Kemampuan melakukan sholat dengan kepasrahan total dan penuh keyakinan tidaklah mudah. Perlu belajar dan terus dilatih. Tidak selamanya, tinggi ilmu seseorang menjamin bahwa sholatnya lebih berkualitas dibanding orang awam.
Terkadang, orang yang awam dan lugu malah mampu menjalankan sholat dengan baik. Keterbatasan ilmu justru menjauhkannya dari sifat sombong dan merasa lebih hebat dari yang lain. Dengan begitu, hatinya
20
lebih bersih. Bersihnya hati membuka jalan bagi terkabulnya doa dan hajat yang dipanjatkan kepada Allah.
Berikut kisah yang dialami oleh rekan saya dari Cirebon. Namanya Kasdi. Usianya 32 tahun. Kasdi hanya sempat mengenyam pendidikan hingga SD. Dia kurang fasih berbahasa Indonesia. Bahasa Cirebonnya pun kadang sulit dipahami.
Selama ini, Kasdi belum mengenal sholat dan belum bisa membaca Al-Quran. Sewaktu Kasdi melamar bekerja, dia ditanya, apakah nantinya mau belajar sholat dan belajar membaca Al-Quran. Spontan Kasdi menjawab, Mau. Saya mau belajar.
Mulailah Kasdi belajar dengan bimbingan langsung atasannya, bernama Mugeni. Mula-mula ia belajar niat sholat dengan Bahasa Cirebon. Untuk menghapal niat berbahasa Arab, Kasdi merasa kesulitan.
Waktu berjalan, Kasdi mulai belajar mengenal Huruf Hijaiyah. Saat ini, hapalan Kasdi baru sampai huruf ke-17. Dengan kondisi tersebut, ia belum bisa melakukan sholat dengan bacaan yang seharusnya dibaca.
Sembarang, yang penting sholat dulu.
Suatu ketika, Kasdi hendak melangsungkan pernikahan. Ia sudah sepakat dengan calon istri dan keluarganya. Tidak berapa lama kemudian, tiada angin dan tiada hujan, calon istri Kasdi menelepon dan minta, pernikahannya dibatalkan tanpa alasan.
Kabar ini membuat Kasdi galau dan sedih berat. Saat itu juga Kasdi pulang dengan perasaan bingung dan sedih menjadi satu. Kasdi kehilangan arah.
Sesampainya di rumah, Kasdi teringat pesan Mugeni, kalau sholat bisa menenangkan hati dan pikiran. Tanpa menunggu lama, Kasdi pun langsung sholat, tanpa tahu sholat apa. Yang dia tahu ketika itu, hanya sholat menghadap Allah untuk mengadukan permasalahan yang sedang ia hadapi.
Ibadah Itu Gampang
Selesai sholat, Kasdi merasa tenang dan tidak memiliki beban apa pun. Semua permasalahan rencana pernikahannya seolah hilang tak berbekas. Saat itu, ia merasa, kalau jadi menikah, ya syukur, kalau pun tidak jadi menikah, juga tidak apa-apa.
21
Keesokan harinya, calon istri Kasdi menelepon. Dalam teleponnya, dia meminta maaf atas sikapnya. Calon istri Kasdi ternyata tetap ingin melangsungkan pernikahan.
Subhanallah.
Saya turut mendoakan Kasdi. Mudah-mudahan, pernikahannya diberkahi Allah. Barakallahu laka wabaraka alaika wa jamaa bainakuma fi khair.
03 November 2013