Berawal dari rasa ingin hadir di Cirebon, kemarin saya memutuskan untuk berangkat ke Cirebon. Padahal, Jumat sore ini sudah ada agenda kunjungan ke Cirebon, berangkat bersama-sama tim Solo dengan bus. Mengapa saya memilih untuk berangkat duluan Saya merasa perlu support tim saya di Cirebon untuk mengejar order yang tengah dikerjakan dan sempat tersendat. Saya sadar, tidak banyak peran langsung yang saya berikan kepada tim. Namun, dengan hadir secara fisik, saya ingin memberikan support nyata kepada tim, tidak hanya lewat chat atau telepon.
Sekitar pukul 15.00, saya mencari tiket kereta ke Stasiun Balapan. Ternyata, semua jenis kereta ekonomi, bisnis, dan eksekutif sudah ludes beberapa hari sebelumnya, hingga Senin mendatang. Saya pikir, liburan akhir tahun sudah berakhir, ternyata arus balik ke Jakarta belum habis.
Akhirnya, saya ambil kebiasaan lama, nyegat bus jurusan Solo-Jakarta di Kartasura. Sehabis Sholat Magrib, dengan PD saya berangkat ke Kartasura. Ternyata, sama dengan kereta. Semua agen bus yang saya datangi mengatakan, kalau sudah tidak terima pesanan tiket sampai tanggal 5 Januari. Semua bus AC ekonomi, eksekutif, sampai big top sudah full.
Akhirnya, saya ditawari seorang calo di pinggir jalan.
Kalau kursi cadangan mau ndak, Mas Nanti sekitar setengah jam lagi ada bus Muncul yang terakhir. Kemungkinan masih ada, kata calo itu.
Atas tawaran tersebut langsung saya iyakan, Ya, Mas. Kalau ada, nanti saya mau.
Masa saya harus kembali pulang ke rumah, pikir saya begitu.
Ternyata benar. Tepat pukul 19.45, bus yang dinanti pun datang. Setelah sang calo bicara dengan kenek bus, disepakati kursi cadangan sang kenek ditawarkan kepada saya. Harganya luar biasa mahal, Rp200 ribu. Tanggung, pikir saya. Saat itu juga langsung saya bayar, dan segera berangkat.
Jadilah saya duduk di kursi jatahnya kenek, persis di samping pintu. Saya tengok ke belakang memang benar semua kursi sudah terisi. Karena belum mengantuk, saya gunakan waktu untuk mengobrol dengan sopir dan keneknya.
Saya mulai bertanyak pada kenek, Lha sampeyan berdiri gimana, Mas
Kuat sampai saya turun di Cirebon
Dia menjawab, Kuat, Mas. Sudah biasa.
Belajar dan Belajar
Saya membatin, dari Rp200 ribu bayaran dari saya, kenek dan sopirnya ini mendapat pembagian berapa ya, masing-masing Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kenek ini kuat berdiri semalaman di atas bus. Kalau hanya dari Solo ke Salatiga masih masuk akal. Lha ini dari Solo sampai Cirebon
Demikian juga ketika saya bertanya pada sopir bus, Sendiri ini, Pak
Ndak ada sopir penggantinya
Pak sopir pun menjawab, Sendiri, Mas. Sudah biasa.
177
Ia juga tak kalah hebat. Di saat semua penumpang tertidur pulas, dia bekerja sendirian. Saya tahu sendiri seperti apa kepadatan lalu lintas di jalur Solo-Jakarta kalau malam hari, karena sering juga saya berangkat ke Cirebon memakai mobil. Saya lihat, pak sopir begitu enjoy bekerja di tengah arus lalu lintas yang padat. Tidak terbersit sedikit pun keluhan.
Baru kali ini saya duduk di kursi cadangan bus. Jujur, ada rasa takut duduk paling depan, mepet kaca depan. Ini tak ubahnya menonton bioskop di gedung dan duduk paling depan. Semua tampak begitu besar. Tambah malam, laju bus dan kendaraan lain semakin kencang.
Semalam, gerimis pun turun di sepanjang Solo sampai Semarang.
Tidak ada hal lain yang bisa saya kerjakan selain banyak berdoa. Saya ingat pesan yang saya sampaikan kepada istri saya kemarin sore begitu keluar rumah, Jaga anak-anak, ya, Mi.
Misalkan terjadi apa-apa dengan saya semalam, saya sudah pasrah dan siap. Dan saya selalu husnuzon bahwa perjalanan saya ini adalah dalam rangka bekerja, menunaikan tugas saya sebagai kepala rumah tangga untuk mencari nafkah.
Tidak terasa, mengobrol sana sini dengan kenek, bus sudah sampai Semarang. Lama-lama ngantuk juga dan badan saya sudah terasa pegal-pegal. Akhirnya, saya tawarkan kursi cadangan kepada kenek dan saya memilih duduk di lantai bus, tepat di samping pak sopir.
Lama-lama saya tertidur juga, namun sering terjaga. Apalagi klakson bus tidak pernah berhenti. Benar-benar menegangkan. Karena kecepatan tinggi dan seperti kejar-kejaran, saya jadi sering terbangun. Setidaknya, di Pekalongan, Tegal dan Brebes. Bahkan ketika memasuki Tegal saya putuskan untuk tidak tidur lagi.
Saya melihat semua penumpang sudah terlelap, termasuk keneknya. Saya niatkan untuk menemani pak sopir bekerja. Ada perasaan khawatir, bagaimana ya kalau sopirnya juga mengantuk
Pak sopir bercerita kalau nanti sampai di Jakarta sekitar pukul 06.00 atau 07.00 pagi. Ia lantas beristirahat dan sorenya, pukul 06.00 sudah berangkat lagi ke Solo. Sampai di Solo, pukul 06.00 atau 07.00 pagi, dan malamnya pukul 07.00 berangkat lagi ke Jakarta.
Masya Allah. Saya baru bisa merasakan, seperti apa beratnya pekerjaan mereka. Begitu besar tanggung jawab mereka atas keselamatan para penumpangnya. Saya salut kepada orang-orang hebat seperti itu. Orang yang begitu enjoy dengan pekerjaannya. Apalagi ini pekerjaan dengan risiko tinggi.
Saya berdoa, mudah-mudahan mereka selalu diberi keselamatan dan kesehatan, sehingga bisa menghidupi keluarga yang selalu menantinya di rumah. Amin.
3 Januari 2014