SEDUCING CINDERELLA - 6
Lucie tak bisa mengingat kapan terakhir kali merasa segugup ini sebelumnya. Perutnya terpilin luar dalam ia pikir untuk memastikannya jika melihat ke bawah ia dapat melihat kekusutan dimana normalnya ada perut yang rata.

Reid menuntunnya pelan dengan tangan yang besar pada punggungnya yang sebagian besar telanjang melalui labirin restoran sampai pemilik menunjukkan meja mereka. Setelah memegang bangkunya dan duduk sendiri, Reid berjalan dekat meja persegi berlinen pada bangkunya yang berseberangan dengan Lucie.

Ia heran dengan cara bergerak Reid yang anggun dan dengan mudahnya memakai pakaian mahal yang dia beli saat mereka keluar. Kemeja putihnya pas memeluk tubuhnya, menempel pada otoototnya setiap kali bergerak. Meskipun mereka berada di hotel bintang lima, ia senang karena Reid tidak benar-benar menggunakan pakaian resmi, membiarkan kancing atasnya tidak terkancing dan membiarkan kemejanya terbuka di atas jins gelapnya.

Dengan rambutnya yang disisir ke atas, menunjukkan garis depan kepalanya, dan tatonya terlihat melalui kemejanya, Reid adalah simbol seorang bad boy. Jelas merupakan kebalikan dari tipe pria kesukaannya. Meskipun entah bagaimana Lucie menemukan Reid benar-benar lezat.

Seperti ciumannya.

Lucie dengan cepat mengambil menu untuk menyembunyikan panas di seluruh wajahnya saat mengingat bibir Reid di bibirnya. Ia tahu Reid melakukannya untuk menutup mulut Lucietidak secara seksualtapi saat mulut Reid menyentuh miliknya dunia di sekitarnya menjadi terlalu fokus hanya pada bibir Reid. Sedikit reaksi, gerakan intim membuatnya terkejut, setidaknya begitu.

"Jadi apa yang kau inginkan" katanya

Membersihkan tenggorokannya dengan hati-hati Lucie menurunkan menu dan memilih yang pertama yang ia lihat. "Chicken Marsala terlihat enak."

"Itu terlihat enak, tapi aku pria penyuka steik." Pelayan datang dan meminta pemesanan minuman. "Whiskey sour untukku dan sebotol wine Moscato untuk adikku."

Pelayan itu terlihat tidak lebih tua dari dua puluh dua tahun untuk Lucie yang dua puluh sembilan, tapi pelayan itu memberikan Lucie senyum mengundang, kedipan, dan berkata, "Dengan senang hati. Saya akan kembali dengan wine Anda."

Diam, Lucie menungu sampai pelayan itu keluar dari jarak dengar sebelum berkata, "Jika ini terlalu memalukan terlihat di tempat seperti ini denganku, kau seharusnya tidak membawaku."

Tangan yang sedang memegang gelas yang setengah di mulut Reid menegang dan alisnya naik. "Kenapa aku harus malu terlihat dengan wanita cantik"

"Ya, benar." Ia mendengus dan menyibukkan dirinya dengan membuka lipatan serbet gelap dari desain mustahil gaya origami. Kenapa restoran ini membuat orang merasa tidak layak sebelum minuman mereka datang "Aku melihat jenis wanita yang kau dan Jackson kencani. Mereka setara dengan fans wanita di rodeonya

MMA. Bom seks berdada besar yang memiliki gelar master dalam Acrobat di kamar tidur." Setelah meletakkan serbet yang tak terlipat di pangkuannya, ia melihat Reid yang tetap terlihat bingung. Ia menghela nafas dan menjelaskan, "Kau memutuskan memanggilku adik di depan pelayan karena kau tidak ingin kencanmu ternoda dengan Plain Jane sepertiku."

Lucie bersumpah ia mendengar Reid menggeram dan jika wajahnya menunjukkan sesuatu, itu terlihat seperti ia mungkin sedang membangunkan beruang tidur. "Mari kita perjelas satu hal," katanya, meletakkan gelas. "Aku tak ingin mendengar istilah Plain Jane yang mengacu padamu lagi. Pria manapun, termasuk aku, akan bangga memilikimu dipelukannya."

Meskipun ia tahu reaksi Reid sebagai suatu hal yang protektif, lebih seperti yang akan Jackson lakukan, ketulusan dalam suaranya menyentuh dirinya...sampai pikiran lain kepalanya muncul setelah sekian lama bersembunyi. Stephen tidak memandangnya seperti itu.

