MALAM MERUNJUNG - 6
entah ada entah tiada, bukan di sini bukan pula di sana, diceritakanlah tentang sebuah negeri bernama Estar. Tentang nama negeri ini diambil langsung dari nama sang raja yang memimpin negeri itu. Ia dijuluki Yang Mulia Estar. Ia raja yang baik. Atau setidaknya, begitulah ia pikir dirinya sebagai raja. Karena rakyatnya terlatih untuk berpikir seperti dirinya, maka rakyat pun berpikir bahwa ia raja yang baik. Kehidupan berjalan baik, atau memang begitulah semua orang memandang kehidupan, karena raja memandang kehidupan dengan cara demikian. Setiap orang yakin bahwa semua orang adalah orang yang baik, karena raja juga meyakini hal yang sama.

Hingga suatu masa, di satu hari yang baik, sang raja tengah berbaring di halaman belakang istana. Menyaksikan pergantian hari dari siang ke sore dan dari sore ke malam. Saat itu ia takjub pada warna langit yang biru, beranjak ke jingga lalu ke merah lalu ke hitam. Bertahun-tahun telah ia hidup dan menjadi raja di negeri ini, ia tak pernah memerhatikan perubahan warna pada langitnya. Kebiasaan berbaring ini lambat laun menjadi rutinitas yang menyenangkan. Rakyat pun mengetahui kebiasaan ini dan ikut berbaring di halaman belakang rumah mereka. Ikut menyaksikan langit berganti warna tanpa tahu demi alasan apa.

Lalu di saat malam, ada kekosongan yang raja rasakan. Langit malam di negeri mereka tidak seper ti langit malam yang kita kenal. Langit mereka hanya bentangan hitam tanpa bintang. Kubah gelap yang menakutkan.

Pada satu malam, dengan kekosongan yang mulai menggerayangi hatinya, sang raja tertidur. Dalam mimpinya ia melihat langit itu dihiasi titik-titik pijar. Semula hanya sedikit saja. Namun tiap titik itu membelah diri melahirkan titik pijar yang lain, sampai langit hitam itu bertabur jutaan titik pijar.

Alangkah baiknya, seru raja pada dirinya. Ia pun terbangun saat matahari sedang merangkak terbit. Langit yang jingga keemasan menerbitkan perasaan lain dalam hatinya.

Ia menyimpan perasaan ini sendirian untuk beberapa lama. Kadang di malam hari, ia keluar dari istana dan menghampiri rakyat yang juga berbaring memandang langit yang hitam. Adakah mereka merasakan kekosongan seperti dirinya Apakah mereka juga memimpikan mimpi yang sama seperti dirinya Titik-titik pijar yang akan berarak membuat malam mereka lebih semarak

Ia menanyai rakyatnya satu per satu sementara mereka berbaring. Menyapa setiap rakyatnya de ngan kalimat khas mereka, Apakah semua baikbaik saja

Semua baik-baik saja, Yang Mulia, jawab tiap diri mereka. Lalu kembali berbaring dan menatap langit malam dengan cara sebaik mungkin. Jadi mereka baik-baik saja, pikir raja. Ia mulai khawatir pada kekosongan yang ia rasakan sendiri. Dan terutama, pada mimpi tentang jutaan titik pijar yang terus saja membelah diri. Apakah dirinya baik-baik saja Tetapi pemandangan malam dengan titik-titik pijar yang bertaburan itu, alangkah indahnya, alangk ah baiknya.

Di malam lainnya, raja semakin terpukau pada mimpi yang menghadirkan titik-titik pijar itu. Andai saja ia punya nama untuk titik-titik indah itu, ia akan menamainya dengan namanya. Estar. Ia memimpikan di bawah langit yang semarak, istananya akan lebih gemerlap. Mungkin di antara titik-titik estar yang berpijar itu, akan ada satu yang bundar paling terang di antara yang terang. Lalu di halaman, akan ada sebuah kolam yang memantulkan bundaran yang terang itu. Tentu akan indah jika ada ikan yang berenang tenang di bawah pantulannya. Akan lebih indah lagi jika di tepi kolam tumbuh anyelir dan mawar yang seputih salju. Lalu pada tiap kelopak mawar ini, akan ada bulir-bulir embun yang memantulkan cahaya titik-titik yang berpijar di angkasa itu.

