Reid terkekeh dari tempat duduknya di depan ruang ganti department store ketika Lucie mencoba pakaian kelima. Setelah sesi terapi pagi mereka dan tangan lumpuhnya sudah dilatih, mereka pergi keluar untuk makan siang. Melihat cara Lucie bersikap di depan publik adalah sebuah penyiksaan bagi Reid. Dia cenderung bereaksi bukannya berpartisipasi di dalamnya, atau bahkan berinisiatif. Ketika diajak bicara, ia menjawab. Ketika diberi sesuatu, dia menerima. Tapi ketika dunia tidak berinteraksi dengannya, ia seperti berada di dalam gelembung. Ia bahkan tidak melihat orangorang di sekelilingnya ketika di restoran.
Untuk alasan apapun, Lucie bersikap seolah-olah ia memang tidak perlu membuat riak ombak lagi di dalam kolam kehidupan ini. Bagaimana dengan Reid Ia lebih suka pendekatan yang agresif, tapi ia tahu hal itu bukan untuk semua orang. Jika Lucie ingin dokter sialan itu memperhatikannya, biar bagaimanapun, dia harus membuat percikan kecil. Untuk itu, Reid memulai dengan mengubah penampilan luarnya terlebih dulu.
Ketika mereka selesai makan siang, Reid mengatakan pada Lucie tentang rencananya untuk membawa Lucie berbelanja pakaian baru. Tentu saja Lucie mengatakan tidak, tapi ketika Reid mengancam untuk membakar setiap helai pakaian di lemarinya, akhirnya dengan enggan Lucie berubah pikiran.
Reid sangat terkejut ketika tidak menemukan sehelai pun pakaian yang layak di lemarinya. Jelas terlihat ia memang memiliki masalah dengan tubuhnya, meskipun dalam pola pikir Reid, ia masih tidak tahu mengapa. Tubuhnya ramping dan fit. Payudararanya kecil, dan ia harus menumbuhkan rasa percaya diri wanita itu jika Lucie berpikiran bahwa setiap pria ingin bermain dengan sepasang payudara Dolly Partons. Tapi Lucie adalah seorang wanita yang sangat cerdas, sehingga seharusnya ia mengetahui bahwa hal itu konyol, kan
"Ayo Lucie, mari lihat ini." Asisten wanita yang melayani mereka telah memilih semua pakaian yang menonjolkan tubuh Lucie dan bukan menyembunyikannya. Reid menyetujui semua yang telah dicobanya. Dari celana jeans pendek berkancing untuk musim panas, dia terlihat menarik dalam setiap pakaian yang ia coba.
"Tidak. ini berlebihan Reid, aku akan melepasnya."
Karena asisten mereka sedang membantu pelanggan lain, dia mengasumsikan bahwa itu adalah "Little Black Dress" yang Lucie bersikeras harus ada di setiap lemari setiap wanita. "Entah kau keluar, atau aku yang masuk. Tidak masalah bagiku."
Lucie mendesah putus asa dan menggerutu menyuarakan namanya bercampur ancaman yang sangat tidak menyenangkan pada kejantanannya. Namun Reid tersenyum. Reid tidak bisa menahannya; Lucie sangat menggemaskan ketika marah.
Akhirnya Lucie membuka pintu kamar ganti dan berjalan beberapa langkah hingga berdiri di hadapan Reid, ia meletakan tangannya di pinggul dan menatap Reid. "Ini tidak sopan."
Reid mengamati dengan pelan dan tidak bisa melihat bahwa itu bisa dikatakan tidak sopan. Bahkan ia sangat kecewa. Meskipun bahan tipis gaun itu membungkus tubuhnya seperti gaun malam yang seksi, bagian depannya menutup sepanjang tulang selangkanya dan tidak menunjukan kulit apapun sampai berakhir di paha.
