Seperti apa ya dia sekarang
Apa masih galak dan manja
Apa masih punya senyum manis dan tawa yang renyah
Apa dia masih marah dan membenciku
Terputar lagi dalam otakku kejadian beberapa tahun lalu, sesaat sebelum aku meninggalkan Indonesia untuk ikut dengan mamaku yang menikah lagi dengan pria berkebangsaan Amerika dan tinggal di New York. Saat itu usiaku 16 tahun, dan aku masih saja bandel. Masih teringat jelas, saat itu tak seperti biasanya aku melihat dua sepupuku yang biasanya akur terlibat perkelahian hebat. Dara bersikap menyebalkan, yang bikin Jelita marah. Entah kenapa, Dara mematahkan semua koleksi bando Jelita, dan memotong rambut BarbieBarbie koleksi Jelita, Jelita marah besar sementara Dara benar-benar tak menunjukkan muka bersalah.
Aku pinjam kamar kamu, aku nggak mau sekamar lagi sama Jelly, aku benci dia, aku nggak suka! Pokoknya sekarang aku mau tinggal di sini aja! Dara yang tiba-tiba datang membuatku menghentikan main PS yang tengah seru-serunya.
Boleh, sekalian biar rumah ini ada yang jagain, mulai besok kan udah harus aku tinggalin Rumahku dan Rumah Dara bersebelahan, cuma kehalang tembok doank. Balkon kamarku dan balkon kamar Jelly dan Dara deketan dan sejajar, aku bisa melihat perkelahian yang terjadi diantara mereka tapi aku pura-pura tak mengetahuinya.
Tiba-tiba Dara menangis, dan aku tak tau harus berbuat apa, tak biasanya dia terlihat sesedih ini, Dara gadis yang selalu ceria.
Yeah, payah kamu, belom juga aku tinggalin udah nangis! Nangisnya besok aja di bandara aku menggodanya, mencoba membuatnya terhibur, berharap bisa membuatnya tertawa.
Tapi yang ada air matanya menderas, dan aku cuma terdiam ketika tiba-tiba Dara memotong rambut panjangnya yang indah, dengan gunting yang tak kusadari sejak tadi ada dalam genggamannya.
Kenapa semua orang harus sayang Jelly ayah, tante, kamu dan jugakenapa harus Jellyapa-apa harus Jelly, apa-apa tentang Jelly! Kenapa aku nggak kayak Jellykenapa Jelly harus semanis itukenapa Jelly harus secantik ituKenapa Jelly Kenapa bukan akuAku benci sama Jelly. Dan tangisnya makin menjadi, hal ini membingungkanku.
Jelly baik, cantik, manis, kamu juga, kalian mirip lagi.
Nggak!
Aku nggak mau mirip sama Jelly, nggak mau lagi di sama-samain sama dia! Nggak ada lagi rambut panjang konyol, nggak ada lagi poni-poni, nggak mau lagi jadi semanis dia, percuma! Karena itu nggak bakal bikin Arghie suka sama aku, Arghie sukanya sama Jelly.
Aku melempar kotak tissue ke pangkuannya. Sebenarnya pengen rese ngolokin dia tapi ternyata aku nggak bener-bener tega, jadi aku cuma diam dan mendengarnya bercerita.
Tadi hari terakhir sekolah, bentar lagi aku masuk SMA dan Arghie bakal pindah daerah untuk masuk SMA di sana, tigaaaa tahun Rin aku suka sama dia, tiga tahun itu waktu yang lama, harusnya hari ada keajaiban buatku, seharusnya dia nerima cintaku, bukannya malah bilang kalo dia naksir Jelly, aku marah, marah banget sama Jelly, padahal Jelly nggak salah! Aku patahin bando-bandonya, aku potongin rambut Barbie-barbienya, aku nakal, aku jahat.
