Sesampainya di kampus SMA N 6, Ibnu disambut oleh panitia. Mereka berlomba menjabat tangannya. Ia pun menanggapi mereka dengan senyum dan jabatan tangan hangat, kecuali kepada akhwat ia hanya menggelontorkan senyuman ramah. Ia segera menuju musholla untuk menunaikan shalat isya. Ia ditawari untuk menjadi imam shalat, tapi ia menolak dan menyerahkannya kepada tuan rumah. Lalu iapun sholat dengan diimami oleh ketua panitia, bacaannya cukup fasih.
Selesai sholat dan istirahat, acara training yang sudah dimulai sejak sore tadi segera dilanjutkan. Acaranya dihadiri oleh sekitar tiga puluh peserta, semuanya pengurus Rohis. Pembawa acara membuka acara, kemudian Ibnu dipersilahkan untuk menyampaikan materi tentang Leadership.
Ibnu segera berdiri dengan tegap dan menunjukkan sikap percaya diri yang tinggi. Setelah ia awali dengan salam, ia lanjutkan dengan presentasi materi,
Salam motivasi!
Saya bahagia sekali bisa hadir ditengah-tengah saudara pada malam hari ini.
Ini adalah kelima kalinya saya hadir untuk berbicara didepan temanteman Rohis SMA N 6. Saya harap disini kita bisa belajar bersama untuk menggali semangat dan potensi yang ada dalam diri kita. Bukankah kita adalah manusia yang diciptakan oleh Allah dengan beragam potensi dan keunikan Sebagaimana Allah berfirman: Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya Apakah anda sepakat kalau kita adalah manusia yang berpotensi dan unik Setuju... semua peserta menjawab kompak.
Baiklah, anda sendiri yang menjawab ya Bukan saya Saya hanya bertanya
Haha haha para peserta tertawa mendengar kata-kata Ibnu yang ia katakan dengan nada bergurau.
Kalau anda semua sudah sadar kalau anda adalah manusia yang berpotensi dan unik, saya fikir anda tidak perlu mengikuti acara ini.
Bukankah begitu katanya sambil tersenyum.
Haha haha semua peserta kembali tertawa dengan leluconnya.
Oke baiklah, malam ini kita akan berbicara tentang leadership atau kepemimpinan. Anda bisa melihat di layar. Disana ada sebuah pertanyaan sederhana. Saya ingin andalah yang menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaannya adalah: Apakah hubungan antara manusia dan kepemimpinan What is correlation between human and leadership
Seorang peserta laki-laki berambut lurus menjawab,
Manusia adalah makhluk yang dibekali jiwa kepemimpinan oleh
Allah SWT
Oke, Maaf siapa nama saudara tanya Ibnu Firman jawab peserta tersebut.
Oke, ada lagi yang berpendapat lain selain Firman
Saya
Silahkan. Nama
Syifa. Nurussyifa
Yap silahkan Mbak Syifa
Saya memiliki cerita yang bisa sedikit menggambarkan hubungan antara manusia dan kepemimpinan. Frederick Agung, seorang Raja Prusia yang sangat terkenal, suatu ketika sedang berjalan-jalan dipinggiran kota Berlin. Ketika itu dia bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sedang berjalan kearah berlawanan. Raja tersebut bertanya: Hei, siapa kau. Saya Raja jawab laki-laki tua. Spontan Sang Raja menukas, Raja! Atas kerajaan mana kau memerintah. Laki-laki tua menjawab dengan santai: Atas diri saya sendiri. Dari cerita tersebut, bisa ditarik sebuah pernyataan, Setiap manusia adalah pemimpin. Itulah jawaban dari pertanyaan Mas Ibnu. Sebagaimana Rosulullah SAW bersabda: Setiap diri kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Terima kasih
Bagus sekali jawaban Saudari. Oke, Setiap manusia adalah pemimpin. Ada yang tidak sepakat Semua peserta terdiam.
Baiklah, kalau sepakat semua berarti selesai donk diskusinya Saya pulang saja ya
Haha haha semua peserta kembali tertawa.
Oke, silahkan teman-teman buka Al Quran Surat Al Anam ayat:
165. Ada yang bersedia membacakannya Saya salah seorang peserta menawarkan diri.
Silahkan
Wahuwalladzii jaalakum khalaaifal ardhi... Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalifah) di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikannya kepadamu...
