Wulan langsung menyeletuk, mengingatkan pembicaraan mereka barusan,
"Pandu."
"Nggak papa, Ndu, kamu mau ngomong apa" tanya Niken.
"Aku nggak mengerti. Kamu udah pasti kawin sama Jimmy, tapi kamu nggak mau pacaran sama dia. Apa maksudmu"
"Aku nggak cinta sama dia. Kenapa mesti pacaran sama dia Karena pada akhirnya aku bakal kawin sama Jimmy, aku harus mulai membiasakan diri sama dia. Kawin kan gak harus saling mencintai."
Pandu baru saja mau bilang, "Harus, dong!", tapi Wulan sudah duluan menonjok perut Pandu dengan sikunya.
"Sudah bikin pe-er Pak Heri, Nik" tanya Wulan mengalihkan bahan pembicaraan.
"Pe-er yang mana" tanya Niken.
"Bikin essay tentang biografi seorang pahlawan" Pandu mengingatkan. "Aduh! Iya! Aku lupa. Mati aku. Koq bisa pikun begini sih Gimana nich" kata Niken panik.
"Tenang, tenang, Nik." kata Pandu. "Pelajaran bahasa masih jam ke lima. Kamu masih ada waktu untuk bikin essay itu."
"Dapat biografi pahlawan-nya dari mana dong" kata Niken hampir putus asa. "Begini saja deh. Aku kebetulan punya ide lain untuk bikin essay. Kamu boleh menyalin essayku, aku buat baru lagi dengan tokoh yang lain." kata Pandu menyarankan.
"Kamu baek sekali, Ndu! Kebetulan gaya nulis kamu sama Niken hampir sama. Pasti tidak akan ketahuan. Ide bagus tuh, Nik" kata Wulan. "Aku nggak enak, Ndu. Kamu musti nulis ulang lagi," kata Niken.
"Ide sudah ada di kepala. Sementara kamu nyalin essayku, essay baruku pasti sudah selesai." kata Pandu mantap.
"Tunggu apa lagi" tanya Wulan. "Mumpung belum bel masuk nih, cepetan gih, bikin!"
"Pandu Prasetya, kemari!" panggil Pak Heri dengan nada galak. "Saya, Pak." jawab Pandu sambil melangkahkan kaki menuju ke depan kelas. "Aku suruh kamu mengarang tentang pahlawan, kenapa kamu mengarang tentang ibumu" bentak Pak Heri.
Niken menggigit bibirnya. Dia merasa bersalah sekali sudah mengambil essay Pangeran
Diponegoro-nya Pandu. Sudah terlambat sekarang. Tapi mengapa Pandu terlihat tenang-tenang saja
"Bapak nggak bilang kan, pahlawan-nya harus sudah mati apa masih hidup. Ibu itu pahlawan saya. Kalau bapak baca lebih jauh, bapak bisa merasakan jiwa kepahlawanan ibu saya. Ibu yang melahirkan saya dan ke-empat kakak laki-laki saya. Ibu yang dengan penuh jerih-payah membesarkan kami, dengan uang gaji bapak yang pas-pasan. Waktu saya masih kelas satu SD, saya sering mengomel karena baju seragam saya jelek sekali, karena lungsuran dari kakak saya yang nomer tiga. Setiap pulang sekolah, selalu saja ada tambahan lubang di baju seragam saya. Ibu selalu dengan hati-hati menambal lubang itu. Suatu hari, ibu mengejutkan saya dengan membelikan baju seragam baru. Saya sangat senang sekali. Saya tidak tahu kalau ibu menabung selama enam bulan hanya untuk membeli baju seragam saya itu. Sekarang bapak bilang, kalau bukan jiwa pahlawan, kata apa yang cocok untuk diberikan pada ibu saya itu" pertanyaan retorik Pandu itu menyudahi kotbah panjang-lebarnya.