Bagus deh kalo kamu nggak jadian sama Arghie! Arghie mah nggak ada bagusbagusnya, kerenan aku kemana-mana. Aku menghiburnya dan mengusap kepalanya, sayang rambut-rambutnya yang tercecer di lantai, aku suka melihat Dara yang cantik berambut panjang dan berponi, dia terlihat semanis cewek komik blasteran manusia serigala-vampire bernama
Ranze, tokoh komik Throbbing Tonight favoritnya. Minta maaf gih sama Jelly.
Jelly nggak bakal maafin aku. Dia terisak
Jelly sayang banget sama kamu, itu kan cuman bando, cuman Barbie, kamu adiknya, dia menyayangi kamu lebih dari apapun.aku mencoba meyakinkannya.
Kamu janji ya Rin, jangan bilang-bilang, kalo aku marah cuma gara-gara Arghie naksir Jelly, bukannya aku.Dara memintaku untuk membuat janji, mengait jari.
Janji.
Kamu bakal pergi ya
Aku mengangguk, dia sebenarnya tau jawabannya.
Malam ini kamu temani aku ke Prom Nite ya, sebelum kamu tinggalin aku, anggap aja itu kado perpisahan kamu buat aku.
hmmsebenarnya malam ini aku mau ngumpul sama temen-temenku. Aku bohong, karena sebenarnya aku mau.
Ya udah gapapa, aku pulang ya mau minta maaf sama Jelly Dia bangkit dan keluar dari kamar, aku membiarkannya, tapi aku menebak dia masih di ujung tangga, jadi aku berteriak.
Jam tujuh nggak pake nunggu.
***
Jam tujuh, ternyata Jelly telah mendandani Dara, Dara secantik biasanya, sepertinya Jelly merapikan potongan rambut Dara, Jelly memang selalu bisa diandalkan, dan sudah pasti mereka telah berbaikan.
Nih aku memberikannya gelang bunga yang serasi dengan gaunnya, sebenarnya itu corsage yang di jadikan gelang.
Garin, pasangin! Jelly memaksaku memasangkan gelang bunga itu pada tangannya, dan aku mengikatkan gelang dengan pita berwarna pink itu. Foto yuk, buat kenang-kenangan. Dan Jelly memotret kami berkali-kali, fotonya masih kusimpan hingga kini, dan salah satu fotonya masih kusimpan di laciku, tak ingin ada yang tau, tapi foto itu sangat berharga buatku, saat kita terpisah jauh.
***
Prom nite tidak terlalu menyenangkan buat para cowok, begitu juga aku, tapi demi Dara, aku berada di sana, untunglah Dara menghindari Arghie, jadi kami pergi lebih awal dari aula sekolah, dan memutuskan untuk nongkrong di kelas kosong di lantai tiga
Kamu juga mesti pisah dari teman-teman sekolah kamu, bego, harusnya kamu nggak usah temani aku nongkrong di sini , harusnya kamu nongkrong bareng teman-teman SMA kamu sebelum kamu pergi, sorry udah bikin kamu di sini.
Karena aku nggak bisa ngasih kamu kado perpisahan makanya mending aku temani kamu aja biar gratisan, ahahahaha.
Iiiiih dasar!
Aku masih ingat waktu itu ketika suara musik dari Aula terdengar, lagu lama dari The Cardigans, soundtrack-nya Romeo and Juliet yang juga lagu Favorite Dara, Love Fool.
Kita anggap aja ini prom nite beneran, temani aku dance dong pinta Dara, dan aku tak menolak, entah terbawa suasana atau bagaimana, di akhir lagu setelah kita berdansa, tiba-tiba aku menciumnya tepat di bibirnya, Dara juga tak menyangka, setelah itu semuanya berubah menjadi serba kaku, dia tak lagi bicara sampai aku mengantarnya pulang, dan dia juga tak mengantarkanku ke bandara, kupikir dia marah, Dara mungkin membenciku, tapi entahlah, hal itu terjadi begitu saja, akupun tak merencanakannya.
Pulang lagi ke Indonesia untuk menemuinya, melihatnya menikah, tapi bukan denganku rasanya sulit, tapi aku harus berada di sana, aku pernah menikah dengannya di belakang rumah, itu kenangan berharga, rasanya ingin kembali dan menjadikannya nyata.