Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 51
kau akan kembali, tetapi tidak di sisiku. puisi-puisi yang kau tulis di surat satu-satunya itu mulai mengabur, sebagian kata-kata lenyap menjadi gas, menjadi udara untuk kuhirup padahal hidup tak pernah sudi seperti barus sekalipun aku harus menunggu dan menunggu kau membuka pintu, mencium sedikit wangi milikku
di antara kita, sebenarnya aku tak sungguh yakin seberapa besar arti pelukan itu
saat mengantarkanmu pergi,
saat mengantarkanku mati