, salah satu persoalan utama dalam pembangunan Dunia Ketiga berkenaan dengan persoalan apakah sosialisme atau kapitalisme, atau perpaduan dari keduanya, yang merupakan cara tercepat dan teraman untuk ke luar dari kemiskinan dan ketertinggalkan.

Salah satu teoretisi sosial besar yang mencoba untuk membahas persoalan sosialisme dan kapitalisme jika diterapkan di Dunia Ketiga adalah Peter L. Berger. Pada 1974, bukunya, pyramids of Sacrifice (Basic Books), diterbitkan. Dalam buku ini Berger menulis bahwa baik kapitalisme maupun sosialisme telah mengakibatkan korban manusia yang begitu besar di Dunia Ketiga. Kedua ideologi atau model pembangunan ini bukannya tanpa mitosmitos; dan berbagai mitos ini harus ditolak. Posisinya netral: baik sosialisme maupun kapitalisme bisa ditolak, atau diterapkan, jika kalkulus penderitaan dan kalkulus makna diperhitungkan. Dua belas tahun kemudian, ia menulis sebuah buku lain, Capitalist Revolution (Basic Books). Di sini ia memperlihatkan bahwa ia telah meninggalkan pos isi sebelumnya. Ia berkata bahwa bagi Dunia Ketiga, kapitalisme secara moral merupakan pertaruhan yang lebih aman. Ia menjelaskan bagaimana kapitalisme telah menghasilkan kekuatan produktif terbesar dalam sejarah manusia dan bag aimana kisah sukses kapitalisme di Eropa timur merupakan suatu kabar buruk bagi Marxisme. Pendeknya, dalam buku ini, sebagaimana yang ia tulis sendiri, ia bergerak ke kanan.

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menjabarkan gagasangagasan Berger dalam bukubuku di atas. Fokus saya adalah gagasan Berger tentang kapitalisme dan sosialisme dan pe nerapan mereka dalam Dunia Ketiga. Saya juga akan berusaha melihat mengapa Berger meninggalkan netralitas dan bergerak ke kanan.

Piramida Korban

Gagasan kapitalisme tentang pembangunan, bagi Berger, pada dasarnya merupakan suatu proyeksi universal dari Mimpi ame rikasebuah visi tentang keberlimpahan ekonomi dalam konteks demokrasi politik dan masyarakat kelas yang dinamis (hlm. 38). Karena itu, bagi para pemimpin Dunia Ketiga yang percaya pada cara pembangunan ini, apa yang mereka janjikan kepada rakyat mereka adalah keberlimpahan materiil dan kebebasan politik. Namun bagi Berger, gagasan bahwa pembangunan kapitalis di Dunia Ketiga dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat umum adalah sebuah mitos (mitos pertumbuhan, yang tertanam dalam suatu mitologi kemajuan dan modernitas yang menyeluruh) [hlm. 39]. Dan sebagaimana yang kemudian akan ia tunjukkan dalam penilaiannya atas pertumbuhan ekonomi Brasil, janji akan kebebasan politik dit unda demi untuk mengejawantahkan mitos pertumbuhan. untuk mengkritik modelmodel kapitalis tersebut, Berger

mulai dari dua pertanyaan: siapa yang menetapkan model tersebut Siapa, jika ada, yang mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan tersebut Dalam menjawab pertanyaan pertama, Berger sekadar menyatakan bahwa yang menentukan model tersebut adalah para teknokrat, pengusaha, birokrat, admin istrator, dan ahliahli sosial yang lain. Masyarakat pada umumnya, yang paling terkena dampak dari keputusan mereka, sangat jarang ditanya dalam proses pembuatan keputusan.