Kemudian Ibnu menjelaskan panjang lebar tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan. Ia jelaskan bahwa pemimpin tidaklah selalu diartikan sebagai Bos, Manajer atau Ketua dalam organisasi, sementara orang biasa saja merasa dirinya bukanlah seorang pemimpin. Seorang pemimpin diri sendiri (personal leader) harus mampu membawa dirinya dalam setiap aktivitas yang dikerjakannya, dan dalam berbagai interaksi yang terjalin dengan siapapun. Ibnu menjelaskan beberapa karakter yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, ia menyebutnya Commitment, Consequent dan Consistent. Ia membedakan ketiga istilah yang selama ini banyak disamakan oleh kebanyakan orang.
Menurutnya, Commitment adalah ketegasan terhadap dirinya sendiri dalam memainkan peran. Sebagaimana halnya seorang pemain teater, ia harus tegas dengan perannya. Ketika perannya sebagai seorang raja, berarti ia tidak bisa menjadi seorang budak. Sepanjang sejarah, setiap orang besar selalu tegas dalam perannya, diwilayah mana dia bisa hidup dan berkarya. Jajaluddin Rumi tidak bisa membuat bola lampu pijar sebagaimana Thomas Alfaedison, begitu pula sebaliknya. Thomas Alfaedison tidak bisa meramu kata-kata menjadi puisi indah sebagaimana Rumi dalam Masnawi dan Kasidah Cinta. Mereka komitmen dengan perannya masing-masing. Ketika seseorang telah memiliki fokus yang tegas, disanalah ia akan hidup dan berkarya.
Karakter orang yang memiliki komitmen antara lain: Pertama, Under Pressure Working. Ialah orang tersebut siap bekerja dibawah tekanan, ia selalu mengerjakan segala sesuatu dengan rasa senang dan senyum meskipun harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat yang berada dibawah tekanan. Ia tidak menganggapnya sebagai sebuah beban yang menyebabkan ia lari dari tanggung jawab.
Kedua, Service minded. Berfikir seperti halnya seorang pelayan. Artinya ingin memberikan yang terbaik untuk orang lain, tidak tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu, tapi memiliki tahapan-tahapan yang perlahan tapi pasti. Dont be a sprinter, be a marathon runner!
Ketiga, Quality of life. Ialah mereka yang senantiasa memandang hidupnya berharga dan bermakna. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk pekerjaan yang tidak bermanfaat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ashr ayat 1-3: Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman dan beramal shaleh dan saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran.
Keempat, Enthusiasm. Ialah mereka yang memiliki semangat untuk menggapai kesuksesan. Semangat ini bisa diartikan menjadi dua segi: semangat dibidang dunia dan semangat dibidang akhirat. Keduanya harus seimbang untuk mencapai kebahagiaan. Contoh dalam semangat duniawi adalah Frank Bettger, seorang Wiraniaga yang pernah menjadi orang yang memiliki penghasilan tertinggi di Amerika sementara dirinya berlatar belakang keluarga miskin dan tidak lulus sekolah. Dengan semangatnya bekerja ia bisa memperoleh banyak uang, mencapai kesuksesan dunia. Lain halnya dengan Salman Al Farisi. Sebelum masuk Islam, ia adalah seorang Majusi yang bertugas menjaga api. Namun ketika hidayah datang padanya, ia berupaya keras mencari Rosulullah. Dalam perjalannya mencari Rosul, ia mengalami banyak cobaan, hingga pernah menjadi seorang budak, tapi dengan semangat dan kesungguhannya, ia berhasil sukses menemukan Rosul.
Ibnu juga menjelaskan tentang arti consequent. Consequent adalah sikap yang berani dalam mengambil resiko. Ia mengambil contoh Dokter Courson, seorang berkebangsaan Inggris yang tinggal di Tanganyika. Dokter tersebut menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit lalat Tse-tse di Afrika Selatan. Ketika ia hendak menawarkan penemuan obatnya, masyarakat sekitar menolaknya, tidak mempercayainya. Hal ini disebabkan selama ini semua tawaran obat selalu gagal dan berakibat fatal bagi si penderita. Apa yang dilakukan dokter tersebut Ia ingin membuktikannya dengan mengambil basil penyakit tidur dan disuntikan kepada dirinya sendiri. Sebelumnya ia telah berpesan kepada teman-temannya untuk memberikan obat hasil penemuannya untuk mengobati dirinya. Dan temantemannya kemudian memenuhi permintaan dokter tersebut. Ternyata dalam waktu beberapa minggu dokter tesebut terbangun, dan pada akhirnya terbuktilah keampuhan penemuan dokter tersebut. Ia menjadi orang yang sukses dalam mengambil resiko.
