Perang Pasifik meletus pada 8 Desember 1941. Sebelum menyulut peperangan, Jepang telah lama mempersiapkan diri untuk menguasai Asia Timur dan Pasifik Barat, serta mengalihkan pandangan mereka ke daerah kepulauan yang kaya raya di selatan. Daerah kepulauan tersebut adalah Indonesia. Upaya untuk merebut Indonesia dari tangan Belanda membutuhkan waktu yang relatif singkat. Jawa adalah pulau utama yang akan dijadikan sasaran sebagai pusat pendudukan, terutama lagi merebut kota pusatnya, yaitu Jakarta. Tindakan pertama untuk merebut Jawa ialah menduduki pangkalan-pangkalan yang ada di sekitar Jawa, seperti lapangan udara di Banjarmasin, Makassar, Kendari, Palembang, dan Tanjung Karang .
Pada 1 Maret 1942, tentara ke-16 Jepang di bawah komando Letnan Jenderal Hitoshi Imamura berhasil mendarat di tiga tempat di pulau ini, yaitu di Teluk Banten, Eretan Wetan (Jawa Barat), dan Kragan (Jawa Tengah) . Pada 5 Maret 1942, bala tentara Jepang telah benar-benar menguasai daerah Tangerang yang terletak di ambang barat Batavia. Tentara KNIL (Koninklijk Nederland Indie Leger) yang berada di bawah komando Mayor Jenderal Schilling dengan kekuatan hanya satu divisi memerintahkan menarik seluruh pasukannya ke arah Bandung yang dijadikan sebagai pertahanan terakhir di Pulau Jawa. Dengan demikian, Batavia menjadi kota terbuka, artinya wilayah ini sudah tidak dipertahankan lagi oleh Belanda. Akhirnya mimpi buruk pemerintah Hindia Belanda terjadi. Pada 8 Maret 1942 di Kalijati Subang, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, dan Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia, Jenderal H.Ter Poorten, menyerah tanpa syarat atas seluruh Hindia Belanda kepada Jepang . Ini menandakan berakhirnya masa kekuasaan Belanda atas Indonesia dan dimulainya masa pemerintahan pendudukan militer Jepang.
Setelah bala tentara Jepang benar-benar menguasai seluruh Indonesia, pemerintahan militer segera dibentuk. Wilayah bekas Hindia Belanda ini terbagi dalam tiga daerah pendudukan, yaitu:
1. Pemerintahan militer Angkatan Darat (Tentara ke25), meliputi daerah Sumatera dengan pusatnya di Bukittinggi;
2. Pemerintahan militer Angkatan Darat (Tentara ke-16), meliputi daerah Jawa dan Madura dengan pusatnya di Jakarta;
3. Pemerintahan militer Angkatan Laut (Armada Selatan ke-2), meliputi daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian Barat dengan pusatnya di Makassar .
Perlu diketahui, pemerintahan masa Jepang lebih tepat disebut sebagai pemerintahan pendudukan daripada pemerintahan jajahan karena perang masih berlangsung. Pemerintahan yang dibentuk adalah pemerintahan militer. Organisasi pemerintahan militer di Jawa disebut Gunseibudan dan pejabatnya disebut Gunseikan, sedangkan kantor pemerintahan pusatnya disebut Gunseikanbu. Batavia sendiri menjadi pusat pemerintahan bala tentara Jepang (Gunseikanbu). Kemudian, Jepang mulai menata segala hal yang berbau Belanda. Salah satunya mengganti nama Batavia menjadi Jakarta. Usaha ini dilakukan tepat ketika perayaan Hari Perang Asia Timur Raya pada 8 Desember 1942. Jakarta termasuk daerah istimewa yang disebut Jakarta Tokubetu-si .
Propagandasejak awal pendudukanmerupakan suatu kewajiban pokok pemerintah militer Jepang. Untuk itu, pemerintah militer Jepang merasa perlu untuk membentuk suatu badan atau departemen yang menangani kegiatan ini. Organisasi pemerintah yang menangani masalah propaganda adalah Sendenbu (Departemen Propaganda). Sendenbu merupakan sebuah departemen yang dibentuk pada Agustus 1942 dan kedudukannya berada di dalam badan pemerintahan militer (Gunseikanbu). Departemen ini merupakan organisasi yang terpisah dari Seksi Penerangan Angkatan Darat ke-16 yang bertanggung jawab atas informasi mengenai operasi militer, sedangkan Sendenbu ditujukan kepada penduduk sipil di Jawa, termasuk Jakarta. Sendenbu memiliki tiga seksi departemen, yaitu Seksi Administrasi, Seksi Berita dan Pers, serta Seksi Propaganda. Hanya Seksi Propaganda yang dipimpin oleh seorang sipil, yaitu Shimitzu Hitoshi, seorang pejabat Jepang yang telah berpengalaman sebagai propagandis profesional . Departemen ini sejak awal sampai akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia selalu dipimpin oleh orang dari kalangan militer. Ketua Sendenbu berturutturut dipegang oleh kalangan perwira Angkatan Darat: pertama, Kolonel Machida (Agustus 1942-Oktober 1943), lalu Mayor Adachi (Oktober 1943-Maret 1945), dan terakhir Kolonel Takahashi (April 1945-Agustus 1945) .
Struktur sederhana organisasi propaganda di Jawa:
Gunseikanbu
(Pemerintahan Militer)
|
|
|
\/
Sendenbu
(Departemen Propaganda, didirikan pada Agustus 1942, terdiri atas tiga seksi, yaitu Seksi Administrasi, Seksi Berita dan Pers, dan Seksi Propaganda)
|
|
|
\/
1. Djawa Hoso Kanrikyoku
(Biro Pengawas Siaran Radio, didirikan pada Oktober 1942)
2. Domei
(Kantor Berita, didirikan pada Oktober 1942)
3. Djawa Shinbunkai
(Perusahaan Koran Jawa, didirikan pada Desember 1942)
4. Nihon Eigasha atau Nichiei
(Perusahaan Film Jepang, didirikan pada April 1943)
5. Eiga Haikyusha atau Eihai
(Perusahaan Pendistribusian Film, didirikan pada April 1943)
6. Djawa Engeki Kyokai
(Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa, didirikan pada
September 1944)
(Sumber: Kurasawa, 1993: 230-231).
Sendenbu pada awalnya tidak hanya bekerja sebagai kantor administratif, tetapi juga langsung melancarkan operasi propaganda. Kemudian ketika struktur organisasi pemerintahan semakin rumit, beberapa biro khusus yang bertanggung jawab atas bidang propaganda yang berbedabeda dibentuk di luar departemen Sendenbu. Biro khusus itu di antaranya adalah Djawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Djawa) yang dibentuk bulan Oktober 1942; Djawa Shinbunkai (Perusahaan Koran Djawa) yang dibentuk Desember 1942; Kantor Berita Domei yang dibentuk bulan Oktober 1942; Nihon Eigasha atau Nichiei (Perusahaan Film Jepang) yang dibentuk bulan April 1943; Eiga Haikyusha atau Eihai (Perusahaan Pendistribusian Film) dibentuk bulan April 1943; dan Djawa Engeki Kyokai (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) dibentuk bulan September 1944. Setelah pembentukan biro-biro khusus ini, Sendenbu hanya menyusun rancangan dan bahan propaganda. Akan tetapi, Sendenbu tetap memiliki peranan sebagai kantor pengawas dan koordinasi berbagai operasi propaganda .
Pascapembentukan Sendenbu, seluruh media massa segera dikendalikan di bawah organisasi ini. Film, surat kabar, pamflet, buku, poster, foto, siaran radio, pidato, seni pertunjukan tradisional, dan tidak terkecuali seni sandiwara modern, menjadi kendaraan-kendaraan yang digunakan untuk melaksanakan skema propaganda yang telah dirancang sebelumnya. Keputusan mengenai rancangan propaganda dasar untuk setiap tahun anggaran dibuat oleh Gunseikan,mengikuti rencana umum yang ditetapkan oleh Markas Besar Tentara Umum Wilayah Selatan. Menuruti perintah dari Gunseikan, direktur Sendenbu memutuskan rencana operasional setelah melakukan konsultasi dengan kepala-kepala seksi terkait .
Alasan Jepang memilih sandiwara sebagai alat propaganda adalah karena sandiwara dapat menggelorakan perasaan orang banyak. Untuk itu, sandiwara difokuskan pemerintah guna mendukung peperangan yang sedang dilakukan Jepang. Berbagai organisasi untuk menangani dan mengawasi kegiatan seni sandiwara segera dibentuk pemerintah di Jakarta. Tema-tema yang disampaikan melalui pertunjukan sandiwara, penulisan naskah lakon, dan sandiwara radio berbeda-beda. Pada awal pendudukan, tematema propaganda belum terlalu kuat terlihat. Tahun 1943, tema yang hadir adalah tentang gagasan Lingkungan Bersama di Asia Timur Raya, pengerahan romusha, hiburan untuk prajuritprajurit Jepang, dan pengorbanan menyumbang pendapatan pertunjukan untuk organisasi militer Jepang. Dari tahun 1944 sampai tahun 1945, tema-tema propaganda lebih ditekankan pada masalah pembelaan tanah air, peningkatan produksi pertanian, pengerahan romusha, sumbangan pendapatan untuk perang, hiburan untuk prajurit-prajurit Jepang secara cuma-cuma, semangat perang, dan janji kemerdekaan. Selain itu, ada juga pertunjukan untuk memperingati peristiwa bersejarah, seperti hari pecahnya Perang Pasifik, pendudukan Jepang di Jawa, ulang tahun kaisar, dan sebagainya. Tematema tadi menjadi suatu keharusan untuk ditampilkan dalam pertunjukan, penulisan lakon, dan siaran sandiwara radio. Jakarta yang merupakan kota pusat pemerintahan Jepang di Jawa, sekaligus kota yang menjadi tempat pertumbuhan seni sandiwara, tidak lepas dari propaganda pemerintah.
B. Sandiwara di Bawah Kontrol
1. Sekolah Tonil
Seksi Propaganda membuka Sekolah Tonil di Jakarta pada Juni 1942. Tujuannya untuk memperbaiki kualitas seni sandiwara berdasarkan semangat ketimuran. Jepang menyadari bahwa usia sandiwara modern Indonesia masih terbilang muda sekitar 15 tahun sejak pembaruan yang dilakukan oleh Miss Riboet Orion dan Dardanella. Untuk menjadikan kesenian ini sebagai alat propaganda yang efektif, Sendenbu terlebih dulu merubah gambaran miring tentang sandiwara dengan cara meningkatkan kualitasnya. Kaum terpelajar di kota-kota besar, termasuk di Jakarta, masih menganggap hiburan sandiwara modern sebagai hiburan murahan. Mereka menganggap roman dan puisi lebih berkualitas daripada sandiwara . Sekolah Tonil bertujuan untuk menciptakan ahli-ahli di bidang ini, seperti mendidik penulis naskah profesional, aktor atau pemain, serta staf lainnya. Sekolah Tonil dipimpin oleh tiga ahli seni dari Jepang seperti R. Takeda, Jasoeda, dan Sakoema, serta satu orang wartawan Indonesia yang juga mantan sutradara film pada masa Hindia Belanda, yaitu R. Ariffien . Kantornya terletak di Jalan Soenda No.36 Jakarta. Sekolah Tonil menjadi semacam pusat pimpinan dari semua pertunjukan-pertunjukan tonil atau sandiwara dan kesenian di seluruh Indonesia.
Murid-murid dari Sekolah Tonil dijadikan sebagai pelopor untuk melancarkan rencana propaganda dan memberi hiburan bagi prajurit-prajurit Jepang. Mereka aktif menyumbangkan permainan yang telah mereka dapatkan dari pendidikan di Sekolah Tonil. Contoh pertunjukan yang digelar oleh murid-murid ini antara lain pertunjukan pada tanggal 21 Juli 1942, untuk menghibur bala tentara Jepang di Jakarta yang diadakan di Gedung Schouwburg Pasar Baru. Pada 5 Agustus 1942, murid-murid sekolah ini kembali mengadakan pertunjukan untuk menghibur tentara Jepang yang bekerja di Angkatan Laut, dan tanggal 19 September 1942 menghibur bala tentara Jepang di tempat yang sama. Menurut surat kabar Asia Raya, pada pertunjukan tanggal 19 September 1942 yang dipimpin oleh Sakoema dan R. Ariffien, tari Serimpi oleh Nani dan tari Djanger oleh Misnah mendapat perhatian dari besar penonton .
Pertunjukan itu berupa nyanyian, tarian , dan pertunjukan sandiwara. Ternyata pertunjukan yang dilakukan oleh murid-murid Sekolah Tonil tidak hanya diadakan di Jakarta, tetapi juga di Tangerang . Bahkan Seksi Propaganda bagian Sekolah Tonil pada tanggal 9 September 1942dipimpin oleh R. Ariffien dan Jasoedaberangkat mengelilingi Jawa dan Bali.
Tujuannya adalah memeriksa kedudukan berbagai komedi (sandiwara) dan memperdalam arti kesenian Timur .
Dari pertunjukan-pertunjukan yang telah dilaksanakan, surat kabar Asia Raya menuliskan bahwa:
... Sudah tentoe dalam langkah pertama ini masih didapati kekoerangan di sana-sini, tetapi djika ditilik dari singkatnja didikan jang diberikan, bolehlah semoeanja itoe diharapkan menoedjoe pada perbaikan doenia tonil. Kini kita mendapat kabar bahwa sekolah tonil itoe siboek memberi peladjaran tari-tari baroe jang kelak kemoedian hari akan mendjadi hidangan poela bagi oemoem .
Tulisan tersebut menyiratkan bahwa pendidikan yang diadakan Sekolah Tonil belum mencapai hasil yang maksimal dan pendidikannya terfokus pada pendidikan tari.
Pada 1 Oktober 1942, dilakukan peleburan dua bagian dalam Seksi Propaganda, yaitu film dan sandiwara, dengan nama Djawa Eiga Kosya (Perusahaan Film Jawa). Setelah enam bulan di Indonesia, bala tentara Jepang merasa perlu untuk menyatukan kedua bagian dalam Seksi Propaganda tersebut. Setelah peleburan ini, bagian film telah menjelma sifatnya sebagai badan sipil di dalam Djawa Eiga Kosya . Djawa Eiga Kosya yang dipimpin oleh Soitji Oja sebelumnya merupakan Seksi Propaganda Bagian Film yang terpisah dengan Bagian Tonil. Dengan demikian, Sekolah Tonil sekarang berada di bawah Djawa Eiga Kosya. Djawa Eiga Kosya merupakan biro khusus sementara di bawah Seksi Propaganda yang menangani masalah perfilman di Jawa. Pada April 1943, biro khusus ini dibubarkan dan diganti dengan pembentukan Nihon Eigasha atau Nichiei (Perusahaan Film Jepang).
Sekolah Tonil menghasilkan lakon-lakon propaganda, seperti Pendekar Asia karya Sakoemaseorang penulis cerita sandiwara yang terkenal dari Jepang, Ratoe Asia karya R. Ariffienmantan wartawan Indonesia, Poetera Asia, serta Iboe Bedosa . Selain dimainkan oleh murid-murid Sekolah Tonil, lakon-lakon tadi aktif dimainkan oleh perkumpulan sandiwara Tjahaja Asia pada masa awal pendudukan. Contohnya pada 29 Agustus 1942, perkumpulan ini mengadakan pertunjukan Poetra Asia di Gedung Komedi Pasar Baru Jakarta .
Untuk meningkatkan kualitas bagian sandiwara dalam Djawa Eiga Kosya, Andjar Asmara yang telah kenyang pengalaman di bidang sandiwara dan film disertakan ke dalam bagian ini. Sebelumnya Andjar Asmara bekerja di surat kabar Asia Raya pada bagian kesenian . Andjar juga bertugas untuk memperbaiki metode pendidikan yang diberikan di Sekolah
Tonil .
