Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih - 54
aku tak akan berangkat menuju musim hujan karena kukagumi daun-daun gugur

korbankan diri demi kehidupan

kadang kubayangkan, kutemui perempuan yang memandangku pedih di seberang jalan

sebuah sapu tangan basah, bekas air mata

aku harapkan dia segera pergi menyeberang karena aku takut langkahkan kaki, kendaraan

yang sering mengebut lalu tabrak lari

musim hujan yang turun di pada mu itu apakah sama dengan musim hujan lain yang pernah turun di dadaku

pertanyaan itu hanya satu dari pertanyaan lain yang pelan-pelan mulai menggerogoti keimanan,

dan aku fana seperti cahaya pada lilin

ii.

sebelum badai, akan kukunci pintuku rapat-rapat

tetapi kau udara, begitu mampu menyelinap

kini aku terbiasa, bernapas dengan udaramu tapi aku tak tahu, apakah kau damai di paru-paruku