Ibu kota lama yang telah berusia seribu tahun itu dikenal sebagai tempat di mana beberapa pembaharuan dari barat diserap dengan cepat. Ciri ini jelas terlihat di antara penduduk kota Kyoto.
Tapi mungkin masih ada sesuatu peninggalan ibu kota lama dalam kota itu yang akan mendukung angkutan trem untuk terus diberlakukan. Tentu saja, kereta itu sendiri bentuknya mungil; lutut seseorang penumpang hampir bersentuhan dengan lutut penumpang yang duduk di hadapannya.
Sekarang ketika trem hendak dihentikan pengoperasiannya, tampaknya semua orang tak ingin berpisah dengannya. Mereka menghiasinya dengan kuntum-kuntum bunga, menyebutnya sebagai kereta bunga. Trem itu dulunya diiklankan dengan menampakkan para penumpangnya yang berbusana khas periode Meiji. Apakah ini menjadi perayaan festival lain di Kota Kyoto
Kereta itu terus beroperasi selama beberapa hari ini dengan membawa penumpang penuh berjejalan yang bahkan tak punya tujuan tertentu selain ingin menumpang kereta perpisahan. Itu terjadi masih di bulan Juli, dan beberapa orang bahkan membawa payung penahan sinar matahari.
Matahari musim panas di Kyoto memang lebih menyengat daripada di Tokyo, di mana pada waktuwaktu sekarang jarang kita temui seseorang yang berjalan membawa payung.
Saat Tn.Takichiro bersiap untuk naik kereta bunga di muka Stasiun Kyoto, seorang wanita setengah umur berdiri di belakangnya, mencoba menyelipkan senyum.
Tn.Takichiro mengetahui wanita itu setelah ia masuk ke dalam gerbong. Dengan agak malu-malu ia menegur, Apa maksud Anda tertawa begitu Anda seperti tak tahu istiadat masa Meiji saja.
Aku tak begitu terpisah benar dari era itu, jawab si wanita. Lagi pula, aku tinggal di jalan Kitano.
Sungguh Oh, ya, itulah tempatnya, seru Tn. Takichiro.
Itulah tempatnya! Begitu saja kau mengatakannya! Meski begitu, kau bagus juga bisa ingat begitu.
Betapa cantiknya gadis yang bersamamu itu.
Di mana kau menyembunyikannya selama ini
Konyol. Ia bukan anakku. Kau harus tahu itu.
Ya, aku kan tidak tahu. Kau yang tahu wanita itu seperti apa.
Apa maksudmu Lelaki sepertimu juga harus tahu.
Gadis itu usianya antara empat belas atau lima belas tahun, berkulit putih bersih. Di atas kimono musim panas yang ringan ia kenakan sebuah obi tipis berwarna merah. Dulu ia gadis pemalu. Ia duduk di samping wanita itu, mengerutkan bibir, sepertinya menghindari Tn.Takichiro.
Tn.Takichiro menarik lengan kimono gadis itu perlahan-lahan.
Duduk sini, di tengah-tengah, seru wanita itu pada si gadis.
Beberapa saat ketiganya terdiam. Lalu wanita tadi berbisik ke telinga Tn.Takichiro dengan mencondongkan tubuhnya dan menelungkan leher di atas kepala gadis itu.
Aku berencana untuk mengirimkannya ke Gion agar menjadi maiko.
Memangnya dia anak siapa
Ia anak gadis seorang pemilik kedai teh dekat
sini.
Oh, begitu.
Orang-orang tentu membatin kalau ia pastilah anak kita, seru wanita itu dengan suara yang sama sekali tak bisa didengar Tn.Takichiro.
Apa
Wanita itu adalah seorang pemilik kedai teh di Kamishichiken.
Kami mau pergi ke kuil Kitano Tenjin. Gadis ini ingin ke sana.
Tn.Takichiro menyadari bahwa wanita itu hanya bercanda.
Berapa usiamu Ia bertanya pada si gadis.
Ini tahun pertama aku masuk sekolah menengah.
Hmm. Tn.Takichiro menatapnya. Ya, aku akan memanggilmu setelah kau dilahirkan kembali dalam sebuah dunia lain.
Tampaknya kata-kata Tn.Takichiro yang aneh ini hanya didengar oleh anak yang mempunyai tempat tinggal bersuasana meriah.
Mengapa kau pergi ke Kitano Tenjin bersamanya Apakah dia titisan Tenjin tanya Tn.Takichiro berolok-olok pada wanita itu.
Ya. Begitulah.
Tapi Tenjin itu laki-laki.
Berinkarnasi menjadi seorang gadis. Wanita itu mematahkan bantahan Tn.Takichiro. Karena jika berinkarnasi menjadi seorang laki laki, ia akan menderita karena kembali terasing.
Tn.Takichiro hampir saja meledakkan tawanya.