Setelah kurang lebih tujuh bulan berjalan, akhirnya pada 3 Januari 1943 Sekolah Tonil resmi ditutup. Menurut Asia Raya: penoetoepan ini berdasar pada rentjana jang lebih besar dan lebih sempoerna dari badan pendidikan jang kelak akan didirikan kembali.... Pelajar-pelajar yang telah menuntut pendidikan dan memperoleh pengalaman dari sekolah ini kemudian banyak yang menjadi anggota perkumpulanperkumpulan sandiwara yang memang kian menjamur .
Meskipun Sekolah Tonil sudah resmi ditutup, namun Djawa Eiga Kosya tetap aktif mengawasi serta mengendalikan kegiatan seni sandiwara yang ada di Jakarta dan seluruh Jawa. Sekolah Tonil yang dibuka pada Juni 1942 merupakan bagian dari Seksi Propaganda yang pada perkembangan selanjutnya termasuk ke dalam Djawa Eiga Kosya, suatu lembaga yang didirikan untuk memajukan sandiwara dan kesenian yang berorientasi Timur , serta menghasilkan naskah-naskah sandiwara yang berisi propaganda pemerintah.
Pada 10 Maret 1943, diadakan sebuah rapat tentang dunia sandiwara yang dipimpin oleh Winarno , Jasoeda , dan Andjar Asmara. Dalam rapat tersebut Jasoeda menegaskan: deradjat sandiwara-sandiwara di Indonesia sekarang ini masih rendah [...] hal ini disebabkan karena pengaroeh Belanda. Kemudian Andjar yang hadir pada rapat tersebut menyatakan: sedikit hari lagi film bikinan moesoeh jang meroesak semangat akan dilarang dimainkan. Sepantasnja sandiwara Indonesia dapat menggantikan kedoedoekan film itoe . Rencana untuk melarang produksi film impor dari Barat ternyata telah dipikirkan masak-masak oleh pemerintah Jepang dan ini memengaruhi cara berpikir seniman-seniman Indonesia. Pelarangan film-film impor ini berpengaruh besar terhadap pertumbuhan yang signifikan pada sandiwara modern.
2. Peraturan Sendenbu
Setelah penutupan Sekolah Tonil, Sendenbu pada 19 Januari 1943 mengeluarkan beberapa peraturan untuk mengawasi jalannya kegiatan sandiwara di Jawa dan khususnya Jakarta. Peraturan ini tidak hanya berlaku bagi sandiwara modern, tetapi juga sandiwara tradisional. Isi dari peraturan-peraturan ini adalah sebagai berikut:
1. semua cerita yang hendak dimainkan mesti dikirim dahulu ke kantor Hoodoka, Gambir Selatan No.3 Jakarta, untuk diperiksa;
2. yang diserahkan ke kantor tersebut bukan hanya isi cerita atau kesimpulan saja, tetapi cerita yang lengkap dengan bagian-bagian lakonnya serta semua pembicaraan (dialog) yang akan dilakukan dalam permainan itu (pementasan);
3. cerita itu harus ditulis dengan bahasa yang digunakan oleh orang yang bermain pada waktu mengadakan pertunjukan (Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa atau Bahasa Sunda);
4. semua perkumpulan yang terus-menerus atau sering mengadakan pertunjukan diwajibkan mendaftarkan nama kelompoknya dan nama orang yang bertanggung jawab pada kelompok tersebut .
Peraturan-peraturan ini merupakan bagian dari sensor pemerintah pendudukan Jepang terhadap naskah-naskah sandiwara yang akan dimainkan. Bagi mereka yang melanggar akan mendapat hukuman berat dari pemerintah. Contoh kasus yang terjadi adalah meninggalnya Tjak Doerasim, seniman ludruk asal Surabaya. Tjak Doerasim meninggal akibat mendapat siksaan dari Kempeitai (polisi militer Jepang yang terkenal sadis) karena menambahkan kata-kata dalam lagu ludruknya, sebagai berikut: Bekupon omahe doro, melu Nippon tambah sengsoro . Di Jakarta, biro sensor ini diketuai oleh Mr.Elkana Tobing dan Lasmidjah .
Dengan adanya peraturan tersebut, perkumpulan sandiwara harus menulis lakon secara lengkap dengan dialognya. Berbeda dengan kegiatan sandiwara pada masa kolonial yang dimainkan secara spontan dan menggunakan naskah secara bebas, pada masa ini para pemain dikendalikan dan dibatasi ruang geraknya untuk menyampaikan semua hasrat seni mereka sebebas-bebasnya.
3. Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan)
Keimin Bunka Shidosho berdiri pada 1 April 1943 di Jakarta. Namun, baru diresmikan pada 29 April 1943, bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Tenno Heika . Keimin Bunka Shidosho merupakan organisasi di luar Sendenbu yang bertugas sebagai pusat kebudayaan; bergerak di bidang kesenian menggantikan kedudukan Badan Pusat Kesenian Indonesia yang baru beberapa bulan berjalan. Badan Pusat Kesenian Indonesia didirikan pada 6 Oktober 1942 di Jakarta atas restu dari Soekarno. Tujuan badan ini adalah untuk menciptakan kesenian Indonesia baru, di antaranya dengan menyesuaikan dan memperbaiki kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Badan ini diketuai oleh Sanoesi Pane, anggotanya terdiri dari seniman-seniman Indonesia. Badan Pusat Kesenian Indonesia hanya sekali mengadakan pertunjukan pada 8 Desember 1942 untuk memperingati pecahnya Perang Asia Timur Raya. Sebuah fragmen berjudul Lukisan Zaman digelar di Gedung Komedi Pasar Baru Jakarta, sebelum akhirnya Sendenbu membentuk Keimin Bunka Shidosho . Tujuan dibentuknya Keimin Bunka Shidosho sendiri adalah untuk menyesuaikan kebudayaan yang sekarang dengan cita-cita Asia Timur Raya, bekerja dan melatih ahli-ahli kebudayaan Nippon dan Indonesia bersama-sama, dan memajukan kebudayaan Indonesia . Pengurus-pengurus dalam Badan Pusat Kesenian Indonesia yang dihapus ini kemudian banyak yang dipekerjakan dalam Keimin Bunka Shidosho.
Pemimpin Besar Keimin Bunka Shidosho adalah Direktur Sendenbu. Terdapat lima bagian dalam Keimin Bunka Shidosho, yaitu bagian kesusastraan, bagian film, bagian lukisan dan ukiran, bagian musik, serta bagian sandiwara dan tari. Keimin
Bunka Shidosho dipimpin oleh S. Oja yang merangkap sebagai pemimpin utama bagian film. Bagian kesusastraan dipimpin oleh R. Takeda, bagian lukisan dan ukiran dipimpin oleh T. Kono, bagian musik dipimpin oleh N. Iida, sedangkan bagian sandiwara dan tari dipimpin oleh K. Jasoeda . Seluruh pemimpin utama dalam tiap bagian Keimin Bunka Shidosho adalah ahli-ahli kesenian dari Jepang, tetapi mereka dibantu orang-orang Indonesia sebagai ketua di setiap bagian. Ketua kantor pusat dipegang oleh Sanoesi Pane, ketua bagian kesusastraan dipegang oleh Armijn Pane, ketua bagian lukisan dan ukiran dipegang oleh Agus Djajasuminta, ketua bagian musik dipegang oleh Mr. Utoyo, ketua bagian film dipegang oleh R. Sutarto, serta ketua bagian sandiwara dan tari dipegang oleh Winarno .
Setelah dibentuk Keimin Bunka Shidosho, dengan sendirinya seluruh kegiatan sandiwara sekarang ditangani oleh bagian sandiwara dan tari Keimin Bunka Shidosho, yang dipimpin Jasoeda dan didampingi Winarno. Bagian sandiwara memiliki kedudukan sebagai markas besar atas perumusan kebijakan dasar pemanfaatan seni sandiwara demi propaganda politik dan bertanggung jawab atas pendorongan, pelatihan, tuntunan, serta kontrol segala jenis kegiatan sandiwara . Keimin Bunka Shidosho juga menjaring penulis lakon kelas satu Indonesia untuk dipekerjakan sebagai penulis lakon, misalnya Inoe Perbatasari dan Armijn Pane . Lakon-lakon yang sudah dikarang orang-orang seperti Armijn Pane ini kemudian dibagi-bagikan kepada perkumpulan-perkumpulan sandiwara untuk dimainkan.
Jasoeda selaku pemimpin bagian sandiwara dan tari tahu benar kalau sandiwara merupakan kendaraan propaganda yang ampuh untuk mengindoktrinasi publik. Ini tergambar dalam sambutannya di majalah Djawa Baroe:
... kita djangan mengabaikan pengaroeh tonil dan pengaroeh sesoeatoe oetjapan dalam tonil itoe atas djiwa dan semangat rajat. Oleh sebab itoe, tidak salah djika saja katakan bahwa sandiwara dan tari-menari itoe dalam zaman peperangan modern ini adalah satoe sendjata jang tadjam dalam melakoekan peperangan-pikiran. Boekankah rajat terbanjak, jang tidak tahoe membatja dan menoelis itoe, moedah mendapat penerangan dan pendidikan apabila semoea ini dilakukan dengan perantaraan sandiwara
[...] Memberi penerangan tentang kedjadian sehari-hari di sekitar kita dan memberi pendidikan bathin kepada rajat jang boeta hoeroef itoe dengan perantaraan sandiwara dan kesenian tari; boekankah ini ada satoe djalan jang baik dan tjepat...
Terlihat dengan sangat jelas maksud dari bagian sandiwara yang telah dikemukakan oleh Jasoeda di atas, yaitu memberi penerangan dan dukungan kepada masyarakat, terutama masyarakat yang buta huruf, terhadap peperangan yang sedang dijalankan Jepang terhadap Sekutu. Jasoeda melihat bahwa sandiwara mampu memengaruhi mereka yang buta huruf karena sandiwara bersifat audio-visual (pandang dengar), sehingga tidak dibutuhkan teks untuk mereka baca.
Pada 28 Juni 1943, Keimin Bunka Shidosho bagian sandiwara menyelenggarakan pertemuan dengan ahli-ahli sandiwara di Jakarta. Tujuan pertemuan ini untuk membicarakan beberapa persoalan guna perbaikan seni sandiwara secara umum. Pertemuan ini merupakan langkah awal sebagai konsolidasi bagian sandiwara dengan perkumpulanperkumpulan sandiwara yang ada di Jakarta. Bagian sandiwara juga turut aktif menyelenggarakan pertunjukanpertunjukan sandiwara yang tujuannya tidak lain adalah propaganda. Organisasi ini juga kerap bekerja sama dengan organisasi-organisasi bentukan pemerintah lainnya untuk menyelenggarakan pertunjukan, serta memberikan hiburan bagi prajurit . Selain itu, Keimin Bunka Shidosho juga mengorganisasi perkumpulan sandiwara lokal untuk tampil di wilayah-wilayah yang setaraf dengan perkampungan pinggir kota dan membentuk perkumpulan sandiwara .
C. Sandiwara sebagai Alat Propaganda Penulis melihat bahwa pada masa pendudukan Jepang, sandiwara dimanfaatkan sebagai motor propaganda melalui tiga media, yaitu pertunjukan dari perkumpulan
sandiwara, siaran sandiwara radio, dan penulisan naskah lakon sandiwara di media massa. Di sini, akan dibahas praktikpraktik propaganda di dunia sandiwara melalui tiga media tersebut.
1. Propaganda Sandiwara Panggung
Kegiatan sandiwara panggung di Jakarta mengalami perkembangan yang signifikan pada masa Jepang. Menurut Armijn Pane , faktor-faktor yang menyebabkan sandiwara berkembang adalah karena cerita-cerita yang dipertunjukkan oleh sandiwara keliling kebanyakan dapat dipertunjukkan di atas panggung dan dibuat skenario film. Film impor dari Jepang dan pembuatan film dalam negeri kurang memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan. Selain itu, Armijn Pane melihat satu faktor pendorong yang penting, yakni adanya Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) sebagai semacam wadah yang baik bagi kegiatan sandiwara. Faktor-faktor ini pula yang kemudian menjadikan Jakarta sebagai arena tujuan pertunjukan perkumpulan-perkumpulan sandiwara. Haryadi Suadi menyebutkan bahwa Jepang memelihara sandiwara pada masa ini, tujuannya adalah untuk memperkuat barisan propagandanya. Atas dasar faktor-faktor tadi, maka tidak heran kalau antara tahun 1942 hingga awal tahun 1943 perkumpulan sandiwara telah menjamur di seluruh Jawa.
Sebagian besar perkumpulan sandiwara yang berdiri serta mengadakan pementasan di Jakarta adalah perkumpulan sandiwara profesional. Tetapi karena naskah menjadi suatu hal yang penting dan improvisasi dilarang oleh Jepang, lambat laun perkumpulan profesional ini mengalami penurunan dan akhirnya harus ikut dengan perkembangan zaman. Ada begitu banyak perkumpulan sandiwara yang berdiri di Jakarta ataupun yang menjadikan Jakarta sebagai tempat tujuan pertunjukan pada masa ini, yang cukup terkenal di antaranya Tjahaja Asia , Bintang Soerabaja140, Dewi Mada141, Tjahaja Timoer142, Noesantara, Pantjawarna143, Miss Tjitjih144, Bintang, Warnasari145, Sinar Sari, Persafi146, dan Maya147. Sebagian besar perkumpulan-perkumpulan ini berdiri pada masa pendudukan Jepang, namun ada beberapa perkumpulan yang sudah ada sejak masa kolonial, Miss Tjitjih contohnya. Anggota-anggota dalam perkumpulan-perkumpulan ini juga mereka yang sudah malang melintang di dunia sandiwara pada masa kolonial, kebanyakan berasal dari Dardanella. Selain perkumpulan-perkumpulan besar tersebut, ada beberapa perkumpulan yang sifatnya lokal, di antaranya Warna Delima, Tjahaja Kalimantan, Sendangan, Panggilan Masa, Boelan Poernama, Terang Boelan, Surya Kanta, Dendang, Irama Masa, dan Insaf. Beberapa tempat di Jakarta yang lazim dijadikan
sebagai tempat pertunjukan sebagian besar adalah gedunggedung bioskop, seperti Ginsei Eiga Gekidjo Glodok, Minami Eiga Gekidjo Kramat, Nankai Eiga Gekidjo Pancoran, dan Sinka Eiga Gekidjo/Djakarta Gekidjo Mangga Besar. Begitu banyak perkumpulan sandiwara yang bermunculan sehingga mengakibatkan gedung bioskop gulung tikar dan merelakan diri menjadi tempat hiburan lain, yaitu hiburan sandiwara panggung . Selain itu, perkumpulan-perkumpulan sandiwara biasa bermain di panggung Pasar Malam Lakoetentji, Taman Raden Saleh Cikini, Sawah Besar, Panggung Miss Tjitjih Senen, Panggung Kebon Pala Djatinegara, dan Siritu Gekidjo (Gedung Komedi) Pasar Baru. Perkumpulan-perkumpulan sandiwara yang akan mengadakan pertunjukan di Jakarta, harus bergilir menempati gedung-gedung atau tempat yang dijadikan lokasi pertunjukan.
Peranan mantan anggota Dardanella, Miss Riboet Orion, dan Bolero cukup besar dalam memimpin perkumpulanperkumpulan baru di masa Jepang. Dapat disebutkan, masih terdapat nama-nama terkenal di kalangan perkumpulan sandiwara pada masa kolonial, seperti Andjar Asmara, Tan Tjeng Bok, Ratna Asmara, Njoo Cheong Seeng, Fifi Young, Ali Yugo, Astaman, Dewi Mada, Ferry Kock, dan Henry L.Duarte, yang memegang peranan penting bagi terbentuknya perkumpulan-perkumpulan baru pada masa ini. Sebagian besar kegiatan perkumpulan sandiwara dibiayai oleh Sendenbu dan berlindung di bawah organisasi-organisasi pemerintah, seperti Djawa Eiga Kosya, Djawa Engeki Kyokai (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa), ataupun Keimin Bunka Shidosho. Lazimnya, perkumpulan-perkumpulan seperti ini bermain sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam memberikan suatu anjuran dan kebijakan, serta untuk memengaruhi alam pikiran masyarakat agar ikut mendukung perang yang tengah dijalankan Jepang.
