Saya menghormati hak Nurcholish Madjid untuk mundur. tetapi, apakah aneka kecaman dari berbagai kalangan terhadap konvensi itu cukup adil dan akurat apakah para pengkritik mengerti apa yang sebenarnya mereka katakan
Dalam hal akbar tandjung, misalnya, kita sepakat, kesertaannya dalam konvensi justru merugikan partainya sendiri. Namun, apakah ia otomatis akan keluar sebagai pemenang atau salah satu pemenang Bahwa posisinya kuat, tentu (tiap incumbent memiliki keuntungan sendiri). tetapi betulkah ia pasti menang
Dalam tahap konvensi untuk memilih lima kandidat calon presiden yang prosesnya akan dimulai 1 September, unit pe
KONvENSI PARTAI GOLKAR AKAL-AKALAN
milih yang paling menentukan ada di Daerah tingkat II (kota dan kabupaten). Di sini, karena adanya aturan tentang voting block, bukan pengurus partai di kabupaten atau kota yang akan menjadi penentu, namun pengurus partai di tingkat kecamatan dan ormasormas yang terkait dengan Partai Golkar di Dati II. apakah tandjung dapat mengontrol dan mengatur suara puluhan ribu kader dan aktivis Partai Golkar yang tersebar di tingkat kecamatan dan kabupaten, dari Sabang hingga Merauke Siapa yang bisa menebak isi kepala puluhan ribu kader dan aktivis akar rumput ini
Dalam proses penjaringan nama yang berakhir pekan lalu, di mana unit pemilihnya adalah pengurus partai di tingkat provinsi, tandjung hanya menempati urutan ke5, di bawah aburizal Bakrie, Surya Paloh, Wiranto, dan Jusuf Kalla. Sebagai ketua umum, pengaruh tandjung paling kuat terasa pada tingkat pengurus provinsi. tetapi, pada tingkat ini pun ia ternyata tidak sekuat yang diduga banyak orang. Karena itu, bila kita bicara tentang suara di tingkat kabupaten dan kecamatan, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan sebuah ketakpastian, sebuah wilayah yang belum pernah terjamah proses pemilihan langsung pimpinan politik sebagaimana terjadi dalam konvensi ini. Di terra incognita ini, segala hal mungkin terjadi, termasuk tersingkirnya tandjung dari posisi lima besar.
Memang, ketidakpastian itu akan menciut drastis saat proses konvensi memasuki tahap terakhir, tahap pemilihan dari lima menjadi satu kandidat capres yang akan berlangsung 1113 Fe bruari 2004. Posisi tandjung sebagai ketua umum lebih berpe ngaruh pada tahap ini. Namun, di sini pun pengaruh itu se benarnya terbatas, baik karena aturan mengenai voting block maupun karena jumlah suara Dati II yang demikian mendo minasi.
Pada tahap ini, seluruh pengurus DPP yang jumlahnya lebih seratus hanya mendapat hak suara 18, dan para pengurus DPD di 30 provinsi mendapat hak masingmasing tiga suara.
artinya, jumlah suara yang dimiliki pengurus di tingkat pusat dan Dati I adalah 108 suara (18+90), sementara jumlah kota dan kabupaten adalah 416 dan masingmasing akan mendapat satu suara. Belasan suara selebihnya akan dibagi oleh ormas partai yang ada di ibu kota.
Katakanlah dalam puncak konvensi nanti Kandidat a dan B adalah dua dari lima nama yang memperebutkan posisi capres Partai Golkar. Dalam penentuan di kalangan DPP, jika dari 103 pengurus ternyata 52 di antaranya mendukung Kandidat a dan 51 mendukung Kandidat B, maka capres resmi DPP adalah Kandidat a, dan otomatis skor suara yang diperolehnya adalah 18, dan Kandidat B tidak memperoleh apaapa (inilah yang disebut sebagai voting block).
Dalam penentuan di kalangan masingmasing DPD I, Kandidat a ternyata masih unggul, meski tidak sepenuhnya, misalnya dengan menjadi pilihan dari 22 DPD I. Dalam hal ini Kandidat a mendapat tambahan 66 skor suara (22x3). Jadi, saat ini situasi amat tidak berimbang, Kandidat a mendapat skor 84, sementara Kandidat B hanya 24 (8x3).