Kalau sebagai wanita
Sebagai wanita, emmm... sebagai wanita, tentu akan ada seseorang yang mencintai dan memerhatikannya.
Oooh.
Memang tak bisa dibantah bahwa gadis itu sungguh cantik. Rambut hitamnya berkilauan, seperti warna makhluk laut yang misterius. Ia begitu menyenangkan, dan matanya mirip seperti mata orang Barat.
Ia anak tunggal ya tanya Tn.Takichiro.
Bukan, ia punya dua kakak perempuan. Yang paling tua akan lulus sekolah menengah di musim semi mendatang; jadi ia mungkin akan memulai debutnya setelah itu.
Ia cantik seperti ini
Wajah mereka mirip, tapi ia tak secantik adiknya ini.
Sekarang di Kamishichiken tak ada maiko seorang pun, yaitu geisha yang masih bekerja magang. Bahkan jika seorang gadis dipersiapkan untuk menjadi maiko, ada larangan untuk itu sampai ia lulus sekolah menengah.
Kamishichiken berarti Tujuh Rumah teratas. Disebut begitu karena semula di sana hanya ada tujuh kedai teh. Tn.Takichiro pernah mendengar bahwa bilangan sekarang bertambah hingga dua puluh.
Dulu kala, belum begitu lama, Tn.Takichiro sering pergi ke Kamishichiken untuk bersenangsenang, ditemani penenun-penenun dari Nishijin atau pelanggan kesayangannya yang datang dari tempat terpencil. Setelah itu usaha toko berhasil baik.
Kau pasti penasaran... lalu naik trem ini.
Wajar jika orang tak ingin berpisah dengan sesuatu apa pun, sahut wanita itu. Bisnis kita pun kan tak melupakan pelanggan lama. Tn.Takichiro diam.
Lagipula, hari ini aku melihat hanya seorang pengunjung yang pergi ke stasiun Kyoto. Lintasan kereta ini kan membawa kami pulang. Dan bukankah kau sendiri, Tuan Sada, yang tampak agak aneh... karena naik kereta seorang diri
Mungkin benar begitu. Aku sendiri heran mengapa tak mengajak seseorang. Mungkin aku sudah merasa cukup hanya dengan melihat kereta bunga ini saja. Sahut Tn.Takichiro sambil menelengkan kepala. Bukankah masa lalu itu penuh dengan kenangan Atau apakah ini hanya karena kesepian saja ya
Kesepian Aku belum begitu tua untuk mengatakan itu. Maukah kau ikut kami Apakah hanya ingin melihat gadis-gadis belia
Tn.Takichiro merasa seolah ia ditemani ke Kamishichiken.
Tn.Takichiro mengikuti wanita pemilik kedai itu saat ia melangkah langsung menuju altar Kuil Kitano. Doanya yang sangat khusyuk itu begitu panjang. Gadis itu pun menundukkan kepala. Akhirnya wanita itu kembali ke sisi Tn.Takichiro. Maafkan saya.
Tentu.
kau mau pulang sekarang Wanita itu bertanya pada si gadis.
Terima kasih. Gadis itu mengucapkan selamat berpisah kepada mereka berdua. Saat ia berjalan, gayanya tampak seperti anak sekolah menengah.
Kau kelihatan begitu suka dengannya, kata wanita itu. Ia akan memulai debutnya kira-kira dua atau tiga tahun mendatang. Kau boleh menantinya, tapi aku tahu begitu sulit untuk bersabar. Ia begitu cantiknya.
Tn.Takichiro tak menanggapi. Setelah menempuh jarak yang jauh, ia ingin berjalan-jalan di sekitar situ, tapi cuaca begitu panasnya.
Bolehkan aku beristirahat di tempatmu Aku
jadi lelah sekali.
Tentu saja. Bahkan aku telah merencanakannya sejak tadi. Sudah lama kamu tidak mampir, seru wanita itu.
Saat mereka sampai ke dekat sebuah kedai teh yang telah tua, pemilik kedai itu berkata lagi. Masuklah. Apa yang kau kerjakan akhir-akhir ini Aku mendengar beberapa rumor tentang kau. Berbaringlah, aku akan mengambil bantal untukmu.
Kau bilang kau kesepian. Akan kubawakan gadis yang lembut untuk kau ajak ngobrol.
Aku tak ingin bertemu dengan geisha yang pernah kulihat sebelumnya.
Seorang geisha belia usia masuk saat Tn.Takichiro mulai tidur-tidur ayam. Untuk beberapa saat, ia duduk dengan tenang, mungkin heran juga mengapa tamu yang baru ditemuinya pertama kali ini begitu menyulitkan. Tn.Takichiro duduk dengan lesu, tak berusaha memulai percakapan. Geisha itu mengajak bicara, mencoba menghibur. Ia bilang bahwa sejak memulai debut ia telah menemui sekitar 47 pria yang menggoncangkan khayalannya.