"Itu bukannya tidak sopan sayang," katanya sambil bersandar ke bantal dan menyilangkan tangannya di depan dada. "Itu di sebut membosankan,"
"Oh, benarkah" ia berputar di heels bertali hitamnya. Lucie memunggunginyadan Reid lupa untuk nafasnya.
Bagian depan gaunnya memang kurang menarik, namun bagian belakangnya lebih imbang. Seluruh punggungnya terbuka dengan pengecualian tali spageti tunggal yang melintasi bahunya, menghubungkan kedua sisi gaunnya. Bahan itu mengikuti garis punggungnya dengan sisi kanannya menyapu bagian bawah punggungnya hingga berhenti tepat di bagian atas pinggul kirinya. "Ya Tuhan."
"Seperti yang kubilang" Lucie berjalan kecermin tiga sisi, dan membiarkan tangannya jatuh di sisi tubuhnya.
Reid pindah berdiri di belakangnya. Jari-jarinya gatal untuk menelusuri lekuk tulang punggungnya. Dia tidak bisa menahan untuk bertanya-tanya bagaimana reaksi Lucie pada hal itu, dimana orang bisa melihat mereka, dan tidak pula sedang mabuk karena anggur. Apakah ia akan menarik diri dalam keterkejutan dan rasa malu Atau apakah ia akan bergetar dan melengkung karena sentuhannya
Ketika ia sadar bahwa ia menempatkan dirinya dalam bahaya mengalami ereksi meskipun percaya pada keyakinannya malam kemarin, dia meletakkan pikiran seksualnya di penggalan, berharap membunuh pikiran itu sebelum merusak puasa yang ingin ia lanjutkan demi kepentingan Lucie.
Hentikan itu, Brengsek.
"Kau sedang tidak memberi T&A peekaboo show (pamer payudara & pantat) pada siapapun, Luce."
"tapi"
"Cukup. Tidak peduli kau percaya atau tidak, tapi gaun ini seksi dan berkelas." Tatapannya jatuh pada sosok Lucie di cermin yang terbuka untuk dipandang oleh seluruh dunia. "bagian belakang adalah salah satu favoritku dari tubuh wanita. Aku suka menelusuri dan menjilati garis dangkal tulang punggungnya, dari atas dan terus turun ke lekuk kembar di bagian di dasar punggung." Reid nyaris tidak bisa menghentikan dirinya untuk menambahkan bahwa ia juga senang melihat gerakan tulang belikat kekasihnya ketika ia meletakkan tangan di atas kepalanya untuk disetubuhi dari belakang.
Reid mendongak dan mendapati matanya menyipit dan meneliti dirinya. "Maksudku, Lucie, punggung wanita sangatlah anggun. Bukannya memalukan." Ketika Lucie mengucapkan uh-huh yang tak jelas, Reid berdeham dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Apa"
Lucie menggelengkan kepalanya perlahan, tidak yakin apa yang akan ia katakan padanya. "Ada sesuatu yang lebih darimu, bukankah begitu"
Reid tersenyum dan mengangkat alisnya. "Aku bukan Trasformer, jika itu yang kau maksud."
Setidaknya hal itu membuat Lucie tertawa ringan ketika ia berbalik menghadapnya. "Tidak, maksudku, kau bukan hanya seorang petarung. Kau melihat sesuatu dari sisi yang berbeda dari kebanyakan orang. Ada sisi yang sangat artistik dalam dirimu,"
Tidak ada yang pernah mengatakan hal itu kepada Reid sebelumnya. Ini seperti seluruh aspek kehidupannya sudah menghilang sejak ia melakukan apapun kecuali bertarung. bukan berarti dia tidak mencintai olahraganya, tapi terkadang ia berharap itu bukanlah satusatunya yang ia lakukan. Reid mengangkat bahu. "Mungkin aku memang pernah. Ketika SMA aku mencoba untuk mengambil mata pelajaran pertokoan, tapi karena beberapa kesalahan aku ditempatkan di kelas seni. Aku tidak bisa melukis dengan baik, tapi aku belajar bagaimana membuat sketsa dan menggambar dengan cukup baik. Dan kemudian kami memahat patung" Reid menegang ketika mengingat ketidak setujuan ayahnya membanjiri kepalanya. Sebenarnya sedikit sulit untuk Reid mengingat tentang pahatan itu tanpa kenangan tentang ayahnya yang mengacaukan semua perlengkapan dan studio sederhana buatannya sendiri.