Pak Heri mengangguk-angguk puas. Ia bahkan bertepuk tangan, diikuti oleh teman-teman sekelasnya. Niken yang paling keras tepuk tangannya. Pandu sahabatnya ini memang tidak hanya rupawan, tapi manis juga hatinya. Acara Gelar Seni merupakan event tahunan yang sudah dilangsungkan sejak jaman dahulu kala di SMA Antonius. Tahun lalu, waktu kelas satu, Niken dipilih menjadi salah satu anggota panitia bidang acara panggung. Tahun ini dia terpilih menjadi koordinator bidang yang sama. Pandu jadi salah satu anggota tim perlengkapan, atau dalam bahasa lain, tim angkut-angkut barang. Niken mendapat banyak bantuan, terutama dalam hal promosi acara, dari Mbak Merlina dan kawan-kawan penyiar radio Boss. Anak-anak radio Boss 'rame-rame'. Dulu, waktu Niken masih boleh pergi keluar sendiri naik mobil, dia sering mampir malam-malam kumpul di radio Boss. Kadang-kadang malah jadi penyiar dadakan, kalau kebetulan ada yang sedang sakit. Akhir-akhir ini Niken merasa kegiatannya jadi dibatasi lantaran kemana-mana harus membawa Jimmy. Seperti tuyul saja tu anak mengikutinya ke mana-mana. Walaupun Jimmy sering bilang, dia kapan aja, ke mana pun, jam berapa pun, mau menemani Niken, tapi sungkan juga mengajak-ajak Jimmy keluar malam ke radio Boss, misalnya. Makanya, kalo mama-papa lagi keluar kota, Niken curi-curi pergi jalanjalan sendiri ke luar. Refreshing. Seperti hari Sabtu malam ini. Dia janji akan menjemput Pandu ke radio Boss malam ini. Wulan sebetulnya mau ikut, tapi ibunya sedang sakit flu, jadi dia mesti menjaga dua adik kecilnya di rumah. Jam delapan malam. Dengan alasan mau fotocopy, Niken sukses mengelabui satpam yang berjaga di pintu gerbang. Lolos! Niken cepat-cepat tancap gas sebelum satpam berkumis yang galak itu berubah pikiran. Niken belum pernah ke rumah Pandu, tapi Pandu sudah berkali-kali memberi tahunya, pakai acara menggambar peta pula. Lagipula Pandu bilang, dia akan menunggunya di depan rumah, jadi tidak susah kan semestinya untuk menemukan anak jangkrik di gelap malam begini
Begitu Pandu masuk mobil, langsung kena damprat.
"Sial lo Pandu ya! Masa' kamu kasih petunjuk lewat jalan satu arah, aku disuruh lewat arah yang berlawanan, gimana sih" Pandu bingung. Ngomong apaan sih Niken ini
Niken masih ribut-ribut, "Ini jalan depan rumahmu, kan satu arah. Kamu kasih petunjuk aku masuk dari arah gang yang salah! Tu di mulut gang ada tanda dilarang masuk!"
"Oooooooooooooh." Pandu menepuk dahinya. "Sori, Fei. Aku kan biasanya naik sepeda, jadi itu route terdekat, begitu. Aku lupa kalo gang ini arahnya dari sebelah sono," kata Pandu geli melihat Niken komat-kamit terus. "Ah blo'on amat kamu, kasih petunjuk ke rumah sendiri saja salah." Niken masih mengomel.
"Yang penting kan sampai, ya kan Nanti pulangnya aku lewatin jalan mobil deh." kata Pandu yang tak sanggup menahan gelinya melihat Niken sewot begitu.
"Kamu punya kaset yang laen" tanya Pandu, mendengar lagu pop slow yang diputar Niken.
"Protes melulu sih!"
"Ngantuk dong, dengerin lagu slow begini. Ini lagu apaan sih" tanya Pandu. "John Denver. Annie's song. Aku suka. Jangan diganti." "Gak punya kaset yang lain" "Nggak." jawab Niken singkat.
"Ah masa!"
"Bener. Orang ini CD-player. Kamu masukin kaset yah nggak cocok lubangnya" kata Niken geli.
"CD yang laen dong!" Pandu tak kalah protesnya. "Ribut amat sih Dinikmati gitu lho." "Aku kirain kamu suka lagu-lagu rock. Ternyata lagu cengeng begini kamu juga suka, ya" "Aku suka apa saja yang berbau musik." kata Niken cuek sambil nyanyi.