Demikianlah, semakin malam, mimpi raja semakin panjang. Setiap khayalan melahirkan khayalan yang lain. Namun tiap kali ia terbangun, yang ia dapati adalah langit yang polos menyerupai kubah hitam yang menakutkan.

Langit malam yang hitam di atas negerinya dan langit bertabur pijar dalam mimpinya menghadirkan jurang yang semakin menganga. Saat pagi tiba, matahari terbit membasuh jurang di hatinya dalam cahaya jingga. Ia semakin menderita. Dengan tubuh yang semakin kurus, ia turun dari singgasananya. Menghampiri tiap rakyatnya dan menanyai mereka, Apakah semua baik-baik saja

Semua baik-baik saja, Yang Mulia, jawab tiap diri mereka, kemudian kembali berbaring dan menatap langit dengan cara sebaik-baiknya. Namun para pelayan, petugas, dan penasihat kerajaan tahu kalau raja tampak tidak seperti biasa. Baginda semakin kurus, kata salah satu dari mereka. Apakah dia baik-baik saja Tentulah dia harus baik-baik saja, karena dia adalah raja. Mereka telah terlatih berpikir bahwa raja mereka raja yang baik dan akan selalu dalam keadaan yang baik.

Yang Mulia, Tuan tampak berbeda, tegur salah seorang penasihat raja.

Apakah aku tampak tak baik

Tentu saja Yang Mulia tampak baik, dan akan selalu baik. Hanya saja, Yang Mulia tidak terlihat seperti biasa.

Raja menghela napas. Mimpi yang menghampirinya tiap malam terus menggerogotinya. Sampai di satu titik, ia pun berkata pada salah satu penasihatnya, Sesungguhnya, aku tidaklah baik. Ada mimpi yang terus menggangguku dan membuatku dalam keadaan tak baik.

Mendengarnya, sang penasihat terhenyak. Ia siap mendengar jawaban apa pun, kecuali jawaban bahwa raja tak baik, meskipun ia memang terlihat begitu. Wahai Yang Mulia, mimpi apakah yang membuat Yang Mulia menjadi tak baik Mungkin kami bisa membantu mewujudkannya. Kebaikan bagi Yang Mulia adalah kebaikan bagi seluruh negeri.

Mimpi yang ia miliki sudah sedemikian banyak. Tapi lalu raja kembali pada mimpi pertamanya, Aku bermimpi melihat titik-titik yang berpijar di langit kita. Saat malam hari, kurasa, alangkah indah jika bentangan yang hitam itu dihiasi jutaan titik yang menyala.

Yang Mulia, apa pun akan kami lakukan untuk mewujudkan mimpi Yang Mulia. Demi kebaikan

Yang Mulia dan kebaikan seluruh negeri.

Maka, terbangunlah seluruh rakyat dari tidurnya. Mereka tak lagi berbaring santai saat malam dan menatap kosong pada bentangan hitam di angkasa. Mereka bekerja sama membangun sebuah menara yang kelak akan mencapai langit. Lalu satu dari mereka akan ditugasi melukisi kubah malam yang gelap itu dengan titik-titik pijar. Namun tiap kali mereka hampir selesai membangun menara, tiap kali itu pula menara mereka roboh.

Entah berapa lama telah berlalu dan rambut raja mulai memutih. Langit malam tetap saja hitam dan rakyat mulai letih. Mereka pun mulai teringat bahwa pernah dulu, mereka semua baik-baik saja. Berbaring dan menatap langit yang hitam tanpa mengharapkan apa-apa. Kini, mereka mulai bertanya, sampai kapan raja akan kembali baik Tidakkah ia memiliki mimpi yang lain, yang lebih mudah untuk diwujudkan dan akan mengembalikan mereka semua kembali dalam keadaan baik

Lalu diutuslah seseorang untuk bertanya kepada raja, satu malam ketika raja tengah berbaring di halaman belakang istana. Dengan lembut sang utusan bertanya, Masih berapa banyakkah sebenarnya mimpi Yang Mulia punya

Raja menghela napas putus asa. Mimpinya terus memperbanyak diri dan ia tak yakin angka-angka akan cukup untuk menghitungnya. Aku telah membuat kalian menderita, keluh raja.

