Pagi ini Anka terpaksa menjual TV tersebut kepada tetangganya karena ia sangat membutuhkan tambahan uang untuk melunasi tagihan sementara perawatan ibunya yang masih terbaring lemah. Anka menunduk menatap lesu amplop berisi uang pembayaran TV yang dijualnya.
Danu menghampiri Anka, dan duduk di sebelahnya. "Liat, Ka... Gue dikasih dua puluh ribu nih sama Pak Arman, upah bantuin angkut TV ke rumahnya." Danu mengibas-ngibaskan uang 20.000-an di depan Anka memasang wajah ceria. "Lumayan kan, Ka, gue bisa traktir lo makan bakso sama es campur di kantin rumah sakit nanti."
Anka tidak berkomentar, matanya menekuri amplop cokelat yang dipegangnya dengan raut menyesal.
"Jangan sedih, Ka... lo kan masih ada TV empat belas inci di kamar lo," Danu mencoba menghibur. "Lo masih bisa nonton, kan"
"Kira-kira Ayah sama Ibu bakal marah nggak ya kalo tau gue jual TV itu" kata Anka murung, "Gue ngerasa aneh..."
Danu bergeser, duduk di depan Anka untuk melihat ekspresi Anka sepenuhnya.
"Mereka pasti tahu alasannya, dan pasti ngerti. Gue yakin, mereka juga pasti bangga sama lo, anak yang bisa diandalkan nyelesaiin masalah seberat ini."
Anka tersenyum getir menatap Danu, seakan tidak percaya Danu mengatakan hal itu. "Apanya yang dibanggain Gue nggak ngelakuin apa-apa selain jualin barang," kata Anka lirih. "Dan bisa jadi TV itu bukan barang pertama yang bakal gue jual. Gue cuma anak nggak berguna, Nu..."
Danu kembali duduk di samping Anka, merangkul bahu Anka yang lunglai.
"Hei, denger gue... TV, atau barang-barang lain di rumah ini yang mungkin kejual nantinya, nggak ada artinya kalo nggak ada usaha dari lo, Ka. Sejauh ini lo sangat dewasa ngelewatin semuanya. Gue bangga sama lo, dan gue yakin orangtua lo juga bangga sama lo."
Anka mendongak pelan, menoleh untuk menatap Danu dengan matanya yang mulai berkacakaca.
"Nggak usah sampe kayak gitu ngeliatin gue, gue jadi berasa ganteng diliat kayak gitu," kata Danu membuyarkan keterharuan Anka.
Anka mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, menghela napas, dan tersenyum lebar setelahnya.
"Kayak gini kan lebih bagus," komentar Danu ikut tersenyum. "Yuk kita jalan."
"Ke mana, Nu"
"Kata Andro ada toko bunga yang lagi cari tenaga part time. Kita ke sana, siapa tau lowongannya masih ada," jelas Danu seraya berdiri dari duduknya. "Ayo, katanya lo mau kerja, mumpung masih siang nih. Abis itu kita masih harus ke rumah sakit, kan"
Senyum Anka mengembang semakin lebar, ia bergegas berdiri. Ini saatnya berhenti menjadi Anka yang cengeng, saatnya berjuang untuk mengendalikan kembali alur kehidupannya yang sempat berantakan. Meski sulit, semuanya harus dapat dijalaninya dengan wajah terangkat penuh ketegaran.
***
Anka mengelap tangan ibunya dengan handuk basah. Dengan telaten Anka membersihkan tubuh ibunya. Seraya membersihkan tubuh ibunya, Anka duduk di kursi kecil yang sengaja ia letakkan di sisi ranjang. Anka menatap wajah pucat ibunya, menyibakkan rambut yang menutupi wajah ibunya.
"Ibu cantik, walaupun Ibu nggak buka mata..." kata Anka sambil tersenyum mendengar ucapannya sendiri. "Ibu pasti nyangka Anka bilang Ibu cantik karena Anka punya salah, tapi hari ini Ibu benar-benar cantik di mata Anka."
Air mata Anka lagi-lagi menggenang, membuat tenggorokannya terasa sakit menahan untuk tidak menangis. Anka menelungkupkan wajahnya ke tangan ibunya, merangkulkan sebelah tangannya ke tubuh ibunya.
"Maafin Anka ya, Bu. Anka cuma bisa ngelakuin ini buat Ibu," bisik Anka parau. "Tapi Anka janji,
Bu, akan bekerja keras untuk ngembaliin apa yang sudah keluar dari rumah kita... Ibu bantuin Anka ya, Bu. Anka yakin walaupun Ibu nggak sadar, Ibu bisa denger Anka, Ibu bisa doain Anka dengan cara Ibu sendiri."
***
Malam ini Danu duduk di lantai karpet kamarnya. Membuka lembar demi lembar kamus bahasa Prancis, mencari kata-kata yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan tugas bahasa Prancis yang mahadahsyat banyaknya. Danu melirik jengkel Andro yang duduk santai di sampingnya sambil membaca komik.
"Ndro, kerjain tugas dong, bantuin gue biar cepet selesai. Lo nginep di sini kan buat ngerjain tugas, bukan buat baca komik doang."
