Aku tak sadar ada pemandangan yang seperti ini. Ini pertama kalinya dalam hidupku.
Chieko mengeluarkan sebuah cermin mungil dan menatap wajahnya sendiri yang terpantul di antara warna-warni mega.
Takkan kulupakan. Sepanjang hayatku takkan pernah kulupa... Betapa manusia adalah makhluk yang emosional.
Karena mendapat sentuhan warna, Hieizan dan Kitayama tampak bercahaya biru tua.
Di Yubahan ada dijual tofu kering, tofu peoni, dan tofu isi.
Nona, silakan mampir. Kami sedang sibuk-sibuknya menghadapi festival Gion ini. Maafkan saya karena kami telah menyia-nyiakan pelanggan lama. Saya mohon maaf. Biasanya toko itu hanya menyediakan barang pesanan. Di Kyoto memang orang banyak mendirikan usaha bisnis, di antaranya usaha konveksi dan toko buku atau kedai.
Nona belanja untuk menyambut festival Gion ya Saya sungguh harus berterima kasih bahwa Nona selalu datang ke sini sejak beberapa tahun lalu. Dan wanita penjaga toko itu pun mengisi keranjang belanjaan Chieko sampai-sampai keranjang itu hampir tak muat.
Tofu isi, bentuknya seperti belut, mengandung gob di dalamnya. Tofu peoni menyerupai campuran antara sayuran dan tofu yang sama-sama digoreng, tapi di dalamnya selalu bisa kita temukan biji-biji ginko.
Meski toko ini telah berusia dua ratus tahun lebih, pemiliknya hanya mengadakan sedikit perubahan: telah dipasang sebuah kaca atap yang kecil bentuknya, dan perapian bergaya Korea yang biasa untuk menyiapkan tofu itu sekarang dibuat dari batu bata.
Kami biasanya menggunakan arang; tapi waktu kami mengaduk api, abu yang berhamburan mem-
buat titik-titik noda pada tofu yang kami masak. Jadi sebagai gantinya kami memakai serbuk gergaji.
Wanita itu dengan tangkas menggunakan sumpitnya untuk mengangkat tofu keluar dari periukperiuk tembaga yang telah disekat-sekat berbentuk persegi, lalu menaruhnya di atas balok tipis sampai permukaan atas tofu mulai mengeras. Ada beberapa balok yang terletak di atas dan di bawah, yang biasa diangkat setelah tofu mengering.
Chieko pergi ke bagian belakang ruang kerja dan menakupkan telapak tangannya pada sebuah tiang bangunan yang telah tua. Ibu Chieko biasa mencoba mengguncangkan tiang yang telah renta dan menghitam itu ketika mereka datang ke toko itu bersama-sama.
Ini kayu jenis apa ya tanya Chieko.
Itu kayu Hinoku. Ia bisa tumbuh sangat tinggi... dan benar-benar tumbuh dengan lurus.
Saat menyentuhkan tangannya kembali pada tiang itu, Chieko bisa merasakan keantikannya. Lalu ia pun meninggalkan toko itu.
Saat Chieko pulang ke rumah, suara-suara keramaian Festival Gion terdengar semakin jelas.
Para wisatawan yang datang dari jauh mungkin berpikir bahwa Festival Gion hanya berisi kegiatan parade kendaraan hias di tanggal 17 Juli. Ada pula wisatawan yang datang ke Hieizan pada malam tanggal enam belas.
Padahal sebenarnya seluruh rangkaian upacara festival terus berlanjut sampai akhir Juli. Di berbagai distrik di Kyoto di mana masing-masing memiliki kendaraan hias Gion sendirigrup-grup musik festival mulai menampilkan diri, dan ritual-ritual jimat dimulai pada tanggal satu Juli.
Kendaraan-kendaraan hias dengan anak-anak festival di dalamnya memimpin pawai setiap tahun. Tanggal dua atau tiga Juli, wali kota setempat mengambil undian untuk menetapkan urutan kendaraan hias. Mobil-mobil festival telah berkumpul sehari sebelumnya, meskipun begitu tata cara persiapan festival yang benar adalah terlebih dahulu mengadakan upacara pembasuhan tandu-tandu kuil. Tandu-tandu itu dibasuh di sebuah jembatan besar sungai Kamo di Shijo. Meskipun disebut upacara pembasuhan, namun pendeta Shinto hanya membenamkan seranting kayu sakaki ke dalam air lalu memercikkannya pada tandu-tandu itu.
Lalu tanggal 11, anak-anak festival mengunjungi kuil Gion. Mereka anak-anak yang akan mengendarai kendaraan hias. Dengan mengangkang seperti naik kuda dan mengenakan hiasan kepala yang tinggi selayak kaum bangsawan, mereka diiringkan beberapa orang pengawal menuju kuil di mana mereka akan menghormat para bangsawan peringkat kelima istana. Mereka yang disebutkan tadi adalah bangsawan-bangsawan istana kekaisaran.
Di zaman kuno, dewa-dewa penganut Shinto dan Buddha sering bercampur-baur, sehingga para pengawal yang ada di sisi kiri dan kanan disamakan dengan Kannon dan Seishi, dua orang penganut Buddha yang telah mencapai Bodhisattwa, meskipun festival itu adalah perayaan penganut Shinto. Anakanak festival yang mendapatkan kedudukan di istana dari dewa-dewa sering dihubungkan dengan upacara pernikahan.
Ajaib! seru Shinichi ketika ia terpilih sebagai anak festival. Aku jadi orang sekarang.