Mirip seperti drama lama tentang 47 bujangan yang setia. Kedengarannya lucu kalau dipikir-pikir jatuh dalam pelukan beberapa orang pria. Di antara mereka ada yang sudah empat puluhan, bahkan lima puluhan tahun. Semua orang tertawa melihatku.
Tn.Takichiro bangun dan menjadi bersemangat. Lalu sekarang
Kalau sekarang ya cuma satu.
Wanita pemilik kedai juga ada di ruang tamu.
Geisha itu usianya kira-kira dua puluh tahun. Tapi, Tn.Takichiro heran juga jika gadis itu benarbenar mengingat keempat puluh tujuh pria itu meski tak mempunyai hubungan yang mendalam dengan mereka semua.
Suatu kali, hanya tiga hari setelah debutnya, seorang tamu tiba-tiba menciumnya saat gadis itu menunjukkan kamar untuk beristirahat. Ia pun menggigit lidah si tamu.
Ia berdarah
Ya. Ia menuntut ongkos berobat ke dokter. Pria itu begitu marahnya. Aku memekik dan setelah itu ada gangguan kecil. Tapi itu tetap kesalahannya... Tidakkah kau pikir begitu Aku sudah lupa siapa nama orang itu.
Hmm. Tn.Takichiro menatap wajahnya, membayangkan pundaknya yang miring, gadis yang tampak lembut tapi tiba-tiba menggigit lidah seseorang sekuat tenaga.
Coba lihat gigimu, seru Tn.Takichiro.
Gigi Gigiku Apakah kau tidak melihatnya saat aku bicara
Aku ingin melihat dengan lebih jelas.
Tidak. Aku malu. Geisha itu tetap mengatupkan bibirnya. Aku tak akan bisa bicara.
Gigi geisha itu seperti manik-manik putih dalam mulutnya yang indah. Tn.Takichiro menggodanya, Aku tahu. Gigi-gigimu pasti rontok setelah itu, dan yang ini adalah gigi palsu, bukankah begitu
Lidah itu kan lembut, jadi..., ia bicara seperti orang melamun.
Oh, sudahlah. Ia menyembunyikan kepala di balik punggung sang pemilik kedai.
Setelah beberapa saat, Tn.Takichiro berkata, Aku telah datang dari jauh, jadi kupikir aku perlu mampir di Nakasato.
Apa Mereka pasti akan senang melihatmu. Boleh aku ikut Dan pemilik kedai itu pun bangkit. Lalu ia duduk beberapa saat di muka cermin.
Bangunan Nakasato bagian depan tetap seperti semula, tapi ruang-ruang tamu sebelah dalam semuanya baru.
Geisha yang lain bergabung dengan mereka. Tn.Takichiro tetap tinggal di Nakasato hingga sehabis makan malam.
Hideo datang ke toko di mana Tn.Takichiro tadi keluar. Ia memberitahu gadis itu untuk menemuinya di sana, jadi gadis itu menanti di depan.
Aku telah menyelesaikan desain obi yang telah aku janjikan saat festival Gion kemarin. Aku ingin agar kau melihatnya, kata Hideo.
Chieko, ibunya memanggil. Mengapa tidak kau ajak saja temanmu duduk di belakang
Ya baiklah.
Hideo menunjukkan desain itu pada Chieko saat mereka duduk di ruang yang menghadap taman dalam. Ia membawa dua desain. Yang satu menggambarkan bunga-bunga kiku yang teruntai di antara dedaunan. Ia dibuat dengan gaya baru sehingga seseorang tak akan mengenalinya sebagai daun-daun bunga kiku. Desain yang lain menggambarkan bunga momiji.
Bagusnya! seru Chieko kagum.
Aku senang kau menyukainya, kata Hideo. Jadi, mana yang harus aku tenun untukmu
Mmmp, aku cukup mengenakan yang berpola bunga kiku sepanjang tahun.
Jadi, aku harus menenun yang itu
Chieko tak bicara. Ia menunduk. Wajahnya tampak risau.
Keduanya bagus, tetapi..., lalu suaranya meninggi. Bisakah kau buat desain yang melukiskan gunung-gunung beserta pepohonan sugi dan cemara merah
Gunung-gunung beserta pepohonan sugi dan cemara merah Sepertinya itu sulit, tapi bisa kupertimbangkan, Hideo menatap Chieko seperti nyala kecil.
Hideo, maafkan aku.
Maaf Tak ada yang perlu dimintakan maaf.
Tapi ini... Chieko mencari kata-kata yang tepat. Yang kau janjikan untuk kau buatkan obi saat berada di atas jembatan di Shijo saat festival itu bukanlah aku. Kau mengira itu aku, padahal orang lain.