Dalam periode 1942 sampai 1943, terdapat pola yang sama dari kegiatan perkumpulan sandiwara di Jakarta. Mereka umumnya mengadakan pertunjukan untuk keperluan sosial, hiburan, merayakan hari-hari istimewa atas anjuran pemerintah , dan propaganda. Misalnya pada 9 Februari 1943 sampai 11 Februari 1943, perkumpulan Dewi Mada mengadakan pertunjukan untuk amal Komite Ibu Jakarta yang diselenggarakan di Minami Gekidjo dan dihadiri oleh tokoh Empat Serangkai (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan K.H. Mas Mansoer). Pada 12 Februari 1943 sampai 15 Februari 1943, mereka menggelar pertunjukan amal untuk korban banjir yang diselenggarakan di Siritu Gekidjo dengan memainkan lakon-lakon andalan mereka, seperti Kris Mataram, Akoe Menderita, Pendekar Hawaii, dan Warna Warni Sri Melati . Pada 13 dan 14 Agustus 1942, Miss Tjitjih mengadakan pertunjukan di Sawah Besar dengan lakon Kembang Widjaja Koesoema. Pendapatan pertunjukan ini diserahkan kepada Rumah Piatu Muslimin dan Komite Arab Penolong Fakir Miskin, masing-masing 50%, dan pada tanggal 28 Januari 1943 mereka menyumbangkan hasil pertunjukan untuk korban banjir di Jawa Tengah dan Jawa Timur . Pola pertunjukan untuk hiburan dan kepentingan sosial biasanya diadakan atas inisiasi perkumpulan sendiri. Sedangkan pola propaganda adalah atas anjuran pemerintah melalui organisasi-organisasi yang menangani kegiatan sandiwara.
Dewi Mada mengadakan pertunjukan pertamanya di Jakarta pada 30 Juli 1942. Dewi Mada berlindung di bawah Sendenbu . Pertunjukan yang dilangsungkan setiap malam oleh Dewi Mada, menurut surat kabar Asia Raya mendapatkan sukses besar. Seorang wartawan yang menyaksikan pertunjukan-pertunjukan Dewi Mada pada Juli 1942 mencatat: pada oemoemnja pertoendjoekan jang saja ikoeti mengandoeng semangat soeka bekerdja, soeka berkorban, dan hidoep roekoen . Tidak diketahui secara pasti lakon-lakon apa saja yang dibawakan oleh Dewi Mada pada pertunjukanpertunjukan ini, tetapi dari keterangan seorang wartawan yang turut menyaksikan pertunjukan Dewi Mada tersebut, ada kemungkinan bahwa perkumpulan ini juga membawakan lakon propaganda.
Selain Dewi Mada, perkumpulan lain yang membawakan lakon propaganda pada masa awal pendudukan adalah Tjahaja Asia. Perkumpulan ini membawakan lakon propaganda karangan Sekolah Tonil, seperti Poetera Asia karya Sakoema, yang dimainkan pada 28 Agustus 1942 di Gedung Komedi Pasar Baru, dan pada 4 Oktober 1942 di Pasar Malam Lakoetentji. Pertunjukan pertama lakon Poetera Asia mendapat komentar dari Asia Raya, sebagai berikut:
melihat kepada rioehnja penonton, teroetama kepada bahagian-bahagian jang bersemangat, kata-kata jang berapi-api jang di oetjapkan di atas tonil, njatalah bahwa karangan seperti ini amat surup dengan djaman [] soeatoe karangan jang berisi propaganda beloem berhasil kalaoe hanja kata-katanja jang mendapat tepoek tangan, kalaoe pertoendjoekan itoe tidak disokong oleh permainan dan regie jang baik, begitu roepa sehingga apa jang dimaksoed hendak dipropagandakan itoe benarbenar meresap ke dalam hati penonton [] menjoesoen soeatoe karangan tonil jang berisi propaganda haroeslah disokong oleh isi tjerita, drama jang baik dan koeat kalaoe memainkannja oleh regie dan permainan yang teratoer, baroelah propaganda itoe berarti, apa jang hendak ditonjolkan kemoeka, tetapi dengan haloes diselipkan didalam perdjalanan soeatoe cerita jang koeat.
Dari tulisan tersebut, tersirat bahwa Tjahaja Asia memang berhasil mencuri perhatian dan kekaguman kepada penonton, tetapi isi dari lakon propaganda yang dimainkan ini belum terlalu berhasil baik untuk memengaruhi penonton. Dapat terlihat bahwa hubungan antara permainan di atas panggung dengan isi lakon sangat berperan besar untuk memengaruhi penontonnya. Memasuki tahun 1943, beberapa perkumpulan besar mengadakan pertunjukan secara cuma-cuma untuk prajurit Jepang, seperti anggota Peta dan Heiho , serta turut menyumbangkan pendapatannya untuk organisasiorganisasi militer semacam ini. Perkumpulan-perkumpulan besar seperti Noesantara, Persafi, Miss Tjitjih, Tjahaja Timoer, Warnasari, Bintang Soerabaja, dan Pantjawarna terus mengembangkan pertunjukan-pertunjukan semacam ini. Sebuah pertunjukan hiburan untuk prajurit Jepang pada 1943, salah satunya adalah pertunjukan yang dilakukan oleh Noesantara. Perkumpulan ini didanai oleh Djawa Eihai. Pernah pada suatu waktu perkumpulan ini menghibur prajurit Jepang dari satu tangsi ke tangsi lainnya. Pada tanggal 1 sampai 5 Oktober 1943, perkumpulan ini mengadakan hiburan untuk bala tentara Jepang .
Beberapa pertunjukan amal bagi organisasi militer pada periode ini antara lain pertunjukan yang dilakukan oleh Warnasari, Miss Tjitjih, dan Tjahaja Timoer. Misalnya, untuk merayakan Hari Pembangunan Asia Raya yang kedua, Warnasari mengadakan suatu pertunjukan besar dari tanggal 6 Desember 1943 sampai 26 Desember 1943. Warnasari membawakan lakon-lakon mereka seperti Dewi Rani, Kembang
Katjang, Boelan Poernama, R.A.Moerni, Kembali dari Pemboeangan, Asmara Dewi, dan Panggilan Tanah Air. Pertunjukan ini diadakan di tiga tempat berbeda, yaitu di Gedung Komedi Pasar Baru, Ginsei Eiga Gekidjo, dan Panggung Miss Tjitjih di Senen. Seratus persen pendapatan mereka diserahkan kepada Peta . Miss Tjitjih membawakan lakon Djaka Tingkir pada 13 Desember 1943 di Senen. Pertunjukan ini dimaksudkan untuk menyokong Tentara Pembela Tanah Air. Seratus persen pendapatan mereka diserahkan kepada Badan Pembantu Peta . Tjahaja Timoer pada 16 Desember 1943 di Sinka Eiga Gekidjo membawakan lakon Solo di Waktoe Malam, pendapatannya juga diserahkan kepada Peta dan Heiho .
Dibandingkan dengan periode 1942-1943, pada periode 1944-1945 pola-pola pertunjukan dengan tujuan tertentu semakin terlihat lebih intensif. Beberapa pertunjukan yang pendapatannya ditujukan untuk organisasi-organisasi militer semakin terlihat pada periode ini. Misalnya, pada awal tahun 1944 dalam sebuah iklan di surat kabar Asia Raya disebutkan bahwa Warnasari, yang pada 15 Januari 1944 bermain di Gedung Komedi Pasar Baru, menyumbangkan hasil pendapatannya sebesar f.919 untuk Peta. Selain itu, Miss Tjitjih melakukan pertunjukan selama dua hari (20 Januari 1944 dan 21 Januari 1944) dengan lakon-lakon mereka, seperti Bajangan Majit, Gagak Mataram, Dewi Poernama, dan Poeteri Fadjar. Seluruh hasil pendapatannya diserahkan kepada Peta dan Heiho. Bintang Soerabaja di Siritu Gekidjo mempertunjukkan lakon Haroem Manis, seratus persen pendapatannya untuk Peta. Warna Delima yang bermain di Azma Eiga Gekidjo Sawah
Besar mengadakan pertunjukan perkenalan mereka pada 6 Agustus 1944 dengan mementaskan lakon-lakon mereka, seperti Berdjoeang Teroes, Sesal Kemoedian Tak Bergoena, Salah Faham, Soeka Rela, dan Karena Harta. Warna Delima menyerahkan pendapatan mereka masing-masing 25% untuk Badan Pembantu Prajurit, 25% untuk keluarga romusha, dan 25% untuk kegiatan amal lainnya. Panggilan Masa pada 25 November 1944 bermain di Gedung Komedi Pasar Baru dengan lakon Njai Lenggang Kentjana, pendapatannya diserahkan untuk Badan Pembantu Prajurit Jakarta .
Persafi yang anggotanya terdiri dari pemain-pemain berpengalaman juga mengadakan pertunjukan yang hasilnya untuk diserahkan kepada Peta dan Heiho. Ini dilakukan pada 2 Desember 1944 sampai 6 Desember 1944, di Siritu Gekidjo (Gedung Komedi) Pasar Baru. Setiap pertunjukan Persafi selalu dibantu oleh Sendenbu, Keimin Bunka Shidosho, dan Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD). Dalam pertunjukan tersebut dimainkan lakon Moetiara dari Noesa Laoet karangan Usmar Ismail . Pada perkembangan selanjutnya, perkumpulan ini sangat giat membawakan lakon-lakon propaganda dan menyerahkan penghasilannya bagi organisasi militer. Jika disebutkan, akan lebih banyak lagi iklan-iklan semacam ini pada surat kabar Asia Raya. Dari kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan, mungkin telah tergambarkan bagaimana pertunjukan-pertunjukan dari perkumpulan sandiwara di Jakarta pada periode ini diarahkan guna menyumbang bagi organisasi-organisasi militer.
Hiburan bagi prajurit Jepang tetap menjadi suatu hal yang mesti diprioritaskan oleh perkumpulan-perkumpulan sandiwara di Jakarta. Contoh dari pertunjukan-pertunjukan semacam ini di antaranya pertunjukan yang diadakan Warnasari secara cuma-cuma di Tanjung Priok untuk menghibur Angkatan Laut pada awal tahun 1944 . Pada April 1945 di Taman Raden Saleh Cikini , Anggota Barisan Pelopor yang berjumlah kira-kira 8.000 orang dihibur oleh dua perkumpulan besar, yaitu Tjahaja Timoer dan Warnasari. Mereka menghidangkan pertunjukan jang selaras dengan keadaan perang .
Pertunjukan-pertunjukan untuk menyumbang bagi organisasi militer semakin sering dilakukan pada periode 1945 . Begitu pula dengan pembawaan lakonlakon propaganda di atas panggung. Persafi merupakan perkumpulan yang paling aktif pada periode ini. Beberapa pertunjukan yang mereka adakan antara lain pertunjukan pada 21 April 1945 sampai 27 April 1945 dengan lakon Tanah Tak Berdoesta karangan Astopo, serta nyanyian, dan tari Topeng di Siritu Gekidjo Pasar Baru; pertunjukan pada 1 Juni 1945 sampai 7 Juni 1945 dengan lakon Mekar Boenga Madjapahit karya R.S. Palindih di Siritu Gekidjo Pasar Baru; pertunjukan pada 1 Juli 1945 sampai 7 Juli 1945 dengan lakon Tjendera Mata karya Inoe Perbatasari, dan Genderang Perang di Djakarta Gekidjo; serta pertunjukan pada 1 Agustus 1945 sampai 7 Agustus 1945 dengan lakon Tji Tarum di Siritu Gekidjo Pasar Baru . Hampir setiap bulan perkumpulan ini mengadakan pertunjukan untuk amal bagi organisasi militer, seperti Peta dan Heiho.
Pembawaan lakon-lakon propaganda yang dipertunjukkan pada periode 1945 lebih ditekankan oleh pemerintah. Lakon-lakon ini adalah buah karya pengarang dalam bagian sandiwara Keimin Bunka Shidosho dan Badan Permusyawaratan Cerita POSD, ataupun karya pengarang perkumpulan masingmasing. Lakon-lakon seperti Indonesia No Hana karya Njoo Cheong Seng, Kami, Perempoean dan Djembatan Garoeda karya Armijn Pane, Kumityoo Istimewa karya Ananta Gaharsjah,
Taoefan di Atas Asia, Dewi Reni, dan Intelek Istimewa karya ElHakim , Sam Pek Engtai karya Kamadjaja, serta Pahlawan Tanah Air karya D. Soeradji menjadi contoh lakon-lakon propaganda yang dibawakan oleh perkumpulan-perkumpulan sandiwara masa ini.
Dalam majalah Djawa Baroe, disebutkan:
... Oentoek membangkitkan semangat berbakti kepada Tanah Air kita seboet Dewi Reni karangan Elhakim jang dipertoendjoekkan oleh Maya, sedang Tjahaja Timoer dengan Sam Pek Ing Tai karangan Kamadjaja telah menjoba toeroet menoemboehkan soesana persaudaraan di antara bangsa-bangsa Asia Timoer Raja dalam masjarakat kita [...] Lain dari pada kedoea lakon tadi, maka haroes kita seboet djoega, bahwa terdahoeloe dari ini pihak P.O.S.D. telah poela menjelenggarakan Hantoe Perempoean dan Djembatan Garoeda, kedoea lakon karangan Armijn Pane, jang dimainkan oleh Bintang Soerabaja dan Patnjawarna...
Lakon-lakon yang berisi semangat semacam ini yang terus ditekankan hingga berakhirnya masa pendudukan. Sebagai contoh, lakon Indonesia No Hana yang berisi tentang pentingnya tenaga pemuda yang telah sadar dan mempunyai cita-cita tinggi bagi pembangunan nusa dan bangsa di masa perang disimbolkan dengan adanya dua aliran yang cenderung kebarat-baratan dan yang menyadari pentingnya peperangan Asia Timur Raya, dipertunjukkan oleh Bintang Soerabaja pada 1 Februari 1945 di Djakarta Gekidjo. Lakon Pahlawan Tanah Air yang melukiskan semangat masa sekarang dan semangat perjuangan dipertunjukkan oleh Panggilan Masa pada 24 dan 25 Februari 1945 di Siritu Gekidjo Pasar Baru. Lakon Kumityoo Istimewa yang berisi tentang pentingnya kehidupan bersama dalam lingkungan Tonarigumi dan kesadaran akan masa peperangan, dipertunjukkan oleh Insaf pada 3 Juli 1945 di Djakarta Gekidjo. Perkumpulan sandiwara penggemar Maya, pada 10 Februari 1945 dan 11 Februari 1945, mengadakan pertunjukan dengan lakon Intelek Istimewa untuk merayakan Hari Kigensetsu di Siritu Gekidjo Pasar Baru, dengan bantuan dari Keimin Bunka Shidosho. Lakon tersebut berisi tentang keruntuhan seseorang jika ia terlalu mementingkan diri sendiri dan membanggakan kebendaan dibandingkan dengan kepentingan orang banyak . Selain pertunjukan Maya, ada pula pertunjukan tambahan seusai pertunjukan Maya, yaitu pertunjukan sandiwara anak-anak dengan lakon Semalam di Medan Perang yang dibawakan oleh anak-anak berusia 12 tahun di bawah asuhan Ibu Soed . Menilik dari judul lakonnya, tampak lakon tersebut juga merupakan lakon propaganda. Ini berarti propaganda tidak hanya menyentuh orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak.