Anak-anak festival dibutuhkan untuk mempertahankan ritual api terpisah. Dengan kata lain, mereka mulai diberi makanan yang dipanaskan dengan api yang khusus terpisah dari keluarga mereka. Tujuan upacara itu adalah untuk pemurnian, tapi ritual upacara telah dipendekkan sehingga makanan anak-anak festival sekarang dimasak di atas api pemurnian Shinto. Ada rumor bahwa anak festival akan sering mengingatkan keluarganya, meneriakkan api pemurnian ketika seseorang lalai, melupakan ritual tersebut.
Tugas anak-anak festival tidaklah mudah, karena tugas itu tidak selesai hanya dalam satu hari pelaksanaan pawai. Mereka juga harus berkeliling ke berbagai distrik, memberikan sambutan-sambutan secara resmi. Kegiatan festival dan anak-anak yang berperan aktif di sana memakan waktu hampir satu bulan penuh.
Orang-orang Kyoto di daerah sekitar Hieizan lebih menikmati keelokan suasana pada tanggal enam belas daripada tanggal di mana prosesi atau pawai kendaraan hias berlangsung, yaitu tanggal tujuh belas.
Hari untuk berkumpul di Gion itu telah tiba. Toko keluarga Sada telah mengganti pintu kisi-kisi, sibuk dengan persiapan-persiapan menyambut festival.
Festival Gion diadakan setiap tahunnya di kuil, dan ini bukanlah acara yang asing bagi Chieko, seorang gadis Kyoto; dan lebih dari itu ia tinggal di sekitar Shijo. Ia pun salah satu anggota jemaah kuil Yasaka. Inilah festival yang diadakan di tengah gerahnya musim panas.
Kenangan Chieko yang paling manis adalah saat menatap Shinichi ketika bocah itu berada di atas kendaraan hias. Saat festival berlangsung, di mana ia bisa mendengar suara-suara orkes musik dan melihat kendaraan-kendaraan hias yang diliputi lentera-lentera, kenangan akan Shinichi kembali segar dalam ingatan. Waktu itu, Shinichi dan Chieko sama-sama berusia sekitar tujuh atau delapan tahun.
Oh, seumur hidup aku belum pernah melihat seorang gadis kecil secantik dia, seseorang berseru.
Ketika Shinichi pergi ke Kuil Gion untuk menghormati mayor jenderal peringkat kelima, juga ketika menaiki kendaraan hias saat pawai, gadis kecil itu selalu mengikutinya. Dan Shinichi yang mengenakan kostum festival serta diiringi oleh dua pengawal itu pun mengucapkan salam pada Chieko yang berdiri di muka toko. Ketika Shinichi memanggil, gadis itu memandang ke arahnya dan wajah pun bersemu merah. Bocah lelaki itu memakai peme-rah bibir dan ber-make up, sedangkan wajah Chieko kecoklatan terbakar matahari. Sebuah bangku panjang bersandaran di muka pintu kisi-kisi tampak terguling waktu itu, dan Chieko yang mengenakan kimono musim panas dengan obi berpola titiktitik merah sedang asyik menyulut petasan dengan beberapa anak tetangga.
Bahkan hingga sekarang, bayangan Shinichi si bocah festival selalu hadir di tengah keramaian orkes musik Gion; selalu hadir di tengah nyala lentera kendaraan hias.
Chieko, apakah kau ingin pergi ke Hieizan tanya sang ibu setelah makan malam.
Bagaimana dengan Ibu
Kita kedatangan banyak pelanggan, jadi ibu tak bisa pergi.
Chieko mempercepat langkah meninggalkan rumah. Susah juga berjalan menerobos kerumunan orang yang berjejalan di Shijo. Tapi Chieko tahu di mana seluruh kendaraan hias itu berkumpul, jadi ia bisa melihat seluruh pemandangan yang menyenangkan itu dengan berjalan satu putaran mengelilingi lokasi. Gadis itu bisa mendengar musik orkes dimainkan di atas kendaraan-kendaraan hias.
Chieko melangkah menuju bagian depan Goryosho dan membeli sebatang lilin, menyalakannya dan memanjatkan doa pada dewa kuil. Selama festival berlangsung, dewa kuil Yasaka kadang kala bersemayam di Goryosho yang bertempat di sebelah selatan jalan Shijo di Shinkyogoku.
Tatapan Chieko jatuh pada seorang gadis di Goryosho itu yang tampak tengah memanjatkan Tujuh Kali Pemujaan. Ia memang hanya melihat gadis itu dari belakang, tapi ia segera menyadari apa yang sedang dilakukan gadis itu. Pemujaan itu dilakukan dengan berjalan menjauh dari altar di muka sesembahan, lalu kembali dan membungkukkan tubuh, mengulangi rangkaian pemujaan sebanyak tujuh kali. Selama berlangsungnya ritual seseorang tak diperbolehkan bicara, bahkan meski bertemu seorang kenalan.
Chieko merasa bahwa ia pernah bertemu dengan gadis itu. Merasa terdorong oleh suatu bisikan, Chieko pun melakukan ritual pemujaan serupa.
Gadis tadi berjalan ke arah barat kemudian kembali lagi ke Goryosho. Chieko berjalan ke timur. Namun gadis tadi melakukannya lebih lama dan lebih khusyuk daripada Chieko.
Chieko tidak berjalan jauh seperti gadis itu sehingga mereka pun menyelesaikan rangkaian ritual dalam waktu yang hampir bersamaan.