"Reid" ia tersentak dari pikirannya, matanya mengerjap.
"Bagaimana dengan patung itu"
"Sudahlah, itu tidak penting." Ia berbalik untuk memanggil pelayan untuk mengumpulkan pakaian tersebut, tapi Lucie meraih lengannya untuk menghentikannya, menempatkan dirinya di garis pandang Reid lagi.
"Ya itu pentng. aku bisa melihatnya di matamu. Ini sangat penting untukmu. Please, katakan padaku."
Kata-katanya dikombinasikan dengan jemarinya yang menekan telapak tangan Reid, seperti infus hormon costisone secara mental. Ini sama sekali tidak memperbaiki masalah, tapi membuatnya mati rasa sudah cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya. Reid menghela nafas dalam-dalam dan menceritakan kisah yang hanya pernah ia ceritakan pada Jax.
"Aku menikmati memahat. Aku menyukainya karena aku bisa membuat sesuatu dengan tangan yang sama untuk menghancurkan lawanku di ring. Kau betul. Aku melihat hal-hal secara berbeda. Aku tidak hanya melihat sebuah apel, tapi aku memperhatikan lekuk dan garis-garis yang membentuk apel itu sendiri. Termasuk memar di satu sisi yang membuat sedikit datar seukuran sebuah sidik jari.
"Tapi orang-orang tidak mau tahu sisi itu dalam diriku. Mereka ingin mengetahui apa yang kulakukan untuk menurunkan berat badan, rutinitas baru apa yang aku dan pelatihku lakukan, dan kurasa, aku akan pulang dengan tangan terangkat di pertandingan berikutnya. Itulah keahlianku. Itulah diriku."
"Tapi kau salah," katanya, melangkah sedikit kedepan. "Siapakah dirimu bukan hanya satu hal. Ini adalah semua yang kau sukai. Kau bisa menjadi pematung Reid, dan sekaligus menjadi petarung jika itu yang kau inginkan."
Kelembutan dari keyakinannya membuat Reid ingin memeluknya dan mencium bintik berbentuk hati di sudut bawah mata abu-abunya yang lembut. Mata yang menembus segala omong kosong dirinya dan melihat jiwanya secara sekilas.
"Kau tahu apa yang kuinginkan Aku ingin makan." Ia memanggil seorang pelayan wanita dengan tangannya. "Tolong bantu dia dengan label gaun yang satu ini. Dia akan langsung mengenakannya keluar toko. Kemudian kami akan mengambil semua yang sudah di cobanya. Terima kasih."
Ketika Reid menyerahkan kartu kredit, Lucie terbelalak menatapnya. Reid sangat senang Lucie mengenakan kontak lensanya hari ini. Ia terlihat seperti pustakawan seksi dengan kacamatanya, tapi ia lebih suka ekspresi mata abu-abunya tanpa terhalang. Bahkan meskipun ekspresinya tengah menunjukan rasa marahnya.
"Apa lagi yang salah"
Dia menyilangkan tangannya di bawah payudaranya dan mengangkat dagunya. "Aku mungkin bukanlah selebriti besar UFC sepertimu, tapi aku tidak semiskin itu. aku akan membayar untuk pakaianku sendiri."
