Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 48
i

dalam derajat tertentu, kita lumpuh dan papah tak dapat berdiri di atas kaki sendiri

tiada pilihan: selain menyerah. tubuh meledak menjadi partikel yang berserak di angkasa

hanya cahaya yang tak kita butuhkan karena mula akan melupakan diri pada air mata

ii

ia selalu bermandi hujan. setiap melihat genangan, ia akan tertawa seperti tak pernah tertawa sebelumnya. tangannya yang terentang seperti bersiap memeluk sesuatu

ia bilang sudah siap memeluk kehilangan

kepadaku ia tak pernah jujur, untuk apa membeli seribu payung namun tak ada yang dipegarkan kecuali mengaku ia tak mau orang-orang takut pada masa lalunya sendiri

ia selalu bermandi hujan. bila kemarau tiba, aku bersaksi tubuhnya menggigil kedinginan...