Gadis itu pun akhirnya melihat ke arah Chieko dan memandang seperti hendak menelannya.
Untuk siapa kau berdoa tanya Chieko.
Kau memerhatikanku tanya gadis itu dengan suara gemetar. Aku ingin tahu di mana saudara perempuanku sekarang. Kau saudaraku itu. Benar. Tuhan telah mempertemukan kita. Sepasang matanya pun terbenam oleh air mata yang meluap-luap.
Gadis itu yang beberapa hari lalu dilihatnya di kampung sugi Kitayama.
Altar itu tampak bercahaya oleh pantulan sinar lentera yang berderet di sekitar Goryosho dan juga beberapa lilin yang dipersembahkan oleh para pemuja, tapi air mata gadis itu tak melihat kecemerlangan di sekitarnya.
Cahya lentera yang berkelap-kelip memandangi wajah gadis itu.
Chieko berdiri terpaku. Ketetapan hatinya membuat perasaannya bergolak. Aku ini seorang anak tunggal. Aku tak punya saudara, katanya dengan wajah kelabu.
Gadis Kitayama itu terisak, Aku tahu. Nona, mohon maafkanlah saya. Maafkan saya. Sejak saya masih kecil... saudara saya... Aku ingin tahu apa
yang terjadi dengannya. Aku telah membuat kesalahan fatal.
Chieko terdiam.
Aku mempunyai saudara kembar, namun aku
tak tahu apakah aku yang tua ataukah yang muda.
Ini hanya masalah kemiripan. Kemiripan yang tak disangka-sangka. Bukan begitu
Gadis itu pun mengangguk, namun air matanya terlanjur menitik ke pipi. Sambil mengeluarkan sapu tangan dan mengusap wajahnya, ia bertanya, Nona, di manakah Anda terlahir
Di sebuah pemukiman para pedagang grosir dekat sini.
Oh! Lalu untuk siapa Nona berdoa Untuk kesehatan dan kebahagiaan ayah ibuku. Gadis di hadapannya itu terdiam.
Bagaimana dengan ayahmu Chieko balas bertanya.
Sejak lama ia jatuh terpeleset ketika mencoba melompat dari satu pohon ke pohon lainnya untuk memotong cabang-cabang pohon sugi di Kitayama. Ia membentur sesuatu. Itu kata orang kampung. Aku sendiri tidak tahu karena waktu itu baru saja lahir. Chieko merasa hatinya tertusuk.
Dan hasratnya untuk pergi mengunjungi perkampungan itu dan melihat hutan Kitayama yang indah... apakah itu panggilan dari ayahnya yang telah tiada
Gadis gunung itu juga berkata bahwa ia anak kembar. Apakah ayah kandungnya telah meninggalkan salah satu anak kembarnya, Chieko, kemudian karena ia melamun saat berada di pucuk pohon maka ia terpeleset dan jatuh Tentu begitulah kejadiannya.
Keringat dingin menetes dari kening Chieko. Suara langkah-langkah kaki dan orkes musik yang begitu ramai di jalan Shijo menghilang karena jarak yang memisahkan. Sepasang mata Chieko mulai menyuram.
Gadis gunung itu pun melekapkan tangannya di pundak Chieko dan mengusap dahinya dengan sapu tangan.
Terima kasih. Chieko mengusap wajahnya sendiri dengan sapu tangan itu dan memasukkannya dalam saku. Ia tidak menyadari apa yang dilakukannya.
Kalau ibumu bagaimana Chieko bertanya lembut.
Ibu juga sudah meninggal, suaranya menjadi lebih keras. Aku terlahir di kampung ibuku, jauh di belakang deretan gunung. Tapi sekarang ibuku pun telah meninggal.
Chieko tak ingin bertanya lagi.
Air mata gadis Kitayama itu, tentu saja, adalah air mata kegembiraan; dan ketika ia berhenti mengalir wajah gadis itu pun bersinar-sinar. Namun hati Chieko penuh kebingungan dan kedua kakinya gemetar ketika ia mencoba untuk berdiri. Ini bukanlah peristiwa yang bisa dengan begitu saja ditanggungkan. Sikap tegap dan kokoh gadis gunung itulah satu-satunya yang bisa membantu Chieko menerima kenyataan itu. Memang tak mungkin baginya untuk merasakan kegembiraan menyeluruh seperti halnya gadis Kitayama itu; seberkas kepedihan tenggelam pada sepasang matanya.
Saat Chieko merasa bingung apa yang harus dilakukan, gadis gunung itu mengulurkan tangannya. Chieko meraihnya. Gadis itu merasakan sentuhan kulit yang kasar dan merekah-rekah, tak seperti tangannya yang begitu lembut. Namun gadis gunung itu menggenggam tangannya seperti tak memedulikan perbedaan.
Selamat tinggal, Nona.
Kenapa
Oh. Aku begitu bahagianya.
Siapa namamu
Naeko.
Naeko Namaku Chieko.
Aku sekarang bekerja magang. Jika kau menanyakan tentang diriku, setiap orang akan tahu karena kampung itu begitu kecilnya.
Chieko mengangguk.
Nona, apakah kau merasa bahagia
Begitulah.
Takkan kuceritakan pertemuan kita malam ini kepada siapa pun. Aku bersumpah. Hanya dewa kuil Gionlah yang tahu.
Naeko memahami bahwa meskipun mereka berdua anak kembar, namun tempat hidup mereka berlainan. Chieko tak tahu harus berkata apa, menyadari bahwa Naeko merasakan perbedaan itu. Tapi kenyataannya Chiekolah bayi yang ditinggalkan itu.