Ada beberapa karakter seorang yang konsekuen, antara lain: Pertama, Dare to be different. Ia berani untuk tampil berbeda, tidak seperti orang pada umumnya. Ia menjadi orang unik yang berfikir tidak seperti biasa (extra ordinary thinking). Inilah yang menjadi nilai plus seseorang. Jika kita membaca buku Khalid Muhammad Khalid yang berjudul 60 Karakteristik Sahabat Rasulullah, maka kita akan menemukan perbedaan karakter diantara mereka. Abu Bakar adalah sahabat yang kalem dan bijaksana, Umar adalah seorang pemberani. Abu Dzar adalah sahabat yang sangat sederhana. Mereka semua memiliki keunikan masing-masing.
Kedua, Self Confidence. Ialah mereka yang memiliki rasa percaya diri. Menurut penelitian, 80 persen perasaan manusia lebih cenderung kepada rasa takut (fear) dan hanya 20 persen yang menunjukkan sikap positif (positive thinking). Sudah saatnya kita menghancurkan kesimpulan penelitian tersebut dengan menjadikan diri kita manusia yang memiliki rasa percaya diri tinggi. John Foreira, seorang konsultan Deloitte dan Touche Consulting mengatakan: seorang yang memiliki rasa percaya diri, disamping mampu untuk mengendalikan diri dan menjaga keyakinan dirinya, ia juga akan mampu membuat perubahan di lingkungannya. Allah berfirman: Dan milik-Nya lah apa yang ada di langit dan di bumi, dan kepada-Nya lah ibadah selama-lamanya, maka kenapa kamu takutkan yang selain Allah .
Ketiga, Becoming a learner. Ialah menjadi seorang pembelajar. Ia akan selalu dinamis dalam hidupnya, sehingga membuatnya selalu mengalami perkembangan. Rosul bersabda: Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. Hampir semua orang besar di dunia ini memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Archimedes berteriak eureka! ketika mendapatkan petunjuk dalam penelitiannya yang sebelumnya sangat membingungkannya. Mereka memiliki curiousity atau rasa penasaran sehingga mampu menstimulan diri untuk terus belajar, mencari, memahami, dan menemukan.
Yang terakhir adalah consistent. Consistent maksudnya adalah sikap teguh pendirian (istiqamah). Dimanapun ia bergerak dan melangkah, ia selalu memegang prinsip hidup dan cita-cita yang telah dirancangnya. Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) janganlah kamu merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Ke-istiqamah-an ini adalah manifestasi dari keimanan kepada Tuhan.
Ada 2 faktor yang bisa mengontrol seseorang agar selalu istiqamah dalam hidupnya. Petama, Faktor internal. Faktor internal mencakup ilmu dan iman. Ilmu akan selalu menjadi pengawas diri kita untuk selalu konsisten dengan apa yang kita kerjakan. Sedangkan keimanan akan selalu membentengi diri kita agar tidak terperosok dalam lembah kegelapan.
Kedua, Faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal terpenting adalah komunitas atau jamaah. Komunitas yang tepat inilah yang akan selalu mengingatkan diri kita untuk selalu teguh pendirian dalam jalan kebenaran dan kebaikan. Sekaligus mengingatkan kita akan cita-cita kita untuk menggapai kesuksesan.
Itulah beberapa karakter yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Akhirnya, marilah kita tutup materi ini dengan sebuah ayat: Dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami tutup Ibnu dengan kata-kata yang mantap.
Ibnu menutup materi dengan sambutan yang luar biasa dari para peserta training. Ada banyak pasang mata yang menatapnya. Hanya ada seorang perempuan yang ia lihat selalu menundukkan padangannya, dan yang membuat hatinya berdesir adalah perempuan tersebut ternyata perempuan yang bernama Nurussyifa. Ia telah sedikit tahu mengenai dirinya. Ketika ia sedang memberikan materi tadi, perempuan itu telah menunjukkan kecerdasannya. Nurussyifa mampu menjawab pertanyaan yang ia lontarkan dengan jawaban yang apik dan menarik. Selain cerdas dan ghudul bashar perempuan itu juga cantik. Sejak ia selesai membawakan materi, tak sepatah katapun ia menyapa perempuan anggun itu. Ia hanya teringat kalau perempuan itu memiliki nama panggilan: Syifa. Sepertinya ia semakin penasaran pada sosok perempuan itu.
Selesainya menyampaikan materi, Ibnu segera izin untuk pulang. Sebelumnya ia dihadiahi sebuah kenang-kenangan dari panitia sebuah bungkusan yang tampaknya berisi sebuah buku. Ia berencana untuk membukanya di rumah saja.