Suara Hideo lenyap; ia tak bisa memercayai ucapan gadis itu. Wajahnya tampak lesu. Demi Chiekolah ia mencurahkan seluruh jiwanya pada pembuatan desain itu. Apakah itu berarti Chieko menolaknya mentah-mentah
Tapi jika itu masalahnya, Hideo tak bisa memahami keberatan yang diajukannya dan juga caranya menyampaikan. Ia memperoleh kembali perasaannya yang keras.
Apakah aku bertemu dengan hantu Apakah hantumu yang telah bicara denganku Apa mungkin hantu-hantu bermunculan saat Festival Gion Hideo tak menerangkan kepercayaan lama perihal melihat hantu seorang kekasih.
Garis-garis wajah gadis itu menegang. Hideo, gadis yang kau ajak bicara waktu itu adalah saudara kandungku.
Hideo tak bicara apa-apa, dan gadis itu pun melanjutkan. Ia adalah saudaraku. Aku sendiri pun baru pertama kali berjumpa dengannya malam itu. Ia itu saudara kandungku.
Pemuda itu masih tak menanggapi.
Aku bahkan belum menerangkannya pada ayah dan ibu.
Apa maksudmu Hideo tercengang. Ia tak mengerti.
Kau tahu kampung penghasil kayu gelondongan Kitayama Ia bekerja di sana.
Apa
Pengakuan Chieko itu begitu tiba-tiba dan Hideo tak bisa berkata apa pun.
Kau tahu kan, distrik Nakagawa tanya gadis itu.
Ya. Aku masih selalu lewat sana kalau naik bus.
Berilah gadis itu salah satu obi hasil tenunanmu.
Hah
Kumohon berikan, satu untuknya.
Hideo mengangguk dengan tatapan curiga, tapi kemudian bertanya, Lalu, apakah kau bilang padanya bahwa kau ingin aku membuat satu obi dengan pola cemara merah dan gunung sugi Chieko mengangguk.
Baiklah. Tapi apakah ini tidak terlalu bagus untuk gadis seperti dia
Itu adalah tanggung jawabmu untuk memperhitungkannya. Ia pasti akan sangat menghargainya sepanjang hidup. Namanya Naeko. Ia bukan anak seorang tuan tanah, jadi ia bekerja keras. Lebih...
jauh lebih keras daripada seorang seperti aku ini.
Pemuda itu masih serba ragu. Aku akan membuat obi itu, karena kau yang memintanya.
Ingat, namanya Naeko.
Aku tahu. Tapi mengapa ia begitu mirip denganmu
Kami bersaudara.
Tapi meskipun saudara kan tidak...
Gadis itu tak mengungkapkan padanya bahwa mereka anak kembar.
Mungkin sama sekali bukan karena mata pemuda itu telah memperdayai pemiliknya jika Hideo salah mengira Naeko adalah Chieko dalam cahaya lampu malam itu, sebab mereka mengenakan pakaian festival musim panas yang ringan seperti juga para pengunjung yang lain.
Bagaimana bisa mereka berdua bersaudara, benak
Hideo ingin tahu. Gadis yang dilihatnya sekarang anak gadis seorang pedagang grosir penjual kimono di kota Kyoto yang indah itu, di mana toko-nya yang bergaya lama dan agak ketinggalan zaman itu berdiri dalam cerukan di belakang lapisan-lapisan pintu kisi yang indahdan seorang gadis pemagang di sebuah kampung penghasil kayu gelondongan di Kitayama. Tapi ini bukanlah hal yang bisa ia selidiki.
Kalau sudah selesai kutenun, boleh langsung kubawa ke sini tanya Hideo.
Mmmp, gadis itu berpikir beberapa saat. Bisakah kau mengantarkannya langsung pada Naeko
Ya. Bisa saja.
Nah, begitu. Chieko pun dapat mengendalikan hatinya. Ini memang agak jauh.
Aku tahu. Tapi aku bisa mencarinya dengan mudah.
Naeko akan sangat bahagia.
Apakah ia akan menerimanya Keraguan itu terasa wajar. Ia pikir Naeko akan terkejut.
Aku akan memberitahukan ini kepadanya.
Oh, jika memang begitu, aku akan dengan senang hati mengantarkan obi itu kepadanya. Apa nama rumahnya
Chieko tak tahu. Rumah di mana ia tinggal
Ya.
Aku akan memberitahumu lewat telepon atau surat.
Baiklah, kata Hideo. Akan kuantarkan padanya. Aku akan menenun sebaik mungkin, seolah ini adalah obimu, bukannya untuk kembaranmu.
Terima kasih. Gadis itu menundukkan kepalanya. Apakah kau kira ini aneh Maafkan jika aku mengganggumu, tapi, Hideo, kumohon jangan menenun untukku. Lakukanlah untuk Naeko.
Baiklah.