Selamat tinggal, Nona, seru Naeko. Cepatlah pergi, sebelum seseorang mengenali kita.
Suara Chieko tercekat saat menanggapi. Naeko, toko keluargaku dekat dari sini. Setidaknya, ikutlah aku melewati jalan itu.
Naeko menggelengkan kepala. Bagaimana dengan orang-orang yang tinggal di sana
Keluargaku Aku bertiga saja dengan ayah dan ibuku.
Aku tak tahu kenapa, tapi entah bagaimana aku selalu memikirkannya. Aku yakin kau dibesarkan dengan penuh kasih sayang.
Chieko menarik lengan baju Naeko. Begitu jauhnya waktu berlalu sebelum kita bertemu di tempat ini.
Begitulah.
Naeko kembali ke Goryosho setelah membungkuk dengan hormat. Chieko buru-buru membalas.
Selamat tinggal, seru Naeko untuk ketiga kalinya.
Selamat tinggal, balas Chieko.
Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Kapan-kapan datanglah ke kampungku. Di tengah rerumpun sugi tak akan ada yang melihat kita.
Terima kasih.
Keduanya pun menyusup di tengah kerumunan jemaah yang memadati kuil Yasaka menuju Jembatan Besar. Meskipun iring-iringan parade di tanggal 17 telah berlalu, rangkaian festival terus dilangsungkan. Kedai-kedai dibuka, memamerkan tirai-tirai penuh lukisan sebagai dekorasi. Di sana ada lukisan awal Ukiyoe, mazhab Kano dan lukisan-lukisan Yamato, juga tirai-tirai gulung Sotatsu. Di antara Ukiyoe ada juga beberapa tirai dari Eropa, sama baiknya dengan orang-orang asing yang terlukis dengan gaya Kyoto yang elegan, yang mengekspresikan tingginya daya hidup kaum pedagang Kyoto.
Sekarang vitalitas itu berpindah ke dalam kendaraan-kendaraan hias yang dihiasi dengan kain brokat dan kain tenunan rumah dari Tiongkok, permadani-permadani penghias dinding Gobelin, satin brokat warna emas, damask, dan pakaian berenda; sisa kemegahan zaman Momoyama, ketika barangbarang yang indah masuk ke Jepang melalui perdagangan antarbangsa. Sisi dalam kendaraan hias juga diukir dengan lukisan-lukisan terkenal. Tradisi yang melekat memercayai bahwa bentukan yang serupa tiang pada kepala kendaran hias berasal dari tiangtiang kapal dagang yang disahkan oleh Shogun.
Salah satu orkes musik telah selesai bernyanyi, memainkan melodi bersahaja yang terkenal, namun sebenarnya di dalamnya ada dua puluh enam nomor musik. Orkes itu mirip dengan Mibu Kyogen, sebuah orkes ensembel istana.
Karena berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya saat menuju jembatan, Chieko terjatuh di belakang Naeko.
Naeko telah tiga kali mengucapkan selamat berpisah, tapi Chieko tidak yakin apakah mereka telah benar-benar berpisah atau apakah Naeko akan berjalan mengiringinya untuk melewati toko agar gadis itu tahu di mana ia tinggal. Ia merasakan kedekatan yang hangat dengan Naeko mengisi seluruh hatinya.
Chieko! seru Hideo, memanggil Naeko saat ia hampir melewati jembatan. Ia bertanya lebih lanjut, tak menyadari jika ia salah duga, Apakah kau pergi ke Hieizan Sendirian
Naeko menghentikan langkahnya, tapi ia tak menengok ke arah Chieko.
Chieko segera menyembunyikan diri di belakang sejumlah orang.
Cuacanya baik, bukankah begitu kata Hideo pada Naeko. Esok pagi juga akan tetap cerah.
Bintang-bintang bersinar terang.
Naeko menatap langit, tak tahu bagaimana harus menanggapi. Ia tentu saja, tak kenal Hideo.
Maafkan aku telah berlaku kasar pada ayahmu tempo hari. Apakah obinya cocok
Ya.
Ayahmu pasti sakit hati, ya kan
Uh... ya. karena tak tahu apa yang sedang dibicarakan pemuda itu, Naeko pun kesulitan untuk menjawab. Meskipun begitu, ia tak menengok sedikit pun ke arah Chieko.
Naeko bingung. Jika Chieko perlu untuk bicara dengan pemuda itu, seharusnya gadis itu mendekat.
Pemuda itu mempunyai kepala yang agak besar, pundak yang lebar, dan sepasang mata cekung. Bagi Naeko, ia tak tampak sebagai pemuda yang buruk pekertinya. Pembicaraannya tentang obi membuat gadis itu berpikir bahwa ia seorang penenun di Nishijin. Setelah bertahun-tahun duduk di belakang mesin tenun, hanya hal-hal seperti itulah pasti yang diperhatikannya.
Aku ini anak muda. Aku bicara tegas saat menengok desain buatan ayahmu. Tapi aku memikirkannya semalaman dan akhirnya memutuskan untuk menenun mengikuti pola desain itu, kata Hideo.
Naeko tak menanggapi.
Kau sudah memakainya
Emmm... ya, jawab Naeko.
