Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya - 6
Malam ini aku bertemu seorang hantu wanita. Ia hantu dari abad pertengahan, itu terlihat dari pakaiannya yang berupa jubah berwarna

keemasan seperti pakaian R omawi Kuno.

Kami bertemu di Kafe Mercussi, sebuah kafe yang menyajikan pemandangan aliran Sungai Serayu di mana tampak cahaya bulan terendam di permukaan sungai dengan barisan pohon ceri di sisi s eberangnya. Aku sedang menenggak bir ketika si hantu wanita tiba-tiba muncul dan berdiri di hadapanku.

Chiodos ia memanggil namaku.

Eh Iya

Benar kau Chiodos

Ya, benar. Anda siapa

Aku Nehalenia. Aku adalah kekasihmu dari dunia hantu.

Aku terkejut. Sesaat aku berpikir, barangkali ini efek halusinasi akibat patah hati. Aku memang datang ke kafe malam ini dengan suhu perasaan di titik terendah. Kekasihku, Nalea, baru saja meninggalkanku, hubungan kami berakhir sore tadi, hubungan yang selama bertahun-tahun dibangun di atas fondasi ketabahan, tiba-tiba berakh ir seperti debu. Nalea lebih memilih untuk masuk ke dalam alur novel klasik, menerima keputusan orangtuanya untuk dijodohkan dengan lelaki pengusaha, sebuah jalur instan. Ia rupanya enggan masuk ke dalam ranah cinta yang rumit bersamaku.

Terkadang, hidup memang seperti novel, begitu katanya.

Maka kami pun berpisah dengan tenang, aku membiarkannya pergi lebih dulu, seperti kereta yang bergerak lambat meninggalkan stasiun, sebelum akhirnya benar-benar menghilang di kejauhan.

Dan malam ini, ketika aku seharusnya masih dalam masa berkabung, tiba-tiba muncul sosok wanita yang mengenalkan dirinya s ebagai kekasihku dari dunia hantu, ia mengaku bernama Nehalenia. Rasanya aku pernah membaca nama itu di Wikipedia, hanya saja aku lupa tentang apa.

Boleh aku duduk tiba-tiba suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku.

Oh, tentu saja. Silakan, kursi itu kosong dan memang tidak d ijanjikan untuk siapa pun.

Aku mengakui bahwa penampilan wanita ini sangat menarik, rambutnya yang lurus sampai ke punggungnya, bulu mata lentik dan bibirnya yang tipis mengingatkanku pada gambaran bidadari, membuatku cepat tertarik. Ah, di manakah tempat yang steril untuk tidak jatuh cinta

Jadi kau tak perlu sedih, Chiodos, jika ada gadis manusia yang meninggalkanmu, masih ada aku.

Sebentar. Apa Anda benar-benar hantu

Tentu saja. Apa harus kubuktikan Aku terdiam.

Baiklah kalau tidak percaya, lihat ini.

Tiba-tiba wanita ini berdiri dan mengubah penampilannya, mendadak seluruh tubuhnya berbalut kain putih yang terikat di ujung k epalanya, lalu ia berubah lagi menjadi seekor ular besar, lalu berubah menjadi pohon, dan terakhir kembali seperti semula.

Astaga!

Sesaat aku memang terkejut, tapi kemudian mencoba untuk rasional. Wanita ini layak dicintai, kalaupun ia memang hantu, aku harus sadar bahwa percintaan dengan hantu bukanlah hal yang aneh, jauh sebelum membaca cerita ini, mungkin Anda pernah membaca cerita lelaki yang menikahi manekin, gadis belia yang jatuh cinta pada boneka panda, bahkan wanita yang menikah dengan tembok.

Dari mana kamu tahu kalau kamu adalah kekasihku akhirnya aku mengubah kata anda menjadi kamu agar lebih akrab.

Di dunia hantu sudah ada catatannya, tinggal dilihat.

Oh, begitu.

Maka, ia pun menemaniku malam ini, tiba-tiba saja perasaan p atah hati itu hilang, kalau saja saat ini Nalea melihatku bersama N ehalenia, pasti ia akan cemburu.

Setelah hampir dua jam berduaan di kafe, kami beranjak dan berjalan kaki di sepanjang tepian Sungai Serayu, ada bangku-bangku kayu yang memang disediakan untuk pasanganpasangan yang bahagia. Sementara di langit, bintang-bintang serupa taburan lampion k ecil. Aku mulai berani menggandeng tangan Nehalenia, terasa b egitu dingin, khas hantu.

Setelah berjalan cukup jauh, kami berhenti di dekat kelokan su ngai, ada hamparan rumput yang cukup luas. Kami duduk di situ.

Sayang sekali, kita hanya bisa bertemu sampai menjelang m atahari terbit, katanya sambil merebahkan diri di pangkuanku. S esekali serangga-serangga kecil melompat di sekitar kami.

Seperti legenda-legenda itu ya Tidak masalah, yang penting kamu tak menyuruhku membuat seribu candi dalam semalam.

Ah, tapi kita masih bisa menelepon. Ia lantas bangkit, mengambil sebuah kartu dari balik bajunya. Ini nomor teleponku.