Seperti membaca pikirannya, Reid berkata, "Dan segera dokter milikmu akan mengeluarkan kepala dari pantatnya dan menyadarinya, juga." Reid berhenti untuk mengibaskan serbet dipangkuannya dengan mudah. "Tapi untuk sekarang, kau harus main mata tanpa malu-malu dengan pelayan itu."

"Apa" ia berbisik sambil bersandar di meja. " Kau pasti tidak serius."

"Aku sangat serius. Kau lihat caranya melihatmu berubah ketika ia tahu bahwa kau bukanlah teman kencanku Dia hampir berliur di meja kita."

"Kau pasti sudah gila. Tidak," ia menggelengkan kepalanya. Ketika Reid hanya memberikan tatapan menyebalkan Oh, benarkah ia langsung menghentikan diri untuk menancapkan garpu di kepalanya. "Demi Tuhan, apa tujuannya main mata dengan orang asing"

"Bermacam-macam, tapi pertama dan paling penting adalah, itu akan menunjukkan pada teman kencanmu bahwa kau menggairahkan orang lain. Ini pelajaran kedua: Pria selalu menginginkan apa yang tidak bisa mereka dapat, atau apa yang diinginkan pria lain. Itu adalah fakta ilmiah."

"Tidak."

" Well, seharusnya seperti itu," Reid berkata menyeringai.

"Sekalipun kau benar, aku tak tahu bagaimana caranya menggoda, Reid. Jadi ini tidak akan berhasil." Tidakkah restoran ini dingin Ia hampir terbakar. Mungkin ia akan reda dengan sesuatu. Lucie mengambil air dinginnya dan menelan beberapa tegukan, mencoba menenangkan perasaannya luar dalam.

"Itulah gunanya aku di sini, Sayang. Sekarang, ada dua jenis pendekatan. Bahasa tubuh dan kata-kata. Malam ini aku hanya ingin kau mencoba menggunakan bahasa tubuh. Kau bisa menceritakan cerita anak-anak Ibu Angsa, tapi jika kau memberikan sinyal yang benar, seorang pria tidak punya kesempatan."

Dengusan kecil keluar, tapi Lucie segera menenangkan dirinya. Membersihkan tenggorokannya Lucie berkata, "Jadi apa yang seharusnya kulakukan Menyelipkan rambutku dan terkikik dengan nada tinggi pada apapun yang dia katakan"

"Hanya jika kau berniat akan mendekati kapten tim football di

SMA."

Lucie memberikan evil eye terbaiknya, berharap Reid menghentikan gagasan anehnya. Kesempatan kecil.

Reid bersandar, mengistirahatkan sikunya di meja dan menepuk tangannya ke depan. " Ini mudah Lu. Memulai pembicaraan seperti yang biasa kau lakukan, tapi tambahkan sesuatu. Buat kontak mata dengannya dan tahan. Ketika matamu mengarah kemana-mana itu memberitahu orang lain bahwa kau gugup atau tidak nyaman. Kau harus menunjukan rasa percaya diri."

"Itu saja Kontak mata Aku bisa melakukan itu."

"Tidak, itu belum semua. Kau butuh untuk mengarahkan perhatiannya pada seluruh aset kecantikan yang kau punya." Ia memutar matanya, tapi Reid membiarkannya dan melanjutkan.

"Untuk mengarahkan perhatiannya pada matamu, kau tahan tatapannya atau berikan dia sedikit pandangan di bawah bulu matamu. Pria akan gila ketika wanita bersikap malu-malu kucing."

Lucie berpikir tentang semua wanita yang melakukan hal seperti itu ketika bicara dengan Stephen dan caranya membalas senyum sementara mereka sedang berpikir bagaimana berhubungan seks di otak mereka. Ia tidak pernah berpikir untuk menggunakan bahasa tubuh. Ia selalu menngunakan kepandaiannya dan berasumsi itu yang mereka bicarakan supaya terhubung.

Lucie hampir saja memukul kepalanya sendiri. Seperti orang idiot. Tapi tidak lama lagi. Tentu, itu agak membuatnya kesal bahwa dia harus menggunakan tipu daya fisik untuk mendapatkan perhatian seorang pria. Toh, itu adalah hal-hal intelektual ia menghargai tentang Stephen, dan dia berharap itu akan sama baginya. Tapi begitu dia mendapat perhatiannya dan ia merasa bahwa ada percikan dengan dirinya, sisanya pasti akan berjalan dengan sendirinya. Ide bagaimana dia belajar menciptakan koneksi dengan Stephen mulai membuatnya bersemangat.