Bagaimana rasanya
Di jembatan itu cahaya tak seterang di jalan, dan kerumunan orang mengancam untuk memisahkan mereka. Naeko masih merasa aneh melihat pemuda itu mengira bahwa ia adalah Chieko. Anak kembar yang dibesarkan dalam keluarga yang sama kadang susah untuk dibedakan. Tapi Chieko dan Naeko betul-betul memiliki kehidupan atau cara hidup dan tempat tinggal yang berbeda. Naeko menduga bahwa pemuda ini terkena rabun ayam.
Chieko, aku punya rencana. Aku akan mengerahkan seluruh tenagaku untuk menenun sebuah obi yang akan menjadi kenang-kenangan bagimu di usia 20-an tahun.
Oh, terima kasih, sahut gadis itu dengan suara lebih keras.
Dengan pertemuan kita di Gion ini, mungkin aku akan mendapat bantuan dewata dalam menenun obimu.
Naeko terdiam. Satu hal yang melintas dalam benaknya adalah bahwa Chieko tak ingin pemuda itu tahu tentang kenyataan mereka sebagai sepasang anak kembar, dan itulah, mengapa gadis itu tak mendekat.
Selamat tinggal, kata Naeko. Hideo berpikir bahwa ini agak mendadak.
Oh... selamat tinggal, balasnya. Kumohon biarkan aku membuat obi untukmu. Ya Mungkin kita bisa bertemu lagi sepanjang musim momiji.
Naeko melihat sekeliling mencari wajah Chieko, tapi tak bisa ia menemukannya.
Pemuda itu, dengan pembicaraannya tentang obi tak menyusahkan Naeko. Ia sungguh bahagia dan berpikir bahwa pertemuan dengan Chieko di muka Goryosho adalah karunia dari dewa. Ia berpegang pada pemagar jembatan dan menatap pantulan sinar lentera-lentera yang terapung-apung di permukaan air. Lalu ia langkahkan kaki sepanjang tepian jembatan. Ia berencana untuk mengunjungi kuil Yasaka di ujung jalan Shijo.
Saat ia mendekati tengah jembatan, dilihatnya Chieko tengah bercakap-cakap dengan dua orang pemuda.
Oh, ia memekik tertahan, meski ia sendirian. Gadis itu tak mendekati mereka bertiga, tapi ia merasa sedang menatap dirinya sendiri.
Chieko memikirkan apakah yang baru saja dibicarakan Naeko dan Hideo. Hideo jelas salah duga, dan Naeko tentu kebingungan, tak tahu bagaimana harus menanggapi pemuda itu.
Mungkin lebih baik jika menemui keduanya, namun Chieko tak melakukannya. Dan bukan hanya itu; ketika pemuda itu memanggil Naeko, Chieko dengan cepat menyembunyikan diri. Mengapa begitu
Perjumpaan di muka Goryosho itu menggoncangkan perasaan Chieko dengan hebat, melebihi yang dirasakan Naeko. Naeko tadi berkata bahwa ia tahu bahwa dirinya mempunyai saudara kembar dan sejak dulu selalu berusaha untuk bisa bertemu dengannya. Lain dengan Chieko, ia bahkan tak pernah bermimpi tentang hal itu, dan ini semua terjadi begitu mendadak. Ia tak siap untuk merasakan kegembiraan seperti yang dirasakan Naeko. Ini adalah untuk pertama kali ia mendengar bahwa ayah kandungnya telah jatuh dari pohon sugi dan ibunya pun mati muda. Kabar itu sangat menusuk hatinya.
Chieko memang pernah mendengar suara
bisik-bisik dari tetangga sekitar dan menyadari bahwa ia anak temuan, tapi ia memaksa diri untuk tidak menyelidiki siapa orang tua kandungnya. Meskipun ia memikirkannya, ia toh tak akan bisa menemukan. Lagipula, ayah dan ibunya yang sekarang menyayanginya dengan begitu hangat; jadi ia pikir tak perlu untuk menelusuri asal usulnya.
Pengalaman ini terasa tak menguntungkan bagi Chieko, tapi tampaknya Naeko ingin menjalinkan cinta yang lembut untuknya.
Oh, betapa hatiku tak setulus hatimu. Kau bekerja keras, dan tubuhmu pun kuat, Chieko berbisik. Tidakkah aku akan membutuhkan bantuanmu kelak
Di tengah kebingungan Chieko terus berjalan melintasi jembatan Shijo dan di saat itulah Shinichi memanggilnya, Mengapa berjalan seperti orang kebingungan Wajahmu tampak mendung.
Oh, Shinichi. Chieko kembali bisa berpikir tenang. Aku ingat kau tampak begitu manis saat menaiki kendaraan hias.
Waktu itu memang pengalamannya terasa dahsyat, tapi sekarang aku mengingatnya sebagai kenangan yang indah.
Ada seorang pemuda di sampingnya. Ini kakakku. Ia sudah lulus sekolah.
Shinichi dan kakaknya itu tampak mirip. Ia membungkukkan kepalanya dengan kasar.
Waktu Shinichi ini masih kecil ia begitu cengeng dan manis seperti seorang gadis. Itulah mengapa mereka menunjuknya sebagai bocah festival. Betapa konyol, dan kakak Shinichi itu pun tertawa tergelak.
Mereka telah sampai di tengah jembatan. Chieko melihat ke arah sang kakak yang wajahnya tampak gagah berani itu.
Chieko, malam ini kau tampak pucat. Kau pun terlihat begitu sedih, kata Shinichi.
Mungkin karena cahaya begitu menenggelamkan apa-apa yang ada di tengah jembatan ini, sahut Chieko tegas. Lagi pula, setiap orang di sini bergembira ria, jadi wajar jika seorang gadis yang berjalan sendiri akan kelihatan menyedihkan.
