korbankan diri demi kehidupan
kadang kubayangkan, kutemui perempuan yang memandangku pedih di seberang jalan
sebuah sapu tangan basah, bekas air mata
aku harapkan dia segera pergi menyeberang karena aku takut langkahkan kaki, kendaraan
yang sering mengebut lalu tabrak lari
musim hujan yang turun di pada mu itu apakah sama dengan musim hujan lain yang pernah turun di dadaku
pertanyaan itu hanya satu dari pertanyaan lain yang pelan-pelan mulai menggerogoti keimanan,
dan aku fana seperti cahaya pada lilin
ii.
sebelum badai, akan kukunci pintuku rapat-rapat
tetapi kau udara, begitu mampu menyelinap
kini aku terbiasa, bernapas dengan udaramu tapi aku tak tahu, apakah kau damai di paru-paruku