You fill up my senses
Like a night in a forest
Like a mountain in springtime
Like a walk in the rain
Like a storm in the desert
Like a sleepy blue ocean
You fill up my senses
Come fill me again.
Diam-diam Pandu mengamati cerianya wajah Niken malam ini. Enak juga ternyata lagunya, walaupun slow begini, apalagi kalo Niken ikut nyanyi. Suara Niken empuk sekali, bak bantal dari busa. Makanya kontras sekali kalo dia menyanyi lagu-lagu rock. Kontras bukan berarti jelek. Kombinasi yang bagus. Suara lembut dan musik kasar. Niken memang punya bakat besar di bidang musik. Dia sering melihat Niken saat latihan bareng Hendro dan Bram, mengarahkan melodi gitar mereka. Dia pribadi juga sering mendapat masukan positif dari Niken buat variasi keyboardnya. Dengan hobinya menulis puisi, Niken pasti bisa jadi komposer lagu tenar. Apalagi dengan suara dan wajahnya yang saingan manisnya.
"Sori. kamu ngantuk ya dengerin lagu slow begini" tanya Niken yang jadi merasa berdosa melihat Pandu terbengong-bengong.
"Nggak. Aku ternyata bisa enjoy koq. Masih punya banyak lagu slow" tantang Pandu.
"Kalo mau dengerin lagu rock, lebih baik sekarang saja. Di Boss Radio, mereka seringnya putar lagu-lagu cengeng lewat jam 9 malam." "Nggak masalah. Aku pengen tau gimana kehidupan penyiar yang sebenarnya. Makanya aku langsung mau waktu kamu ajakin. Eh, ngomongngomong mana bodyguard kamu" goda Pandu.
"Jimmy Aku bosan ngeliat dia terus. Sudah lama aku puasa nggak ke radio Boss karena dia." gerutu Niken.
"Nggak boleh bosan dong. Nanti kalo udah kawin musti liat dia tiap hari, 24 jam lagi!" kata Pandu geli.
"Kawin Siapa yang mau kawin"
"Ya kamu, dong... Aku calon saja belum ada. Kamu kan yang katanya sudah pasti kawin sama si Jimmy"
"Iya, tapi kan nggak dalam waktu dekat ini. Paling-paling lima belas tahun lagi." kata Niken dengan gaya super cueknya.
"Lima belas tahun! Wah... semoga aja si Jimmy tahan bantingan, mau nunggu kamu selama itu." kata Pandu kaget. Lima belas tahun, berarti mereka bakal berumur 32 tahun dong! "Biarin. Nggak kawin juga nggak papa. Eehh... yang jual martabak sukaanku masih buka.
Mampir sebentar beli martabak yah..." kata Niken sambil meminggirkan Honda civicnya.
Sebentar kemudian Niken sudah kembali dengan membawa dua plastik besar penuh martabak.
"Banyak bener kamu belinya, Fei" tanya Pandu heran. "Buat anak-anak radio Boss. Kamu gak mau"
"Mau juga sih." Mata Pandu berbinar-binar melihat martabak. Hidungnya peka sekali kalo mencium bau makanan enak.
Niken lalu membuka satu bungkus martabak. Di baginya menjadi dua, separuh diberikan ke Pandu, yang separuh langsung masuk ke mulutnya.
"Kamu jago makan juga yah" tanya Pandu dengan mulut penuh martabak.
Niken cuma mengangguk-angguk. Mulutnya juga penuh makanan, tidak bisa menjawab.
Tangannya yang satu di kemudi, yang satu memegang martabak. "Persneleng tiga," perintah Niken.
"Hah Apa"
"Blo'on, pindahin ke persneleng tiga, sekarang." kata Niken.
Pandu cepat-cepat memindah persneleng dari gigi dua ke gigi tiga.
"Wah... bahaya nich sopir lagi asyik makan martabak!" kata Pandu setelah shocknya reda.
