ISTIDLAL - 6
Peristiwa ini menjadi awal kemenangan bagi kaum muslimin, terbukti pada tahun kedelapan kaum muslimin bisa menaklukkan kota Makkah dan orangorang berbondong-bondong masuk Islam sebagaimana yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, (QS. 110:2). Semuanya ini karena kepatuhan sahabat dalam menjalani perintah Rasulullah, yang sekaligus menunjukkan loyalitas sahabat kepada Rasulullah walaupun dalam keadaan yang genting.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam berlindung dari fitnah dan memerintahkan untuk selalu tetap dalam jamaah bersama orang muslim. Beliau menjelaskan tidak datang suatu masa kecuali setelahnya itu lebih jelek dari sebelumnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Dzubair bin Adi berkata; saya mendatangi Anas bin Malik mengadukan kekejaman Hajjaj bin Yusuf. Anas berkata; Bersabarlah, sesungguhnya tidak datang kepadamu satu masa kecuali yang setelahnya lebih jelek darinya sampai engkau menemui Tuhanmu. Itulah yang saya dengar dari Rasulullah (HR.Bukhari). sebelum terjadi fitnah Rasulullah menganjurkan untuk segera melakukan kebajikan agar tidak dihalang dan disibukkan olehnya. Rasulullah, Bersegeralah kamu melakukan kebaikan, sebelum muncul fitnah laksana malam yang gelam gulita, di waktu pagi seorang beriman, tetapi waktu sore mereka kafir. Atau di waktu sore mereka beriman, di waktu pagi mereka kafir. Ia menjual agamanya dengan sebagian dari urusan dunia (HR.Muslim). Dalam keadaan seperti itu orang yang duduk lebih baik dari yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari yang berlari. Barangsiapa yang mendapatkan jalan untuk melindungi dirinya maka hendaknya dia melakukannya (HR.Bukhari Muslim dari Abu Hurairah). Dan jalan untuk melindungi diri dari fitnah tersebut adalah berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah.

Menyalahi Kitab & Sunnah adalah sumber malapetaka bagi kaum muslimin di dunia dan di akherat. Allah berfirman, Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia:"Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat" Allah berfirman:"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari inipun kamu dilupakan". (QS. 20:124-126). Rasulullah bersabda, Dijadikan kehinaan dan kekerdilan bagi orang yang menyelisihi perintahku, barangsiapa yang meyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya, (HR.Ahmad dari Ibnu Umar, dan dishahihkan sanadnya oleh Muhammad Syakir). Juga Rasulullah bersabda, Semua umatku akan masuk ke surga kecuali yang enggan. Sahabat bertanya; siapa mereka yang enggan Ya Rasulullah. Beliau bersabda, Siapa yang mentaatiku akan masuk ke surga, dan siapa yang menentangku akan masuk ke neraka, (HR.Bukhari dari Abu Hurairah). Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, Wajib bagi setiap muslim untuk tidak berbicara pada masalah agama kecuali mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi, tidak mendahuluinya tetapi melihat sabda Nabi sehingga perkataannya mengikuti perkataaan Nabi dan perbuatannya mengikuti perbuatan Nabi. Begitulah yang dilakukan oleh para sahabat dan tabiiin dan orang-orang yang mengikutinya. Itulah sebabnya tidak seorangpun di antara mereka yang menyalahi nash dengan akalnya. Mereka tidak menyandarkan agamanya pada bukan yang dibawa oleh Nabi. Apabila mereka ingin mengetahui sesuatu dari agama, mereka merujuk kepada perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dengan itu mereka belaja, berbicara dan berdalil. Dan inilah manhaj Ahlussunnah, (Majmu Fatawa, 13/ 63).