"Malu-malu kucing, aku mengerti. Apa lagi

"Arahkan perhatiannya di mulutmu dengan senyum, makan, minum, menggigit bibir, menjilat bibirmu...sebenarnya itu tidak sulit untuk membuatnya fokus di sana karena salah satu yang pertama seorang pria pikirkan adalah bagaimana mulut seorang wanita saat berada di sekitar"

"Reid!"

Dia besandar dan tertawa, bersuara, serak yang tak bisa membuatnya tenang. Secara mental Lucie menambahkan "tertawa" sebagai cara mencari perhatian mulut seseorang saat matanya terpaku pada bibir penuhnya yang terbingkai sempurna, gigi putih. Dan memperhatikan mulutnya hanya membuatnya ingat akan ciuman panas yang dia berikan padanya di toko, yang membuat suhu ruangan meningkat beberapa derajat. Sial!

"Oke, di sinilah pria milikmu dengan minuman kita. Dia akan menunggumu untuk menerima wine. Aku ingin kau seperti Jessica Rabbit dan berikan dia pertunjukan."

Mulutnya ternganga lebar. "Kau menginginkan aku untuk bersikap seperti karakter kartun Who Framed Roger Rabbit"

Ekspresi Reid sebenarnya terlihat seperti dia tidak percaya keraguraguannya pada pilihannya dalam dewi seks. "Dia seksi. Setiap pria ingin mendapatkan Jessica Rabbit."

Dia benar-benar gila; pasti seperti itu. Lutut-berkedutnya bereaksi untuk membantahnya tapi terpotong karena pelayan sudah tiba. Pelayan itu menata minuman Reid di depannya tanpa terlalu memperhatikan. Kemudian pelayan itu memberikan sebotol wine pada Lucie, menerocos tentang tahun pembuatan dan asal kebun anggur seakan Lucie tahu perbedaannya dan sesuatu yang keluar dari sebuah kotak, dan menuangkan sedikit untuknya untuk dicicipi dalam gelasnya.

Oke, aku bisa melakukan ini. aku bisa. Jessica Rabbit...tenang, gerakan yang disengaja, tatapan di ranjang...tidak masalah. Oh, Tuhan, aku berkeringat.

Mencoba yang terbaik untuk melupakan peluh yang jatuh di antara payudaranya, dengan pelan Lucie meng ambil gelasnya, menahan pandangan pelayan itu, dan menyesap wine dengan ujung bibirnya. rasa manis wine mengalir di lidahnya dan menyebar di tenggorokan dan perutnya. Lucie menutup mata dan mendesah puas sebelum meletakkan gelasnya. Membuka matanya lagi, ia tersenyum dan bertanya, " Maaf, siapa namamu tadi"

"Daniel." Dia menelan ludah dengan keras, jakunnya naik turun ditenggorokannya. "Nama saya Daniel."

Lucie memainkan ujung rambutnya dan memberikan senyum yang ia harap memabukkan. " Well, Daniel, winenya manis, terima kasih. Biasanya kakakku agak kikuk, aku yakin kakakku bisa mengisi gelasku sementara kau melayani pelanggan lain. Kami akan membutuhkan beberapa menit untuk memutuskan pesanan kami."

Daniel membungkukkan tubuhnya dan tersenyum. "Tentu saja. Saya akan kembali sebentar lagi untuk mengambil pesanan Anda. Dan tolong, jika ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk Anda, jangan ragu untuk meminta."

Segera setelah Daniel pergi, Lucie menghabiskan winenya dengan sekali teguk. Sementara itu, Reid memberikan tepukan pelan. "Brava, Sayang. Kau bisa memintanya untuk menjilat sepatumu dan dia akan berterima kasih untuk kesempatan itu. Bagaimana rasanya"

"Mengerikan," Lucie menggerutu sambil mengisi gelasnya.

"Ayolah. Aku tahu itu bukan kebiasaanmu, tapi jujurlah padaku." Reid bersandar, lengannya berada di meja. " Jujurlah dengan dirimu sendiri."

Lucie minum beberapa tegukan wine dan merasakannya mengalir di pembuluh darahnya, mengendurkan ketegangan tubuhnya. Menempatkan gelas di meja Lucie bertemu pandang denagn Reid dan memikirkan apa yang ditanyakannya.

Reid benar. Lucie tidaklah jujur.

"Itu...mengesankan. Menghanyutkan."

