Aku butuh sesuatu yang benar-benar mengerikan kali ini.
Seharusnya dari semula kamu membiarkan kapal itu meledak saja, membayar dendam si perempuan kepada saudagar kaya itu. Si anak laki-laki bisa mengumpulkan apa saja yang bisa ia kumpulkan ke dalam sekoci dan tiba di Gujarat bergelimang harta.
Lalu ceritanya selesai Syahrazad mengelus lehernya. Jika aku biarkan perempuan itu membayar dendamnya, raja akan semakin membenci kami. Kau bukan perempuan. Kau tak tahu bagaimana rasanya menyaksikan matahari tenggelam. Lalu langit yang menjadi merah karena darah para perempuan sebelumku yang telah dipenggal raja.
Kau bisa pergi denganku, Tuan Putri. Kau akan menjadi permaisuri, dan orang-orang akan memanggilku Tuan Raja. Di sana tak ada senja yang akan menggelisahkanmu. Kami tak mengenal malam dan orang-orang mengisi waktunya dengan giat bekerja.
Kau tahu aku tak akan tertipu. Aku bercerita tak hanya untuk diriku sendiri, lalu Syahrazad mengeluarkan lima keping emas dan membenamkannya ke telapak tangan si tukang cerita.
Tapi cerita yang satu ini, lebih mahal dari lima keping emas, jawab si tukang cerita tanpa melepas tangan Syahrazad.
Tak ada yang lebih mahal daripada nasib kami dan seluruh kerajaan ini.
Kau akan membayarnya dengan apa pun
Apa pun!
Maka berlarilah mereka berdua ke balik bukit yang sudah lama dilupakan semua orang. Menyusuri sungai yang telah beribu tahun kering. Masuk ke dalam sebuah ceruk yang dihuni kawanan ular berbisa. Namun mereka tak perlu khawatir karena si tukang cerita telah berkawan dengan mereka. Lalu sampailah mereka pada sebuah kolam kecil yang berpendar. Seakan di dasarnya ada sebuah bintang yang terus berpijar. Kau bilang ada pintu, kata Syahrazad, merasa dirinya telah tertipu.
Pintunya ada di dasar kolam ini. Melompatlah!
Syahrazad tetap bergeming di bibir kolam. Hingga si tukang cerita akhirnya melompat dan tak muncul kian lama, Syahrazad mendapati dirinya terkepung kawanan ular berbisa. Ribuan ekor serangga mulai menggerogoti kakinya. Ketika seekor jangkrik melompat hinggap ke leher putihnya, Syahrazad langsung melompat ke dalam kolam.
Cahaya putih melumuri sekujur tubuhnya. Ia merayap di atas bentangan yang tak menghasilkan suara. Ia bisa merasakan kakinya menjejaki sesuatu yang lembut ketika mulai bangkit berdiri. Sebuah kereta kuda dengan asap biru di hadapannya. Si tukang cerita menyingkap tirai kereta dan berkata, Naiklah, akan kubawa kau ke sebuah negeri yang tak mengenal malam dan akulah yang menjadi rajanya.
Tapi kaubilang ada pintu Syahrazad masih juga merasa tertipu. Ia mendongak melihat ke arah mana ia tadi datang dan ternyata, apa yang ia kira permukaan sebuah kolam hanyalah selubung tipis yang menyerupai lembaran cermin yang terus berpendar.
Si tukang cerita menunjuk sebuah gerbang yang sebelumnya luput dari perhatian Syarazad.
Kereta itu berderak dan mereka bergerak menuju gerbang gelap yang menjulang, menutup apa pun yang ada di baliknya. Gerbang itu menguak terbuka dan terbentanglah perkebunan hijau de ngan orangorang kerdil yang bekerja dalam seragam biru kelabu. Ketika kereta itu melintas di sebuah bukit, orang-orang kerdil yang bekerja itu tengah beristirahat. Mengelilingi bangunan kerucut gelap yang menyerupai malam dan Syahrazad mengenali tiap rasi bintang yang berarak pelan di dalamnya.
Si tukang cerita menyingkap tirai dan terkekeh,
Mereka semua adalah budakku.
Syahrazad memicingkan mata untuk membiasakan diri pada cahaya siang yang terik. Mereka cuma anak-anak!
Si tukang cerita kembali terkekeh. Dan tak seorang pun dari mereka yang tahu apa artinya itu.