Saat Hideo meninggalkan toko, tentu saja ia merasa terjebak dalam sebuah teka-teki; namun demikian, ia telah mulai berkonsentrasi untuk mengerjakan polanya. Ia khawatir jika desainnya akan terlalu sederhana jika dipakai Chieko, kecuali jika ia membuatnya dengan sangat hebat. Tmpaknya Hideo masih menganggap bahwa ia tengah mempersiapkan obi Chieko. Tidak, jika ini adalah untuk Naeko, lalu ia akan mendesain obi ini dengan teknik tertentu sehingga tidak akan bertentangan dengan cara hidup gadis itu. Itulah yang dikatakannya pada Chieko.
Hideo berbelok ke arah jembatan di Shijo di mana pertama kali ia bertemu Chieko-nya Naeko atau Naeko-nya Chieko, tapi kali ini terasa panas oleh teriknya mentari tengah hari. Dengan bersandar pada pemagar di ujung jembatan, pemuda itu menutup matanya. Ia menyimak, bukan suara gerbong kereta yang bergema, melainkan suara aliran sungai yang hampir tak terdengar.
Tahun ini Chieko tak mengunjungi Daimonji. Ibu dan ayahnya pergi keluarsesuatu yang di luar kebiasaansedangkan Chieko tetap tinggal di rumah.
Kedua orang tuanya memesan satu ruangan luas di sebuah kedai teh di Kiya Nijo bersama-sama de-ngan beberapa teman bisnis terdekat.
Upacara Daimonji di tanggal 16 Agustus adalah upacara penyalaan api untuk menandai berakhirnya Festival Bon. Konon prosesi menyalakan api di gunung datang dari tradisi melempar obor-obor yang tengah menyala untuk memandu roh-roh halus dalam menembus langit malam menuju alam kematian.
Upacara Daimonji di puncak Niyoigatake di Higashiyama adalah yang paling banyak dikenal, tapi secara keseluruhan sebenarnya ada lima tempat di mana api tersebut dinyalakan. Api Daimonji Kiri di Okitayama dekat Kinkakuji, api Myoho di gunung Matsugasaki, api Funagata di Akimiyama di Nishigamo, dan api Torii di sebuah gunung di Kamisaga. Seluruh api pengirim itu dinyalakan, dan juga api unggun untuk mengarahkan roh-roh halus itu kembali ke dunia bawah. Selama 40 menit upacara, seluruh cahaya lampu neon dan lampu periklanan di kota ini harus dipadamkan.
Chieko bisa merasakan rona awal musim gugur dalam nyala api tersebut dan sinar langit di kala malam.
Sekitar dua minggu sebelumnya, pada sebuah sore sebelum permulaan musim gugur, upacaraupacara berlalunya musim panas diadakan di kuil Shimogamo.
Chieko dan teman-temannya biasa memanjat tanggul-tanggul sungai Kamo agar bisa melihat Daimonji Kiri. Ia telah terbiasa melihat Daimonji sejak masih kecil.
Upacara Daimonji akan segera tiba, serunya dalam hati setiap tahun.
Chieko melangkah keluar ke bagian depan toko dan bermain dengan anak anak tetangga yang berkeliaran di sekitar bangku-bangku. Tampaknya anakanak itu tak tertarik pada perayaan seperti Upacara Daimonji. Mereka lebih suka menyalakan petasan.
Tahun ini Festival Bon membawa kedukaan baru bagi Chieko; ia telah bertemu dengan Naeko di Gion dan diberitahu bahwa ayah dan ibu kandungnya telah lama tiada.
Ya. Esok aku akan pergi menemui Naeko,
pikir gadis itu. Aku akan menceritakan kepadanya tentang obi buatan Hideo.
Hari berikutnya Chieko keluar rumah dalam pakaian yang tak menarik perhatian. Ia belum pernah bertemu dengan Naeko di siang hari. Ia turun dari bus di air terjun Bodai.
Ini tampaknya musim orang sibuk bekerja di Kitayama. Para pria memotong kulit kayu yang kasar pada batang kayu sugi. Semuanya jatuh teronggok.
Chieko ragu, lalu berjalan beberapa langkah. Tiba-tiba Naeko datang berlari ke arahnya dengan sangat cepat.
Nona, terima kasih telah datang. Terima kasih.
Chieko menatap pakaian kerja Naeko. Kau yakin kalau...
Ya, aku telah minta izin... ketika aku melihatmu tadi. Kata Naeko sambil terus terengah-engah. Bisa kita bicara di gunung Tak akan ada yang melihat kita di sana. Ia pun menarik lengan baju gadis itu.
Naeko dengan hati riang melepas apronnya dan membentangkannya di tanah. Apron katun buatan Tamba itu sepenuhnya melilit punggungnya, jadi cukup lebar bagi kedua gadis itu untuk duduk bersama di atasnya.
Silakan duduk, kata Naeko.
Terima kasih.
Naeko melepas handuk yang melilit kepalanya, meratakan rambut dengan jemari. Terima kasih banyak untuk kedatangannya. Aku begitu bahagia. Dan matanya berkilauan saat ia menatap Chieko.