Dalam menjawab pertanyaan kedua, ia menyatakan bahwa kecenderungankecenderungan dalam Dunia Ketiga memp erlihatkan bahwa kaum miskin tidak mendapatkan apapun: efek menetes ke bawah atau efek penyebaran samasekali tidak terjadi:

Di banyak negara Dunia Ketiga terdapat suatu distribusi yang semakin jauh berbeda dalam hal pendapatan dan kekayaan. yakni, kelaskelas bawah mendapatkan lebih sedikit, dan bukan lebih banyak, saat proses [pembangunan kapitalis] tersebut berjalan. Kondisi dasar mereka juga tidak banyak mengalami perbaikan. terdapat lebih banyak kelaparan dan penyakit sekarang ini dibanding beberapa dekade yang lalu, bukan hanya dalam kaitannya dengan angka absolut, namun bahkan ketika pertambahan populasi diperhitungkan. apa yang mencolok, di banyak negara Dunia Ketiga terdapat peningkatan pengangguran dan kekurangan pekerjaan (hlm.

47; huruf miring berasal dari teks asli).

Penting untuk dicatat di sini bahwa Berger tidak menolak gagasangagasan dari para teoretisi dependensia bahwa pemb angunan kapitalis bisa menghasilkan perkembangan bagi yang kurangberkembang. Ia bahkan menjelaskan dengan cukup panjang lebar gagasangagasan utama dari teoriteori de pendesia, tanpa mengkritiknya. Ia mengatakan bahwa terdapat berbagai kemungkinan bahwa mereka yang mendapatkan ke untungan dari proses pembangunan tersebut adalah kepentingankepentingan asing, para kapitalis lokal, dan kaum bi rokrat; dan bahwa keputusankeputusan penting dalam politik dalam negeri dilakukan di luar negaranegara Dunia Ketiga tersebut (hlm. 4753).

Berger menjadikan pembangunan di Brasil sebagai contoh dari pembangunan kapitalis. Pemerintahan militer, setelah merebut kekuasaan pada 1964, membangun negeri tersebut. Pemerintahan ini mencoba untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, dan pada saat yang sama ia juga mendedahkan kon trol otoriter pada masyarakatnya. Para teknokrat yang bekerja dengan rezim tersebut percaya bahwa kekayaan harus diciptakan sebelum hal itu dapat didistribusikan. Mereka percaya bahwa meskipun dalam jangkapendek sebagian orang akan dirugikan dan kesenjangan meningkat, dalam jangka panjang semua kelompok akan mendapatkan keuntungan.

Sebagai akibatnya, menurut Berger, Brasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Pada 1972, angka pertum buhan GNP adalah 11,3 persen. antara 1964 dan 1970, GNP meningkat 52 persen; dan dalam periode yang sama produksi industri meningkat 69 persen.

Namun pertumbuhan yang begitu besar ini, dalam pandangan Berger, ditopang terutama oleh, dan pada gilirannya juga menciptakan, perluasan industri dengan modalintensif yang begitu besar, banyak di antaranya memproduksi barangbarang konsumen yang tahan lama dan didanai dan/atau dikontrol oleh kepentingan asing. Barangbarang yang diproduksi tersebut (mobil, tV, dan sebagainya) merupakan kemewahan yang tak terjangkau oleh sebagian besar penduduk (prioritas produksi diarahkan bagi konsumsi kalangan minoritas). Modal asing yang digunakan dalam jenis industri ini menyebabkan utang nasional yang sangat besar dan jelas menghasilkan ketergantungan. Dengan demikian meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi, pengangguran meningkat. yang lebih buruk, proporsi tenaga kerja yang terlibat dalam pekerjaan industri tersebut menurun (hlm. 143).

Kesenjangan populasi juga terjadi. Pada 1970, 1/3 dari total pendapatan nasional berada di tangan 5% penduduk, sementara 40% penduduk termiskin hanya memperoleh 10% pendapatan. Dan antara 1960 dan 1970 upah minimun riil di perkirakan merosot sekitar 30% (hlm. 144).

Karena itu, bagi Berger, gambar keseluruhan Brasil adalah suatu gambar tentang dua bangsa, yang satu relatif makmur, dan yang lain berada dalam berbagai bentuk penderitaan (hlm. 144). Lima belas juta orang hidup di wilayah kemakmuran, delapan puluh lima juta di wilayah penderitaan. Pendeknya, Brasil tampak seperti sebuah Swedia yang melapisi sebuah Ind onesia dan, perlu diingat, Swedia ini bisa menghasilkan pe r tumbuhan ekonomi dari, oleh, dan untuk dirinya sendiri (hlm. 145).