"Tepat sekali. Ingat, bahkan jika kau berkencan dengan dokter itu, tidak ada salahnya dengan sedikit rayuan diluar untuk mengingatkannya bahwa dia bukan satu-satunya ikan di laut. Sekarang, bawa mainanmu kembali kesini, karena aku lapar."

Sisa malam berlalu dengan percakapan yang ringan dan tawa rahasia dengan kekaguman Daniel pada Lucie. Ketika Daniel memberi Reid tagihan, Daniel menyelipkan kartu namanya dengan nomor tertulis dibelakangnya. Memang gila seperti kedengarannya, rasa pusing mengalir di dalamnya. Ini adalah pertama kalinya seseorang secara langsung tertarik padanya.

Ia akan menyimpan kartunya, mungkin melaminating dan menempelkannya ke dalam frame di cermin kamar tidurnya, tapi Reid mengambilnya, melemparnya, dan meninggalkan di piringnya. Lucie ingin membantah ketika Reid berkata, " Kita sedang mengail si dokter orthopedik, ingat Hal kecil seperti seorang pelayan, kita buang saja. Selain itu, dia tidak lulus inspeksi kakaknya."

Luci tidak bisa menahan tawanya. Apakah itu makanan yang enak, wine yang bagus, perusahaan yang bagus, atau kombinasi dari ketiganya, ia merasa sangat tenang. Sesuatu yang jarang ia rasakan di luar. Mengeluarkan sedikit kepercayaan diri membuat ketagihan dan ia tidak sabar menginginkan lebih.

Reid berdiri dan memegang tangannya. "Ayo, pergi dari sini."

Lucie tersenyum dan menyelipkan tangannya pada Reid dan melangkah menuju pintu keluar. Saat mereka berjalan di area tunggu

Lucie mendengar seorang anak berseru, " Ayah, lihat! Itu Reid Andrews!"

Berbalik ia melihat seorang anak laki-laki tidak lebih dari sepuluh tahun berlari di tempat mereka dengan pandangan kagum di wajahnya.

Reid mengepalkan tangannya pada anak itu untuk mengadu telapak tangannya. "Hei, pria kecil, bagaimana kabarmu Kau penggemar UFC"

"Benar! Kau adalah petarung favoritku!"

Kemudian Ayah anak itu datang. "Maaf mengganggumu, Mr. Andrews. Saya pikir Austin hanya melihat sesuatu, tapi ternyata memang Anda. Kami adalah penggemar beratmu."

"Tolong panggil aku Reid. Aku selalu senang melihat penggemarku. Kau berlatih Austin"

"Uh-huh. Sekarang aku sabuk ungu di Tae Kwon Do, tapi aku ingin belajar bela diri yang lain sehingga aku bisa menjadi sepertimu saat besar nanti."

"Well, kau teruskan latihanmu dan berusaha keras dan aku tidak ragu kau akan menjadi seperti itu. Hanya ingat keahlian yang kau pelajari harus digunakan dengan bertanggung jawab dan jangan pernah menggunakannya untuk melawan orang lain di luar dojo."

"Aku tahu. Senseiku mengatakan pada kami hal yang sama. Aku tidak percaya ini benar-benar kau! Man, aku harap temanku ada di sini. Mereka tidak akan percaya aku bertemu danganmu."

"Begini saja, biarkan teman kencanku yang cantik ini memotret kau, aku, dan ayahmu. Dengan cara itu kau bisa mendapat bukti yang kuat."

"Ya!"

Lucie sangat kagum dengan cara Reid menuruti anak kecil itu ia hampir tidak menyadari Reid sedang bicara dengannya. "Oh! Ya, itu ide yang bagus. Bolehkah aku menggunakan ponselmu" Ia meminta sang Ayah.

Muka ayahnya murung saat ia melihat anaknya. "Maaf, Nak, aku meninggalkan ponselku di rumah supaya kita tidak terganggu saat makan." Dia menjelaskan kepada Reid," Saya hanya mengajaknya setiap minggu jadi saya tidak mau apapun mengganggu makan malam bersama kami."

Pandangan kecewa yang terlihat di wajah anak itu membuat Lucie sedih. "Bagaimana kalau aku memotretnya dengan ponselku dan nanti aku akan kirimkan lewat e-mailmu. Bisa

"Ya, bisa. Terima kasih banyak."