Selain lakon-lakon tersebut di atas, lakon berlatar belakang sejarah kerajaan yang bersifat lokal juga dimajukan. Miss Tjitjih merupakan perkumpulan yang menjadi model bagi perkumpulan lainnya untuk mementaskan lakon-lakon semacam ini. Satu pertunjukan kerja sama Miss Tjitjih dengan POSD diselenggarakan pada 28 Mei 1945 di Siritu Gekidjo Pasar Baru dengan mengambil lakon Pentjaran Balik Selaka, gubahan dan pimpinan Lily Somawiria. Satu artikel di majalah Djawa Baroe pada 15 Juni 1945 menyebutkan bahwa: pertoendjoekan ini ialah oesaha dari pihak P.O.S.D. (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) oentoek mempertinggi semangat peperangan di kalangan rakjat, teroetama rakjat di desadesa dan kota-kota ketjil.... Selain itu bertujuan juga untuk mempertebal semangat rakyat dalam menyerahkan padi. Lakon ini menggambarkan pertempuran di zaman Kerajaan Padjadjaran, yaitu sebuah cerita tentang Prabu Wirakantjana, Raja Padjadjaran. Alasan POSD memilih cerita ini adalah karena cerita-cerita kuno ini dikenal oleh rakyat kecil di desa-desa. Pertunjukan tersebut dihadiri oleh pejabat tinggi SendenbuShimitzu, prajurit-prajurit Jepang, dan Heiho, serta para pemimpin sandiwara dari luar kota dan desa dari Jawa Barat . Tujuan mengundang pemimpin sandiwara adalah supaya mereka menyaksikan pertunjukan yang bernuansa propaganda semacam ini dan nantinya dapat dipraktikkan di wilayah atau tempat masing-masing di mana mereka berasal. Pertunjukan ini menjadi sebuah model pertunjukan propaganda kepada rakyat.
Akhir 1944, Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD) terbentuk. Dengan terbentuknya organisasi perhimpunan sandiwara ini, kegiatan propaganda semakin intensif dan berlangsung hingga masa pendudukan Jepang. Posisi Jepang yang semakin terjepit dalam peperangan memaksa organisasi yang menangani kegiatan sandiwara mereka bekerja lebih keras lagi. Caranya dengan lebih banyak memajukan lakonlakon propaganda yang berisi dukungan serta semangat perang.
Perbedaan pertunjukan perkumpulan sandiwara pada masa ini dengan pertunjukan pada masa kolonial terletak pada selingan yang berupa tarian, nyanyian, dan lakon yang dipertunjukkan. Pada masa ini, tarian dan nyanyian Timur (Indonesia dan Jepang) dikedepankan dan tarian Barat dilarang untuk dipentaskan. Begitu pula dengan lakon-lakon yang dipertunjukkan, lakon-lakon yang tidak berbahaya dan lakon-lakon pesanan pemerintah dikembangkan, sedangkan lakon-lakon Barat dilarang, walaupun ada pula beberapa lakon saduran dari pengarang Barat yang diizinkan untuk dipertunjukkan. Dari pemaparan berbagai perkumpulan di atas, pada umumnya pertunjukan dari masing-masing perkumpulan menampilkan suatu keseragaman. Pada masa awal pendudukan (ketika POSD belum terbentuk), perkumpulan sandiwara menghadirkan lakon-lakon hasil karya penulis masing-masing perkumpulan, hanya beberapa perkumpulan saja yang ditugaskan membawa lakon hasil karangan Sekolah Tonil dan Keimin Bunka Shidosho. Pada masa awal ini, pendapatan pertunjukan banyak yang digunakan untuk kepentingan sosial (seperti dana untuk korban banjir atau fakir miskin) dan hiburan bagi masyarakat serta tentara Jepang. Pada 1943, banyak perkumpulan yang menyumbangkan hasil pendapatannya untuk organisasi militer seperti Peta dan Heiho. Pada 1944 sampai 1945, pendapatan pertunjukan sandiwara banyak yang disumbangkan untuk keperluan dana perang.
2. Siaran Sandiwara Radio
Media propaganda sandiwara yang digunakan oleh pemerintah Jepang bukan hanya melalui panggung, tetapi juga radio. Di Jawa, segera setelah pendudukan, stasiun pemancar radio yang ada dikontrol oleh Sendenbu dan dibentuk Djawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Djawa). Hoso Kanrikyokuini dipimpin oleh Tomabechi. Hoso Kanrikyoku kemudian membangun cabang-cabang di kota-kota besar JawaBandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya, Semarang, termasuk Jakartayang disebut dengan Hoso Kyoku. Jakarta Hoso Kyoku (Pemancar Radio Jakarta) dipimpin oleh Shimaura. Pada 7 Maret 1942, Pemancar Radio Jakarta mulai mengudara. Pemancar Radio Jakarta berada pada gelombang 80,30 meter . Pemerintah Jepang melalui Keimin
Bunka Shidosho bagian kesusastraan menyiarkan sandiwara radio melalui Pemancar Radio Jakarta untuk menyuarakan tema-tema propaganda mereka, seperti anjuran menambah hasil bumi, semangat peperangan, sejarah tentang kekejaman bangsa Barat, dan cinta tanah air. Sebelumnya, hiburanhiburan di radio terbatas pada musik dan seni panggung tradisional .
Tercatat ada beberapa lakon sandiwara yang disiarkan oleh Pemancar Radio Jakarta, di antaranya Darah Memanggil karya Achdiat dan Rosidi, Saidja dan Adinda dan Poetera Negara karya Achdiat, Moetiara dari Noesa Laoet dan Tempat jang Kosong karya Usmar Ismail, Djibakoe Atjeh karya Idroes, Diponegoro karya Soetomo Djauhar Arifin, Bende Mataram karya Ariffien K. Oetojo, Sakura dan Njioer karya M. D. Alif, Ajahkoe Poelang (Tjitji Kaeroe) karya Kikoetji Kwan, Soemping Soerong Pati karya Inoe Kertapati, Iboe Perdjoerit karya Matsuzaki Taii, serta Djalan Kembali, Mereboet Benteng Kroja, Memotong Padi, Manoesia Oetama, dan Tanah dan Air.
Sandiwara radio, seperti tercatat dalam Asia Raya melalui sebuah iklan berbentuk artikel pendek sebelum penyiaran dilaksanakan, baru terlihat sekitar tahun 1943. Pantjaran Sastera adalah acara yang diselenggarakan oleh Keimin Bunka Shidosho di Radio Jakarta untuk menyiarkan berbagai karya sastra, seperti cerpen, puisi, termasuk sandiwara. Sebelum Keimin Bunka Shidosho ini berdiri, telah ada hiburan sandiwara melalui media radio. Seperti terlihat pada 13 November 1942, berdiri sebuah perkumpulan sandiwara radio dengan nama Pantjawarna di bawah pimpinan Moehammad Saleh Machmoed dan M. Arifin, yang menyiarkan sandiwara pertamanya, yaitu Bisikan Soekma nan Moerni. Pada tanggal 11 Februari 1943, Radio Jakarta menyiarkan sandiwara Darah Memanggil karya Achdiat dan Rosidi; dan tanggal 30 Maret menyiarkan sandiwara Saidja dan Adinda karya Achdiat . Kemungkinan sandiwara-sandiwara radio ini hanya bersifat hiburan saja tanpa ada maksud propaganda yang tersirat di dalamnya.
Pada 31 Oktober 1943, Pantjaran Sastera memulai siaran sandiwara radio pertamanya dengan menyiarkan sandiwara Tjitji Kaeroe (Ajahkoe Poelang) karya Kikoetji Kwan. Pada siaran pertamanya ini, disebutkan bahwa: ... adalah langkah pertama dari Pantjaran Sastera ke arah perkenalan dan pertalian batin antara Bangsa Nippon dan Indonesia . Selanjutnya siaran sandiwara radio Pantjaran Sastera yang diselenggarakan oleh Keimin Bunka Shidosho bagian kesusastraan di Radio Jakarta dilakukan lebih intensif. Seperti pada 13 November 1943 disiarkan sandiwara Soemping Soerong Pati karya Inoe Kertapati; tanggal 13 Desember 1943 disiarkan sandiwara Diponegoro karya Soetomo Djauhar Arifin; tanggal 11 Februari 1944 disiarkan sandiwara Manoesia Oetama; tanggal 21 Juli 1944 disiarkan sandiwara Tanah dan Air, dan tanggal 29 Agustus 1944 disiarkan sandiwara Djalan Kembali (berdasarkan cerpen Pamankoe yang dimuat dalam majalah Djawa Baroe) .
Namun, pada awal-awal tahun 1945 acara Pantjaran Sastera tidak lagi disebutkan dalam iklan artikel pendek di Asia Raya. Selanjutnya, kegiatan siaran sandiwara radio lebih banyak disuarakan oleh perkumpulan-perkumpulan sandiwara yang juga aktif di panggung, tetapi kegiatannya tetap di bawah pengawasan Keimin Bunka Shidosho. Perkumpulan sandiwara penggemar Maya banyak berperan dalam menyuarakan sandiwara radio ini. Pada 29 Agustus 1944, perkumpulan ini mengadakan siaran pertamanya dengan menyuarakan sandiwara Djalan Kembali. Kemudian pada tanggal 7 Februari 1945 menyuarakan sandiwara Ni Ajoe Sitti atau Mereboet Benteng Kroja ; 9 Maret 1945 menyuarakan sandiwara Tempat jang Kosong; 25 Maret 1945 menyuarakan sandiwara Poetera Negara karya Achdiat; 4 Mei 1945 menyuarakan sandiwara Djibakoe Atjeh karya Idroes; dan tanggal 15 Juni 1945 menyuarakan sandiwara Moetiara Dari Noesa Laoet karya Usmar Ismail .
Selain Maya, ada beberapa perkumpulan sandiwara yang menyuarakan sandiwara radio. Seperti Perkumpulan Tjahaja Timoer yang menyuarakan sandiwara Iboe Perdjoerit karya Matsuzaki Taii pada 9 Maret 1945; serta pada 13 Maret 1945 Perkumpulan Moeda juga menyuarakan sandiwara Memotong Padi . Tema-tema yang berlatar belakang sejarahtentang perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belandamerupakan lakon yang banyak dikedepankan dalam sandiwara radio ini.
Kenyataannya, sandiwara yang disiarkan lewat media radio ternyata kurang efektif untuk memengaruhi masyarakat Jakarta karena pada masa ini yang memiliki alat komunikasi radio terbilang sedikit . Di samping itu, pada kenyataannya sandiwara radio hanya memengaruhi indra pendengaran saja. Hal ini juga terlansir dari sebuah artikel yang berjudul Sendi Sandiwara Radio dalam majalah Keboedajaan Timoer yang menulis bahwa sandiwara radio masih banyak kekurangannya. Dalam artikel itu disebutkan bahwa sayembara yang diselenggarakan untuk mengarang
cerita sandiwara radio oleh Asia Raja-Djawa Shinbun tidak ada yang memenuhi syarat-syarat sandiwara radio yang baik. Selanjutnya disebutkan:
... Kebanjakan orang menganggap mengarang sandiwara-radio itoe moedah sekali dan sama sadja dengan mengarang sandiwara penggoeng. Oemoemnja tidak diinsafkan soenggoeh-soenggoeh, bahwa sandiwara-radio lain sifatnja, malahan lain sendisendinja dari pada sandiwara-panggoeng. Sandiwara panggoeng mempertontonkan, memperlihatkan, sedang sandiwara-radio memperdengarkan [...] tidak djarang dalam seboeah sandiwara-radio ternjata: Waktoe si Anoe membatja, kelihatanlah si Polan sedang berdiri di dekat pintoe...
Banyaknya kekurangan, seperti jumlah pemilik radio, kualitas pengarangnya, masalah cara penyampaian, serta hanya memengaruhi indra pendengaran saja, turut membawa efek minim penyampaian propaganda melalui sandiwara radio ini. Di balik kekurangan tersebut, perlu dicatat, ada beberapa kelebihan dalam kegiatan sandiwara radio ini, yaitu mampu menjaring pendengar dari berbagai lapisan (terutama melalui menara radio), dan mampu menjangkau ke setiap penjuru kota. Di samping itu, masyarakat tidak perlu membayar untuk mendengarkan radio dan tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengunjungi gedung-gedung pertunjukan sandiwara yang ada di Jakarta.
2. Pesan Propaganda dalam Naskah Lakon
Selain pertunjukan dari perkumpulan-perkumpulan sandiwara dan siaran-siaran sandiwara radio yang dimanfaatkan sebagai sarana propaganda, pada masa pendudukan Jepang ini penulisan naskah sandiwara juga diarahkan untuk maksud propaganda. Penulisan naskah sandiwara sendiri mengalami pertumbuhan yang signifikan. Ini merupakan akibat langsung dari pertumbuhan perkumpulan-perkumpulan sandiwara dan adanya organisasi yang menghimpun penulis-penulis naskah, seperti Keimin Bunka Shidosho. Keimin Bunka Shidosho melalui bagian sandiwara mendorong penulis-penulis muda, yang mereka sebut sebagai angkatan baru, untuk menghasilkan karya-karya naskah sandiwara sesuai dengan pesanan pemerintah. Naskah-naskah yang dihasilkan oleh penulispenulis ini sebagian besar berbentuk closet drama (sandiwara yang hanya untuk dibaca), namun tidak sedikit juga yang dipertunjukkan di atas panggung oleh perkumpulanperkumpulan sandiwara atau disiarkan melalui radio.
Naskah sandiwara yang berbentuk closet drama termuat dalam majalah dan buku terbitan pemerintah, seperti Djawa Baroe, Keboedajaan Timoer, Fadjar Masa, dan Panggoeng Giat Gembira. Media cetak ini memuat lakon-lakon sandiwara yang menekankan ideologi politik pemerintah. Di sini penulis akan melihat dan membahas pesan-pesan politik yang penulis temukan di dalam majalah dan buku tersebut.
Pada tahun kedua masa pendudukan, sayembara untuk menyusun lakon sandiwara banyak diselenggarakan. Tujuannya tidak lain adalah menciptakan cerita-cerita sandiwara yang sesuai dengan tema pesanan pemerintah dan melahirkan penulis-penulis baru yang mendukung ideologi politik pemerintah. Surat kabar Asia Raya aktif memberikan informasi tentang penyelenggaraan sayembara-sayembara ini. Seperti terlihat pada 20 September 1943, sebuah sayembara mengarang cerita sandiwara diselenggarakan oleh Asia Raya. Sayembara ini ditujukan sebagai sumbangan kepada penyempurnaan pembangunan masyarakat baru. Tema karangan cerita sandiwara harus mengandung anjuran tentang semangat cinta kepada tanah air, keikhlasan berkorban demi kepentingan umum, dan semangat membela tanah air. Penulis karangan yang paling baik mendapatkan hadiah berupa uang sebesar f.75, pemenang kedua mendapat uang sebesar f.50, pemenang ketiga mendapat uang sebesar f.25, dan hadiah hiburan berupa uang sebesar f.10. Asia Raya mendapatkan bantuan dari Keimin Bunka Shidosho bagian kesusastraan dan bagian sandiwara dalam penyelenggaraan sayembara ini .
Pada 30 November 1944, Asia Raya memuat informasi mengenai sayembara penulisan skenario film, syair, semboyan, dan lakon sandiwara. Dalam informasi itu disebutkan maksud dan tujuan penyelenggaraan, yaitu:
Di dalam peperangan sekarang ini sangat penting dan perlu sekali pengerahan tenaga pekerdja di seloeroeh Djawa. Dengan djalan mengadakan sajembara scenario pilem, lakon sandiwara, sjair dan sembojan [...] oentoek dapat memenoehi pengerahan tenaga pekerdja itoe dengan tjepat dan tepat [...] Sjarat-sjarat dalam sajembara ini, ialah: (1) Pokok Kemerdekaan Indonesia terletak di dalam kemenangan achir jang mesti di tjapai, (2) Oentoek dapat mentjapai kemenangan achir itoe, haroes dikerahkan segenap tenaga pendoedoek Djawa dan tidak boleh ada jang hidoep sia-sia belaka dan djoega tidak boleh ada seorangpoen jang hanja doedoek bertopang dagoe, (3) Oentoek melenjapkan pendirian perseorangan dan pendirian liberalisme jang kolot itoe, haroes dibangoenkan sikap semoea maoe bekerdja dengan mempertegoehkan pekerdjaan soekarela serta menanamkan pendirian baroe, jang menghargai kerdja soekarela, (4) Oentoek mentjapai kemenangan achir itoe, boekan sadja Djawa, melainkan seloeroeh Daerah Selatan haroes berniat memperkoeat tenaga perang. Oleh sebab itoe diadakan pemindahan kaoem pekerdja keloear, soepaja mereka memperkoeat tenaga perang diseloeroeh Daerah Selatan, sebagai pahlawan wakil dari Djawa, (5) Sebagai pahlawan memperkoeat tenaga perang di Daerah Selatan, kaoem pekerdja itoe dihargai dan dihormati oleh segenap pendoedoek dan kepada keloearga kaoem pekerdja itoe haroes diberikan bantoean dengan toeloes dan ichlas, agar mereka djangan mempoenjai kekoeatiran apa-apa oentoek kemoedian hari...