"Gigi empat." sahut Niken tanpa menanggapi komentar usil Pandu. Pandu menuruti saja perintah Niken. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Niken, tapi lebih baik tidak usah saja, pikirnya. "Mbak Merlina baik yach, tadi kita dikenalin sama Jabrique, grup rock lokal yang lumayan tenar. Gelar Seni kali ini bakal meriah banget karena Jabrique janji mau muncul." kata Niken sepulangnya dari Radio Boss. Dia kelihatan girang sekali.
Pandu sibuk menggeledah semua CD koleksi Niken. Gila koleksinya dari Mozart sampe metal ada semua.
"Setel yang ini dong." kata Pandu sambil mengacungkan cover CD Bryan Adams.
"Sorry, Ndu, itu covernya doang. CD-nya ada di kamarku. Kamu mau nggak mau mesti dengerin lagu2 yang ada di jukeboxku. Ada 5 cd koq, kamu pencet-pencet aja tombol ini sendiri, sampe nemu CD yang kamu suka." kata Niken sambil memencet satu tombol di car stereonya. "Yak ini aja deh!" kata Pandu waktu mendengar intro lagu Nirvana, Come as you are." "Fei." "Apa"
"Aku baru aja denger tadi sore, katanya papa kamu punya simpanan di Malang yah"
"Ah, kalo itu aku sudah tahu dari dulu koq. Kamu baru tahu sekarang yah" kata Niken seakan tak peduli.
"Iya. Nggak sedih"
Niken mendesah. "Kamu sungguh-sungguh ingin tahu"
"Ya sungguhan dong, aku kan temen kamu. Kalo kamu sedih, aku pengen hibur kamu."
"Aku nggak papa koq. Awalnya sih terang sedih. Aku sudah tahu sekitar empat tahun yang lalu, lebih malah. Sudah lama kan Sebelum cici ku meninggal. Cici yang bilang ke aku. Dia marah besar waktu itu. Semua hadiah miliknya yang dari papa dibuang ke lantai. Yang barang pecah belah ya jelas pecah. Ribut sekali rumah waktu itu. Trus dia minggat sebulan gak balik-balik. Ya gara-gara minggat itu dia kenal sama si Edi, anak pejabat itu. Waktu itu aku nggak sesedih cici. Cuma kecewa saja, koq papa tega berbuat begitu. Kasian mama. Dia kuatir sekali waktu cici minggat."
Niken menghela napas panjang. "Tadinya aku benci sama si wanita lain itu. Koq jahat, sudah tahu papaku sudah menikah, sudah punya anak dua, koq ya nekad aja. Usut punya usut, ternyata wanita itu juga sama-sama nggak tahu kalo papaku itu sudah punya keluarga. Jadi sama-sama dibohongin, gitu. Yang jahat memang papaku."
"Kamu hebat, Fei, bisa kuat begitu. Kalau saja hal seperti itu terjadi di keluargaku, aku bisa gila." kata Pandu jujur.
"Ya, karena kamu dibesarkan di keluarga yang harmonis. Tuhan nggak akan kasih salib yang nggak bisa dijalani, Ndu. Sejak kecil, aku jarang ketemu papa.
Mama sih tadinya selalu di rumah. Sejak empat tahun yang lalu itu, mama jadi jarang ada di rumah juga. Mungkin itu juga yang bikin cici jadi gak betah di rumah, trus main sama Edi jelek itu."
Pandu menatap mata Niken lekat-lekat. "Kamu sendiri"
"Sejak cici meninggal, aku jadi tau kalo cici udah milih jalan yang salah. Aku nggak mau seperti dia. Sedih itu bisa dilampiaskan ke hal-hal yang laen.
Belajar, misalnya, dengerin musik, berenang, jogging, nge-band..." kata Niken sambil senyum.
"Aku nggak bisa bayangin betapa bosannya kamu di rumah. Abis pindah Semarang, aku juga kesepian banget. Setidaknya aku masih ada ibu." kata Pandu menerawang.
Tiba-tiba ada nada bersemangat di kalimat Pandu, "Kamu ada acara apa Jum'at tanggal 14 bulan depan"
"Gak ada acara apa-apa. Emang kenapa" tanya Niken.