Tidak banyak yang dikatakan Imelda selama proses perceraiannya dengan seorang pengusaha properti terkenal negeri ini. Damara justru mendengar rentetan kisah rumah tangga Imelda dari manajernya, selebihnya Damara hanya mendapati kliennya tertunduk diam dengan mata sembap dan beberapa luka lebam di wajah yang sebisa mungkin ditutupinya.
Awalnya Damara dapat memaklumi sikap diam Imelda, mungkin ada penjelasan psikologis untuk itu. Namun setelah sekian lama berlangsung, Damara tidak mungkin membiarkan kliennya terus-terusan diam.
"Anda ingin saya melakukan langkah hukum seperti apa, kalau Anda tidak mendiskusikan semuanya dengan saya Manajer Anda bukan orang yang saya tangani kasusnya, kan Saya ingin mendengar semua langsung dari Anda, bukan dari manajer Anda!"
Imelda tetap diam, tidak menjawab apa-apa. Damara menghela napas, membalikkan badannya, dan menatap ke bawah melalui dinding kaca, ke pelataran parkir gedung dari ruang kerjanya di lantai tiga. Kira-kira sepuluh wartawan infotainment menunggu dengan setia.
"Anda bisa saja tidak menceritakan apa pun pada wartawan di luar sana, tapi kepada saya, kuasa hukum Anda, tidak bisa seperti itu."
Imelda mendongak pelan menyusul perkataan Damara, mata sembapnya yang mengguratkan begitu banyak kesedihan menatap Damara.
"Saya cuma ingin bercerai. Hanya itu langkah hukum yang ingin saya tempuh," kata Imelda lirih. "Anda yakin hanya menginginkan perceraian" Damara mendekati Imelda, kembali duduk di kursi kerjanya. "Anda sudah banyak mengalami perlakuan menyakitkan dari suami Anda, saya rasa bukan keputusan yang bijak jika Anda hanya menginginkan perceraian."
"Sebagai orang yang menyewa jasa hukum Anda, saya berhak menentukan langkah hukum seperti apa yang ingin saya tempuh," tegas Imelda yang tiba-tiba menatap tajam pada Damara. "Biro hukum ini merekomendasikan Anda, karena Anda dinilai sangat kompeten menangani kasus perceraian. Jadi, tunjukkan kompetensi Anda dengan segera menyelesaikan kasus perceraian saya... hanya kasus perceraian saya."
Damara dibuat terenyak sesaat dengan sikap Imelda. Wanita yang tadinya begitu diam tak disangka bisa begitu lugas menegaskan apa yang diinginkannya.
"Apa yang saya inginkan sudah saya sampaikan dengan cukup jelas, selebihnya Anda bisa menanyakan pada manajer saya. Selamat siang," pungkas Imelda, seraya memakai kacamata gelap untuk menutupi mata sembapnya lalu beranjak dari ruang kerja Damara.
Damara mengenyakkan tubuhnya di kursi kerja, tak menyangka menangani kasus perceraian orang terkenal akan begitu melelahkan. Damara berdiri, sekali lagi menatap ke luar melalui dinding kaca. Wartawan tampak sibuk mengerumuni Imelda yang baru saja keluar dari gedung, menuntut pernyataan.
Imelda memang berbeda, tidak seperti kebanyakan klien yang pernah ditangani Damara yang rata-rata membuka berbagai hal buruk mengenai pasangannya. Tak sedikit pula yang matimatian menuntut harta gono-gini. Tapi Imelda tidak pernah sekali pun bercerita tentang apa yang dialaminya. Hanya beberapa luka lebam di sudut wajahnya yang bercerita. Imelda pun tidak pernah menyatakan akan menuntut harta gono-gini, padahal suaminya memiliki aset miliaran rupiah. Imelda terkesan hanya ingin mengakhiri rumah tangganya, hanya ingin segera terlepas dari orang yang selama ini menjadi suaminya. Hal ini membuat Damara lelah dengan sikap Imelda, sekaligus merasa tertantang untuk menyelesaikan kasus model cantik yang begitu menutup dirinya.