Penderitaan raja adalah penderitaan rakyat juga, balas sang utusan.

Jika begitu, kebaikan bagiku akan menjadi ke baikan bagi kalian semua, ujar raja, tersenyum lega.

Andai saja ada cara lain untuk membuat Yang Mulia kembali baik seperti sedia kala.

Sebenarnya, kata raja. Ada mimpi lain yang terus menggangguku. Aku memimpikan tanggatangga yang memanjat ke angkasa. Lalu akan ada jalan-jalan yang menghubungkan tangga-tangga itu dan aku serta rakyatku dapat menikmati langit yang bertabur titik pijar itu dari dekat. Kau tahu bagaimana bentuk yang kumimpikan untuk titik-titik yang menyala itu raja mengambil reranting dan di atas tanah ia mulai menggambar garis-garis yang saling terhubung membentuk ujung-ujung yang runcing. Pada tiap ujungnya ada garis melengkung membentuk kail pancing. Dengan bentuk sep erti ini, kuharap tiap rakyatku nanti bisa menggantungkan mimpi mereka sendiri. Kedua matanya tampak bercahaya tiap kali ia bercerita tentang mimpinya ini. Tetapi saat ia mendongak pada langit yang hitam, cahaya di matanya itu seketika redup.

Aku tak tahu berapa lama lagi yang diperlukan untuk membangun menara itu. Rambutku kian putih dan kalian makin letih. Kau tahu mimpiku yang satunya lagi Aku bermimpi bisa hidup selamanya dan melihat semua yang kuimpikan terwujud.

Tanpa berkata-kata lagi, utusan itu menarik diri dan meninggalkan raja berbaring sendiri di taman istana. Ia pergi menemui penasihat kerajaan lain dan bercerita mengenai apa saja yang baru ia dengar.

Aku pernah mendengar ada seorang perempuan yang hidup sendirian di ujung negeri ini. Ia tak pernah mati dan telah hidup lebih lama dari ingatan siapa pun. Kudengar ia mempunyai serum yang akan membuat peminumnya hidup abadi, kata salah satu dari mereka.

Demi kebaikan kita semua, mari kita hampiri tukang tenung itu.

Perempuan itu tinggal di tengah sebuah dan au. Tak banyak yang berani mendatanginya karena mereka yang pernah mendatanginya hanya sedikit yang bisa kembali. Ada yang bilang ia mengutuk orang-orang itu sebagai anjing untuk menemaninya. Ada yang bilang mereka yang mendatanginya akan selamanya menjadi budaknya. Namun keadaan raja sudah demikian genting. Para pegawai istana itu mengayuh sebuah perahu kecil, mencoba mencapai rumah si tukang tenung yang bersembunyi di balik kabut.

Rumah perempuan itu tidak seperti yang mereka bayangkan. Kecuali kawanan anjing yang berlari mengitari rumah, semuanya tampak biasa. Perempuan yang tengah duduk memintal kabut itu menyambut mereka tanpa bangun dari kursinya. Sudah bisa kubayangkan kekacauan yang tengah melanda negeri kalian dan menyeret kalian kemari, ujar perempuan itu.

Kau juga bagian dari negeri ini. Raja kami adalah raja bagimu dan kau pun tunduk di bawah hukum-hukumnya.

Perempuan itu terus saja memintal kabut. Aku tidak berada di bawah kekuasaan raja mana pun. Yang kulihat, kalianlah yang mencoba menembus

kabut dan mendatangiku untuk memohon bantuan.

Kebaikan bagi raja adalah kebaikan bagi seluruh negeri. Kau harus mengabdi kepada raja dan menyerahkan apa yang kami minta.

Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. Seperti melayang ia bergerak pelan ke sebuah ruanga n dan kembali dengan sebuah botol kecil di genggaman. Bawalah serum ini. Berikan kepada Estar. Aku tak memberikannya demi apa pun kecuali karena aku ingin memberikannya.