Seekor jangkrik yang hinggap di leher Syahrazad melompat dan merayap pada tirai yang tengah ia singkap. Jangkrik itu berderik dan salah satu kepala yang bersujud itu mendongak. Mata mereka sejenak bersitatap, tapi kemudian budak itu kembali bersujud.
Kereta membawa mereka ke istana si tukang cerita. Mereka memasuki sebuah ruangan dengan kubah yang membentuk kerucut ke atas. Puncak kerucut itu berlubang dan menjadi celah bagi cahaya matahari masuk. Di sini, dulu nenek moyangku menggulung malam.
Syahrazad tak bersuara. Ruangan berlapis marmer itu jauh lebih sederhana daripada istana yang ia kenal. Jendela-jendela yang mengitari ruanga n itu dilengkapi kerai yang membuat sinar matahari menerobos masuk seperti tombak-tombak cahaya. Tidak terlihat seperti istana, ujar Syahrazad.
Memang semula bukan untuk istana.
Melihat wajah Syahrazad yang diselubungi tanda tanya, si tukang cerita pun mulai bercerita. Tentang mengapa bangunan itu berbentuk kerucut dan mengarah tepat ke matahari siang.
Saat cerita itu selesai, cahaya yang menerobos masuk ke ruangan itu sudah mulai merah. Syahrazad teringat akan senja di negerinya. Ia bergegas kembali menaiki kereta dan pergi sebelum si tukang cerita sanggup mencegah. Tapi di sini tak akan ada malam, teriak si tukang cerita. Suaranya tertelan oleh asap biru yang dikepulkan oleh kereta itu.
Esoknya Syahrazad kembali bahkan sebelum si tukang cerita bangkit dari tempat tidurnya. Dari salah satu jendela ia mengamati anak-anak dalam seragam biru kelabu yang bekerja. Pada tiap kantong baju mereka tertera baris angka. Untuk apa angka-angka itu
Masih dengan mata yang setengah mengantuk, si tukang cerita mulai bercerita.
Saat ceritanya selesai, cahaya yang menerobos masuk dari ujung kubah sudah mulai merah. Syahrazad kembali berlari meninggalkan istana dan meninggalkan suara si tukang cerita yang lenyap bersama asap kereta.
Pada hari berikutnya, jauh sebelum matahari mulai merangkak memanjati kaki langit di sebelah timur, Syahrazad sudah muncul kembali dan membangunkan si tukang cerita dari mimpinya. Untuk apa mereka semua terus bekerja
Si tukang cerita menyunggingkan sebuah senyum. Demi sebuah mimpi, Tuan Putri, kemudian tanpa diminta si tukang cerita meneruskan bercerita. Ketika ia sampai di bagian tengah cerita sambil menunjuk matahari yang tepat bersinar di tengah kubah, Syahrazad memotong ceritanya. Demi mimpi satu orang saja, kau mengorbankan mereka
Mereka melakukannya dengan sukacita. Bahkan mungkin, mereka sendiri tidak tahu apa itu sukacita. Ia terkekeh, Mereka tak mengenal hal semacam itu. Kalaupun mereka merasakannya, merek a tak punya kata-kata untuk membicarakannya. Di benak mereka hanya ada angka-angka. Mereka tumbuh dengan berhitung dan demi angka-angka itulah mereka bekerja. Di luar itu, bagi mereka tak ada apa-apa.
Syahrazad kembali mondar-mandir gelisah. Tubuh putihnya memantulkan cahaya matahari yang menerobos masuk. Bersama gerak tubuhnya, ruangan itu seperti menari dalam cahaya perak. Si tukang cerita menyaksikan semua ini dengan seri ngai lebar. Tak pernah istananya menjadi seindah ini sebelumnya. Bagaimana kamu bisa tahu kalau mereka tak mengenal hal lain di luar angka Barangkali, me reka juga punya mimpi mereka sendiri
Mendengarnya, si tukang cerita langsung tertawa. Bagaimana mungkin mereka punya mimpi jika mereka tak pernah punya kesempatan untuk tidur
Tapi kenapa Kenapa tak kau biarkan mereka memiliki impian mereka sendiri
Senyum lebar pada wajah si tukang cerita perlahan surut. Biar kuceritakan tentang mimpi raja. Sebuah hikayat bagaimana bintang tercipta.