Bau tanah dan pepohonan begitu kuat menusuk wewangian gunung sugi.
Jika kita duduk di sini, orang di bawah tak ada yang bisa melihat, kata Naeko.
Aku suka rerumpunan sugi. Aku telah sering datang sebelumnya, tapi ini pertama kalinya aku berada di atas gunung, katanya sambil menatap sekitar. Dua gadis itu dikelilingi oleh batang-batang sugi yang tumbuh lurus dengan ukuran batang yang seragam.
Ini adalah hutan buatan manusia, kata Naeko.
Apa
Pohon-pohon ini berusia sekitar empat puluh tahun. Kelak mereka akan ditebang dan dijadikan tiang bangunan atau semacamnya. Jika dibiarkan tumbuh bebas, mereka mungkin akan tumbuh selama seribu tahun... besar dan tinggi. Kadang aku berpikir seperti itu. Aku paling suka jika hutan dibiarkan perawan. Tapi di kampung ini kami seolah
menanam bunga untuk dipetik.
Chieko diam saja.
Jika tak ada makhluk seperti manusia, tak akan ada pula kota seperti Kyoto ini. Seluruhnya akan tetap sebagai hutan alami dan padang-padang rumput. Dan tanah ini akan menjadi milik rusa dan babi hutan, bukankah begitu Untuk apa manusia datang ke dunia ini Betapa menakutkan... umat manusia itu.
Naeko, apakah kau memikirkan sesuatu Chieko terkejut.
Ya, kadang kala.
Apakah kau tidak suka dengan orang-orang
Aku menyukai mereka, jawab Naeko. Cintaku atas manusia lebih di atas cintaku pada yang lain, tapi bagaimana jadinya jika tak ada manusia di muka bumi ini Tiba-tiba aku memikirkan hal semacam ini setelah tidur-tiduran di gunung.
Tidakkah dalam hatimu kau memendam pesimisme
Aku benci sikap pesimis. Aku menyukai pekerjaan di sini... tapi aku heran mengapa manusia...
Tiba-tiba suasana di tengah rerumpunan sugi itu jadi begitu gelap.
Hujan sore hari, seru Naeko. Titik-titik air mulai mengendap di daun-daun pohon sugi jatuh sebagai butiran-butiran besar. Guntur bergemuruh dengan ganas.
Aku takut. Chieko jadi tampak pucat. Naeko memegang tangan gadis itu.
Nona, meringkuklah hingga seperti bola, kata Naeko, lalu menyungkupkan tubuhnya di atas tubuh Chieko, Chieko menutupi seluruh tubuh gadis itu dengan tubuhnya.
Guntur jadi sering terdengar sampai tak ada jeda antara kilatan cahaya dan bunyi ledakan. Gununggunung terlihat seperti terkoyak oleh suara itu.
Badai mendera tepat di atas kedua gadis itu.
Cabang-cabang pepohonan bergerak tak menentu dalam kepungan hujan. Setiap kali kilat mengirimkan cahaya dan menerangi bumi, menyilaukan pepohonan di sekeliling keduanya. Saat itu batang-batang pohon yang menjulang dengan indahnya tampak aneh dan tak menyenangkan. Lalu guntur berdentam.
Naeko, kita akan tersambar petir! seru Chieko cemas sambil lebih mengecilkan tubuhnya.
Ini mungkin akan menyambar tanah, tapi kita tak akan tersambar, kata Naeko tegas. Apa kau pikir kilat akan menyambarmu
Ia bahkan semakin mengeratkan tubuhnya melindungi Chieko.
Nona, rambutmu basah. Naeko menyeka bagian belakang kepala Chieko dengan handuknya.
Lalu ia sibakkan rambut itu dalam dua bagian dan menggulungnya ke atas kepala.
Hujan rintik gerimis akan turun, tapi kilat tak akan pernah menancap di dekatmu.
Chieko merasa tenang mendengarnya. Terima kasih. Terima kasih banyak. Tapi tidakkah dengan begini tubuhmu menjadi basah
Ini pakaian kerja. Aku tak peduli sedikit pun, seru Naeko. Aku sangat bahagia.
Apa yang tampak berkilat di ikat pingangmu itu tanya Chieko.
Oh, aku lupa. Ini sabit. Kugunakan untuk memotong kulit kayu pohon sugi di samping jalan ketika aku berlari menemuimu tadi, seru Naeko sambil melihat ke arah benda itu. Ini membahayakan. Lalu dilemparkannya sabit itu jauh-jauh. Sabit itu kecil, tanpa pegangan kayu.
Aku akan mengambilnya kalau pulang nanti, tapi aku tak benar benar ingin pergi.
Tampaknya guntur telah berlalu.
Chieko dapat dengan jelas merasakan pelukan Naeko, gadis gunung yang menutupi seluruh tubuhnya.