Gambar keseluruhan tersebut, menurut Berger, bahkan lebih menyedihkan ketika kita melihat bahwa dalam men jalankan kebijakannya, rezim militer tersebut menindas lawanlawannya dan menunda berlakunya hakhak dan kebebasan sipil (hlm. 147). alasan utama rezim ini dalam melakukan penind asan tersebut adalah: stabilitas harus ditegakkan lebih dahulu sebelum pertumbuhan ekonomi bisa dicapai. Dari wak tu ke waktu, penindasan ini menjadi suatu tindakan untuk pe nindasan itu sendiri; ia memiliki logikanya sendiri dan ia ber beda dengan apapun yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi; ia se kadar merupakan suatu tindakan untuk me melihara ke kuasaan. Dengan demikian, penderitaan ekonomi dibarengi dengan pe nindasan politik. Secara keseluruhan, ke adaan ini me mun culkan beban yang sangat berat untuk ditangg ung oleh masya rakat umum.

Menyangkut kapitalisme, Berger mengkritik sosialisme karena kegagalannya untuk memberikan kargo yang dijanjikan pada rakyatnya. Lebih dibanding kapitalisme, sosialisme mengandung berbagai mitos: mulai dari mitos revolusi, mitos tentang orangorang terpilih (partai pelopor), hingga mitos penyela matan dari keterasingan yang ada dalam modernitas. Le bih menarik bagi para pemimpin di Dunia Ketiga untuk menggun akan model pembangunan sosialis karena ia mengan dung janjijanji emosional lebih banyak.

Model pembangunan sosialis, menurut Berger, me munculkan suatu sentralisasi birokratis dan menghalangi tiaptiap usaha untuk mencapai sesuatu. Sebagai akibatnya, model tersebut menghasilkan ketidakefisienan dan produktivitas yangrendah. Dengan kata lain, model sosialis tersebut memiliki suatu kecenderungan inheren untuk kembali pada kebiasaankebiasaanekonomiyangburukdantidakefisiensebagaimanayang ada dalam sistem sosial pramodern (hlm. 80).

Ketergantungan terjadi bukan hanya di negaranegara yang menggunakan model kapitalis, melainkan juga di negaranegara yang menggunakan model sosialis. Komunitas negaranegara sosialis berarti bahwa terdapat satu negara sosialis (uni Soviet) yang mendominasi negaranegara sosialis yang lain; dan negara dominan ini dimotivasi oleh kepentingan ekonomi negara itu sendiri, sebagaimana yang terjadi pada negara kapitalis.... (hlm. 82). Dengan demikian, sebuah negara Dunia Ketiga yang disusupi oleh kekuatan ekonomi Soviet akan melihat bahwa keputusankeputusan ekonominya yang penting tidak dibuat secara otonom, ketergantungannya terusmenerus me ningkat, keseimbangan perdagangannya buruk, dan utangnya me ningkat (hlm. 82).

Sosialisme, bagi Berger, mengandung suatu kecenderungan inheren ke arah totalitarianisme karena alasan yang sederhana: sosialisme pada dasarnya akan berusaha untuk menyerap perekonomian dalam negara, dan dengan demikian sangat me

ningkatkan potensi totaliter yang terakhir ini (hlm. 86). Karena itu, tidak mengejutkan melihat bahwa di banyak negara sosialis, termasuk negaranegara di Dunia Ketiga yang meng gunakan model pembangunan sosialis, teror digunakan sebagai alat politik yang sah.