***
Saat jam pelajaran olahraga, Danu tengah berdiri di lapangan basket saat matanya bergerak mengikuti sosok Anka yang bergegas di koridor dengan setumpuk buku menuju lab kimia, 200 meter dari tempat Danu berdiri. Hampir setiap hari Danu melihat Anka seperti itu, berjalan bergegas ke sudut sekolah dengan sedikitnya 5 buah buku tebal di tangannya. Anka selalu terlihat sibuk. Hampir tidak pernah lagi Danu melihat Anka duduk santai, bersantai di bangkunya dengan earphone terpasang di telinga saat jam istirahat, seperti dulu. Tidak pernah lagi Anka melambai ceria ke arah Danu setiap kali lewat atau memang sengaja datang menemui Danu di kelasnya.
Suara peluit yang melengking menyentak Danu. Ia menoleh ke arah guru olahraga yang menatapnya galak sambil menggerakkan tangan mengisyaratkan Danu harus ikut berlari mengelilingi lapangan mengikuti teman-teman sekelasnya.
***
"Hi, miss busy..." Danu mengenyakkan punggungnya di kursi perpustakaan, di samping Anka yang terlihat serius dengan buku tebal bertabur angka. Danu tersenyum saat Anka menoleh ke arahnya.
"Eh, Nu... gue kira siapa. Ngagetin aja lo."
"Serius banget sih, ini kan udah jam pulang, lo masih nongkrong di sini."
"Gue ada tugas, Nu, jadi gue harus nyari bahan," jelas Anka sambil membolak-balik halaman buku, mengabaikan Danu.
"Temen sekelas lo bilang tugas ini baru dikumpulin minggu depan. Nggak usah maksain diri ngerjain sekarang, Ka..."
"Nggak ada salahnya kan, ngerjain tugas lebih awal" sanggah Anka. "Kata orang bijak begitu, jangan pernah nunda kerjaan."
Danu mendesah, kesal sendiri menghadapi sikap keras kepala Anka. "Eh, tadi di depan gue ketemu Riko, kok lo nggak pulang bareng dia" tanya Danu heran. "Kenapa, Ka"
"Kan gue masih banyak kerjaan, jadi gue suruh dia pulang duluan," jawab Anka enteng tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
Danu berhenti bertanya, pasrah dengan sikap kukuh Anka. Ia memutuskan duduk diam di samping Anka sambil membaca ensiklopedia yang diambilnya asal dari rak buku, sementara Anka terus berkutat dengan tugasnya.
"Balik yuk, Ka," ajak Danu akhirnya, setelah hampir setengah jam ia menemani Anka. "Kasihan tuh Pak Alan, kayaknya dia udah mau pulang juga."
Anka mendongak, menebar pandangannya ke sekeliling perpustakaan, hanya tinggal mereka berdua dan Pak Alan, penjaga perpustakaan yang sedang memasukkan barang-barangnya ke tas kerja.
"Tapi gue nggak langsung pulang ke rumah, Nu. Gue harus ke rumah sakit, jagain Ibu," kata Anka sambil membenahi buku-bukunya. "Lo pulang aja, gue langsung berangkat. Dari halte depan gue tinggal naik Metromini ke rumah sakit."
"Gue ikut, Ka. Gue mau nemenin lo ke rumah sakit."
***
Keringat mengalir di dahi Danu saat berdiri berdesakan bersama penumpang Metromini lain. Di sampingnya Anka yang beruntung mendapat tempat duduk juga sibuk menyeka keringat, tak kalah kepanasan.
"Nih, minum..." Danu menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja ia beli dari pedagang asongan yang melewatinya.
"Thanks ya, Nu," kata Anka seraya mengambil air mineral yang disodorkan Danu.
Bukan main padatnya Metromini siang ini, sampai-sampai Danu merasa seperti berada bersama ribuan ikan teri yang siap dipepes. Orang-orang berdesakan dengan egois, memaksakan diri untuk masuk, membuat Danu harus berpegang kuat ke besi pegangan Metromini. Anka, yang duduk di bagian sisi luar jajaran kursi Metromini, tidak luput dari ketidaknyamanan. Danu sampai harus merentangkan tangannya ke pegangan kursi untuk melindungi Anka, tapi tidak cukup. tangannya tidak cukup kuat menahan desakan penumpang yang berjejalan. Danu agak membungkuk, menyandarkan kepala Anka ke sisi kanan tubuhnya, sementara tangannya tanpa sadar merangkul bahu Anka.
