THE HALF BLOOD PRINCESS - 6
Entahlah, rasanya sangat aneh ketika Dante menungguku di depan kelas sepulang sekolah.

Temani gue makan siang yuk, dan loe nggak boleh nolak! yeah aku nggak menolaknya, mungkin karena aku juga kelaparan, tentu saja aku kelaparan, pagi tadi aku memuntahkan sarapanku, tapi mungkin juga karena aku memang ingin makan siang dengannya dan jangan tanya kenapa karea aku juga tak tau jawabannya.

Ghie, loe lupa kalo Selasa kita selalu ngabisin waktu di salon bareng tanya Eve dalam nada campuran mengingatkan dan protes.

Gue nggak lupa tapi gue pengen buat pengecualian buat hari ini jawabku cepat dan mengikuti langkah Dante.

***

Gue yang traktir loe makan siang, jadi loe nggak boleh muntahin makan siang loe!ada ancaman dalam suaranya, ketika aku bangkit dari kursi hendak melangkah ke toilet, dia membaca apa yang akan kulakukan, apa yang dipikirnnya tentang aku apakah dia benar-benar peduliatau ada sebab lainnya

Aku menatap cermin di wastafel, aku membatalkan rencanaku, mungkin ada baiknya jika kali ini aku mengikuti kata-kata yang kurasa cukup benar itu.

Kembali dari toilet aku melihat Dante sedang melahap dessert-nya dengan lahap, aku duduk di depannya melihatnya menikmati vanilla ice cream-nya seperti seorang anak yang berumur lima tahun, dia terlihat sangat kekanak-kanakan, mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa cowok itu adalah anak-anak yang terjebak dalam tubuh pria dewasa.

Dante menghentikan suapannya, dia menatapku memberikan senyuman konyol jail menyebalkan yang cuma bisa diekspresikan oleh dirinya.

Ngapain loe ngeliat gue kayak gituloe mau gue suapin

Aku nggak menjawab cuma tersenyum singkat, sejenis senyuman yang harus dilakukan ketika aku tak tau harus berkata apa.

Dulu, pas gue masih kecil banget. . .gue pernah lewat tempat ini, saat itu siang terik, gue, nyokap, ma ade gue, si Lola. . . sejak dua hari berjalan tanpa arah, setelah kita pergi dari rumah, setelah nyokap gue dapat tamparan dan bekas lebam di matanya dari orang yang. . . dia bokap gue, walaupun dalam hati gue, ada rasa berontak ketika mencoba untuk mengakuinya, hari itu kita berjalan terus dan kadang berhenti sebentar untuk duduk di taman, halte, atau dimanapun tempat yang memungkinkan untuk seorang ibu menenangkan anak cewek dua tahunnya, dan anak cowok berumur tiga tahun yang terlalu kelelahan dan tak mengerti. Gue menangis keras di depan situ Dante menunjuk arah, mataku mengikuti jarinya. Kutatap mukanya, raut muka Dante berubah sangat cepat, nggak ada lagi ekspresi konyol menyebalkannya, yang ada hanya wajah campuran kesedihan dan sebuah keseriusan Gue ngeliat seorang anak seumuran gue lagi makan ice cream kayak gini dia mengangkat sendok ice cream-nya, yang ice cream-nya sudah mulai meleleh dan gue pengen banget, gue kehausan, dan gue hari itu cuma makan beberapa keping biscuit murahan, gue menangis sejadi-jadinya, tapi gue tetap nggak dapat ice cream yang ada nyokap gue malah nyeret gue, saat itu nggak cuma gue yang nangis Lola juga, nyokap juga, hari itu rasanya sangat panjang, gue ngerasain banget apa arti ketika loe pengen sesuatu tapi loe nggak bisa ngedapetinnya, dan itulah sebabnya kenapa gue sangat peduli, malah sebenarnya gue sangat marah ketika gue tau elo muntahin makanan yang bisa loe dapatin dengan mudah tapi loe sia-siain, sementara di luaran sana ada banyak orang yang harus menahan rasa laparnya. Dante menatapku tajam, aku tak sanggup menatap matanya, entah ini perasaanku atau inilah kenyataannya, sekilas aku melihat matanya berkaca-kaca, aku merasa berdosa.

Maaf

Nggak ada yang perlu dimaafin, seenggaknya sekarang gue nggak lagi jadi bocah yang ngiler yang cuma bisa berdiri di depan sana, mama gue menikah lagi dengan pria yang baik, pria yang gue anggap ayah gue, sorry gue nggak maksud buat nyeritain kehidupan gue, tapi gue cuma pengen loe tau tentang apa artinya sebuah makanan, tentang apa artinya menghargainya, cuma itu, bukan maksud buat ngajarin loe.

Thanks a lot. Cuma itu yang bisa aku katakan, aku hanya tak menyangka bahwa cowok kayak Dante pernah mengalami hal yang menyedihkan di masa lalunya.

Boleh minta satu hal gue mohon pinta Dante, aku mengangguk Temani gue ke pemakaman.

***

Aku pikir kita akan mengunjungi seseorang yang sudah wafat, tapi ternyata aku salah, Dante benar-benar tak bisa ditebak. Dia mengajakku melintasi deretan kuburan hingga ke suatu tempat yang menyisakan sedikit tempat kosong. Dia mengambil penggaris besi dari tasnya, dan mulai menggali tanah yang tak seberapa besar dan tak seberapa dalam, setelah kuburan mini itu jadi, dia mengeluarkan sebuah boneka Barbie, yang masih baru, aku melihat stiker harganya.

Ghie anggap aja kita nguburin diri loe yang kayak putri plastik ini, gue emang nggak berhak, tapi gue pengen loe berjanji untuk berhenti mencoba jadi putri plastik lagi, loe mesti sembuh dari anorexia loe, demi seorang anak yang pernah merasakan kelaparan di masa lalu, demi orang-orang yang tidak bisa merasakan nikmatnya makanan walaupun mereka menginginkannya, dan demi diri loe sendiri, ini semua karena gue peduli, karena gue sayang sama loe

Kata-kata terakhirnya membuatku terkejut, Dante yang menyebalkan, Dante yang selalu membuatku kesal aku hanya tak pernah menyangka.

Aku meraih Barbie yang ada di tangannya, dan menguburkannya dengan tanganku sendiri, aku tak peduli dengan tanah yang akan mengotori tanganku. Aku belum yakin apa aku bisa berjanji tapi aku akan mencobanya, walaupun alasanku memuntahkan makanan bukan karena aku ingin menjadi si gadis Barbie, tapi setidaknya aku berusaha untuk menghargai apa yang Dante lakukan untukku.