Ditilik dari tulisan tersebut, tampaknya tema-tema yang ditekankan dalam sayembara ini adalah tentang pengerahan tenaga untuk romusha. Pemenang dalam sayembara ini mendapatkan hadiah berupa uang sebesar f.300 untuk pemenang pertama, f.150 untuk pemenang kedua, dan f.50 untuk pemenang ketiga, yang diumumkan pada awal tahun berikutnya. Penyelengaraan sayembara ini diadakan oleh Sendenbu bekerja sama dengan surat kabar Asia Raya, Djawa Roomukyokai, Keimin Bunka Shidosho, dan Djawa Engeki Kyokai (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa). Melihat dari besarnya hadiah yang diberikan, kemungkinan banyak penulis baru berlomba untuk membuat naskah-naskah yang temanya telah digariskan terlebih dahulu.
Pada 5 Januari 1945, dalam rapat di Gedung Kosakutai Jakarta, ditetapkan susunan panitia Badan Pemeriksa Sajembara film, sandiwara, syair, dan semboyan, yang tengah diadakan. Rapat itu memutuskan Drs. Moh. Hatta sebagai ketuanya, R. Soekardjo Wirjopranoto, dan Mr. R. Singgih sebagai wakil ketua, serta Mr. Muh. Jamin sebagai pemimpin umum. Sedangkan pada bagian sandiwara, Armijn Pane terpilih sebagai ketua, Darmawidjaja,dan Brata Koesoema sebagai penulis .
Hasil sayembara karangan lakon sandiwara ini diumumkan oleh surat kabar Asia Raya, pada 28 Mei 1945. F.A. Tamboenan yang mengarang lakon Poesaka Sedjati dari Seorang Ajah dan J. Hoetagaloeng yang mengarang lakon Koeli dan Roomusya keluar sebagai pemenang pertama sayembara ini. Sisanya, A.M. Soekma Rahayoe yang mengarang lakon Banteng Bererong dan S. Yamamoto yang mengarang lakon Kemenangan Tertanggoeng sebagai pemenang kedua, sedangkan R. Srimoertono yang mengarang lakon Penginapan Noesantara serta Nakao Masakozu yang mengarang lakon Seroean Zaman sebagai pemenang ketiga .
Menilik dari judul-judulnya, kemungkinan besar tematema yang berisi propaganda dan mendukung kebijakan pemerintah adalah yang keluar sebagai pemenang. Misalnya lakon Koeli dan Roomusya karya J. Hoetagaloeng yang mengisahkan tentang ketinggian derajat romusha pada masa pendudukan Jepang dibandingkan dengan kuli kontrak pada masa Hindia Belanda. Naskah lakon ini termuat dalam dua edisi majalah Djawa Baroe, yaitu No.13 Th ke III pada 1 Juli 1945 dan No. 14 Th ke III pada 15 Juli 1945. Pesan propagandanya terlihat ketika seorang tokoh bernama Soeprapto, yang berprofesi sebagai dokter romusha di Deli, memberi nasihat kepada para romusha tentang pentingnya pekerjaan mereka untuk pemerintah dan menegaskan bahwa pekerjaan mereka adalah wujud perlawanan pada musuh dari garis belakang. Soeprapto juga membandingkan nasib antara kuli kontrak zaman Hindia Belanda dengan pekerja romusha. Dia menganggap kuli kontrak diperlakukan secara kejam oleh Belanda, sedangkan romusha adalah pekerjaan yang sangat mulia. Padahal faktanya, romusha lebih tidak manusiawi dibandingkan kuli kontrak. Kuli kontrak masih diberi gaji meskipun kecil, sedangkan romusha tidak sama sekali. J. Hoetagaloeng sendiri merupakan salah seorang anggota Badan
Permusyawaratan Cerita Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD). Lakon ini kemudian diangkat menjadi sebuah cerita film dengan judul yang sama dan diperankan oleh anggota Perkumpulan Sandiwara Tjahaja Timoer pimpinan Andjar Asmara atas bantuan POSD .
Hinatu Eitaroo, pemimpin Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD), merupakan tokoh yang aktif menyuarakan dan membimbing penulis untuk menciptakan naskah-naskah propaganda. Dalam buku Fadjar Masa yang diterbitkan oleh Djawa Engeki Kyokai (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) pada 26 April 1945, terdapat tujuh buah naskah hasil karyanya, seperti Fadjar Telah Menjingsing, Samoedra Hindia, Moesim Boenga di Asia, Pradjoerit Nogiku, Djoedjoer Moejoer, Benteng Ngawi, dan Boenga Rampai Djawa Baroe.
Lakon Fadjar Telah Menjingsing dikarang untuk menyambut janji Indonesia Merdeka di kemudian hari pada 7 September 1944 dan untuk memperingati hari berdirinya Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa. Pesan propagandanya terlihat pada seorang tokoh bernama Amat yang masuk Peta setelah berhasil mencarikan jodoh untuk ayahnya yang menduda. Para tetangganya dengan sukarela membantu rumah tangga ayah Amat karena anaknya masuk Peta untuk membela tanah air dan menyongsong fajar kemerdekaan Indonesia di kemudian hari. Cerita ini serentak dimainkan di Jakarta dan Surabaya oleh Bintang Soerabaja, Warnasari, Tjahaja Timoer, Bintang, dan Dewi Mada .
Lakon Samoedra Hindia dikarang atas permintaan Djakarta Hoosoo Kyoku untuk memperingati kemenangan Kamikaze Tokubetu Koogekitai atas Kidoo Butai Amerika di laut timur Taiwan dan Filipina. Pesan propagandanya terlihat pada seorang tokoh bernama Tabrani, bekas bintara kesehatan tentara Belanda, yang mempunyai niat untuk bergabung dengan tentara Jepang berperang di Papua. Pada 24 Oktober 1944, cerita ini disiarkan ke seluruh Jawa melalui siaran radio dan pada Desember 1944 dimainkan oleh perkumpulan sandiwara di bawah naungan POSD pada kota-kota besar di
Jawa .
Lakon Moesim Boenga di Asia dikarang untuk menyambut Kooasai (Peringatan Pecahnya Perang Asia Timur Raya) ketiga pada 8 Desember 1944. Cerita ini berupa cerita musik. Oleh gabungan artis ternama di seluruh Jawa, cerita ini dipertunjukkan di Jakarta selama 14 hari. Lakon ini menceritakan tentang persamaan kebudayaan antara Nippon dengan negeri-negeri di Asia lainnya, seperti Indonesia (Jawa, Sumatera, Bali), Birma, dan Tiongkok. Diwujudkan dengan tokoh-tokoh yang riang gembira, menceritakan asal negeri masing-masing, seperti tari-tariannya, bahasanya, dan panorama alamnya. Di samping itu, mengisahkan juga kepahlawanan Nippon dalam mengusir penjajah Barat dari Asia (Eitaroo, 2605: 89-99).
Lakon Pradjoerit Nogiku pesan progandanya terlihat pada kepahlawanan Hidehiko, seorang prajurit Jepang yang bertugas di Tiongkok. Cerita ini disesuaikan untuk sandiwara radio dengan tujuan supaya masyarakat Jawa memerhatikan dan mempererat hubungan dengan prajurit Peta dan Heiho. Pada 5 Desember, cerita ini disiarkan melalui radio ke seluruh
Jawa .
Lakon Djoedjoer Moejoer adalah karya bersama Hinatu Eitaroo dengan Kamadjaja (salah satu pemimpin Perkumpulan Sandiwara Tjahaja Timoer). Pesan propaganda lakon ini terlihat pada seorang tokoh bernama Pak Didi yang mendapatkan undian lotre karena kejujurannya. Undian lotre ini memecahkan semua persoalan keluarganya. Pada Januari 1945, cerita ini dipertunjukkan oleh perkumpulan sandiwara di seluruh Jawa (Eitaroo, 2605: 119-137).
Lakon Benteng Ngawi ditulis dengan tujuan mempertebal semangat pembelaan tanah air. Pesan propagandanya terlihat ketika R.M. Gondokoesoemo bercerita pada anak-anaknya tentang pengalaman ayahnyaR.M.T. Gondokoesoemo yang pada tahun 1843 menjadi Bupati Madiun. Ketika itu pembuatan Benteng Ngawi oleh Belanda yang mengakibatkan rakyat menderita ditentang oleh R.M.T. Gondokoesoemo. Seluruh anaknya tergerak setelah mendengarkan cerita Gondokoesoemo dan salah seorang putra Gondokoesoemo, Goenawan, memantapkan diri untuk mendaftar sebagai anggota Barisan Jibaku. Salah seorang anaknya, yaitu Nyonya Soewandi, tergerak untuk menyerahkan perhiasanperhiasannya untuk kepentingan perang Jepang. Begitu pula seluruh anaknya, semangat mereka untuk berkorban demi tanah air semakin berkobar. Pada Februari 1945, cerita ini dipertunjukkan di berbagai kota penting di Jawa, termasuk
Jakarta .
Lakon Boenga Rampai Djawa Baroe disusun untuk menyambut Peringatan Pendaratan Bala Tentara Dai Nippon di Jawa yang ketiga. Cerita ini bertujuan mempertebal semangat merdeka atau mati. Berkisah tentang dua orang serdadu Belanda yang lari ke rumah dua orang petani karena kejaran dari tentara Nippon. Dua orang serdadu Belanda tadi tampak seperti orang yang bodoh, sampai-sampai mereka diperolok oleh dua orang petani desa yang ditemuinya. Ketika dua orang petani tersebut tahu bahwa mereka adalah serdadu yang sedang melarikan diri, mereka lalu menangkapnya dengan memanggil orang-orang desa. Tidak lama kemudian datang prajurit Nippon. Orang-orang desa gembira menyambut kedatangan prajurit tersebut yang segera menangkap dua orang serdadu Belanda tadi. Di dalam sandiwara ini juga terdapat pelajaran Bahasa Jepang yang diajarkan oleh seorang prajurit kepada orang desa . Di samping untuk dibaca, sebagian karya Hinatu Eitaroo ini juga dipertunjukkan oleh perkumpulan sandiwara yang menjadi anggota POSD pada hari perayaan khusus dengan tujuan mengobarkan semangat perang di masyarakat.
Selain cerita-cerita buah karya Hinatu Eitaroo, ada cukup banyak penulis-penulis Indonesia yang aktif menulis naskah sandiwara di media massa. Tentu saja isinya bersifat propaganda. Mereka itu antara lain Armijn Pane, Usmar Ismail, Merayu Sukma, Karim Halim, Aoh Kartahadimadja, Ariffien K. Oetojo, dan D. Djojokoesomo.
Karya Merayu Sukma yang nyata sifat propagandanya berjudul Pandoe Partiwi. Merayu Sukma merupakan pemenang dari sayembara penulisan cerita sandiwara, yang diselenggarakan oleh Asia Raya-Djawa Shinbun. Naskah ini diterbitkan dalam majalah Keboedajaan Timoer No.I tahun 1943. Pandoe Partiwi merupakan sandiwara-perlambang yang terdiri dari 5 babak. Bercerita tentang bagaimana tokoh Dainip Djaja membela dan melindungi Pandoe Setiawan, Partiwi, dan Prijajiwati dari ancaman seorang penjahat bernama Nadarlan. Tokoh Dainip Djaja digambarkan sebagai seorang manusia sempurna, baik fisik maupun jiwanya. Ia kerap menolong sesamanya yang lemah. Nadarlan digambarkan sebagai seorang yang bengis dan sangat jahat. Isi dari cerita sandiwara ini sangat jelas muatan propagandanya. Inti dari cerita sandiwara ini adalah tentang kepahlawanan Dai Nippon (yang dilambangkan dengan seorang tokoh bernama Dainip Djaja) dalam menolong Bangsa Indonesia (yang dilambangkan dengan tokoh Pandoe Setiawan, Partiwi, dan Prijajiwati) dari kekejaman Bangsa Belanda (yang dilambangkan dengan seorang tokoh bernama Nadarlan). Tema cerita ini berlatar belakang peristiwa penyerangan Jepang ke Pearl Harbour tanggal 8 Desember 1941 dan saat-saat kejatuhan Hindia Belanda pada 1942. Adegan ketika Dainip Djaja menyadarkan Pandoe Setiawan yang berusaha bunuh diri dikaitkan dengan peristiwa penyerangan atas Pearl Harbour 8 Desember 1941. Kejatuhan Hindia Belanda digambarkan ketika Nadarlan berhasil ditaklukkan Dainip Djaja pada 8 Maret 1942 .
Di dalam majalah Keboedajaan Timoer masih terdapat beberapa lakon sandiwara yang bermuatan politis. Seperti karya dari Armijn Pane yang berjudul Djinak-djinak Merpati. Djinak-djinak Merpati diterbitkan dalam majalah Keboedajaan Timoer No.III tahun 1945. Lakon ini bercerita tentang permainan cinta Moerniati yang suka mencampakkan lelaki. Perbuatannya terbalas ketika ia benar-benar jatuh cinta pada Gajadi, tetapi cintanya itu tak terbalas. Jakob Sumardjo menyebutkan bahwa maksud propaganda itu telah tenggelam dalam alur cerita yang seolah-olah tidak berbicara tentang kepentingan Jepang. Tetapi jika kita menilik lebih jauh isi cerita ini, unsur propagandanya ada dalam dialog Darmobroto, kakak sepupu Moerniati yang mengatakan bahwa itoelah kesenangan berkorban, menghilangkan diri oentoek kepentingan oemoem. Kesenangan jang berdasar dalam diri sendiri. Itoelah djalan berbakti, berbakti oentoek tanah air dan bangsa, djalan mentjapai kemerdekaan .
Lakon Moetiara dari Noesa Laoet karya Usmar Ismail adalah naskah sandiwara yang perlu dicermati selanjutnya. Naskah ini bertema sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan Belanda. Pada masa Jepang ini, tema-tema sejarah perjuangan melawan Belanda adalah contoh tema yang banyak dikedepankan. Jepang ingin memberikan gambaran tentang kekejaman bangsa Barat, sehingga diharapkan nantinya rakyat semakin membenci bangsa Barat. Moetiara dari Noesa Laoet terbit dalam majalah Keboedajaan Timoer No.II tahun 1944. Lakon ini berkisah tentang perlawanan rakyat terhadap Belanda di sebuah pulau kecil, Noesa Laoet, di Maluku. Ata, seorang putri raja, memiliki kekerasan sikap dan jiwa patriotisme yang tinggi. Ayahnya, Raja Triago, gugur di ujung senjata Belanda setelah perlawanannya gagal. Ata hendak menuntut balas kepada Belanda. Tetapi, ia tidak mempunyai kekuatan setelah ayahnya meninggal. Akhirnya Boeang, kekasih Ata dan seorang prajurit setia ayahnya, wafat oleh rakyatnya sendiri. Rakyat Noesa Laoet berhasil dihasut oleh Belanda untuk melawan Ata dan Boeang .
Di dalam majalah Keboedajaan Timoer No. I tahun 1943 terdapat dua naskah lakon yang ditulis untuk kepentingan sandiwara radio, yaitu Bende Mataram karya Arifin K. Oetojo dan Sakura dan Njioer karya M.D. Alif. Isi lakon Bende Mataram berkisar tentang penyerangan Adipati Ario Toenggal terhadap benteng kompeni pada masa peperangan Diponegoro. Lakon ini menekankan tentang betapa kejamnya penjajahan Belanda dan kepahlawanan/heroisme dalam melawan Belanda. Lakon Sakura dan Njioer hampir mirip dengan gaya lakon Pandoe Partiwi. Lakon ini juga merupakan sandiwara-perlambang. Isi lakon merupakan perbincangan antara dua orang gadis, yaitu Sakura (gadis Jepang) dan Njioer (gadis Indonesia). Inti utamanya adalah penekanan ideologi mendasar pemerintah pendudukan Jepang, yaitu persaudaraan antara Indonesia yang dilambangkan oleh Njioerdan Jepangyang dilambangkan oleh Sakuradalam hal persatuan melawan musuh, kemakmuran bersama di lingkungan Asia, dan pencapaian Asia Baru di bawah Jepang .