Berger menggunakan pembangunan di Cina sebagai contoh dari pembangunan sosialis. Benar, menurut Berger, bahwa rezim sosialis Cina telah berhasil dalam mengikis kelaparan. Selama berdekadedekade, kaum sosialis (kaum komunis) adalah kelompok yang pertama membentuk suatu otoritas pusat yang kuat di seluruh negeri itu, yang memungkinkan mereka untuk menjalankan berbagai usaha untuk mengatasi kelaparan yang sangat sulit dilakukan selama ini (hlm. 156). Berger juga menjelaskan bahwa di bawah model sosialis tersebut, orangorang Cina dalam hal nutrisi dan kebutuhankebutuhan dasar menjadi lebih baik dibanding keadaan mereka sebelumnya sebelum kaum komunis berkuasa. Dan selain itu, pencapaian ini diraih tanpa kesenjangan:

[Di Cina Komunis] hampir dapat dipastikan bahwa distribusi ke untungankeuntungan ekonomi sekarang ini jauh lebih egaliter dibanding sebelum 1949. Kecuali mungkin pada para pemimpin politik yang berkecimpung dalam kemewahan Kota Imperial, tidak banyak kelompok yang secara ekonomi istimewa, dan kesenjangan pendapatan di antara kelompokkelompok pekerjaan mungkin merupakan salah satu yang terkecil di dunia (hlm. 157; huruf miring berasal dari teks

asli)

Namun bagi Berger, semua pencapaian ini harus dibayar dengan biaya manusia yang sangat besar: segera setelah berkuasa, rezim komunis tersebut menyebarkan teror pada rakyatnya, sebuah rantai teror yang mengerikan. Keyakinankey akinan dan programprogram seperti Perjuangan terusMenerus, Lompatan Besar ke Depan, Reformasi me lalui Kaum Buruh, dan Revolusi Budaya Besar Kaum Proletar, memaksa orangorang untuk menanggung pemerintahan teror. Karena itu, Berger kemudian mengatakan bahwa siapapun yang melihat pada catatan rezim komunis tersebut sejak 1949, bahkan de ngan obyektivitas yang tidak begitu besar, akan terkesan oleh jumlah penderitaan manusia yang begitu besar yang secara lang sung bisa dilacak pada tindakantindakan rezim tersebut. Ini adalah rekaman kematian, penderitaan, dan ketakutan.... (hlm. 154).

Dalam hal penindasan langsung oleh organorgan negara, Berger menulis, Brasil dibandingkan dengan Cina seperti Swiss dibandingkan dengan kekaisaran Genghis Khan. Dalam hal keadilan ekonomi, Cina dibanding Brasil adalah seperti utopia kibbutz dibandingkan Eropa pertengahan di masa jayanya feodalisme. (hlm. 162163).

Kedua model pembangunan tersebut menuntut ongkos manusianya sendiri, penderitaan manusianya sendiri. Meskipun kedua model sebagaimana yang diterapkan di Brasil dan Cina tersebut harus ditolak, secara teoretis keduanya dapat diperbaiki. Dan bagi Berger, untuk memperbaiki modelmodel ini, kalkulus penderitaan dan kalkulus makna harus diperhitungkan. yang pertama merujuk pada gagasan bahwa penderitaan manusia (kematian, ketakutan, penderitaan) tidak boleh dipertaruhkan untuk mencapai pertumbuhan masa depan atau janji masyarakat komunistik. yang kedua merujuk pada gagasan bahwa setiap orang memiliki nuraninya sendiri; demikian juga setiap kelompok manusia. Mereka semua memiliki sistem maknanya sendiri yang harus dihargai oleh siapapun yang ingin menerapkan modelmodel pembangunan atas kehidupan mereka. Dan karena modelmodel pembangunan tersebut mengandung makna dan nilai pada dirinya sendiri, orangorang harus ditanya sebelum suatu model tertentu diterapkan. Pendeknya, apa yang coba diperkenalkan Berger melalui konsepkonsep ini adalah kalkulus moral: manusia tidak boleh diperlakukan sematamata sebagai suatu agregat; mereka harus diperlakukan dengan hormat.