Salah satu dari mereka mengambil botol serum itu darinya. Ketika mereka hendak menaiki perahu untuk kembali menyeberangi danau berkabut, si perempuan mencegah. Hanya satu dari kalian yang boleh pergi. Yang lain harus tetap tinggal di sini.

Akhirnya satu dari mereka pun pergi. Dia adalah si utusan yang pernah mendatangi raja dan mendengar tentang mimpinya. Mereka yang tinggal kemudian dikutuk oleh perempuan itu menjadi anjing. Si utusan mengayuh perahu sendiri menembus kabut yang semakin pekat. Di sakunya, ada serum yang akan membuat hidup raja abadi. Betapa baiknya semua ini, batinnya. Ia membayangkan jika mimpi raja itu terwujud nanti, ia akan menggantung mimpin ya di salah satu titik pijar yang dimaksud raja. Sesungguhnya, mimpinya ini tak kurang menakjubkan dibanding mimpi raja. Namun karena dia hanyalah penasihat kerajaan, pikirnya, kebaikan raja selalu di atas kebaikan dirinya sendiri.

Kabut yang menyelimuti danau itu semakin pekat. Ia mulai mendengar bisikan-bisikan. Tentu raja akan hidup abadi dan akan hidup selamanya. Raja tak akan kehabisan waktu untuk menyaksikan sendiri mimpinya terwujud. Sementara ia hanyalah seorang budak utusan yang akan mati tanpa menyaksikan mimpinya menjadi nyata. Tak akan ada yang mengingatnya. Ketika titik pijar itu menghiasi angkasa kelak, ia sudah tak lagi hidup untuk menggantung mimpinya.

Tak mengapa, batinnya. Kebaikan bagi raja adalah kebaikan bagi seluruh negeri.

Kabut yang pekat itu seperti tertawa. Semakin pekat seraya membisikkan, Bukankah serum keabadian itu ada di sakunya Saat ini, ia bisa meminumn ya dan hidup selama-lamanya. Tapi bagaimana dengan raja

Kabut itu kembali memekat dan berbisik, Jika ada serum keabadian, tentunya ada pula serum ketakabadian.

Tangan si utusan merogoh saku dan mengeluarkan botol kecil berisi serum keabadian. Meminumnya dan seketika kabut yang pekat itu menguap. Ia memutar haluan perahu dan kembali mendatangi rumah si perempuan yang kini dihuni lebih banyak anjing dari sebelumnya.

Sepertinya ada yang telah mendengar bisikan kabut, kata perempuan itu tersenyum.

Sepertinya kau telah tahu apa yang membawaku kembali.

Perempuan itu kembali tersenyum. Tapi kau datang sendiri. Siapa yang akan tinggal dan menjadi anjing

Aku akan membayar dengan yang lebih mahal daripada seekor anjing, kata si utusan.

Tidak ada yang lebih mahal dari kehidupan, jawab si perempuan.

Sang utusan baru saja meminum serum keabadian itu. Pikirnya, ia tak akan mati jika menyerahkan hidupnya kepada si perempuan. Kau akan mendapat yang kauinginkan. Kubayar kau dengan hidupku, kata si utusan sambil menyerahkan botol serum yang kini kosong.

Dengan senyum masam si perempuan mengambilnya. Kau lebih licik dari yang kubayangkan, katanya. Ia menghilang ke satu ruangan dan kembali dalam waktu singkat dengan sebuah botol yang jauh lebih kecil berisi cairan hitam. Bawalah serum ketaka badian ini. Berikan kepada Estar. Pergilah, budak abadi. Mulai sekarang, hidupmu menjadi milikku.

Si utusan tersadar telah masuk perangkap. Ia akan menjadi budak perempuan itu mulai kini dan selamanya. Kau yang telah memintal kabut dan membisikkan semuanya, seru si utusan.

Perempuan itu tertawa.

Kemudian berangkatlah si utusan. Budak abadi bagi si perempuan. Di sakunya ia mengantongi serum ketakabadian. Mengarungi danau yang tak lagi berselimut kabut. Membawa serum dalam botol kecil sehitam malam. Begitu sampai di istana, raja menyambutnya. Tanpa bertanya ke mana pergi utusan yang lain raja mengambil serum itu dari tangan si utusan dan meminumnya.