"Udah, lo kerjain aja dulu, ntar lo sisain buat gue. Lagi tanggung nih, tinggal beberapa lembar lagi," balas Andro enteng.
Dengan setengah jengkel Danu kembali memfokuskan diri pada deretan kata-kata asing yang pengucapannya pun aneh dan sulit.
"Kakak lo beneran nggak balik ya, Nu" Andro tiba-tiba bertanya.
"Tadi sih ditelepon dia bilang nggak pulang, lagi banyak kerjaan katanya."
"Weekend gini pengacara ngerjain apa Emang biro hukum tempat kakak lo kerja buka setiap hari"
"Ya nggak lah, Ndro, mana ada kantor begituan yang buka setiap hari."
"Nah, terus kakak lo ngapain sampai nggak pulang"
Danu terdiam. Sampai sekarang pertanyaan itu tetap belum ia dapat jawabannya. Ia mengerti banyak kasus yang harus ditangani kakaknya, terlebih setelah menangani kasus model terkenal itu. Tapi apakah semua itu begitu menyibukkan sampai-sampai untuk beristirahat normal di hari libur pun tidak bisa dilakukannya
"Kakak gue tuh gila kerja. Dia selalu punya alasan untuk bikin dirinya sibuk," jawab Danu agak ragu, tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Andro mengangguk, menelan jawaban Danu dengan setengah heran.
"Kakak lo hebat ya, Nu. Gue sering liat dia muncul di infotainment. Sekarang kakak lo lagi ngurusin perceraian Imelda Azizah, kan Tuh model cantik banget, Nu! Gue kalo punya muka ganteng kayak kakak lo, habis ngurusin perceraiannya Imelda, gue langsung gaet tuh model."
Danu mendengus tertawa, menyambar bantal dari atas tempat tidur, dan melemparkannya kepada Andro. "Dasar otak mesum! Sering-sering cuci otak lo, Ndro, biar nggak mikir kotor."
"Yaelah, deket-deket sama cewek secantik Imelda Azizah sih semua cowok normal bakal mikir mesum, Nu! Eh... siapa tahu kakak lo nggak pulang gara-gara kegaet tuh model."
Danu hanya geleng-geleng menanggapi pemikiran Andro yang ajaib. Suasana tenang beberapa saat. Danu kembali mengerjakan tugasnya, Andro kembali asyik dengan komiknya. Ternyata setelah selesai membaca lembar terakhir komik pertama, Andro melanjutkannya dengan komik berikutnya.
"Lowongan di toko bunga yang lo bilang udah nggak ada lagi, Ndro," ujar Danu memecah keheningan.
Andro menutup komiknya untuk pertama kalinya sejak sejam yang lalu dan mengalihkan perhatian penuh pada Danu.
"Udah nggak ada Emang kapan lo ke sana"
"Tadi siang... Anka keliatan kecewa banget, padahal dia sangat berharap dapat kerjaan." Danu menghela napas berat, menunduk lesu ketika ekspresi kecewa Anka tadi siang tergambar jelas di benaknya. "Gue kasihan sama dia, Ndro... Tadi siang dia harus jual barang di rumahnya buat nambahin biaya rumah sakit ibunya yang gede banget. Gue ngerasa nggak berguna jadi temennya, nggak bisa ngelakuin apa-apa buat dia."
"Nu, lo tuh cuma anak sekolahan, belum lulus lagi. Emang menurut lo, bisa bantuin apa buat dia" seru Andro. "Apa yang lo lakuin selama ini buat Anka, menurut gue sih, udah lebih dari cukup."
"Gue pengin bantuin Anka lebih banyak lagi, Ndro."
"Lo mau bantuin apa lagi Bantu bayar biaya rumah sakit ibunya!"
"Penginnya sih gitu," jawab Danu datar yang langsung membuat Andro dengan cekatan mendorong kepalanya.
"Jangan ngigau lo... Emang mau bantuin pake apa"
"Ya pake duitlah! Masa pake daun" gerutu Danu gemas, seraya dengan sebal mengusap-usap kepalanya yang baru saja didorong Andro lumayan keras.
"Iya pake duit, tapi dapet duit dari mana lo" sergah Andro. "Jajan aja masih minta sama kakak lo, pake acara mau bantuin bayar rumah sakit segala. Danu... Danu, realistis, Nu!"
Andro naik ke tempat tidur, menyandarkan kepalanya di antara tumpukan bantal, menatap prihatin ke arah Danu sebelum kembali fokus pada komik yang dibacanya.
Meski menyebalkan, ucapan Andro menyadarkan Danu dan mengembalikannya ke dunia nyata. Danu menghentikan pekerjaannya, pandangannya menerawang menatap dinding polos kamarnya. Berbagai pengandaian muncul di benaknya. Andai ia bukan laki-laki berusia 18 tahun, andai ia bukan murid SMA dan andai ia laki-laki dewasa yang mapan, pasti bisa dengan mudah meringankan beban Anka. Pasti ia bisa menjadi sandaran yang kuat bagi Anka. Tidak seperti sekarang, ia hanya tiang kayu reyot yang entah bisa sekuat apa untuk menjadi sandaran. * * *
"Aku nemuin kamu di sini, karena aku nggak mau kamu mengusik orang-orang terdekatku," - Damara