Revolusi Kapitalis

Perpaduan teknologi modern (industri) dan kapitalisme, menurut Berger, merupakan suatu kekuatan yang paling produktif: Kapitalisme industri telah menghasilkan kekuatan produktif terbesar dalam sejarah manusia (hlm. 36). alasannya, bagi Berger, adalah kenyataan bahwa kekuatankekuatan pasar memb erikan insentif terbaik bagi produktivitas yang terusmenerus meningkat:

...pasar, dengan rujukanrujukan harganya, adalah kom puter pertama yang ditemukan oleh manusia; hingga se ka rang ini, pasar tidak memiliki saingan dalam menyediakan baik informasi maupun insentif bagi tiaptiap individu cer das yang ingin memperbaiki nasib ekonomi mereka. tentu saja, individuindividu ini adalah orangorang yang dalam keadaan baik akan menjadi para pengusaha. Sang insinyur mungkin memiliki motifmotif yang sangat berbeda; ia mung kin tidak memiliki aspirasi ekonomi samasekali; ia hanya ingin memperbaiki berbagai peralatannya dan melihat bagaimana peralatan tersebut bisa dibuat berfungsi. Namun ekonomi pasar memberikan konteks sosioekonomi yang pa ling menjanjikan di mana di dalamnya jenis kecerdasan manusia ini, yakni kecerdasan insinyur, bisa berkembang. Dan inilah alasan mengapa perpaduan kapitalisme dan teknologi modern merupakan suatu perpaduan yang produktif. (hlm. 37)

Dengan kata lain, pasar, dengan semua faktor di dalamnya, seperti hubungan rasional antara permintaan dan penawaran, kebebasan untuk melakukan bisnis dan mendapatkan keu ntungan, serta dorongan untuk menjadi kaya, memberi konteks sosioekonomi yang optimal bagi teknologi modern untuk meng hasilkan barang dan jasa bagi masyarakat manusia.

Di sisi lain, sosialisme, meskipun ia juga bisa berjalan bersa ma teknologi modern (industri), memiliki kemampuan in heren untuk menginstitusionalisasikan produktivitas yang ren dah (di sini posisi Berger tidak berbeda dari posisinya dalam buku sebelumnya). Menurut Berger, benar bahwa uni Soviet, mis alnya, adalah sebuah negara industri maju. Namun ia sec a ra intrins ikmustahiluntukmerencanakanefisiensibagipere kon om ian sebuah negarabangsa modern, khususnya jika hal itu se cepat uni Soviet. Rencana tersebut jarang sekali ber jalan se ba gaimana diinginkan. (hlm. 176). Berger kemudian me lanjutkan:

sebagian besar ekonom setuju bahwa persoalan ini inheren karena penghapusan pasar menghilangkan informasi yang disediakan oleh sistem harga. usahausaha untuk memp erkenalkan komputer (utopia yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai sosialisme matematis) juga terusmenerus gagal. Sebagaimana yang dikemukakan oleh seorang ahli ekonomi hungaria, bahkan seorang birokrat yang sangat ketatlebihfleksibelketimbangkomputeryangpalingfleksibel. (hlm. 176)

Selain produktivitas ekonomi, kapitalisme juga sejalan dengan kebebasan politik (demokrasi). Semua demokrasi, tulis Berger, adalah kapitalis; tidak ada demokrasi yang sosialis. (hlm. 76). tentu saja Berger juga mengakui bahwa banyak masyarakat kapitalis tidak demokratis. Namun baginya, kapitalisme merupakan syarat yang diperlukan, meskipun tidak memadai, bagi demokrasi. Ia menolak argumen Joseph Schumpeter bahwa asosiasi antara demokrasi dan kapitalisme hanyalah kebetulan sejarah, dan bahwa demokrasi mungkin dijalankan baik dalam sosialisme maupun kapitalisme.