Sesampainya di rumah Ibnu merasa cukup lelah. Beruntung malam ini ia tidak punya agenda untuk menyetorkan isi buku dihadapan bapaknya sebagaimana biasanya. Kemarin ia diberikan naskah buku karangan bapaknya. Buku ketiga tentang Epistemologi Ilmu Sosial yang ditulis bapaknya, setebal 450 halaman. Ia diberikan waktu dua hari untuk membaca dan memberikan catatan untuk buku tersebut. Ia memang selalu diberikan kepercayaan oleh bapaknya untuk membaca dan mengkritisi buku-bukunya. Sang bapak bermaksud untuk melatih kemampuannya sehingga ia tidak hanya mampu membaca dan menjelaskan sebuah buku, tapi juga memiliki kemampuan untuk memberikan catatan atau kritik terhadap sebuah buku atau tulisan.
Dimatanya tampak sebuah bungkusan. Ia lihat hadiah dari panitia yang baru diberikan padanya selesai mengisi training tadi. Iapun membukanya.
Ia sedikit terkejut.
Fikirannya mengingatkannya, bukankah ini buku yang diceritakan Si Jalal beberapa hari yang lalu Sebuah novel berjudul Dibawah naungan-
Mu karangan Ghazali Ar Rusyd. Kelihatannya memang buku tentang cinta dan romantisme. Ia berfikir lebih baik lain waktu saja ia membacanya. Ia merasa harus segera tidur untuk menghemat energinya, karena besok ia harus mengerjakan banyak hal seperti biasanya.
***
Ia berupaya keras memejamkan matanya. Tapi anehnya malam itu begitu sulit ia lakukan. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu fikirannya. Saat ini yang ada dalam fikirannya hanyalah sesosok perempuan yang memiliki pesona laksana bidadari yang turun dari langit. Bidadari yang telah membuat hatinya terus berdesir sejak beberapa jam yang lalu ketika ia bertemu dengannya. Nurussyifa. Ya, dialah bidadari itu. Tiba-tiba dalam bayangannya muncul sesosok perempuan cantik itu. Dalam angannya, ia ingin membawa perempuan itu terbang ke angkasa, memetik bintang, dan mencium rembulan, dan dalam keheningan malam itu mereka bisa beradu pandang. Kedua pasang mata bisa saling menatap, saling menikmati keindahan mata yang dimiliki masing-masing. Fikirannya terus melayang keatas langit, tak sadar ia mengucapkan beberapa bait syair:
Diruang petala langit diatas sayap sajakku
Kubawa terbang cintaku
Menemui sang bidadari syurga
Disana,
Dipadang datar kehampaan
Kubawakan segenap isi kalbu Meretas rasa kegundahan
Bidadariku..
Dirimu sebening telaga suci ditaman makrifat
Sewangi zahra di firdaus makna
Merekah tak terpetik oleh senandung mimpi
Kesempurnaan yang tak tergambar oleh puisi Rumi
Kemabukan melodi sufi Khurasan klasik
Terpaku malu menatap pesona matamu
Rintihan tangis karena kesombongan Menyingkap tabir keindahan Tuhan
Ku iringi petikan syair para pujangga
Senandung lagu yang sendu
Mengalunkan sajak-sajak pujian
Menunggui bidadariku dipadang rindu
Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Ia tak pernah menyangka akan merangkai kata-kata seindah itu. Tak pernah sekalipun dalam fikirannya ia akan melafadzkan kata-kata romantis sembari membayangkan sesosok perempuan. Selama ini ia hanya memiliki hasrat dan gairah untuk menguasai wacana-wacana keilmuan untuk memuaskan dahaga intelektualnya. Tapi saat ini situasi hatinya sungguh berbeda. Ia seolah sedang dihantui oleh sesosok bidadari yang menyamar dalam wujud seorang perempuan cantik dan anggun.
Nurussyifa, sedang apa kau Apa kau juga sedang memikirkanku tiba-tiba fikirannya bukan sekadar merindukan kehadiran Nurussyifa, tapi ia mulai mengharapkan agar perempuan yang sedang membuatnya mabuk cinta itu juga memikirkannya, bahkan juga menghendaki kehadirannya disisi kekasihnya. Dengan begitu lengkaplah sebuah cerita cinta, sebuah perasaan cinta yang menyatu dalam hati dua orang insan.
Fikirannya masih diliputi panasnya api rindu. Kian lama ia memikirkannya, semakin dahsyat ia merasakan derita. Rasa rindunya semakin menderu dendam. Ia belum juga memejamkan matanya.