Selain lakon-lakon yang terdapat dalam buku Fadjar Masa dan majalah Keboedajaan Timoer, buku Panggoeng Giat Gembira yang terbit tiga jilid pada awal tahun 1945 juga banyak menyajikan lakon sandiwara propaganda hasil karya penulis Indonesia. Dapat disebutkan lakon-lakon sandiwara tersebut, yaitu Kami, Perempoean! karya Asia Poetera, Koesoema Noesa karya Kotot Soekardi, Awas, Mata-mata Moesoeh karya D. Djojokoesoemo, Lolobis karya A. Subyanto, dan Kembali dari Medan Perang karya Ananta Gs.
Pesan propaganda lakon Kami, Perempoean! karya Asia Poetera terlihat pada tokoh Aminah dan Sri yang merasa bangga dan ikhlas melepas suami dan pacarnya yang mendaftarkan diri pada Peta dan Barisan Soeka Rela. Pada awalnya mereka kecewa terhadap Mahmoed, suami Aminah, dan Soepono, pacar Sri, karena menurut penglihatan mereka, kedua lelaki ini tidak berbuat apa-apa dalam masa perang. Di dalam buku Panggoeng Giat Gembira disebutkan bahwa lakon sandiwara ini soedah dipertoendjoekkan di mana-mana oleh berbagai-bagai rombongan sandiwara-penggemar dengan hasil jang memoeaskan .
Lakon Koesoema Noesa karya Kotot Soekardi berkisah tentang kehidupan keluarga yang sedikit guncang. R. Handiman, bekas orang pergerakan menderita tekanan batin karena mempunyai seorang anak laki-laki, Hartomo, yang bersikap masa bodoh dalam situasi perang. Sedangkan ia juga mempunyai seorang pembantu, Amat, yang cintanya terhadap tanah air berkobar-kobar. Hardjanti, anak R. Handiman dan adik Hartomo, juga mempunyai seorang kekasih, Oetojo, yang bersikap tidak acuh terhadap keadaan perang. Kegembiraan datang ketika R. Handiman dan Hardjanti mengetahui kalau Hartomo telah masuk ke dalam Heiho, Amat menjadi Kaigun Heiho, dan Oetojo juga menjadi Heiho. Mereka menganggap pemuda-pemuda ini sebagai pahlawan pembela nusa .
Lakon Awas Mata-Mata Moesoeh karya D. Djojokoesoemo ingin menjelaskan tentang salah satu penerangan/kebijakan pemerintah, yaitu waspada terhadap mata-mata musuh. Penerangan tentang hal itu dilambangkan dengan perkelahian antara dua orang desa, Mpok Moot dan Mpok Botak, dalam memperebutkan daun pisang. Selain itu, pesan ini juga coba disampaikan melalui perseteruan antara seorang penduduk kaya tetapi egois, Pak Saman, dengan warga desa. Dari dialog yang dihadirkan, berkali-kali tersebut Awas mata-mata moesoeh dan menyebutkan ciri-ciri dari matamata musuh, seperti mementingkan diri sendiri, merusak dan menjerumuskan bangsa sendiri, suka mengintai, suka mencelakakan orang banyak, selalu membuat keributan, dan suka mengadu. Dalam lakon ini juga diterangkan bagaimana menghadapi mata-mata musuh yang dilambangkan dengan persatuan antarwarga desa untuk menghadapi ketamakan Pak Saman. Pesan propagandanya semakin ditegaskan lagi melalui nasihat Pak Lurah kepada warganya yang menyebutkan, ... Soepaja tidak ditoedoeh mendjadi mata-mata moesoeh atau perkakas dari mata-mata moesoeh, kita haroes memenoehi kewadjiban perang kita....
Inti lakon Lolobis karya A. Subyanto adalah kewajiban masing-masing masyarakat di masa perang. Lakon ini diawali dengan keluhan beberapa tokoh cerita, yaitu Djaja, Mak Idjah, Oedjang, dan Parta akan nasibnya yang selalu susah. Mang Bongkok, tetua kampung yang selalu diminta nasihat, menjelaskan kalau penyebab kesusahan itu adalah adanya perang. Lebih lanjut Mang Bongkok mengatakan bahwa kalau perang usai dan Jepang menang, nasib menjadi lebih baik. Untuk membantu kemenangan perang bagi Jepang, kemudian Djaja dan Oedjang menjadi romusha. Sementara Parta menjadi petani yang giat bekerja . Dalam lakon Lolobis ini terdapat juga sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh para romusha. Judul lakon ini mengambil dari judul lagu tersebut. Lagu tersebut tertulis sebagai berikut:
Mari, mari, kita pergi,
Bersama kerdja satoe hati,
Rela soeka bantoe negri
Djadi pekerdja jang berbakti.
Reff
Lolobis, koentoel baris,
Amerika, disetrika, Inggeris dilinggis.
Ajo, ajo, kita kerdja,
Semoea sadja ikoet serta,
Djangan ada jang ta soeka
Kerdja bersama bikin djasa.
Reff
Akoe, kamoe, kita sama,
Semoea sadja maoe kerdja,
Ladang, paberik, ja, segala.
Perloe tenaga manoesia.
Reff
Menang, menang, perang, menang,
Pekerdja kerdja dengan senang,
Bantoe perang hingga menang,
Menang perang makmoer kan datang.
Satu lagi lakon sandiwara propaganda yang terdapat di dalam buku Panggoeng Giat Gembira, yaitu Kembali dari Medan Perang karya Ananta Gs. Lakon ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang ketiga putranya ikut dalam peperangan, sebagai prajurit Heiho dan Peta. Hamid yang kembali dari medan pertempuran di Birma bercerita tentang nasib kakaknya, Samad, yang tewas di tangan tentara Sekutu. Ayahnya, kedua mertua, dan istri Samad merasa bangga akan kematian Samad. Mereka menganggap Samad mati sebagai prajurit yang gagah berani, berkorban untuk kemakmuran Asia Timur Raya, dan kemenangan akhir. Pada akhir cerita adik Hamid, Sarip, mendaftarkan diri menjadi anggota tentara
Peta .
Selain lakon-lakon tersebut, sandiwara humor (pada masa ini lazim disebut dengan sandiwara lelucon) juga didorong perkembangannya. Sandiwara lelucon merupakan lakon pendek, biasanya terdiri dari 1 babak, pemain utama adalah seorang penduduk yang bodoh tetapi berhati baik dengan seorang bijaksana yang memberi penerangan mengenai kebijakan dan peraturan baru yang dikeluarkan pemerintah .
Lakon sandiwara lelucon banyak terdapat dalam buku Panggoeng Giat Gembira. Dari buku yang terbit sebanyak tiga jilid ini, terdapat enam naskah sandiwara lelucon, yaitu Djarak karya D. Djojokoesoemo, Gendoet dan Kampret karya A. Kartahadimadja, Bekerdja dan Ajo...Djadi Roomusha! karya Ananta Gaharasjah, Huzinkai karya Anak Masjarakat, serta Bebek Bertoeah oleh Aki Panjoempit. Selain itu, dalam majalah Djawa Baroe ada dua naskah sandiwara lelucon lagi, yaitu Gerakan Hidoep Baroe dan Kumityoo Istimewa karya Ananta Gaharasjah.
Pesan propaganda dalam lakon Djarak terlihat pada nasihat seorang tokoh bernama Tembak, kepada Pak Bopeng tentang manfaat biji buah jarak bagi pemerintah. Pemerintah memerlukan biji jarak sebagai minyak pesawat tempurnya, untuk itu penduduk wajib menyerahkan atau menjual murah buah jarak pada pemerintah. Tembak juga menjelaskan tentang pentingnya petani dan hasil bumi dalam masa peperangan .
Dalam lakon Gendoet dan Kampret pesan propagandanya tergambar pada nasehat yang diberikan oleh Kumicho seorang kepala kampung dalam Tonarigumidan Kucho seorang kepala desakepada Pak Gendoet. Diceritakan bahwa Pak Gendoet adalah orang yang selalu berfoya-foya, kerjanya hanya main dadu, dan pergi ke ronggeng, sehingga kurang memerhatikan keluarganya. Anaknya, Gendoet, membolos sekolah dan ketahuan oleh Kumicho sedang main kelereng bersama Kampret. Sedangkan istrinya kehabisan uang belanja karena duitnya habis untuk main dadu dan ronggeng. Pak Gendoet dinasihati agar memerhatikan pendidikan anaknya. Ia diberi contoh supaya meniru Bang Saripin yang anaknya jadi guru dan Bang Moein yang anaknya jadi Heiho .
Lakon Bekerdja pesan propagandanya terlihat ketika Bang Djangkoeng memberi nasihat kepada Pak Gendoet yang pemalas tentang arti penting bekerja di dalam zaman peperangan. Pak Gendoet, yang kerjanya hanya tidur saja, baru sadar akan pentingnya bekerja ketika dinasihati oleh Kumicho, seorang yang sangat disegani di desa dan ketua Tonarigumi, yang dibawa oleh Bang Djangkoeng ke rumahnya . Sebuah komentar yang tertulis dalam buku Panggoeng Giat Gembira menyebutkan kalau lakon sandiwara lelucon Bekerdja merupakan seboeah lakon jang telah dipertoendjoekkan oleh Rombongan Sandiwara KelilingPoesat Keboedajaan, sampai kedesa-desa dengan samboetan baik sekali. Sedangkan lakon sandiwara lelucon Djarak dan Gendoet dan Kampret termasoek leloetjon jang senantiasa dapat samboetan meriah dari persediaan Rombongan
Sandiwara Keliling-Poesat Keboedajaan, Djakarta.
Lakon Ajoo...Djadi Roomusha! karya Ananta Gs pesan propagandanya terlihat ketika tokoh Pak Gendoet, Toean Moeda, dan Pak Krempeng gembira setelah mendaftarkan diri sebagai romusha sukarela. Pada awalnya terkesan mereka sedikit terpaksa untuk mendaftarkan diri menjadi romusha. Lakon ini memberi penerangan tentang kegembiraan dalam bekerja secara sukarela (menjadi romusha) untuk memperkuat pertahanan di garis belakang . Dalam lakon Ajoo...Djadi Roomusha! ini terdapat sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Pak Gendoet, salah satu tokoh dalam lakon tersebut. Lirik lagu itu tertulis sebagai berikut:
Engkau tanah air jang koetjinta, kau limpah koernia padakoe, sekarang kebaktian kau minta, gaja koeserahkan padamoe. koedjadi petani, koedjadi roomusha, koekerdjakan semoea senang.
koedjadi petani, koedjadi roomusha, koekerdjakan semoea senang.
Toeloes, ichlas, soeka, rela.........
Lakon Huzinkai karya Anak Masjarakat menyampaikan pesan tentang pengenalan pekerjaan dalam himpunan Huzinkai sebagai badan Hokokai yang berjuang di garis belakang. Lakon ini berkisah mengenai Soeharti yang masuk ke dalam Perkumpulan Huzinkai. Huzinkai adalah perkumpulan khusus untuk kaum wanita yang bertujuan membantu perang lewat garis belakang dengan cara menyerahkan perhiasan kepada pemerintah untuk keperluan perang, memberi semangat kepada para ibu dari Heiho dan Peta, memberi pendidikan untuk memberantas buta huruf, dan lain-lain .
Lakon Bebek Bertoeah karya Aki Panjoempit menyampaikan pesan tentang nilai kebaktian rakyat dalam membantu urusan umum (perang). Berkisah mengenai seorang yang kaya raya tetapi kikir dan tidak acuh terhadap keadaan perang. Cerita diawali oleh kegelisahan Pak Djoeriah, penduduk kaya tetapi kikir, karena bebeknya tidak mau bertelur. Karena tidak menghasilkan telur, kemudian bebek itu diberikan kepada Saenan, seorang tetua desa dan pembantu Kutyo (kepala desa). Setelah bebek itu diberikan kepada Saenan, bebek tersebut tidak berhenti bertelur. Kutyo (kepala desa) dan Saenan kemudian datang ke rumah Pak Djoeriah untuk memberi tahu hal tersebut. Pak Djoeriah bingung karena ketika di rumahnya, bebek itu tidak mau bertelur. Dialog Saenan dan Kutyo seakan mempertegas pesan propaganda.
Saenan: Doeloe dia haroes berteloer oentoek kepentingan Pak Djoeriah sendiri, sekarang ia berbakti kepada negeri.
Kutyo: Sesoeai dengan semangat perang poela. Memperlipat hasil boekan kepalang. Kalau bebek mengerti, moestahil Pak Djoeriah tidak!
Karena sindiran tersebut, Pak Djoeriah sadar (atau terpaksa sadar) akan pentingnya berkorban menyumbangkan sebagian hasil bumi bagi pemerintah. Akhirnya, Pak Djoeriah menyerahkan padinya untuk pemerintah. Ternyata bebek yang tidak henti-hentinya bertelur tersebut bukan bebek asli, tetapi orang jang berdjalan memboengkoek-boengkoek. Teloernja dari barang apa sadja, ditaroeh dalam kain jang digendong di dadanja .
Dua lakon sandiwara lelucon lainnya, yaitu Gerakan Hidoep Baroe dan Kumityoo Istimewa karya Ananta Gaharasjah, terdapat dalam majalah Djawa Baroe. Pesan propaganda dalam lakon Gerakan Hidoep Baroe terlihat ketika Kumityoo, pemimpin Tonarigumi, datang untuk memberi penerangan kepada Krempeng dan Djangkoeng tentang pentingnya menyesuaikan hidup dengan keadaan perang. Harus berani menderita dan rela berkorban demi tanah air .
Sedangkan pesan propaganda dalam lakon Kumityoo Istimewa terlihat ketika Bang Istimewa, pemimpin Tonarigumi, menyadarkan beberapa anggota Tonarigumi yang senantiasa tidak patuh kepada Gerakan Hidoep Baroe yang dianjurkan pemerintah. Ada beberapa tokoh yang pada akhirnya insaf akan tugas mereka di masa perang dan kewajiban mereka kepada pemerintah. Bang Djahil, yang tadinya berlaku sombong dan tidak mau ikut kewajiban Tonarigumi, seperti jaga malam, menjadi romusha, dan ikut rapat Tonarigumi insaf setelah dinasihati oleh Bang Istimewa tentang hak dan kewajiban di dalam zaman peperangan. Begitu pula dengan Bang Rewel yang tadinya tidak mau ikut jaga malam, Bang Biting yang tadinya tidak mau senam taiso, dan Bang Keong yang sadar pada kerugian mencatut Wijaya dan Sarinah menjadi contoh bagi mereka yang melanggar peraturan di dalam Tonarigumi dan Gerakan Hidoep Baroe . Dari lakon-lakon humor yang sudah dipaparkan, terkesan nama tokoh-tokoh orang desanya asal-asalan. Lihat saja, ada nama Krempeng, Gendoet, Bang Keong, dan lain-lain.
Seluruh naskah yang dimuat dalam media massa terbitan pemerintah adalah naskah-naskah yang mendukung segala kebijakan pemerintah dan tidak membahayakan kedudukan pemerintah. Naskah-naskah yang mengancam kedudukan pemerintah dan berisi tentang pikiran ala Barat tidak ada yang dimuat, bahkan dilarang sama sekali. Satu contoh penulis yang naskahnya tidak dimuat dan hanya menjadi dokumentasi pribadi ialah Amal Hamzah. Naskahnya baru terbit dalam majalah Pembangoenan pada 25 April 1946, setelah masa kemerdekaan. Naskah sandiwaranya berjudul Tuan Amin. Amal Hamzah menyindir Armijn Pane yang dilambangkannya sebagai tokoh bernama Tuan Amin. Lakon karya Amal ini berkisah tentang kehidupan di dalam sebuah kantor. Amin, pemimpin sebuah kantor, sangat mengutamakan disiplin terhadap para pegawainya. Disiplin yang keras dan tidak adanya jalinan yang harmonis dengan para pegawai dan pemimpin menyebabkan suasana kerja di kantor tersebut terganggu. Adanya perbedaan kedudukan berdasarkan birokrasi yang diterapkan Amin adalah penyebab utama rusaknya hubungan kerja. Pegawai-pegawai dalam kantor itu senantiasa menyindir sikap Amin yang dilambangkan sebagai seorang penjilat. Dalam terbitan majalah tersebut, Amal Hamzah menulis Keimin Bunka Shidosho dengan sebutan Roemah Gila .