Hantu juga punya telepon

Haha. Kau pasti terlalu banyak membaca dongeng lapuk tentang makhluk halus. Kami juga kenal teknologi.

Dan kebahagiaan itu pun berakhir ketika pukul tiga dini hari kami berpisah, Nehalenia menghilang di balik pohon Kamboja. Aku lantas berjalan pulang. Setibanya di rumah, rasa kantuk benar-benar menyengat mataku.

Aku terjaga pada siang hari sekitar pukul sebelas, masih terasa jejak kebahagiaan semalam, apakah semua ini mimpi Kurogoh saku, ternyata masih ada nomor teleponnya. Kuambil handphone, kuketik nomornya, dan tersambung.

Halo terdengar suaranya yang seperti penyiar radio.

Hai, Nehalenia. Ini aku, Chiodos.

Oh, Chiodos.

Apa aku mengganggu

Mm, tidak. Aku sedang membuat masakan.

Wah, kamu bisa memasak juga

Tentu saja. Kebetulan hari ini ada kongres hantu 2013, aku jadi salah satu juru masaknya. Di sini ramai sekali. Raja hantu sekarang sedang pidato di mimbar, dia mengingatkan pentingnya hubungan hantu dengan masyarakat ekstraterestrial, dia juga menekankan b ahwa subsidi biaya untuk menggoda manusia harus tepat sasaran.

Ah, sudah, sudah. Menu masakannya apa saja

Hm. Ada banyak. Aku sedang menyiapkan steak abu pemakam an. Apa kau mau mencicipinya Nanti malam kubawakan.

Tiba-tiba aku merasa mual. Tidak, tidak usah. Nanti bisa ber temu, kan

Bisa. Pukul sepuluh malam, di tepi Sungai Serayu.

Seperti itulah pertemuan kami menjadi rutin, sangat rutin, ter lalu rutin. Kami akan berduaan, duduk di tepi sungai, merendam kaki dalam air, kadang kulihat ia berlari-lari di te ngah sungai, tidak tenggelam karena ia hantu. Kadang kami juga pergi ke mal, non ton bioskop, atau pergi jauh ke Portsmouth untuk sekadar duduk di puncak Spinnaker Tower, melihat hamparan laut dihiasi nyala lampu kapal yang sedang berlayar ke perairan lepas...

Akhirnya, setelah yakin bahwa aku bisa bahagia secara permanen dengan Nehalenia, aku memutuskan untuk melamarnya. Malam nanti aku akan memberinya bunga mawar dan sebuah cincin. Namun ketika kuhubungi untuk mengajaknya bertemu, ia tak menjawab teleponku.

Mungkin sibuk, pikirku. Malam harinya aku tetap datang ke tepi Sungai Serayu dengan pakaian paling rapi, sambil berharap ia juga hadir seperti biasanya, sebab di beberapa kesempatan, kami selalu bertemu meski tanpa janji terlebih dahulu.

Setibanya di tepi sungai, aku duduk di rumput, sesekali me-rapikan kerah baju, menyelipkan mawar di balik jas. Menit demi menit pun berlalu, hanya aliran sungai, suara serangga, gemeresik daun-daun, suara kendaraan yang sesekali melintas di belakangku... B arulah pukul 21.45 Nehalenia muncul dari balik pohon, tapi ia ha-n ya berpakaian sederhana, dan wajahnya tampak sendu.

Sepertinya hantu juga bisa sedih, aku coba meledeknya.

Maafkan aku, Chiodos.

Kenapa

Hubungan kita harus berakhir.

Aku menahan napas. Kenapa

Siang tadi, kekasihku dari dunia hantu berkunjung ke rumah, ia melamarku.

Hah Aku menduga hal yang buruk akan segera terjadi.

Orangtuaku memilih untuk menikahkanku dengan sesama hantu, kebetulan, hantu lelaki yang jadi calon suamiku punya jabatan tinggi di kerajaan makhluk halus. Aku tak bisa memilih dua-duanya, aku harus meninggalkanmu.

Ini gila, aku menjadi tokoh figuran dari sebuah alur novel picisan sebanyak dua kali

Maaf, seharusnya aku tidak muncul di kafe malam itu, tapi semua sudah terjadi, katanya lagi. Kemudian ia segera berbalik, menghilang bersama guguran daun-daun kering.

Dan hening.

Seperti ini Hanya seperti ini

Mawar yang tersimpan di balik jas ini bahkan tak sempat kutunjukkan. Aku merebahkan diri di atas rumput. Ingin rasanya ku-bedah dadaku, kuambil hatiku, lalu kugantung di sebatang pohon ceri, pertanda aku pensiun dari jatuh cinta.

Ah, apakah itu mungkin

Chiodos, Chiodos...

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang asing. Aku segera bangkit, melihat sekeliling. Ternyata itu suara seekor buaya yang baru muncul dari dalam sungai, ia dengan cepat merangkak mendekatiku.

Buaya... Buaya bisa bicara aku ketakutan.

Chiodos, aku adalah kekasihmu dari dunia binatang.