Bukan itu saja. Kata Shinichi sambil membawa Chieko ke pemagar jembatan. Coba kita bersandar di sini sebentar.
Terima kasih.
Angin dari sungai tak banyak bertiup.
Chieko menaruh tangannya di atas kening dan terlihat seperti hendak memejamkan mata. Shinichi, waktu kau naik kendaraan hias, umurmu sudah berapa tahun
Emm... tujuh tahun ya Seingatku itu terjadi setahun sebelum aku masuk sekolah dasar.
Chieko mengangguk tapi tak menyahut. Keringat dingin muncul di kening dan lehernya. Ia masukkan tangannya ke saku dan mendapati sapu tangan Naeko di sana. Air mata Naeko melekat padanya basah. Chieko tak tahu apa yang harus dilakukannya. Akan ia keluarkan ataukah tidak Gadis itu menggumpalkan sapu tangan ke dalam telapaknya dan menyeka keningnya. Ia hampir saja meneteskan air mata.
Shinichi merasa curiga. Ia tahu, bukanlah kebiasaan Chieko menyimpan sapu tangan tua dalam saku.
Chieko, apakah kau kegerahan Atau bahkan demam Rasa dingin seperti ini memang sulit untuk diatasi... jika itu yang kau rasakan. Sebaiknya kau pulang saja. Kami akan mengantarmu... bukankah begitu, Ryusuke
Kakaknya itu mengangguk. Dari tadi ia terus memandangi Chieko.
Tidak. Rumahku dekat. Kau tidak usah mengantarku.
Ya, justru karena dekat itulah maka kami ingin mengantarmu, kata kakak Shinichi penuh kesungguhan.
Maka ketiganya meninggalkan tengah jembatan itu.
Shinichi, apa kau tahu kalau dulu aku mengikuti kendaraan hias yang kau tumpangi tanya Chieko.
Ya, aku tahu. Aku ingat betul, jawab Shinichi.
Waktu itu kita masih sangat kecil.
Ya, begitulah. Tapi memang tak enak dilihat kalau seorang bocah festival melihat sisi jalan ketika ia tengah berpawai. Meski begitu, kukira aku melihat seorang gadis mengikutiku. Pasti kau kelelahan, harus berdesak-desakan di antara penonton yang berjubel.
Aku bukanlah gadis kecil itu.
Apa maksudmu Shinichi menangkis pelan. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Chieko malam ini. Ketika mereka tiba di toko Chieko, kakak Shinichi memberi salam kepada ayah dan ibu gadis itu dengan sopan. Shinichi bersembunyi di belakang punggung kakaknya.
Tn.Takichiro tengah minum sake festival dengan seorang tamu di ruang belakang. Mereka tak begitu banyak minum, melainkan lebih menikmati kehangatan pertemanan. Dari tadi Ny.Shige naik turun untuk melayani mereka.
Saya pulang, seru Chieko.
Kok cepat tanya Ny.Shige sambil menatap anaknya itu. Chieko menyambut tamu ayahnya.
Ibu, maafkan, saya terlambat datang membantu.
Tak apa. Sang ibu memberi tanda padanya dengan isyarat mata, dan mereka berdua menuju dapur, pura-pura mengambil botol sake. Chieko, pemuda-pemuda itu mengantarkanmu pulang karena kau kelihatan begitu lemas, bukankah begitu
Ya, Shinichi dan kakaknya...
Eh, wajahmu pucat, dan kau tampak tak tegak berdiri. Ditangkupkannya telapak tangan di kening anaknya. Kau tak seperti demam, tapi kau begitu menyedihkan. Malam ini kita kedatangan tamu menginap, jadi kau bisa tidur bersama ibu. Ia pun merangkul pundak anaknya itu dengan lembut. Chieko menahan air mata.
Pergilah ke atas dan tidurlah.
Baiklah, terima kasih. Perasaan Chieko tersentuh melihat kebaikan hati ibunya.
Ayahmu sedikit kesepian sejak jarang kedatangan tamuMeski pernah ada lima atau enam tamu yang datang untuk makan malam.
Chieko menjinjing botol sake pada pegangannya, membawanya ke ruang tamu.
Saya telah banyak minum, terima kasih. Ini saja yang terakhir, sudah cukup.
Botol itu berguncang saat ia tuangkan isinya, sehingga gadis itu menggunakan tangan kiri pula. Namun tangannya masih saja gemetar. Malam itu, lampu Kristiani dinyalakan. Ia bisa melihat samarsamar sepasang bunga violet yang tumbuh dari dua cerukan batang pohon momiji.
Pohon momiji itu sendiri belum berbunga, tapi sepasang violet mungil itu... Apakah mereka Chieko dan Naeko Kelihatan seolah-olah keduanya tak pernah bisa bertemu, tetapi apakah malam itu mereka bisa bertemu Saat Chieko menatap keduanya dalam cahaya muram, air matanya mengambang.
Tn.Takichiro pun tahu ada sesuatu terjadi pada anak gadisnya. Kadang ia menatap ke arahnya.
Chieko diam-diam bangkit dan naik tangga ke lantai atas. Tempat tidur tamu telah disiapkan di kamarnya yang biasa. Di kamar yang biasa ditempatinya, telah disiapkan seprai dan selimut buat sang tamu. Setelah mengambil bantal dari lemari pakaian, Chieko menelusupkan tubuhnya dalam futon.