Negara modern, karena kontrolnya atas banyak sumberdaya seperti teknologi dan birokrasi, melambangkan akumulasi kekuasaan dalam sejarah manusia. Dengan demikian, negara modern memiliki kecenderungan inheren untuk memperluas kekuasaannya semakin jauh ke dalam masyarakat, kecuali jika ia dicegah dengan berbagai pembatasan yang terlembagakan (hlm. 79). Dan bagi Berger, hanya kapitalisme yang menyediakan pembatasanpembatasan ini: ia menciptakan dinamikanya sendiri, sektorsektor ekonomi dan sosialnya sendiri, yang merupakan wilayah yang relatif otonom. Kapitalisme memunculkan para pengusaha, pengacara, dst., yang independen dan bebas dari kontrol negara. Kapitalisme juga memunculkan sektorsektor bisnis yang bebas dari campurtangan negara. Sebaliknya, sosialisme, karena kecenderungannya untuk membi rokra tisasikan semua sektor ekonomi, tidak memberi kesempatan kepada orangorang untuk bertindak secara independen dari negara. Ia tidak memberi kemungkinan bagi benihbenih demokrasi untuk berkembang. Karena itu, sementara kapitalisme sesuai dengan demokrasi, sosialisme sesuai dengan kecenderungan totalitarian negara modern.

Setelah menjelaskan fenomena umum kapitalisme dan sosialisme ini, Berger kemudian mengulas Dunia Ketiga dan pro ses pembangunannya. Di sini ia memberikan suatu penilaian yang kuat: Pembangunan kapitalis, dibanding pembangunan sosialis, lebih mungkin memperbaiki standar kehidupan materiil orangorang di Dunia Ketiga sekarang ini, termasuk kelompokkelompok termiskin (hlm. 136).

untuk mempertahankan argumen ini, ia pertamatama tentu saja harus menolak teoriteori dependensia, teoriteori yang dalam bukunya yang sebelumnya ia pujipuji. Dalam hal ini ia berkata: Sangat sulit mengatakan bahwa, secara ke seluruhan, masuknya ekonomi kapitalis ke negaranegara Dun ia Ketiga telah membahayakan perekonomian negaranegara ters ebut (hlm. 126; huruf miring dari teks asli). Ia mengecam gagasan bahwa perusahaanperusahaan multinasional hanya merupakan agenagen sang metropolis untuk melanggengkan ke ter be la kang an di Dunia Ketiga; sebaliknya, baginya, perusahaanperu sahaan multinasional tersebut, terlepas dari dosadosa apapun yang mungkin telah mereka lakukan di berbagai tempat, adalah saranasarana yang paling penting bagi transfer modal dan tek no logi ke negaranegara Dunia Ketiga, pelatihan orangorang pri bumi dalam berbagai keahlian ekonomi modern, dan pene ri maan pajak ke dalam keuangan Dunia Ketiga (hlm. 127).

Imperialisme tidak ada kaitannya dengan keterbelakangan atau pembangunan di Dunia Ketiga. Dengan demikian, tingkat ketergantungan sebuah perekonomian nasional, tidak relevan dengan persoalan pembangunan (hlm. 129). untuk mem pertahankan argumen ini Berger mengatakan bahwa Jepang adalah contoh sempurna. Jika memang ada korban imp erialisme, itu adalah Jepang (hlm. 128). Namun Jepang kemudian menja lankan salah satu pembangunan yang paling mengesankan dalam seluruh sejarah negara modern. Keberhasilan pembangunan kapitalis di asia timur memberi alasan laindan paling kuatbagi Berger untuk menolak teoriteori dependensia. Saya akan menjelaskan pandangan Berger atas negaranegara ini dalam paragraf berikutnya. Singkat kata, bertentangan dengan teoriteori dependensia yang sebelumnya ia puji, Berger kini menyimpulkan bahwa: Masuknya sebuah negara Dunia Ke tiga ke dalam sistem kapitalis internasional cenderung mengun tungkan perkembangannya (hlm. 129).

