YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 49
Mencari figur guru tidaklah harus selalu yang lebih tinggi ilmunya dan lebih tua usianya. Apalagi kalau untuk urusan kedisiplinan, semangat, dan ketulusan.

Rochman, begitu namanya. Sosok yang bisa saya jadikan guru untuk beberapa hal yang saya sebut di atas. Umurnya baru 20 tahun. Anak ke-5 dari 8 bersaudara ini adalah salah satu karyawan harian saya di Cirebon. Ibunya bekerja sebagai buruh tani dan bapaknya seorang buruh bangunan. Berikut ini adalah poin-poin positif yang bisa saya ambil dari sosok Rochman.

Disiplin. Rochman tidak pernah terlambat datang ke pabrik. Bahkan pukul 07.00 dia sudah datang di pabrik, setiap harinya. Padahal, jarak rumah ke pabrik tidak kurang dari 4 kilomer dan tidak dilalui angkutan umum. Dia harus menempuhnya dengan sepeda onthel tua, yang jauh dari kata layak untuk anak muda seusia Rochman.

Belajar dan Belajar

Semangat. Semangat belajar dan bekerja Rochman sangat tinggi. Karena keterbatasan biaya dia hanya bisa mengenyam pendidikan sampai SD. Selanjutnya, dia harus mengambil paket B, setara dengan SMP. Saat ini, dia sedang menunggu ijazah kelulusan dan sudah berniat untuk melanjutkan ke Paket C yang setara SMA.

Sewaktu pertama masuk kerja, Rochman belum bisa membaca Al-Quran. Ketika mendengar kalau di pabrik akan diadakan TPA tiap paginya, dia menyambut dengan gembira. Karena kemauan kerasnya, kini dia mampu membaca Al-Quran dengan lancar.

Pantang Mengeluh. Mengeluh adalah sesuatu yang tabu bagi Rochman. Apa pun pekerjaan yang diberikan atasannya dia kerjakan dengan senang hati. Mulai dari mengamplas, angkut-angkut, sampai diminta belajar menganyam dia tidak pernah menolak.

145

Pun soal gaji, Rochman tidak pernah mempermasalahkannya. Berapa pun yang diberikan pabrik, dia terima dan syukuri. Pernah suatu saat, teman-temannya memperbincangkan soal kenaikan gaji, rupanya dia kurang tertarik dengan hal itu.

Pernah dia berujar kepada Kepala Produksinya, Saya hanya pengin bekerja di sini, Pak. Bagi saya bisa bekerja di sini sudah lebih dari cukup. Tugas saya adalah bekerja. Soal gaji biar pabrik saja yang menentukan. Saya ngikut saja. Dengan gaji saya sekarang, saya sudah bisa membantu ibu dan adik-adik saya, Pak.

Luar biasa anak ini.

Tulus. Apa yang dilakukan Rochman ketika tiba di pabrik pukul 07.00 setiap harinya Rupanya dia membersihkan mushola. Selanjutnya, sambil menunggu teman-teman lainnya datang, dia lakukan Sholat Dhuha dan mengaji. Semua itu dia lakukan tanpa ada yang menyuruhnya.

Rupanya hal itu tidak diketahui oleh atasan langsungnya. Kepala Produksinya pernah memanggil dan mengajaknya bicara, Rochman, tolong kamu tiap pagi membersihkan mushola, nanti ada tambahan dari saya tiap bulannya.

Tidak disangka-sangka oleh Kepala Produksinya, Rochman menjawab,Saya sudah membersihkannya kok Pak, tiap pagi. Kalau kurang bersih, besok saya usahakan lebih bersih lagi. Tapi tidak usah dibayar, Pak. Saya mau seperti yang biasanya saja.

Subhanallah. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Rochman selalu mengasihinya di dunia ini, lebih-lebih di Akhirat kelak. Amin ya robbal alamin.

03 Oktober 2013