Musim semi tiada aku miliki
Tapi pucuk-pucukmu terus bersitumbuh
Di ladang-ladang gersang hatiku.
Rerimbunnya bagaikan doa
Ketika dunia kehilangan cahaya
Dan tangan Tuhan terasa asing.
Pepucukmu yang bersitumbuh
Adalah juga yang kelak menua dan gugur.
Tapi sejak itulah aku mulai paham
Hijau-rekah dedaun muda di ujung-ujung ranting
Justru disemerbakkan dedaun gugur
Yang senantiasa menghumuskan diri
Bersama air yang meresapkannya
Ke kedalaman akar.
Bukankah kematian
Adalah jalan lain
Menuju hidup
/2/
Berapa banyak kelopakmu yang mekar
Di bawah senyum matahari yang membakar
Sebanyak usaha deduriku menjaga tetangkaimu.
Sebanyak air mata dedaunku mengalirimu.
Dan pemilik kebun yang datang
Adalah dia yang menanggalkan deduriku
Menebas rata dedaunku.
Malam nanti diadakan pesta,
Hanya kelopakmu yang layak baginya.
Disemprotkannya lagi sepercik air.
Disisipkannya kelopakmu di saku kiri bajunya.
Akankah seusai pesta
Ia mempertemukan kita kembali
Di pembuangan
Ataukah dihadiahkannya dirimu
Bagi perempuan pesta
Yang memikat hatinya
/3/
Hadiah malam adalah dirimu
Bagi pagi-pagiku yang dahaga.
Maka biarkan aku meresapkanmu
Sebelum angin gurun yang meniupmu
Datang bergemuruh bersama suara tangisku.
(Naimata, Agustus 2011)