Meski ini musim panas, hujan di atas gunung membuat segalanya dingin. Tapi saat Naeko meliputi seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki, kehangatan tubuh Naeko merambati seluruh tubuhnya.
Kehangatan yang tak terkirakan. Chieko terdiam selama beberapa saat. Kedua matanya terpejam merasakan kenyamanan.
Naeko, terima kasih, katanya lagi. Aku membayangkan saat kau melakukannya dalam rahim ibu kita.
Apakah kita bukannya saling dorong dan saling tendang di dalam sana
Mungkin juga begitu, serunya sambil tertawa, menunjukkan keakraban.
Hujan pun berhenti seiring lenyapnya guntur.
Naeko, terima kasih. Kupikir aku sudah lebih baik sekarang. Chieko bergerak-gerak seolah ia hendak bangkit.
Ya, tapi untuk sementara biar begini saja. Titiktitik hujan di daun-daun masih berjatuhan. Naeko pun terus menutupi tubuh Chieko.
Chieko meletakkan tangannya di punggung Naeko. Tubuhmu basah semua. Apa kau tidak kedinginan
Aku sudah biasa. Tak apa, seru Naeko. Aku begitu bahagia setelah kau datang. Dalam tubuhku terasa hangat. Kau juga agak basah.
Naeko, apakah di tempat inilah ayah kita terjatuh dari pohon tanya Chieko.
Aku tak tahu. Waktu itu aku masih bayi.
Di manakah kampung ibu kita Apakah kita masih punya kakek atau nenek
Aku pun juga tak tahu, jawab Naeko.
Apakah kau dibesarkan di kampung itu
Nona, mengapa kau bertanya seperti itu
Chieko menelan kata-katanya setelah mendengar ucapan Naeko yang tajam itu.
Tidakkah kau punya sebuah keluarga tanya Naeko.
Chieko tak menjawab.
Aku akan berterima kasih jika kau menganggapku sebagai saudara. Aku minta maaf atas apa yang aku katakan saat Festival Gion itu.
Aku bahagia waktu itu.
Aku pun begitu, tapi... aku tak bisa pergi ke rumahmu.
Tapi jika kau mau, aku bisa mengatur semuanya... Aku akan bicara pada ayah dan ibuku...
Tidak, seru Naeko tegas. Jika kau ada masalah, seperti juga saat ini, aku akan pergi untuk melindungimu, bahkan meski aku harus mati untuk itu.
Kau paham
Chieko mulai menangis. Naeko, kau tak tahu apa yang musti kau kerjakan saat festival malam itu di mana orang mengira kau adalah aku, bukan begitu
Maksudmu ketika seorang pemuda berbicara padaku perihal obi
Ia adalah seorang penenun di sebuah perusahaan obi di Nishijin. Katanya ia akan membuatkanmu sebuah obi, iya kan
Itu karena ia salah duga.
Di lain hari ia datang untuk menunjukkan desain obi itu. Kukatakan kepadanya bahwa gadis itu bukanlah aku. Kukatakan kalau itu adalah saudaraku.
Begitukah
Aku pun memintanya untuk membuat obi untuk saudaraku, Naeko.
Untukku
Tidakkah itu yang ia janjikan
Tapi ia keliru mengira aku adalah kau.
Ia sedang membuatkan satu obi untukku dan satu obi untukmu, sekalian... sebagai kenang-kenangan bahwa kita adalah saudara.
Untukku Naeko tercengang.
Bukankah itu janji yang kau dengar saat di Gion tanya Chieko dengan lembut.
Bahkan saat ia terus menyelimuti tubuh Chieko, tubuh Naeko menjadi kaku; namun begitu ia tetap tak bergerak.
Chieko, jika kau ada masalah, aku akan dengan senang hati datang ke tempatmu; tapi aku tak bisa menerima pemberian itu sebagai penggantinya. Ini akan terasa memalukan.
Ini bukanlah pemberian untuk membalas jasa.
Tapi kenyataannya begitu.
Bagaimana cara Chieko bisa membujuk dia
Apakah kau tidak mau jika aku memberikannya untukmu
Naeko tak menjawab.
Aku menyuruh ia agar menenunnya; jadi aku bisa memberikannya kepadamu.
Bukan begitu masalahnya. Di malam festival ia mengira aku adalah kau dan bilang kalau ia ingin membuatkanmu sehelai obi. Naeko berbicara dengan nada tajam. Pembuat obi itu, atau penenun itu, benar-benar merindukanmu. Aku ini perempuan; aku tahu banyak hal itu.
Chieko menyembunyikan rasa malunya.
Kau tidak akan menerimanya
Naeko kembali terdiam.
Kukatakan pada dia bahwa kau ini saudaraku. Aku menghendaki ia menenun untukmu.
Baiklah, aku akan menerimanya, Nona. Naeko membungkukkan kepala dengan patuh. Maafkan kata-kataku tadi.