Reid tidak pernah mengira Lucie akan mengatakan hai itu. Reid tidak terbiasa dengan wanita yang bersikeras membayar barangbarang mereka sendiri ketika bersamanya. Dia mempunyai banyak uang lebih yang dia sendiri tidak tahu harus digunakan untuk apa semua hasil pertarungan dan produk pendukungnya. Bahkan wanita itu bersikeras untuk membeli pakaiannya sendiri yang Reid pilihkan menegaskan karakternya.
"Luce," katanya, menarik tangannya kebawah hingga ia bisa menggenggam tangan wanita itu, dengan efektif memecah bahasa tubuh yang menunjukan kemarahannya. "Aku tahu kau bisa membeli pakaianmu sendiri. Kau sukses, kuat, wanita mandiri yang tidak memerlukan orang lain untuk merawatnya."
Api di mata Luce sedikit meredup ketika ia berusaha untuk tetap bertahan. "Kau benar. Aku memang tidak butuh."
"Tapi, pakaian baru ini adalah ideku, jadi aku yang akan membelikan pakaianmu dan membawamu pergi makan malam." Lucie baru saja akan berkomentarini seperti hal kesukaan seorang wanita, ya tuhankemudian ia menempatkan jarinya di bibir Lucie dan berkata. "Tidak ada komentar. Aku akan pergi ke bagian departemen store untuk pria, dan mencari sesuatu yang lebih tepat dari pada celana pendek kargo dan polo ini. Dan beberapa ibuprofen (obat anti peradangan) untuk bahu sialan ini. Tunggu di sini dan aku akan segera kembali untuk menjemputmu."
Dia menurunkan jarinya dan berbalik untuk pergi ketika ia mendengar, "Tapi"
Dengan geraman frustasinya, Reid meraih tengkuk Lucie dan menarik tubuhnya ketika ia menanam bibirnya pada bibir Lucie. Tubuhnya kaku, lengkingan kaget keluar dari suatu tempat di dalam tenggorokannya. Tapi sedetik kemudian lengkingan kecilnya berubah menjadi sebuah erangan dan tubuhnya meleleh diatas tubuh Reid. Di suatu tempat di dalam pikiran Reid, hari kecilnya meneriaki kata-kata "pendekatan tanpa intervensi" tapi dengan cepat libidonya menjatuhkan hal itu ke matras, membuang segala pengingat yang tak diinginkan dengan tiba-tiba.
Bibir Lucie terasa hangat di bawah bibirnya dengan rasa lipgloss strowberi yang dipakainya. Reid yakin lidahnya akan terasa ranum dan manis, tapi nalurinya mengatakan jika ia menyebrangi garis itu maka ia tidak akan bisa berhenti. Sebelum ia lepas kendali terhadap kebutuhan primernya dan mendesak Lucie ke ruang ganti terdekat dan menunjukan padanya seberapa bagus jika gaun itu tergeletak dilantai, Reid menghentikan ciumannya untuk melihat tatapan kebingungan di wajah Lucie. "Dasar wanita, apakah kalian harus terus berdebat Cukup ikuti rencanaku atau taktik yang selanjutnya adalah tamparan pantat di depan umum."
Lucie terkesiap dan menjauh darinya dengan pipi memerah untuk menyesuaikan dengan bibir warna rubi yang baru-saja-dicium. Rupanya gambaran tangan Reid di pantatnya adalah satu-satunya hal yang Reid butuhkan untuk menakut-nakuti Lucie. Benarkah hanya itu setelah melihat lebih dekat ia bersumpah melihat kilatan birahi di mata Lucie. Mungkinkah Lucie yang polos memiliki setan kecil di dalam dirinya
Sialan. Hanya pikiran itu saja sudah membuatnya mengeras di balik celananya. Dia harus keluar dari sana. Cepat. Ketika ia bicara, ia terkejut mendengar getaran di suaranya. "Aku tidak akan lama," kemudian ia berputar dan melangkah keluar untuk menemukan toko pakaian pria terdekatdan sedikit waktu untuk menghilangkan ereksinya, dan sekarang ia sedang terangsang pada adik sahabatnya.