YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 54
Alhamdulillah, akhir pekan lalu saya bisa gunakan untuk keduanya sekaligus. Saya silaturahmi dan belajar kepada teman yang sudah cukup lama tidak bertemu, Mas Bambang. Dia adalah seorang redaktur salah satu koran ternama di Solo. Sengaja saya main ke rumahnya untuk menambah ilmu menulis saya. Saya ingin masukan dan koreksi atas artikel-artikel yang sudah saya buat.

Untuk ukuran pemula, Mas Bambang menilai tulisan saya sudah bagus.

Bahasanya ringan dan mengalir.

Ibarat kursi, tulisanmu sudah kuat, Mas. Jika diduduki tidak ambrol. Nah, untuk menjadikan kursi tersebut lebih nyaman, itu proses. Perlu terus berlatih, kata Mas Bambang.

Ya, Mas. Wong aku ndak pernah belajar menulis sebelumnya. Aku hanya memerhatikan beberapa buku yang sudah aku baca, khususnya Dahlan Iskan. Aku meniru dia, sambung saya.

Tulisan baik perlu ada beberapa unsur yang dipenuhi, yakni 5W 1H; What, Where, When, Why, Who, dan How. Dalam praktiknya, tidak semua harus ada; 3 atau 4 saja sudah cukup. Contohnya, jika bercerita tentang mobil tertabrak kereta api. Mesti jelas kapan itu terjadi, di mana terjadinya, bagaimana itu bisa terjadi, dan seterusnya.

Kesempatan bertemu Mas Bambang banyak saya gunakan untuk bertanya. Sebelum berangkat menemuinya sudah saya siapkan beberapa pertanyaan, di antaranya soal ejaan. Ternyata, untuk tulisan di blog atau website pribadi hukumnya bebas; tidak harus sesuai EYD.

Banyak menggunakan bahasa gaul dan serapan bahasa daerah pun tidak menjadi masalah. Berbeda halnya dengan koran. Selain memuat berita, koran juga mengemban tugas edukasi untuk masyarakat, sehingga harus menggunakan kaidah bahasa yang baik dan benar.

Hal lain yang dikomentari Mas Bambang adalah judul. Judul harus bisa memberi gambaran tentang tulisan yang disajikan. Akan jauh lebih baik jika kata-katanya singkat. Judul yang provokatif juga bisa menjadi pilihan.

Hal ini dimaksudkan untuk mengundang penasaran bagi pembaca. Dia mengomentari judul artikel saya yang berjudul Saya Menyesal Ikut Wanna Be Trainer. Orang pasti penasaran, mengapa kok menyesal, apa penyebabnya, dan seterusnya. Penentuan judul, menurut pengalaman Mas Bambang, tidak harus selalu di awal. Bahkan sering dia membuat judul berita, setelah tulisan selesai dibuat.

Belajar dan Belajar

Pertanyaan terakhir yang saya ajukan adalah tentang kesulitan membuat paragraf pembuka. Saya sering mengalaminya. Ide sudah ada, namun ketika hendak mulai menulis masih sering bingung akan memulainya dari mana.

161

Ternyata hal serupa juga dialami Mas Bambang yang nota bene merupakan wartawan senior dan tiap hari menulis. Tips untuk mengatasi hal ini rupanya juga sederhana. Terus saja menulis sampai selesai, lantas dibaca berulang-ulang dari awal hingga akhir. Setelah itu baru dilakukan editing. Bisa jadi paragraf yang sudah di depan bisa ditukar dengan paragraf lainnya, atau bahkan dihapus.

Sharing dengan ahlinya memang menyenangkan. Banyak ilmu yang saya dapatkan dari pertemuan yang singkat itu. Semakin memacu semangat saya untuk terus menulis dengan harapan bisa berbagi motivasi dan inspirasi ke lebih banyak orang lagi.

01 Desember 2013