Sandiwara dan Perang - 6
Cikal bakal sandiwara modern muncul pada akhir abad ke-19 dengan hadirnya Komedi Stamboel. Pada tahun 1925 terjadi pembaruan dalam kesenian ini. Cara penyajiannya telah mendekati sandiwara Barat, seperti adanya tempat atau gedung khusus sebagai tempat pertunjukan dan adanya naskah tertulis untuk diperankan di atas panggung, serta mulai munculnya peran yang mirip dengan sutradara. Pelopor pembaruan tersebut adalah dua perkumpulan besar, yaitu Miss Riboet Orion dan Dardanella. Pada masa kolonial, kegiatan seni sandiwara tidak hanya terbatas pada kalangan profesional (yang kebanyakan adalah kaum kurang terpelajar), kaum terpelajar pun mulai mengadakan pertunjukan sandiwara yang mereka adakan di kongreskongres. Pada masa akhir pemerintahan Hindia Belanda, kegiatan seni sandiwara di Jakarta mengalami mati suri setelah film Indonesia, Terang Boelan, sukses besar di tahun 1937-an. Pascakesuksesan film tersebut, banyak pemain dari perkumpulan sandiwara berpindah ke layar lebar.

Perubahan besar terjadi ketika masuk masa pendudukan Jepang. Pemerintah Jepang berusaha memajukan sandiwara untuk kepentingan propaganda perang mereka melalui pendirian beberapa organisasi, seperti Sekolah Tonil, Keimin Bunka Shidosho, dan Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD). Perubahan ini disebabkan oleh tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu keadaan politik/perang, kebijakan pemerintah, dan aktivitas seniman sandiwara. Keadaan sandiwara pada masa pendudukan Jepang mengalami

perkembangan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi pada masa akhir pemerintahan Hindia Belanda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor pendukung, salah satunya adalah adanya wadah khusus yang menangani segala aktivitas kesenian ini. Perkembangan ini sebenarnya sengaja didorong untuk memperkuat barisan propaganda Jepang melalui hiburan sandiwara.

Pertunjukan-pertunjukan sandiwara panggung menjadi seragam pada masa ini, siaran sandiwara radio menyuarakan pesan propaganda dan penulisan naskah berupa pesan politik sangat ditekankan. Bentuk propaganda melalui seni sandiwara terwujud dari lakon-lakon yang menghadirkan semangat perang, pengerahan hasil bumi, dan pengabdian kepada tanah air dengan memasuki organisasi militer. Sumbangan pendapatan pertunjukan untuk organisasi militer dan hiburan bagi prajurit juga merupakan wujud dari itu semua. Dari semua media sandiwara yang digunakan pemerintah Jepangmedia panggung, sandiwara radio, dan penulisan naskahternyata penyampaian pesan propagandanya paling efektif adalah melalui media panggung. Ini dapat dipahami karena pertunjukan sandiwara melalui media panggung memengaruhi kedua indra sekaligus, yaitu indra pendengaran dan indra penglihatan. Tema-tema propaganda dalam sandiwara tersebut mengalami perubahan pada setiap tahun dalam masa pendudukan. Ini tergantung kebutuhan propaganda yang ingin mereka sampaikan kepada publik. Pascaproklamasi kemerdekaan, kegiatan seni sandiwara mengalami masa suram, kemudian seniman sandiwara banyak yang terjun ke bisnis produksi film nasional.

Nilai positif yang dapat diambil dari kegiatan seni sandiwara pada masa pendudukan Jepang bagi dunia sandiwara selanjutnya adalah dikenalnya dokumentasi naskah lakon, jangkauan cerita sandiwara yang lebih luas, kemunculan secara tegas peran dan tanggung jawab seorang

sutradara, mulai dikenalnya fungsi seni sandiwara sebagai media massa yang sesungguhnya, serta perlunya satu wadah khusus untuk menangani kegiatan seni sandiwara.

Pada kenyataannya, efek/pengaruh propaganda tidak banyak berpengaruh terhadap mereka yang berasal dari kalangan ekonomi rendah dan juga mereka yang berasal dari golongan terpelajar kota. Kalangan ekonomi rendah tidak dapat menjangkau biaya untuk masuk gedung pertunjukan yang mereka anggap terlampau mahal. Di samping itu, mereka juga kurang memahami makna lakon pertunjukan sandiwara modern. Golongan terpelajar sendiri tidak terpengaruh oleh propaganda pemerintah yang dihadirkan melalui bentuk hiburan sandiwara. Mereka menganggap pertunjukan sandiwara propaganda tidak mempunyai nilai seni. Berbeda dengan mereka yang berasal dari kalangan kurang terpelajar. Kalangan ini menerima saja pesan-pesan propagada yang disampaikan.

Satu hal yang patut kita renungkan dari sejarah sandiwara masa Jepang adalah: setiap aktivitas seni membutuhkan dukungan dari pemerintah yang berkuasa!