Ia akan menyerahkannya langsung kepadamu. Apa nama rumahmu
Murase, jawab Naeko. Ini menjadi obi yang luar biasa, aku yakin; tapi seorang sepertiku tak akan pernah pantas mengenakannya dalam suatu acara apa pun.
Naeko, tak ada seorang pun yang tahu ke mana garis hidup akan membawanya.
Itu benar. Itu benar, Naeko mengangguk. Tapi aku tak ingin pergi ke dunia luas. Bahkan jika aku berkesempatan mengenakannya, aku akan tetap menyimpannya sebagai kekayaan.
Toko kami tak menjual banyak obi, tapi aku akan menemukan sehelai kimono yang pantas untuk setelan obi buatan Hideo. Chieko melanjutkan, Ayahku sungguh orang yang aneh. Akhir-akhir ini ia punya perasaan tak enak terhadap kelangsungan bisnis kami. Bagi pedagang grosir seperti kami, tak akan cukup hanya dengan menjual barang-barang terbaik. Akhirnya, kami pun terus menambahkan koleksi sintetis dan pakaian-pakaian wol.
Naeko melihat ke atas ke arah cabang-cabang pohon sugi, lalu bangkit setelah menyelimuti punggung Chieko.
Beberapa tetes hujan masih berjatuhan. Kau terkena kram ya
Tidak... Aku baik-baik saja.
Bagaimana jika kau menolong bekerja di toko itu, Nona
Aku Chieko bangkit seolah seseorang baru saja menamparnya.
Pakaian Naeko lengket pada kulitnya.
Naeko tak menemani Chieko di perjalanan menuju pemberhentian bus bukan karena bajunya basah, tapi karena ia takut seseorang akan melihat mereka.
Ketika Chieko kembali ke toko, ibunya ada di belakang, di seberang ruang masuk sedang mempersiapkan makanan kecil buat para pegawai.
Ibu, maafkan jika aku terlambat. Apa ayah ada di rumah
Ia ada di belakang tirai buatanmu itu, memikirkan sesuatu. Ibu Chieko menatapnya. Dari mana saja kau Seluruh pakaianmu basah dan kusut. Kau harus berganti pakaian.
Chieko naik ke lantai atas dan perlahan berganti pakaian. Ia duduk di sana beberapa saat, kemudian turun tangga lagi. Ibunya telah selesai melayani makan dan minum pegawainya pada waktu istirahat jam tiga itu.
Ibu, Chieko memanggilnya dengan suara terguncang. Aku ingin mengatakan sesuatu pada ibu, sendiri saja.
Ibunya itu mengangguk. Ayo kita naik ke belakang.
Sikap Chieko jadi agak formal. Apakah di sini hujan turun disertai guntur, Ibu
Hujan disertai guntur Tidak. Tapi tentunya bukan itu sebenarnya yang ingin kau katakan, bukan begitu
Ibu, aku tadi baru saja pergi ke kampung sugi Kitayama. Saudaraku ada di sana. Kami anak kembar.
Aku pertama kali berjumpa dengannya di Festival Gion tahun ini. Ia bilang ayah dan ibu kandung kita telah meninggal sejak lama.
Tentu saja Ny.Shige tercengang bukan main. Ia hanya menatap wajah anaknya itu. kampung Kitayama
Aku tak bisa menyembunyikan hal itu darimu, Ibu. Aku baru dua kali bertemu dengannya, di festival Gion dan hari ini.
Lalu apa pekerjaannya sekarang
Ia sedang menjalani kerja magang di sebuah rumah di kampung sugi itu. Ia bekerja di sana. Ia gadis yang baik, tapi ia tak mau datang ke rumah kita ini.
Hmm, Ibunya terdiam beberapa saat. Bagus jika kau tahu, lalu apa rencanamu sekarang
Ibu, ini kan rumahku. Dan ibu telah menganggapku sebagai anak kandung. Wajah gadis itu jadi penuh maksud.
Tentu saja. Kau menjadi anak gadisku selama dua puluh tahun ini.
Ibu. Chieko mambaringkan kepalanya di pangkuan ibunya.
Sebenarnya, sejak peristiwa Gion itu, kadang kalasedikit tapi agak seringibu melihatmu tampak kacau. Aku pernah berpikir untuk menanyakan
apakah kau telah menemukan seorang yang kau sukai!
Chieko terdiam.
Mengapa tidak kau bawa saja gadis itu kemari sekali tempo... setelah para pegawai pulang. Mungkin waktu malam hari.
Chieko menggelengkan kepala perlahan di pangkuan ibunya. Ia tak mau datang. Ia bahkan memanggilku Nona.
Begitukah sang ibu membelai rambutnya. Ia pasti telah bicara banyak. Apakah ia mirip denganmu
Jangkerik-jangkrik lonceng dalam guci Tamba mulai mengerik.