Kemudian, dalam penentuan di kalangan pengurus DPD II ternyata Kandidat B yang lebih populer mendapat dukungan dari 250 DPD II, sementara Kandidat a hanya memperoleh 150 dukungan, dan sisanya dibagi ke tiga kandidat lainnya. Jadi, Kandidat a mendapat tambahan 150 skor suara sementara Kandidat B mendapat tambahan 250.
Meski tidak lagi mendapat tambahan suara dari belasan ormas yang ada di ibu kota, pemenang konvensi adalah Kandidat B dengan 274 suara. Kandidat a yang kuat di tingkat pu sat dan provinsi harus gigit jari karena tidak mampu merebut lebih banyak dukungan di kalangan pengurus dan aktivis partai di tingkat kota dan kabupaten.
Jadi, bisa dikatakan, tahap puncak ini pun, dominasi kaderkader partai yang jauh dari pusat kekuasaan amat terasa.
KONvENSI PARTAI GOLKAR AKAL-AKALAN
Secara keseluruhan, suara mereka mencapai hampir 80 persen dari total suara yang ada dalam konvensi. hanya kandidat yang dapat merebut dukungan merekalah yang dapat muncul sebagai pemenang Konvensi Partai Golkar.
untuk merebut dukungan itu, peran uang merupakan
salah satu faktor penting. Seorang kandidat tidak mungkin terpilih jika ia hanya menelepon atau berkirim surat kepada para aktivis dan tokoh partai di daerah. Para kandidat harus berkeliling ke 30 provinsi dan setidaknya ke 70 persen dari 416 kabupaten dan kota yang ada di penjuru tanah air.
Semua itu tak mungkin dilakukan dalam waktu relatif singkat tanpa dana besar untuk membeli atau menyewa pesawat terbang, membayar hotel untuk rombongan dan tim sukses, me nyediakan makan dan minum pada acaraacara pertemuan, membagi kaos dan bendera partai, menyewa bus, memberi kontribusi dana bagi kegiatan partai di daerah, bahkan memberi ongkos transportasi bagi aktivis partai di kecamatan untuk hadir dalam forum pertemuan di ibu kota kabupaten, dan seb againya. apa boleh buat, demokrasi memang mahal, apalagi dalam sebuah negeri besar seperti negeri kita.
Namun, dana besar saja tidak cukup. Sang kandidat harus mampu membujuk, bertukarpikiran, dan mendengarkan aspirasi banyak kader dan pengurus partai di daerah. Ia harus terbang ke seluruh penjuru tanah air untuk bersalaman dan membangkitkan harapan kaderkader partai serta meyakinkan mereka bahwa ia adalah pemimpin yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Dalam proses itulah sebenarnya terletak nilai penting konvensi ini. Ia adalah sebuah eksperimen demokrasi di tingkat awal, sebuah prelude bagi pemilihan langsung presiden tahun depan yang baru pertama kali terjadi di republik ini. Partaipartai besar lain tidak melakukannya. Kita harus mengamati apa yang terjadi dalam konvensi ini, kelemahan maupun kelebihannya, guna mempelajari lebih saksama halhal yang masih bisa ditingkatkan agar pemilihan presiden tahun depan bisa le bih baik.
tandjung, bahkan Nurcholish Madjid, hanya sebagian kecil dari proses besar yang sedang berlangsung. Demokrasi Indonesia akan terus terseok bila kita lebih merasa nyaman dan senang bertepuk dada dalam mengorek halhal kecil, dan pada saat sama melupakan potret besar yang jauh lebih penting.
Jadi, bukannya tergesagesa melontarkan kecaman dan menuduhnya sebagai akalakalan. Kaum intelektual harus memberi apre siasi memadai dan mendorong agar konvensi berjalan lancar, dengan atau tanpa keterlibatan ketua umumnya yang kontroversial itu.
Dalam politik berlaku adagium, the road to heaven is not always paved with good intentions. Para politisi Partai Golkar yang merancang konvensi ini mungkin ada yang berniat jelek dan ingin mengalihkan perhatian publik dari kelemahankel emahan mereka. tetapi proses konvensi ini, setelah berjalan, ternyata memiliki dinamika sendiri yang tak dapat dikontrol siapapun. Niat pembentukannya mungkin tak sesuai niat para malaikat, namun konvensi ini ternyata menjadi panggung demo krasi menarik.
5 agustus 2003