Sebagian besar naskah-naskah lakon sandiwara ini dibuat di Jakarta. Ini dapat dimengerti karena segala instrumen propaganda terdapat di kota yang menjadi pusat pemerintahan Jepang di Jawa, yaitu Jakarta. Jika disimpulkan, naskah-naskah sandiwara yang ditulis pada masa ini memiliki kategori isi: pertama, memberikan gambaran yang jelek terhadap penjajahan Belanda dan bangsa Barat. Tujuannya untuk menanamkan rasa anti terhadap Belanda, Amerika, dan Inggris yang menjadi musuh utama Jepang. Kedua, menganjurkan untuk mengikhlaskan anggota keluarganya memasuki barisan romusha, Peta, Heiho, dan Jibaku. Ketiga, menganjurkan untuk tidak hidup bersenang-senang dan tidak mementingkan diri sendiri di tengah peperangan. Keempat, rela berkorban dengan menyumbangkan tenaga dan hasil bumi kepada pemerintah. Kelima, memuji kehebatan tentara Jepang yang berjuang mengusir penjajah Barat dari Asia. Isi dari lakon-lakon tersebut selalu terkesan sangat sederhana. Ciri khas lakon-lakon ini di antaranya selalu ada dua pihak yang bertentangan, pemberi nasihat dan yang diberi nasihat, ada seorang yang bersikap masa bodoh tetapi pada akhir cerita sadar akan kekeliruannya. Kemudian selalu ada tokoh yang secara tiba-tiba pendiriannya berubah drastisyang awalnya bersikap masa bodoh, kemudian berubah menjadi sangat dipujitanpa dijelaskan panjang lebar mengapa tokoh tersebut berubah.
D. Aktivitas Sandiwara di Akhir Pendudukan Menjelang akhir 1944 dibentuk himpunan sandiwara buatan pemerintah. Organisasi ini bernama Djawa Engeki Kyokai atau Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD). POSD dibentuk oleh Sendenbu pada 1 September 1944 . Peresmiannya berlangsung di Hotel Miyako Jakarta . POSD dipimpin oleh Hinatu Eitaroo .
Sebelum pendirian organisasi ini, seluruh kegiatan seni sandiwara berada dalam kontrol Keimin Bunka Shidosho dan pengawasan Seksi Propaganda Sendenbu. Organisasi ini berdiri di bawah Seksi Propaganda Sendenbu. Berbeda dengan organisasi-organisasi propaganda di bawah Seksi Propaganda Sendenbu lainnya, seperti Djawa Hoso Kanrikyoku, Djawa Shinbunkai, Domei, Nippon Eigasha atau Nichiei, dan Eiga
Haikyusha atau Eihai, organisasi ini dibentuk paling akhir. Kemungkinan, Jepang menganggap bahwa kegiatan seni sandiwara sebelumnya cukup ditangani oleh Seksi Propaganda Sendenbu dan Keimin Bunka Shidosho saja, atau pemerintah mengalami ketakutan tersendiri dengan berdirinya banyak perkumpulan sandiwara di Jakarta khususnya dan Jawa umumnya. Untuk itu, diperlukan suatu organisasi yang dapat menghimpun serta mengawasi secara lebih ketat perkumpulan-perkumpulan sandiwara yang telah banyak tumbuh itu.
POSD bertugas sebagai perhimpunan berbagai perkumpulan sandiwara, menyelenggarakan berbagai pertunjukan, dan menyusun cerita sandiwara melalui Badan Permusyawaratan Cerita POSD untuk kemudian dibagikan serta dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang termasuk ke dalam anggota organisasi ini. Menurut Kamajaya , sebelum POSD dibentuk Sendenbu telah lebih dulu menyiapkan ceritacerita sandiwara yang harus dimainkan oleh perkumpulan sandiwara dan segera setelah POSD berdiri cerita-cerita itu sudah dapat dibagi-bagikan kepada semua perkumpulan sandiwara.
Pada perkembangan selanjutnya, POSD menempatkan perkumpulan-perkumpulan yang masuk di dalamnya untuk mengadakan berbagai pertunjukan di kota-kota besar Pulau Jawa, seperti Bandung, Surabaya, Malang, Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. Biasanya pertunjukan-pertunjukan ini dilakukan serentak dan dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang telah bergabung di dalam POSD, seperti Bintang Soerabaja, Tjahaja Timoer, Bintang, Warnasari, Dewi Mada, Pantjawarna, Noesantara, dan Sinar Sari. Dalam setiap pertunjukan yang akan diselenggarakan itu, PSOD selalu mendapat bantuan dari Sendenbu dan Djawa Hokokai . POSD banyak memegang peranan dalam pertunjukan lakon-lakon propaganda. Perkumpulan yang telah masuk ke dalamnya wajib membawakan lakon-lakon propaganda yang dikarang oleh Badan Permusyawaratan Cerita POSD dan Keimin Bunka Shidosho.
Untuk menyambut janji kemerdekaan Indonesia di kemudian hari dan menyambut lahirnya POSD, mulai 20 September 1944 sampai 22 September 1944, POSD mengadakan pertunjukan di Jakarta dan Surabaya. Lakon yang dipertunjukkan adalah Fadjar Telah Menjingsing karya Hinatu Eitaroo. Ali Yugo, pemimpin Perkumpulan Sandiwara Noesantara, ditugaskan menjadi ketua panitia dalam pertunjukan di Jakarta, sedangkan di Surabaya diserahkan kepada Andjar Asmara. Cukup banyak perkumpulan sandiwara yang terlibat dalam acara ini, seperti Bintang Soerabaja, Noesantara, Persafi, Warnasari, dan Tjahaja Timoer. Tempat penyelenggaraan pertunjukan di Jakarta diadakan di Djakarta Gekidjo Mangga Besar. Selain dihadiri oleh pejabat tinggi Jepang, seperti Ketua Sendenbu, pertunjukan ini juga dihadiri oleh Ir.Soekarno, yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia pertama .
Pada 3 Oktober 1944, POSD mengimbau supaya perkumpulan sandiwara di Jawa dan Madura mengadakan pertunjukan secara cuma-cuma dengan mementaskan lakon-lakon yang dapat mengobarkan semangat perjuangan untuk menghargai jasa-jasa prajurit-prajurit Heiho serta keluarganya . Implementasinya adalah penyelenggaraan sebuah pertunjukan bertema Moesim Boenga di Asia yang diadakan oleh POSD pada 5 Desember 1944 sampai 11 Desember 1944 dengan mengambil tempat di Djakarta Gekidjo untuk memperingati Perayaan Pecahnya Perang Asia Timur Raya/Pembangunan Asia (Kooa-sai) ketiga. Pertunjukan ini juga dimaksudkan untuk membantu keluarga-keluarga Heiho. Moesim Boenga di Asia merupakan pertunjukan yang bersifat tari dan nyanyi. Selain itu dipentaskan juga lakon Samoedra Hindia karya Hinatu Eitaroo.
Sebuah komentar untuk lakon ini tertulis dalam surat kabar Asia Raya sebagai berikut:
... lakon ini pada hakikatnja mempoenjai pokokpokok jang baik, tapi karena teliwat banjak hendak memadjoekan propaganda-serba lengkap, laloe mendjadi bersifat pandjang ketiak oelar, sehingga gampang menimboelkan rasa bosan pada penonton .
Terlihat bahwa perhatian penonton pada pertunjukan lakon ini menjadi membosankan karena terlalu dipaksakannya unsur-unsur propaganda yang ada dalam lakon tersebut. Akhirnya mutu seninya menjadi hilang.
Pada 15 Januari 1945, di Hotel Miyako Jakarta diadakan pertemuan antara pimpinan dan pengurus POSD dengan para pemimpin perkumpulan-perkumpulan sandiwara yang terhimpun dalam perserikatan ini. Pertemuan ini dimaksudkan untuk meluruskan sifat serta usaha sandiwara dengan citacita peperangan suci yang sedang dijalankan Jepang, sehingga sandiwara menjadi alat penting untuk memperkokoh benteng perjuangan ke arah tercapainya kemenangan akhir dan Indonesia merdeka. Pejabat pemerintah militer Jepang yang hadir antara lain Shimitzu (Pemimpin Seksi Propaganda Sendenbu) dan T. Kono. Pemimpin perkumpulan sandiwara yang hadir di antaranya Andjar Asmara dan Kamadjaja (Tjahaja Timoer), Haroen (Dendang), serta Ali Yugo (Noesantara). Dalam pidato-pidatonya, pejabat-pejabat Jepang yang hadir pada pertemuan tersebut secara tegas menyatakan supaya sandiwara tidak hanya dijadikan sarana hiburan, tetapi mesti dijadikan alat untuk mengobarkan semangat perang di kalangan rakyat. Pimpinan POSD menganjurkan supaya perkumpulan-perkumpulan sandiwara setiap bulan menghadirkan lakon-lakon yang membangun semangat berjuang, tegasnya lakon yang diangkat dari sejarah Indonesia yang terjadi pada bulan tersebut. Realisasinya, pada bulan Februari tahun 1945, perkumpulan-perkumpulan sandiwara dianjurkan untuk mengangkat cerita-cerita dari zaman Perang Diponegoro dan jatuhnya Badung (Puputan) .
Pertemuan ini merupakan suatu konsolidasi antara pejabat tinggi Jepang, POSD, dan perkumpulan sandiwara untuk mengadakan rencana-rencana pertunjukan selanjutnya yang bersifat propaganda. Terlihat jelas propaganda pada media sandiwara semakin dimasifkan menjelang kekalahan Jepang. Penulis jadi menduga-duga kalau pejabat-pejabat militer ini sudah mengetahui bahwa kejatuhan mereka tinggal sebentar lagi.
Pada 27 Januari 1945, muncul sebuah iklan di surat kabar Asia Raya tentang pertunjukan besar yang akan diadakan oleh POSD pada Februari 1945. Ini adalah realisasi dari pertemuan di Hotel Miyako. Dalam iklan tersebut termuat jadwal pertunjukan secara terencana, seperti tanggal penyelenggaraan pertunjukan dan lakon-lakon apa saja yang akan dimainkan. Jadwal pertunjukan yang akan diselenggarakan oleh POSD pada awal bulan Februari diawali dengan pertunjukan cerita-cerita yang paling berkualitas dari setiap perkumpulan (1-7 Februari 1945), lalu lakon Petjah Sebagai Ratna (8-14 Februari 1945), kemudian lakon Bende Mataram (15-21 Februari 1945), dan terakhir lakon Benteng Ngawi (22-28 Februari 1945). Di Jakarta, pertunjukan diadakan di Djakarta Gekidjo Mangga Besar oleh Bintang Soerabaja.
Menarik untuk dilihat bagaimana POSD memberikan anjuran kepada seluruh perkumpulan sandiwara untuk bergabung di dalamnya di setiap iklan pertunjukan. Anjuran tersebut tertulis sebagai berikut: masoeklah selekasnja mendjadi anggota keloearga POSD, agar tjitatjita pembaharoean sandiwara dapat didjalankan dengan sebaik-baiknja. Anjuran seperti ini selalu termuat dalam iklan pertunjukan yang diselenggarakan oleh POSD. Dampaknya sangat besar, terbukti dengan semakin banyaknya perkumpulan sandiwara yang masuk ke dalam POSD. Contohnya Perkumpulan Sandiwara Sinar Sari. Pada penyelenggaraan pertunjukan sandiwara pertama yang diadakan POSD bulan Februari 1945, perkumpulan ini tidak terlihat sebagai salah satu perkumpulan yang mengisi acara pertunjukan, tetapi pada penyelenggaraan pertunjukan bulan Maret 1945, perkumpulan ini turut ambil bagian untuk mengisi pertunjukan di Malang. Setelah sukses menyelenggarakan pertunjukan besar pada bulan Februari ini, selanjutnya POSD intensif mengadakan pertunjukan-pertunjukan dengan lakon-lakon yang berbeda, dan masih berkutat pada tematema propaganda pemerintah.
Pada 1 Maret 1945 sampai 15 Maret 1945, POSD kembali menyelenggarakan pertunjukan besar di Jakarta. Berbeda dengan pertunjukan yang diadakan oleh organisasi ini pada kota besar lain di Pulau Jawa, Jakarta menjadi tempat penyelenggaraan khusus yang diberi nama Boenga Rampai Djawa Baroe. Pada kota-kota besar lain di Jawa, pertunjukanpertunjukan di bawah POSD ini hanya berlangsung dari 1 Maret 1945 sampai 9 Maret 1945 saja. Pertunjukan besar ini diadakan untuk menyambut tiga tahun pembentukan Djawa Baroe serta memperkuat semangat perjuangan rakyat dalam menumpas musuh, dan menegakkan negara Indonesia merdeka. Lakon sandiwara yang dipertunjukkan antara lain Hantoe Perempoean karya Armijn Pane dan Iboe Pradjoerit karya Matsuzaki Taii (seorang pengarang skenario terkenal di Tokyo). Djakarta Gekidjo Mangga Besar kembali menjadi tempat penyelenggaraan pertunjukan ini di Jakarta. Perkumpulan sandiwara yang ditugaskan untuk bermain, yaitu Bintang Soerabaja dan Tjahaja Timoer. Pada penyelenggaraan Boenga Rampai Djawa Baroe, POSD dibantu oleh Sendenbu, Djawa Hokokai, Hoso Kanrikyoku, Nippon Eigasha, dan Djawa Eiga Haikyusha. Dalam pertunjukan Boenga Rampai Djawa Baroe, selain dua perkumpulan sandiwara tadi, Barisan Tari Puteri Sirayuri, Barisan Penyanyi Sanchioni, dan bintangbintang Persafi juga turut ambil bagian. Selain untuk umum, pertunjukan ini juga diadakan untuk menghibur tentara Jepang, yang diselenggarakan khusus pada siang hari pada 4 dan 8 Maret 1945. Pimpinan pelaksana pertunjukan seluruhnya adalah ahli-ahli Jepang, seperti Hinatu Eitaroo (susunan), Morio Tetsuroo (pimpinan), Ono Saseo (dekor), dan Aoki Sei (musik) . Susunan pemimpin pertunjukan yang dipegang oleh artis dan ahli seni Jepang menunjukkan betapa besar kendali pemerintah dalam pertunjukan ini.
Setelah acara-acara pertunjukan tersebut, pada 18 Maret 1945, di Hotel Miyako Jakarta diadakan perjamuan dan pemberian surat pujian (penghargaan) oleh Ketua Sendenbu kepada mereka yang berjasa dalam dunia sandiwara. Mereka yang mendapat surat pujian dari pemimpin Sendenbu di antaranya adalah Kotot Soekardi yang mengarang lakon Petjah Sebagai Ratna, Njoo Cheong Seng yang mengarang lakon Boenga Bangsa, pemain-pemain dari Bintang Soerabaja (Fifi Young, Sally Young, S. Muhammad, R. Mochtar, Moesa,
Abd. Hadi, dan R. Soekarno), Bintang (Tan Tjeng Bok), Persafi
(Epen dan Endjok), Tjahaja Timoer (Iskandar Soecarno), Warnasari (Misna), Dewi Mada (Dewi Mada), dan Noesantara (R. Soekron) . Pemberian surat pujian ini berkaitan dengan kesuksesan dan konsistensi mereka dalam menyampaikan pesan propaganda pemerintah melalui media sandiwara.