Ia membenam wajahnya dalam bantal, memegang tepiannya, hingga tak akan ada yang bisa mendengar tangisnya.
Ny.Shige naik dan melihat bantal Chieko basah. Kau bisa menceritakannya lain waktu, lalu diambilnya bantal yang baru dan kembali turun. Di ujung tangga, ia menengok sekali lagi, tapi tak berucap apa pun.
Bukan karena ruang itu terlalu sempit untuk tiga buah futon jika hanya dua saja yang disiapkan. Satu untuk Chieko; dan tampaknya sang ibu telah berniat untuk menemaninya tidur. Dua buah seprai terbaik dari linen, untuk Chieko dan dirinya sendiri, terlipat di kaki futon. Ny.Shige telah menyiapkan tempat tidur anaknya. Memang suatu yang sederhana, namun Chieko tersentuh oleh kebaikan ibunya itu sehingga air matanya mengering dan hatinya menjadi tenang.
Ah, aku benar-benar berada di rumah.
Wajar jika perasaannya kacau, karena pertemuan dengan Naeko itu begitu mendadak.
Chieko berdiri di muka cermin, menatap wajahnya sendiri. Ia hendak memakai make up, namun membatalkannya. Ia hanya mengambil sebotol minyak wangi dan memercikkan setetes kecil di atas seprai. Lalu ia betulkan letak ikat pinggangnya.
Ia tak bisa segera tertidur, tentu saja.
Kupikir aku telah berlaku kasar pada Naeko.
Ketika ia pejamkan mata, dapat dilihatnya keindahan gunung-gunung sugi di kampung Nakagawa.
Dari penuturan Naeko, Chieko pun jadi tahu keadaan orang tua kandungnya.
Apakah sebaiknya kuceritakan pada ayah dan ibu ataukah...
Kemungkinan besar orang tua Chieko yang sekarang sama sekali tak tahu di mana Chieko lahir atau siapa orang tua kandungnya.
Chieko pun bahkan tak mencucurkan air mata saat memikirkan ayah ibu kandungnya yang telah tiada.
Suara orkes musik Gion merambat ke telinga.
Tamu sang ayah kelihatannya adalah seorang pedagang kain krep dari daerah sekitar Nagahama di Omi. Satu botol sake diminum secara bergiliran beberapa kali, jadi suara percakapan mereka terdengar riuh. Beberapa patahan percakapan sampai juga di telinganya, saat terbaring di bagian belakang lantai atas.
Sang tamu berkeras mengatakan bahwa rute pawai kendaraan hias sekarang dimulai dari Shijo, lalu turun ke daerah Kawarachi yang luas dan modern itu, berbelok turun ke Oike, lalu lewat di muka Aula Kotapraja demi menyesuaikan diri dengan tuntutan dinas pariwisata.
Sebelumnya, iring-iringan pawai telah menelusuri jalan-jalan sempit khas Kota Kyoto dan karena itulah kenyataannya beberapa rumah rusak setelah dilewati kendaraan hias. Peserta pawai pun tahu adat. Maka seorang pemilik rumah bisa mendapat kue beras dengan menggapaikan tangannya dari jendela lantai dua saat pawai melintas.
Setelah pawai itu meninggalkan Shijo memasuki jalanan sempit, seseorang tak bisa lagi menikmati keindahan warna-warni kertas yang melapisi kendaraan hias.
Tn.Takichiro mempertahankan cara pandang barunya, bahwa akan menyenangkan bila bisa melihat seluruh peserta pawai dengan mudah di jalanjalan yang lebih lebar.
Sambil berbaring, Chieko bahkan bisa mendengar lamat-lamat suara roda kayu yang tengah berbelok di tikungan jalan.
Tampaknya malam ini sang tamu akan tidur di ruang sebelah. Chieko telah berencana bahwa esok ia akan menceritakan segala yang didengarnya dari Naeko kepada ayah dan ibunya.
Di kampung Kitayama, semua usaha memang berpusat pada industri rumah tangga; tapi tak semua keluarga mempunyai tanah di salah satu bagian gunung, bahkan hanya sedikit yang mempunyai. Chieko membayangkan bahwa dulu orang tuanya mungkin bekerja pada seorang pemilik tanah.
Bukankah Naeko sendiri pernah bilang bahwa ia adalah seorang pemagang
Dua puluh tahun silam orang tuanya bukan hanya malu punya anak kembar, tapi juga merasa kesulitan untuk membesarkan keduanya. Mungkin mereka meninggalkan Chieko di suatu tempat karena bingung: bagaimana harus menafkahi hidup.
Tadi ia lupa bertanya pada Naeko tentang tiga hal. Mengapa ia yang ditinggalkan sewaktu bayi dan bukan Naeko Kapan ayahnya jatuh dari pohon Kata Naeko tepat setelah mereka lahir. Ia juga menerangkan bahwa keduanya lahir di kampung sang ibu di belakang gunung. Apa nama kampung itu
Setelah ia ditinggalkan, status sosialnya berubah. Itulah sebabnya maka Naeko berpikir-pikir dan merasa tak sanggup untuk berkunjung ke rumahnya. Jika Chieko ingin bicara dengan Naeko, ia harus datang ke kampungnya.
Tapi tampaknya Chieko tak bisa meninggalkan rumah tanpa orang tuanya tahu kemana ia pergi.