Oh Tuhan Beginikah rasanya jatuh cinta Rasanya sungguh menyakitkan, tapi apakah rasa sakit inilah yang nantinya akan menjadi sebuah kenikmatan sempurna keluarlah kata-kata keluhan dari mulutnya. Sebelumnya ia tak pernah mengeluh. Disuruh membaca buku setebal lima ratus halaman hanya dalam sehari juga tak pernah membuatnya mengeluh. Menulis buku dengan referensi lima bahasa asing dalam waktu singkat juga tidak membuatnya mengeluh sama sekali. Ia bukanlah tipe seorang pengeluh. Ia adalah seorang motivator, seorang pemberi semangat yang selalu menyemburkan api semangat kedalam dada setiap orang, selalu memberikan suntikan positif kepada setiap orang yang selalu berfikiran negatif. Tapi, kenapa kini ia merasa menjadi seorang manusia yang paling lemah Yang tak mampu mengontrol hasrat jiwanya
Ia tak peduli dengan semua kata-kata motivasi itu. Menikmati penderitaan cinta ternyata jauh lebih nikmat dari segala kenikmatan yang selama ini pernah ia rasakan. Ia merasa harus selalu memelihara rasa cintanya itu. Ia tak ingin rasa cintanya itu hilang dari jiwanya. Tiba-tiba ia berfikir untuk menyampaikan sesuatu kepada Nurussyifa. Tapi lewat apa ia harus mengatakan isi hatinya itu Tampak didepan pelupuk matanya laptopnya tergeletak di atas meja belajarnya. Ia segera mengambilnya lalu membukanya. Ia bermaksud untuk mengirimkan pesan melalui friendster. Ia klik profil-nya. Seketika itu ia begitu terkejut, ternyata ada sebuah comment dari Nurussyifa.
Dikirim 09/21/2008 22:13 pm
Assalamualaikum wr wb. Syukron atas materi trainingnya. Sangat bagus. Semoga lain waktu kita bisa bersua kembali, mengais samudera ilmu yang lain
Hatinya semakin berdesir. Didepan matanya hadir sebuah pesan dari orang yang saat ini begitu dirindukannya. Ia tak berfikir panjang. Ia ingin menulis sebuah pesan untuknya. Ia berfikir lebih baik mengirim pesan lewat email, tidak melalui comment dalam friendster. Mengirim email lebih aman, karena hanya diketahui oleh pemilik email tersebut. Iapun segera menuliskan isi hatinya.
Assalamualaikum. Maafkan aku jikalau aku menuliskan risalah melalui emailmu ini. Kita baru saja bersua, bertatap muka. Sejujurnya aku merasakan ada sebuah dorongan gaib untuk lebih mengenalmu. Sebuah kebahagiaan besar jikalau kau bersedia menjadi sahabatku. Maukah kau, Syifa
Tak sadar ia telah menuliskan kata-kata itu. Kata-kata yang suatu saat nanti bisa menjadikan dirinya seorang pemabuk cinta. Selama ini ia tak pernah jatuh cinta kepada seorang gadis manapun. Ia merasakan kalau ini adalah cinta pertamanya. Jatuh cinta yang pertama kali adalah episode hidup yang paling menggairahkan, yang paling memabukkan dan yang paling membahayakan. Ia bisa lebih memabukan dari tuaknya para sufi khurasan klasik, bisa lebih romantis dari syair-syair Jalaluddin Rumi, bisa lebih gila dari apa yang dilakukan oleh Qeis dalam kisah Layla Majnun karangan Nizami, bahkan bisa mengubah hidupnya seperti Al Qos yang menjatuhkan hatinya dipelukan jiwa Salamah dalam cerita Ali Ahmad Baktsir. Hatinya kembali bersyair, sebagai ungkapan rasa penasaran terhadap sosok bidadari yang dirindukannya itu.
Apakah kau seperti Salamah Dalam karangan Ali Ahmad Baktsir
Ataukah laksana Layla Dalam goresan tinta Nizami
Apakah bagai Rufisari Ding Liah Dalam tulisan Korrie Layun Rampan
Ah,
Kau lebih mirip seperti Rabiah Al Adawiyah
Atau,
Ibunda Hawa
Maryam
Khadijah Aisyah Az Zahra
Tidak,
Mungkin aku akan mati
Tertimpa tumpukan kertas
Berisi puisi-puisi
Ya,
Puisi
Puisi yang tetap tak akan mampu
Menggambarkan Kesempurnaanmu itu!