alasan terkuat bagi Berger untuk memilih model pem

bangunan kapitalis sebagai model terbaik bagi Dunia Ketiga adalah kekagumannya atas keberhasilan perekonomian negaranegara asia timur (Jepang dan Empat Naga Kecil). Negaranegara ini, dalam dua atau tiga dekade proses pembangunannya, telah hampir sepenuhnya mengikis kemiskinan, mengalami angka pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi (7% hingga 10% per tahun), menciptakan suatu dasar yang sangat kuat bagi berbagai produksi manufaktur, dan telah meningkatkan kemampuan (pendidikan) sumberdaya manusianya dengan sangat cepat. Selain itu, mereka memperlihatkan bahwa pembangunan negara mereka bisa menghasilkan kesetaraan ekonomi relatif yang lebih besar ketimbang sebagian besar negara industri Barat. Jepang misalnya. Pada 1977, rasio 20% kelompok pen dapatan tertinggi dibanding terendah adalah 4,1 (aS pada 1972 adalah 9,5; Swedia pada 1972 adalah 5,6; dan uK pada 1979 adalah 5,6). atau taiwan misalnya. Dari 1964 hingga 1979, share pendapatan 20% keluarga termiskin meningkat dari 7,7 menjadi 8,6%, sementara share 20% keluarga terkaya menurun dari 41,1 menjadi 37,5%. Pendeknya, dalam kesimpulan Berger, perkembangan ekonomi asia timur menyangkal, atau bahkan menolak, tesis Kuznets. Pada masamasa awal pembangunan di aS, Britania, Prancis, dan Jerman, ketidak setaraan yang begitu besar terjadi sebelum kesetaraan ekonomi relatif bisa dicapai dengan dasar yang lebih kokoh. Di asia timur, dalam tahaptahap awal pembangunan taiwan, misalnya, si miskin lebih cepat menjadi lebih kaya dibanding si kaya menjadi lebih kaya. (hlm. 140152).

Pendeknya, bagi Berger, keberhasilan perekonomian asia timur adalah suatu mukjizat, Kasus Kedua dalam sejarah pembangunan ekonomi kapitalis. Dan karena itu, menurut Berger, asia timur menegaskan kekuatan produktif yang superior dari kapitalisme industri (hlm. 153).

Berger menjelaskan bahwa, di bawah kapitalisme, kunci keberhasilan ekonomi negaranegara ini terletak dalam budaya Sinitik yang mendorong orang untuk bekerja lebih keras, menghormati otoritas, dan bersikap asketis. Dengan demikian, baginya, Etika Sinitik tersebut merupakan ganti (atau dalam istilah Berger: padanan fungsional) dari Etika Protestan yang dianggap Weber memiliki peran penting dalam perkembangan kapitalisme Barat. (hlm. 161)

***

Jelas bahwa dalam Capitalist Revolution, Peter Berger meninggalkan netralitasnya dan bergerak ke kanan. Bagi Dunia Ketiga, menurutnya, model pembangunan kapitalis adalah pertaruhan yang secara moral lebih aman. Sebagaimana yang bisa kita lihat dari berbagai penjelasan di atas, ia menolak posisinya sebelumnya karena baginya kapitalisme sangat mung kin akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar, dan bisa memunculkan dorongandorongan yang diperlukan untuk membangun demokrasi. Namun faktor paling penting yang mengubah posisinya adalah pengakuannya akan realitas empiris: mukjizat ekonomi asia timur. Dalam hal ini, menarik untuk melihat bagaimana ia menggambarkan pengalamannya dalam Pendahuluan Capitalist Revolution:

Ketika saya mulai menyibukkan diri saya dengan persoalanpersoalan (pembangunan) ini secara lebih serius dibanding 15 tahun yang lalu, saya sangat terbuka pada kemungkinan bahwa sosialisme mungkin merupakan suatu bentuk organisasi ekonomi dan sosial yang lebih manusiawi. tekanan buktibukti empirislahyang masuk ke dalam pikiran saya selama bertahuntahun kerjayang mendorong saya untuk meyakini pandangan yang sekarang ini saya yakini. Mungkin ini merupakan salah satu dari berbagai ironi karier pribadi saya bahwa.... saya bergeser ke kanan meski sekelompok kolega saya dalam ilmu sosial bergeser ke kiri.