***
Damara menyeruput espresso dari cangkirnya, duduk di salah satu sudut kafe yang kebetulan berada satu gedung dengan biro hukum tempatnya bekerja. Damara memakai kacamata frameless tipisnya, membaca beberapa berkas di atas meja.
"Serius banget pengacara yang satu ini."
Damara mendongak lalu tersenyum saat Rio, sahabatnya, berdiri di samping mejanya.
"Eh, Yo... tumben lo nyamperin gue, nggak sibuk"
"Bosnya kan gue di sini, jadi bisa nyuruh orang gantiin kerjaan gue!"
Damara mendengus mendengar jawaban Rio. Pria yang satu ini memang terkenal terlalu bangga akan dirinya sendiri, tapi justru itu sisi menyenangkan dalam diri Rio.
"Lo cuma minum kopi doang, Mar Cobain cheesecake baru kita dong, enak tau! Di atasnya disiram krim spesial kreasi chef di sini... lo harus coba!"
"Dapat diskon berapa kalo gue order itu"
"Gue kasih harga temen deh..." Seperti biasa Rio mengeluarkan jurus marketing-nya. "Gue orderin buat lo ya"
"Terserah lo deh. Dasar manajer kerjaannya jualan melulu!" Damara menyerah, pura-pura menggerutu.
Dengan cengiran lebar, Rio mengangkat tangan memanggil pelayan dan meminta dibawakan pesanan untuk Damara.
"Lo sekarang sering dikejar-kejar wartawan infotainment ya, Mar Kemarin gue liat lo di TV."
"Ya... begitulah kalau ngurusin artis tenar, mau nggak mau harus nongol di infotainment," jawab Damara, melepaskan kacamata dan meletakkannya di atas berkas yang tadi ia baca. "Suka nggak suka itu risiko gue terima kasus selebriti."
"Iya sih... Gue cuma pengin ketawa aja liat lo mati gaya di depan kamera."
Damara hanya tersenyum kecil menanggapi kata-kata Rio. Sejak berteman dengan Rio, empat tahun lalu, dengan caranya sendiri Rio bisa membuat kesulitan yang dihadapi Damara bisa dilewatinya dengan banyak tawa.
"Nih kafe mulai rame, Yo," Damara menebar pandangan ke sekeliling kafe. "Lo berbakat juga jadi manajer kafe."
"Itu untungnya kafe franchise, nggak perlu terlalu banyak promosi lagi. Ya, lumayanlah nggak malu-maluin gue di depan big boss... Sekarang rencananya kita malah mau rekrut tenaga tambahan, mulai kewalahan nih pas jam makan siang dan jam keluar kantor."
"Eh, beneran lo nggak apa-apa nemenin gue di sini" tanya Damara.
"Nggak, nggak... Ini belum terlalu rame kok. Lagian ada yang mau gue omongin sama lo." Rio mendadak menatap Damara dengan serius.
Keseriusan raut wajah Rio mencegah Damara mencicipi cheesecake yang sudah terhidang di depannya. Damara meletakkan kembali garpu kecil di atas piring cheesecake-nya.
"Mau ngomong soal apa"
Rio mencondongkan wajahnya ke tengah meja, menggerakkan jarinya memberi isyarat agar Damara mendekat. Dengan bingung Damara mengikuti isyarat Rio.
"Kemarin Anggun ke sini, nungguin lo," ujar Rio pelan.
Damara tertegun sesaat. Lalu pelan-pelan menegakkan kembali posisi duduknya, sementara Rio masih menatapnya dengan tatapan menginterogasi.
"Selain Anggun, mantan atasan kita dulu, Mbak Angel, sering datang ke sini nyari info terbaru tentang lo," tambah Rio, masih dengan mimik yang sama. "Itu maksudnya apa, Mar"
Damara terdiam. Sulit rasanya menjawab pertanyaan Rio, sebab butuh banyak penjelasan yang mungkin akan sulit dimengerti Rio.