Reid berpose dengan anak dan ayah itu dengan gambar yang bagus di depan aquarium ikan raksasa, dan Reid menyarankan pose lucu hanya dia dan Austin. Lucie tertawa saat Reid membungkukkan badan setara dengan Austin dan mereka berpegangan tangan dan membuat wajah petarung dengan hidung mereka mengerut dan lidah terjulur.

Setelah mendapatkan alamat e-mail dan memastikan kedua foto terkirim, mereka berpisah pada Austin dan ayahnya dan meninggalkan restoran.

Saat mereka berjalan ke mobil Lucie memperhatikan Reid dengan ujung matanya. Tiba-tiba Reid berhenti dan mengambil tas makanan dari tanah yang akan ia injak. Mengatakan padanya untuk berhenti, Reid berjalan kembali ke jalan dan melemparkannya ke tempat sampah.

Ketika Reid kembali, ia berkata, "Itu adalah hal yang baik darimu, Reid."

"Apa, itu Aku tidak mau kau menginjaknya. Selain itu, aku tidak menyampah. Itu malas, dan aku benci orang yang, msalnya, menolak untuk mengeluarkan sedikit tenaga untuk berusaha membuang sesuatu dengan benar."

"Aku bicara tentang apa yang kau lakukan pada Austin dan Ayahnya."

"Oh, itu." Reid berkata, tersenyum. "Aku tidak sebaik seperti yang kau pikir, Lu. Aku hanya sedikit bertemu mereka seperti yang mereka lakukan padaku. Terutama anak-anak."

"Tidak khawatir tentang bagaimana kesan seorang petarungan ekstrim bagi anak-anak"

Reid menyelipkan tangannya padanya dan Lucie terkejut betapa alaminya itu. "Banyak orang punya masalah dengan MMA. Mereka bilang itu adalah pertarungan kejantanan manusia. Tapi mereka tidak memperhatikan pada ekstrimnya aspek disiplin dan teknik dari apa yang mereka lakukan, atau betapa luar biasanya olahragawan yang dikeluarkan untuk menjabat tangan orang yang hanya ingin mengalahkanmu. Selama anak-anak peduli, seperti Austin yang memang melakukannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Reid mengangkat bahu. "Banyak orang yang tidak mengerti. Tapi aku senang berpikir kalau mereka orang minoritas."

Mereka sampai di mobilnya dan seperti seorang pria sejati, dia membuka pintu. Sebelum naik Lucie berbalik, memiringkan kepalanya sedikit sambil memperhatikannya. " Kau sangat menyukainya kan"

"Aku selalu menyuki olahraga." Selama beberapa saat Reid mengarahkan tatapannya ke langit sebelum kembali memperhatikannya dengan senyum sedih. " Seberapa aku menyukainya itu akan terlihat."

Itu mengganggunya melihat Reid diluar kebiasaannya setuju untuk memberi ciuman. Lucie seharusnya mendaratkan di pipinya, tapi wine pasti mambuatnya kacau karena Lucie mendaratkannya ke mulutnya yang lezat.

Selama beberapa detik mereka tetap seperti itu, waktu berhenti, bibir saling menekan, sampai suara alarm mobil orang lain berbunyi membuat akalnya kembali. Lucie menarik diri dan menyentuh jarinya ke bibir seperti ia sedang berbuat sesuatu yang memalukan. "Aku tidak mengeluh," Reid berkata, "tapi untuk apa itu"

Lucie menguatkan kakinya sebelum menatapnya di bawah bulu matanya. "Karena kau pria yang baik dan ucapan terima ksih untuk hari yang indah."

Senyum nakalnya membuat nafasnya berhenti di bawah cahaya bulan. "Kalau begitu Miss Lucie Miller, aku akan pastikan kau selalu mendapatkan hari yang indah."

Lucie tertawa dan naik ke dalam mobil, tapi kesenangannya berhenti mendadak bahkan sebelum Reid memutari mobilnya, jika itu bukan karena pelajaran yang baru saja ia terima, ia tidak tahu apa itu. Ya, ia baru saja memberikan bukti rayuan masternya berhasil. Dan benar-benar menelannya mulai dari kail, senar, dan pemberatnya sekaligus.

Sekarang ia mengetahui apa yang dirasakan para wanita yang menerima pesona Stephen. Lucie tidak bisa menunggu untuk mendapatkan senyum lesung pipinya. Satu-satunya yang mengatakan Stephen tidak bisa menunggu untuk melahap tangkapan terakhirnya malah pertemanan yang ia peroleh. Ya, tuan, dokter itu tidak tahu apa yang sedang menimpanya saat dia melihat Lucie. Ia tidak sabar menunggunya.