Setelah pertunjukan besar itu, POSD kemudian kembali mengadakan pertunjukan besar pada kota-kota utama di Pulau Jawa untuk menyambut Tentyoo Setu dari 28 April 1945 sampai 4 Mei 1945. Di Jakarta, pertunjukan diadakan dari 28 April 1945 sampai 2 Mei 1945. Perkumpulan Sandiwara Warnasari mengisi pertunjukan yang bertempat di Minami Gekidjo Kramat. Lakon yang harus dimainkan adalah Asia Gembira karya Hendry L. Duarte dan cerita musik Dari Timoer Tjahaja Bersinar karya Hinatu Eitaroo . Untuk menyambut perayaan Hari Peringatan Laut, POSD pada 18 Juli 1945 sampai 22 Juli 1945 mengadakan pertunjukan kembali di kota-kota besar Pulau Jawa. Perkumpulan sandiwara yang mengisi pertunjukan di Jakarta adalah Tjahaja Timoer dan Sinar Sari, mengambil tempat di Siritu Gekidjo Pasar Baru (Gedung Komedi). Lakon yang harus dimainkan adalah Toeroet Sama Amat karya Kotot Soekardi. Hasil dari pendapatan pertunjukan ini akan diserahkan kepada tunjangan keluarga korban Heiho Kaigun. Pertunjukan tersebut juga diadakan secara gratis kepada anggota Heiho, Peta, Kaigun Heiho, dan pelaut .
Pertunjukan yang tersebut paling akhir di atas adalah pertunjukan terakhir yang diselenggarakan oleh POSD pada masa pendudukan Jepang di Jakarta. Awal Agustus 1945, posisi Jepang dalam peperangan tidak menguntungkan dan terjepit oleh Pasukan Sekutu. Pada 6 Agustus 1945, pesawat bomber B-29 Enola Gay yang diawaki oleh Kolonel Paul Tibbets Jr melepaskan satu bom atom Little Boy ke kota Hiroshima. Berikutnya, pada 9 Agustus 1945 giliran kota Nagasaki dihantam bom atom Fat Man dari pesawat bomber Boeing B-20 Superfortrss Bocks Car yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney. Jepang benar-benar dibuat porak-poranda. Hancur dalam sekejap. Atas insiden yang mengerikan tersebut, akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.
Kemudian pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Menjelang proklamasi, hampir tidak ada perkumpulan sandiwara yang mengadakan pertunjukan di Jakarta. Hanya Tjahaja Timoer saja yang masih aktif melakukan pementasan sampai beberapa hari setelah proklamasi. Pada 15 Agustus 1945 dan 16 Agustus 1945, Tjahaja Timoer menyelenggarakan sebuah malam hiburan di Siritu Gekidjo Pasar Baru. Dalam artikel surat kabar Asia Raya tanggal 16 Agustus 1945, disebutkan bahwa:
Tepat dengan soeasana gembira oentoek menjamboet Hari Kemerdekaan, maka Tjahaja Timoer tadi malam di Siritu Gekizyoo mengadakan malam hiboeran, terdiri dari beberapa nyanyian, tarian dan moesik...
Hiburan yang diselenggarakan oleh Tjahaja Timoer berupa tari-tarian daerah, nyanyian, dan musik saja. Tidak diketahui secara jelas apa maksud kalimat menjamboet Hari Kemerdekaan dalam artikel tersebut. Tetapi, penulis menduga maksud dari kalimat tersebut berhubungan dengan proses politik yang berjalan menjelang proklamasi kemerdekaan. Maksud penyelenggaraan pertunjukan itu erat kaitannya dengan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945 sebagai pengganti Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) yang dibentuk pada 1 Maret 1945. Pembentukan PPKI ini berdasarkan keputusan Jenderal Terauchi, Panglima Tentara Umum Daerah Selatan, yang membawahi semua tentara Jepang di Asia Tenggara. Sebelum dibubarkan, BPUPKI telah berhasil mempersiapkan suatu rencana Undang-Undang Dasar (UUD). Keputusan Jepang untuk membentuk PPKI adalah untuk mempercepat segala usaha yang berhubungan dengan persiapan yang penghabisan guna membentuk Pemerintahan Indonesia Merdeka. Posisi Jepang telah sangat terjepit di dalam peperangan. Karena situasi ini, Jepang berusaha mempercepat kemerdekaan boneka dengan segera memberikannya kepada bekas Hindia Belanda, tetapi prakarsa itu supaya diambil (atau nampaknya diambil) oleh rakyat Indonesia sendiri . Mengenai situasi internasional dan nasional , nampaknya para seniman sandiwara ini tidak mengetahui secara pasti. Dan soal tanggal penyelenggaraan yang jatuh satu hari menjelang proklamasi, tampaknya hanya faktor kebetulan saja.
Pada 21 Agustus 1945, POSD berubah nama menjadi POSI (Perserikatan Oesaha Sandiwara Indonesia), begitu pula dengan susunan pengurusnya. Kedudukan Hinatu Eitaroo sebagai pemimpin digantikan oleh A.K. Loebis. Disebutkan dalam Asia Raya bahwa: peroebahan ini berhoeboengan dengan peredaran djaman dan hendak menjesoeaikan diri, agar dapat menjamboeng kedjadian-kedjadian jang akan datang. Meski nama dan pemimpin organisasi ini telah berubah, peraturanperaturan dan rencana organisasi masih sama. Bakri Siregar menyebutkan bahwa POSI ini adalah terusan dari POSD. POSI tidak diakui, sebagai gantinya dibentuk PSO (Perserikatan Sandiwara Oesaha). Pada perkembangan selanjutnya, PSO tidak lancar dalam perjalanan karena kekurangan dana, kemudian didirikan BAPERSI (Badan Permoesjawaratan Sandiwara Indonesia) lengkap dengan bagian-bagiannya. Nama-nama seniman sandiwara yang telah terkenal sejak masa kolonial dan Jepang bergabung dalam organisasi ini, seperti Andjar Asmara, Armijn Pane, Inoe Perbatasari, dan Usmar Ismail.
Pascaproklamasi, perkumpulan-perkumpulan sandiwara banyak yang mengadakan pertunjukan keliling untuk mengobarkan semangat kemerdekaan. Seperti yang dilakukan oleh Pantjawarna, Bintang Timoer , Warnasari, PPPI , dan Seniman Merdeka . Mulai 1947, usaha sandiwara mengalami masa suram. Bakri Siregar memberikan sedikit gambaran tentang situasi beberapa perkumpulan sandiwara pada masa ini. Menurutnya, Pantjawarna menetap di Yogyakarta; Bintang Soerabaja mencari lapangan di kota-kota kecil sekitar Yogyakarta, Dewi Mada tertahan di Cirebon . Kemungkinan perkumpulan-perkumpulan ini kehabisan dana untuk mengadakan pertunjukan keliling, seperti yang pernah mereka lakukan pada masa pendudukan Jepang. Ini dapat dipahami karena sebagian besar perkumpulan sandiwara adalah warisan dari masa pendudukan Jepang dan mereka kebanyakan dibiayai oleh organisasi bentukan Jepang. Armijn Pane menyebutkan, pada masa ini hubungan seni sandiwara dengan masyarakat putus; dan masyarakat telah terbagi-bagi ke dalam golongan-golongan kecil, partai, perkumpulan, sampai kepada egoisme individu yang sangat. Ini berbeda dengan keadaan pada masa pendudukan Jepang di mana mereka terikat oleh tujuan yang sama . Armijn Pane menambahkan bahwa mulai diproduksinya lagi film-film dari luar negeri adalah faktor yang menyebabkan kegiatan sandiwara mundur .
Saat masa suram ini, Djamaludin Malik mengumpulkan para pemain dari perkumpulan yang dikelolanya, yakni Bintang Timoer dan Pantjawarna. Pertemuan tersebut diselenggarakan di Solo. Dalam pertemuan itu, Andjar Asmara melontarkan gagasan kepada Djamaludin Malik untuk memproduksi film. Gagasan tersebut terealisasikan tiga tahun kemudian di Jakarta. Tepatnya pada tahun 1950 berdiri perusahaan film Perusahaan Artis Film Indonesia (PERSARI). Perusahaan film ini merupakan perusahaan film nasional kedua setelah Perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFINI) yang didirikan oleh Usmar Ismail pada Maret 1950 . Boen S. Oemarjati mencatat beberapa lakon yang tercipta pascaproklamasi, antara 1946 sampai 1948, yaitu Suling dan Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani, Keloearga Soerono karya Idroes, serta Tumbang karya Trisno Sumardjo.
E. Pengaruh Sandiwara Propaganda
Di masa Jepang, kegiatan seni sandiwara benar-benar telah dijadikan sarana untuk menarik hati dan dukungan rakyat Jakarta terhadap peperangan. Sifat seni dalam sandiwara dipersatukan ke dalam sifat propaganda. Seperti yang dikemukakan oleh seorang penulis dalam majalah Djawa Baroe dengan judul Kemadjoean Dalam Doenia Sandiwara:
Oekoeran dalam melihat kemadjoean sandiwara boekan sadja dipandang dari soedoet seni, seperti lakon permainan pelakoe, dekor, dan teknik dalam sandiwara, tetapi djoega dapat tidaknja pertoendjoekan sandiwara membangkitkan semangat perang oentoek kemerdekaan Indonesia dan pembangoenan Asia Timur Raya. Sifat seni dan sifat propaganda dipersatoekan dalam setiap pertoendjoekan .
Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana pengaruh sandiwara yang dijadikan propaganda ini bagi masyarakat dan dunia seni sandiwara sendiri
Setiap kegiatan propaganda selalu mempunyai efek. Efek diartikan sebagai perubahan yang terjadi dalam diri penerima karena menerima pesan-pesan dari suatu sumber. Perubahan ini meliputi perubahan pengetahuan, perubahan sikap, dan perubahan perilaku nyata. Propaganda baru dapat dikatakan efektif apabila ia menghasilkan perubahan-perubahan seperti yang diharapkan oleh sumber, seperti pengetahuan, sikap, dan perilaku, atau ketiganya. Perubahan-perubahan di pihak penerima ini diketahui dari tanggapan-tanggapan yang diberikan penerima sebagai umpan balik .
Keadaan ekonomi masyarakat Jakarta ternyata berpengaruh terhadap dapat atau tidaknya mereka menyaksikan pertunjukan. S.K. Trimurty memberikan sedikit gambaran dalam sebuah tulisannya di Asia Raya yang berjudul Sandiwara Sebagai Alat Oentoek Mentjapai Tjita-Tjita dengan menulis bahwa:
Dalam saat perang oerat sjaraf ini, maka sandiwara memegang rol jang sangat penting di dalam oesaha menjebarkan tjita-tjita, menenangkan hati, dan memimpin rakjat ke arah djalan jang betoel [...] siapakah orang-orang jang mengoendjoenginja Kalau kita masoek ke dalamnja, maka pengoendjoengnja itoe terdiri dari lapisan atas dan tengahan. Rakjat oemoem sendiri boleh dikatakan tidak ada jang masoek ke dalamnja. Mereka lebih soeka melihat ketoprak, loedroeg dan sebangsanja, biaianja moerah, djoega isi tjeriteranja dapat dipahamkan, dirasakan oleh djiwanja ialah djiwa jang masih sangat sederhana itoe....
Terlihat bahwa penonton sandiwara pada 1943 masih terbatas pada mereka yang berasal dari kalangan menengah dan atas. Penduduk yang berasal dari kalangan bawah tidak mempunyai kesempatan untuk mencapai akses ke dalam sebuah gedung pertunjukan sandiwara. Mereka menganggap bahwa pertunjukan sandiwara modern adalah hiburan yang mahal dibandingkan dengan pertunjukan sandiwara tradisional.
Dari pembahasan yang telah diuraikan, terlihat kalau pertunjukan-pertunjukan yang diselenggarakan selalu dihadiri pemimpin, pejabat, dan tentara saja; masyarakat dari kalangan bawah hampir tidak terpublikasikan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat dari golongan ekonomi rendah kurang mendapat akses untuk menyaksikan pertunjukan sandiwara (kebanyakan bersifat doktrinasi) yang diadakan di dalam gedung-gedung pertunjukan. Penulis tidak mendapatkan data apakah ada pertunjukan yang diadakan di gedung pertunjukan dengan cuma-cuma. Sejauh yang penulis ketahui, pertunjukan gratis hanya untuk mereka yang berasal dari golongan militer atau prajurit Jepang saja, tetapi ini tidak menutup kemungkinan ada juga pertunjukan gratis bagi masyarakat umum. Dari gambaran yang diberikan oleh S.K. Trimurty juga tersirat kalau masyarakat dari golongan ini kurang memahami makna dari lakon pertunjukan sandiwara modern. Entah ini berhubungan dengan bahasa pengantar di atas panggung atau memang terlalu beratnya lakon-lakon yang disajikan.
Selain keadaan ekonomi, pendidikan ternyata juga mempunyai pengaruh besar dalam hal penerimaan pesan propaganda melalui sandiwara. Aiko Kurasawa berpendapat bahwa kalangan terpelajar kotayang umumnya lebih akrab dengan pertunjukan sandiwaratidak begitu tertarik untuk menyaksikan sandiwara dengan tujuan propaganda. Sedangkan kalangan yang kurang terpelajar cenderung lebih mengikuti saja pertunjukan sandiwara propaganda. Ini disebabkan oleh keterbatasan informasi pada kalangan yang kurang terpelajar. Lebih lanjut, Aiko Kurasawa menerangkan bahwa bagi generasi muda imbauan Jepang relatif diterima dengan baik. Generasi muda mempunyai kesempatan untuk menikmati jenis hiburan ini karena sering dipertunjukkan di sekolah dan rapat-rapat lokal .
Jelas di sini bahwa golongan terpelajar lebih memahami makna dari isi lakon yang dihadirkan melalui sandiwara propaganda karena mereka tahu bahwa mereka sedang dituntun alam pikirannya melalui hiburan ini. Mereka cenderung tidak mengacuhkannya. Sedangkan golongan yang kurang terpelajar menerima apa adanya pesan yang disampaikan. Generasi muda adalah target utama propaganda. Ini dapat dipahami karena generasi muda adalah generasi yang sedang labil dalam hal pencarian jati diri dan masa di mana mereka senang melakukan hal yang baru. Mereka lebih mudah termakan oleh propaganda politik melalui sandiwara karena pola pikir mereka masih sangat labil, sehingga dapat dengan mudah dipengaruhi. Jepang membutuhkan tenagatenaga muda ini terutama untuk menambah tenaga romusha atau menambah personil dalam Peta dan Heiho.
Masyarakat, terutama kaum seniman sandiwara, banyak menerima pengetahuan tentang sandiwara modern pada masa ini. Mereka tidak menerima begitu saja peraturanperaturan yang dikeluarkan pemerintah. Tidak sedikit dari seniman-seniman ini yang justru menggunakan media sandiwara sebagai alat perjuangan. Ada di antara mereka yang menulis lakon sandiwarakemudian dipertunjukkan yang bertemakan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Terkadang pesan mereka sengaja dibungkus di dalam pesan-pesan propaganda pemerintah.
Jika disimpulkan, pengaruh propaganda kurang efektif untuk mereka yang berasal dari golongan ekonomi rendah dan kalangan terpelajar. Padahal sasaran utama pemerintah pendudukan Jepang adalah mereka yang berasal dari golongan ini. Mereka juga merupakan golongan mayoritas, yang tentunya akan sangat membantu jika alam pikiran mereka terpengaruh lebih jauh oleh tema-tema propaganda yang dihadirkan. Masyarakat yang alam pikirannya terpengaruh oleh tema-tema propaganda dalam sandiwara akan mengikuti kebijakan, cara berpikir, dan imbauan pemerintah, seperti masuk ke dalam organisasi semi-militer, menjadi romusha, mengumpulkan hasil bumi, dan lain-lain.
Perlu dicatat, ada beberapa sumbangan positif kegiatan seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang ini bagi dunia sandiwara selanjutnya, yaitu dikenalnya dokumentasi naskah lakon, jangkauan cerita sandiwara yang lebih luas , dan kemunculan secara tegas peran dan tanggung jawab seorang sutradara. Di samping itu, mulai dikenalnya fungsi seni sandiwara sebagai media massa yang sesungguhnya serta mulai dikenalnya sebuah wadah khusus untuk menangani kegiatan seni sandiwara.