"Mar... lo sudah nggak ada hubungan sama mereka, kan Lo ngikutin nasihat gue dulu kan, Mar" selidik Rio.
Damara masih terdiam, matanya menatap kosong pada Rio, yang terus menunggu jawabannya. Rio menatap Damara seakan dalam tatapannya Rio berharap Damara menjawab "tidak" untuk pertanyaannya.
***
"Makasih, Nu, rotinya enak banget." Anka melahap roti bakar isi selai kacang yang dibawa Danu dari rumahnya.
Danu tersenyum kecil, usahanya bangun lebih awal agar bisa menyiapkan roti bakar untuk Anka tidak sia-sia. "Kalo lo mau, gue bisa bawain roti bakar setiap hari. Soalnya gue sama Kak Damara biasa bikin roti beginian buat sarapan," kata Danu setengah berbohong, karena sebenarnya ia tidak pernah sengaja membuat roti bakar untuk sarapan, paling bagus hanya beli nasi uduk di dekat rumah.
Danu meluruskan kakinya di rerumputan halaman belakang sekolah yang lumayan teduh oleh rindangnya pohon besar yang berada tepat di tengah kebun belakang. Sementara Anka duduk di samping Danu, masih menikmati roti bakarnya sambil serius memperhatikan berkas-berkas di pangkuannya.
"Itu kertas apaan, Ka" tanya Danu, ikut memperhatikan kertas-kertas yang dari tadi menyita perhatian Anka. "Itu dari rumah sakit ya"
"Ini rincian biaya administrasi perawatan ibu gue..." jawab Anka pelan. Danu menjulurkan kepalanya ikut membaca tulisan-tulisan yang tercetak di kertas itu.
"Biayanya gede banget, Ka!" seru Danu, terkejut melihat barisan angka yang menurutnya sangat besar.
"Gitu deh, Nu... Gue juga bingung," keluh Anka lesu. "Ibu hanya ibu rumah tangga biasa, nggak punya asuransi atau tunjangan kesehatan apa-apa. Tabungan Ayah dan Ibu ditambah santunan sana-sini cuma cukup bayar setengahnya." Anka mendesah lelah, menebarkan pandangannya ke sekeliling kebun belakang, seakan berharap menemukan solusi di sana.
"Kayaknya gue harus kerja, Nu," cetus Anka tiba-tiba, membuat Danu menoleh cepat ke arahnya.
"Kerja! Kerja apaan Lo kan masih sekolah."
"Kerja apa aja, yang penting bisa dapet uang buat biaya hidup gue. Syukur-syukur bisa nambahin biaya rumah sakit." Anka menunduk lesu, seakan ia sendiri tidak yakin mampu melakukan apa yang baru saja ia katakan.
Danu ikut menunduk, merasa tidak memiliki kemampuan untuk memberi solusi.
"Terus, lo mau cari kerja di mana" Danu kembali bertanya.
"Di mana aja, selama gue bisa dapet uang halal." Anka tersenyum getir. "Lo mau kan bantuin gue cari info kerjaan buat anak SMA kayak gue..." Danu terdiam, menghela napas. "Lo mau bantuin gue kan, Nu" ulang Anka menegaskan.
Danu mengangguk akhirnya, menyanggupi permintaan Anka. Disusul senyum optimistis Anka.
Bel istirahat selesai berbunyi. Anka segera berdiri, mengulurkan tangannya pada Danu yang masih termangu.
"Yuk balik ke kelas..." ajak Anka.
Danu menyambut tangan Anka, berjalan meninggalkan kebun belakang sekolah dalam diam.
Danu melirik Anka, ia begitu mengagumi sosok gadis yang berjalan di sampingnya. Gadis muda ini terlihat begitu tegar, begitu kuat menghadapi semua kesulitan dalam hidupnya yang pastinya sangat berat bagi gadis seusianya. Dalam hati, Danu bertekad akan selalu berada di samping Anka, menjadi sandaran saat Anka merasa lemah dan saat Anka tidak sanggup lagi menyembunyikan kerapuhannya.