Si utusan bisa saja meminum serum ketakabadian itu sebelum memberikannya kepada Estar, sergah Syahrazad.

Dia terlalu pengecut untuk melakukannya, jawab si tukang cerita.

Tapi apa gunanya ia hidup abadi jika hanya sebagai budak

Dia pikir, dengan menjadi raja berikutnya, ia akan menemukan suatu cara untuk menghabisi si perempuan.

Sepertinya aku pernah mendengar kisah yang serupa, ujar Syahrazad. Bergerak ke jendela dan menatap lahan pertanian yang membentang dari balik kerai. Anak-anak dalam seragam biru kelabu itu tengah bekerja membabat tebu. Salah seorang dari mereka mencuri lihat ke arahnya. Ia mengenal dua angka pada saku bajunya.

Tentu saja kamu pernah mendengarnya. Siapa pun yang banyak menghabiskan waktu berbaring menatap bintang akan tahu kisah ini.

Syahrazad tak menjawab. Ia ingat masa kecilnya. Ketika menjadi perempuan bukanlah satu jenis kutukan. Saat itu situasi negeri cukup damai dan raja belum dihinggapi pikiran gila untuk memenggal satu perempuan setiap malam. Ia biasa berbaring menatap langit saat petang. Musim panas akan membawa angin laut ke negerinya. Bersama aroma garam, ia seperti mendengar cerita yang dibisikkan oleh angin dari negeri yang teramat jauh. Terkadang ia seperti mencium aroma tubuh seseorang. Lalu seperti mimpi, ia bisa mereka sebuah cerita dari udara yang mengandung ingatan.

Anak laki-laki yang memecahkan guci itu, bukankah sejak semula ia tahu akan bertemu dengan janda saudagar itu

Tentu saja. Dan ketika ia mengajak janda itu pergi bersamanya, perempuan itu menolak.

Hubungan mereka tak lebih dari sekedar tuan dan majikan, bisik Syahrazad.

Benar. Sampai kemudian, ceritanya berubah.

Kapalnya terempas.

Aku tak bermaksud mengubahnya. Aku hanya tak ingin si perempuan membayar dendamnya. Ketika si anak berkehendak menyelamatkan nyawa seisi kapal, hal yang jauh lebih buruk malah terjadi, jawab Syahrazad.

Tidakkah ini membuatmu terpikir Bagaimana sebuah cerita terus berubah tiap kali diceritakan Selalu ada tokoh dalam cerita yang kamu ceritakan, mengambil langkah yang tak kamu rencanakan, kemudian melahirkan cerita baru. Seperti titik pijar dalam mimpi raja yang terus membelah diri. Khayala n yang melahirkan khayalan.

Tapi aku tidak menemukan hubungan cerita yang kau kisahkan dengan mereka yang bekerja di luar. Kata Syarazad. Sementara Estar, bukankah dia seharusnya mati setelah meminum serum itu Tergantung, jawab si tukang cerita. Tergantung kepada siapa kamu akan memercayakan cerita ini.

Di luar, matahari mulai merayap turun. Hitungan baru akan segera dimulai, bersama hitungan lama yang akan berakhir. Langit beranjak merah dan Syahrazad merasakan suatu ketenangan. Entah berapa malam lagi yang harus ia lalui dengan kepala masih tetap di atas pundaknya. Cerita yang ia ceritakan selama ini terus mengalir, menyeretnya dari satu arus cerita ke cerita yang lain. Dengan cara ini ia tetap hidup. Namun ia tahu, pada satu malam cerita itu harus berakhir. Ia akan sampai di suatu cerita di mana semua cerita akan bermuara. Mungkin, dia harus mulai membuat sebuah perhitungan. Sementara di luar sana, si budak terus mencuri lihat ke arahnya.

Di situ, di dekat bangunan gelap yang runjung, ia duduk dengan dua budak lain yang tengah mendengar ia bercerita. Sesekali, ia mengeluarkan sekuncup kembang dari saku bajunya yang bertuliskan angka 19, kemudian menghirupnya dalamdalam.