Chieko telah berkali-kali membaca satu bagian yang indah dari Daya Tarik Kota Kyoto karya Jiro Osaragi: Rumpun-rumpun sugi yang memang dipersiapkan untuk menjadi kayu gelondongan Kitayama itu berdiri dengan cabang-cabangnya yang berlapis-lapis selayak awan gemawan, sedangkan gunung-gunung terjalin erat dengan lembut di antara dahan-dahan cemara merah. Dan mereka menebarkan musik, nyanyian pepohonan. Itu yang selalu muncul dalam ingatannya.
Musik dari deretan gunung yang melingkar itu jalin-menjalin, dan suara-suara nyanyian pepohonan begitu menyentuh hatinya, bahkan terasa lebih dahsyat daripada orkes-orkes musik dalam festival mana pun. Seolah ia mendengar musik dan nyanyian itu menembus gugusan pelangi yang sering tampak di atas Kitayama.
Kesedihannya pudar. Mungkin itu tadi bukanlah kesedihan. Mungkin itu sebuah kejutan, suatu teka-teki, kesusahan akibat perjumpaan yang begitu mendadak itu. Mungkin takdir seorang gadis untuk selalu mencucurkan air mata.
Saat ia berbalik dan menutup mata, Chieko mendengar nyanyi gunung itu.
Naeko begitu gembiranya, tapi aku Apa yang telah kulakukan
Tak lama kemudian, ayah dan ibunya naik ke atas bersama sang tamu. Tidurlah yang nyenyak, seru Tn.Takichiro pada tamunya itu.
Ibu Chieko melipat pakaian yang tadi dikenakan sang tamu, masuk ke ruang di mana Chieko tidur, lalu mulai melipat pakaian suaminya. Aku saja, Bu, Chieko menawarkan bantuan.
Kau belum tidur rupanya. Ia pun mengonggokkan pakaian itu di samping Chieko dan berbaring.
Ah. Di sini hawanya enak. Kau kan masih muda, kata sang ibu.
Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran tamu dari Omi itu menembus ruang yang dipisahkan oleh pintu geser; mungkin sebagai tanda terima kasih atas jamuan sake yang nikmat tadi.
Bu!, terdengar Tn.Takichiro memanggil istrinya dari balik pintu. Kau tahu tidak, Tuan Arita ingin mengutus anaknya datang ke toko kita. Kau tahu tidak
Supaya jadi juru tulis... atau pegawai semacamnya
Supaya jadi suami Chieko.
Heh! Chieko itu belum tidur, Ny.Shige menyuruh suaminya agar diam.
Aku tahu. Malah bagus jika ia mendengar. Chieko diam saja.
Dia itu anak kedua. Kadang-kadang ia datang
ke sini kalau disuruh.
Hu... uh, aku tak begitu suka pada Tuan Arita, Ny.Shige berkata seperti itu agar suaminya diam, dengan penekanan yang kuat.
Nyanyian gunung itu lenyap.
Bukankah begitu, Chieko seru ibunya sambil membalikkan badan ke arahnya. Chieko membuka kelopak mata, tapi tak menjawab. Sunyi beberapa saat. Chieko menghimpitkan pergelangan kaki satu di atas yang lain, masih terbaring.
Tn.Arita menginginkan toko kita ini... Kukira bagaimanapun juga ia tetap menginginkannya, kata Tn.Takichiro. Ia tahu Chieko adalah gadis yang cantik dan baik hati. Ia pun tahu banyak tentang bisnis kita. Kita punya beberapa pegawai yang menceritakan itu semua dengan detail. Semua terdiam.
Yakh, ini bukan masalah seberapa cantikkah anak kita itu. Aku pun tak pernah membayangkan untuk menikahkan dia demi kelangsungan bisnis, bukan begitu, Bu Aku tahu bagaimana Tuhan akan menghukumku.
Itu benar. Sahut istrinya.
Aku tahu watakku tak sesuai dengan toko ini.
Ayah, maafkan. Saya telah membuat Ayah pergi
ke biara di Saga dengan adanya buku-buku Paul Klee itu. Chieko bangun dan minta maaf pada ayahnya.
Apa Buku itu kesukaanku... yang membuat aku senang. Untuk itulah aku hidup sekarang ini. Sang ayah menundukkan kepala perlahan. Meski aku tak cukup punya bakat untuk melukis desain.
Ayah.
Chieko, jika toko ini akan dijual, Nishijin akan baik baik saja. Tapi jika kita pindah ke sebuah rumah yang kecil dan sunyi dekat Nanzenji atau Okizaki, dan kita berdua memikirkan pembuatan desain kimono dan obi, bagaimana menurutmu Kau bisa tahan jika kita jatuh miskin
Miskin Saya sama sekali tak keberatan.
Setelah mendengar itu sang ayah tidur sebentar, tapi Chieko tetap tak bisa tidur.
Esoknya Chieko bangun lebih awal, menyapu jalanan di muka toko, lalu membersihkan bangkubangku dan pintu kisi-kisi.
Festival Gion dilanjutkan.
Setelah tanggal delapan belas kita bisa melihat bangunan di mana kendaraan- kendaraan hias itu berkumpul, lalu di tanggal dua puluh tiga ada Festival Tirai di Hieizan, pawai kendaraan hias di tanggal dua puluh empat, dan setelah itu pelaksanaan peringatan Kyogen, pembasuhan tandu kuil tanggal dua puluh delapan, lalu kembali ke Kuil Yasaka untuk mengadakan festival penutupan upacara-upacara Shinto.
Beberapa kendaraan hias melewati Taramachi.
Di tengah berbagai kegiatan festival dalam sebulan itu, hati Chieko tak mau diajak tenang.