...titik balik bagi saya terjadi pada pertengahan 1970an, ketika saya pertama kali mengalami asia dan terutama masyarakatmasyarakat yang mungkin disebut orang sebagai bu lan sabit kemakmuran, yang terentang mulai dari Jepang hingga ke semenanjung Malaya. Pengalaman dengan asia timur tersebut menjadikan saya sulit untuk tetap berada di tengahtengah antara model pembangunan kapitalis dan sosialis. (hlm. 10 dan 12)

Kini bagaimana kita menilai Capitalist Revolution tersebut Pertamatama, penting untuk dicatat bahwa Capitalist Revolution tersebut diterbitkan pada masa ketika gelombang privatisasi atau liberalisasi ekonomi terjadi di banyak negara Dunia Ketiga, suatu gelombang yang mencerminkan pengakuan terhadap pasar sebagai mekanisme yang lebih baik untuk mengelola barang dan jasa.

Dengan demikian, jika kita mengingat bahwa tiga tahun setelah penerbitan buku itu "Kekaisaran" Soviet mulai runtuh, kita dapat mengatakan bahwa kini tidak ada gunanya menentang Berger. terlepas dari para ideolog yang keras kepala, setiap orang yang berakal sehat kini tampaknya meyakini pandangan bahwa kapitalisme merupakan satusatunya mekanisme yang memadai bagi masyarakatmasyarakat modern untuk mengalokasikan, mendistribusikan, dan menghasilkan barang dan jasa yang mereka perlukan.

Jadi persoalannya sekarang adalah: jenis kapitalisme apa Seberapa jauh peran pemerintah dalam pasar diperbolehkan Di mana batas yang optimal antara usaha publik dan privat ter utama bagi negaranegara Dunia Ketiga yang ingin mengikuti ke berhasilan ekonomi asia timur, pertanyaanpertanyaan ini jelas lebih penting ketimbang pernyataan atau proposisi bahwa kapitalisme lebih baik dibanding sosialisme. Karena itu, bagi para pembaca pada 1992 yang ingin menemukan cara yang lebih baik bagi pembangunan di Dunia Ketiga, Capitalist Revolution karya Berger tersebut tampak telah usang. Karya tersebut menjawab pertanyaanpertanyaan lama. atau sebag aimana yang dikemukakan Lester C. thurow: Buku Berger tersebut adalah sebuah buku yang sangat bagus, namun buku itu menghindari isuisu riil. Memang, keyakinan Berger bahwa Etika Sinitik memainkan peran yang sangat menentukan dalam keberhasilan ekonomi kapitalis asia timur pada dirinya sendiri merupakan resep bagi Dunia Ketiga. hal itu mengandaikan bahwa untuk bisa berhasil, negaranegara Dunia Ketiga yang lain juga harus mengambil elemenelemen Etika Sinitik tersebut: mereka harus bekerja keras, menghormati otoritas, dan bersikap asketis. Namun jenis jawaban budaya bagi pembangunan di Dunia Ketiga ini hampir bukan merupakan jawaban yang baru. terlalu terlambat sekarang ini bagi Berger untuk memancing suatu perdebatan yang bermanfaat tentang pembangunan dengan hanya menggunakan perspektif budaya.

Berger tentu saja telah memberi kita suatu pemahaman yang sangat bernilai tentang bagaimana kapitalisme dan sosialisme berjalan secara umum. Dan karena sebagian besar dari kita sekarang inidengan melihat falsifikasi empirisyang terjadi di negaranegara komunis dua atau tiga tahun yang lalusamasama meyakini bahwa kapitalisme merupakan satusatunya sistem sosioekonomi yang paling memadai bagi suatu masyarakat di zaman modern, tugas berikutnya adalah menemukan peran yang tepat bagi pemerintah untuk men ciptakan pertumbuhan, mencari hubungan ekonomi yang optimal antara sektor publik dan privat, dan mempelajari berbagai kebijakan publik yang mengusung kepentingan terbaik negaranegara Dunia Ketiga untuk menciptakan baik pertumbuhan ekonomi maupun kesetaraan sosial. Berger mungkin me mer lukan buku lain untuk menyelesaikan tugas yang sulit namun menarik ini.