Pagi itu, adik saya langsung bicara pada pokok permasalahan, yakni membutuhkan uang yang banyak dan segera. Dia terlihat sangat tertekan. Saat itu, saya sudah tidak memiliki tabungan berupa uang di bank. Satusatunya tabungan, tinggal berupa separuh pathok sawah seluas 800 m2. Tanah itu pun dulu saya beli dari adik saya ketika dia memulai usahanya.
Demi menolong adik maka saya persilakan dia menjual satu-satunya tabungan yang saya punya tersebut. Sebidang sawah yang sebetulnya sudah saya rencanakan untuk dibangun pesantren di atasnya. Tapi saat itu, saya yakin bahwa Allah akan menggantinya lebih dari yang saya bantukan pada adik saya.
Saya lantas mengontak seorang teman saya, Ari namanya. Seorang pengusaha muda di desa saya. Akhirnya, terjadi kesepakatan. Dia berani membayar sawah saya senilai Rp80 juta. Uang itu tentu tidak sebanding dengan utang adik saya. Namun setidaknya, uang tersebut dapat meringankan bebannya.
Selanjutnya, saya meminta adik saya untuk membuat daftar, berapa dan siapa saja yang harus dibayar, agar uang tersebut sampai di tangan pihak yang seharusnya. Karena jumlah utang yang harus dibayar jauh lebih besar maka saya utamakan untuk membayar beberapa orang terdekat terlebih dulu, mulai dari supplier bahan rotan, bahan finishing, enceng gondok, dan selebihnya untuk pengrajin rangka kayu.
Waktu pun terus berjalan. Alhamdulillah, saya sudah bisa menabung lagi, walaupun belum cukup untuk membeli 1 pathok sawah. Saya mulai mencari info, kalau-kalau ada sawah yang akan dijual.
Dari dulu, pilihan saya selalu sawah, bukan tanah pekarangan. Saya paling suka suasana persawahan. Sungguh kepuasan tersendiri jika suatu saat nanti bisa membuat rumah dan pesantren di area persawahan. Ada suara jangkrik dan nyanyian kodok. Setiap hari bisa melihat hamparan padi yang menghijau.
Satu pathok sawah di kampung saya luasnya berkisar antara 1500 sampai 1700 m2. Harga per pathok sekitar Rp130 juta sampai Rp150 juta. Ada informasi yang masuk ke saya bahwa ada satu pathok sawah akan dijual. Letaknya persis di sebelah selatan masjid kampung saya.
Semula, saya meyakini bahwa itulah tanah yang akan jadi milik saya. Sangat senang rasanya jika punya rumah dan pesantren di dekat masjid.
Jadi kelak, tidak perlu membuat mushola untuk pesantren.
Ibadah Itu Gampang
Negosiasi berjalan, sampai akhirnya terjadi deal. Harga disepakati, Rp130 juta. Maunya saya titip DP untuk tanda jadi. Tapi waktu itu, pemilik sawah, yakni Pak Darno, mengatakan bahwa tidak perlu DP. Alasannya, takut uang nanti malah cepat habis. Dia maunya transaksi sehabis Lebaran.
Setelah lebaran, Pak Darno malah memberi kabar kalau tidak jadi menjual tanahnya. Kabar yang tidak saya duga. Bayangan untuk memiliki tempat tinggal dan pesantren dekat masjid pun sirna.
Waktu terus berjalan. Saya terus mencari info, di mana ada sawah sekitar kampung yang akan dijual. Saat itu, ada info lagi kalau ada sawah yang akan dijual. Letaknya hanya selang satu baris dari sawah yang dulu saya jual untuk membayar utang adik saya. Nama pemiliknya, Pak Santo. Dia asli dari desa tetangga, namun sudah menetap di Jakarta lebih dari 20 tahun.
141
Negosiasi tidak menemui titik temu, karena pak Santo meminta harga pas Rp155 juta. Tidak boleh kurang sedikit pun. Itu pun mintanya bersih dari potongan apa pun, misal pajak penjualan dan biaya notaris.
Harga tertinggi yang saya sanggupi di angka Rp150 juta. Saya tidak berani menaikkan lagi, karena dari angka itu saya nantinya masih harus menanggung biaya balik nama dan pajak yang timbul, baik pajak penjualan dan pembelian. Akhirnya, saya mundur.
Semangat saya untuk membeli sawah tidak kendur. Usaha luar dan dalam.
Pagi itu, seperti biasa, sebelum berangkat kerja, saya Sholat Dhuha terlebih dahulu. Entah mengapa, pagi itu saya merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Sholat Dhuha. Sesuatu yang tidak biasa saya alami.
Saya benar-benar memanfaatkan momen tersebut untuk berdoa khusyuk. Saya memohon untuk diberi kemudahan dalam mendapatkan tanah yang saya impikan. Kurang dari seminggu, Alhamdulillah doa saya terjawab.
Sore itu, sehabis Magrib saya duduk-duduk di rumah, bersama anak dan istri. Tak berselang lama, terdengar sepeda motor berhenti di depan rumah. Terlihat dua orang yang datang. Mereka memperkenalkan diri. Seorang bernama Pak Wardoyo, sementara seorang lagi Pak Sudarso.
Pak Sudarso memulai pembicaraan, Kulo mireng panjenengan nembe pados siti. (Saya dengar bapak sedang mencari tanah)
Saya jawab, Nggih, Pak. Leres. (Ya, Pak. Benar)
Ternyata, Pak Sudarso asli dari Blimbing, tetangga desa. Beliau seorang pensiunan TNI dan sudah tinggal di Cilacap lebih dari 17 tahun. Dia kebetulan baru pulang ke Blimbing dalam 3 hari belakangan ini. Dari tetangganya, dia mendengar kalau ada orang yang sedang mencari sawah.
Pak Sudarso menyampaikan niat kedatangan, yakni menjual sawahnya. Alasannya, karena memang sawah itu sudah lama tidak terurus. Selama ini, hanya disewakan. Di samping itu, semua keluarganya juga sudah menetap di Cilacap. Tidak ada rencana lagi untuk pulang kampung ke Blimbing.
Beliau saat ini juga butuh dana. Sebagian hasil penjualan sawah akan dipakainya untuk pergi haji bersama istri. Subhanallah, saya sangat lega mendengar penuturannya. Apalagi setelah beliau menyebut harganya Rp145 juta, atau Rp10 juta lebih murah dari harga sawah Pak Santo yang sebelumnya pernah saya nego.
Belum cukup sampai di situ, letak sawah Pak Sudarso ternyata berada persis di sebelah sawah yang saya jual untuk membantu adik saya 3 tahun lalu.
Ya Allah, semua janji-Mu terbukti. Saya bersedekah 800 m2, akhirnya mendapat ganti 1615 m2 dengan letak persis di sampingnya. Luar biasa. Akhirnya, tanah tersebut saya pakai sendiri 400 m2 dan sisanya saya hibahkan untuk pesantren.