Kaujauhkan dari tanganmu yang putih.
Kami biarkan hablur cinta menjelajah
Mengenang saat kaubiarkan kami tertatih.
Adakah yang lebih karib dari kematian
Ketika bahaya bergembira mengintai
Seperti malam yang penuh pengertian
Membiarkan sulur-sulur gelap menjuntai
Engkau diam. Sedangkan kami terus bersandiwara
Memainkan sebuah skenario agung perjalanan tanpa
Ujung. Di lorong gelap dan buta, tangan-tangan lara
Dan sukacita bergandengan meniscayakan hampa.
Kegelapan yang terjal
Memaksa kami menanjak
Menelusuri lekuk ajal
Dalam malam yang menjejak.
Kepasrahan meminta kami mengalah
Agar dengan lapang kauselesaikan
Permainan skenario agung ziarah
Yang bagi kami telah kauciptakan.
(Naimata, Juni 2011)