MEMORIA - 61
/1/

Musim semi tiada aku miliki

Tapi pucuk-pucukmu terus bersitumbuh

Di ladang-ladang gersang hatiku.

Rerimbunnya bagaikan doa

Ketika dunia kehilangan cahaya

Dan tangan Tuhan terasa asing.

Pepucukmu yang bersitumbuh

Adalah juga yang kelak menua dan gugur.

Tapi sejak itulah aku mulai paham

Hijau-rekah dedaun muda di ujung-ujung ranting

Justru disemerbakkan dedaun gugur

Yang senantiasa menghumuskan diri

Bersama air yang meresapkannya

Ke kedalaman akar.

Bukankah kematian

Adalah jalan lain

Menuju hidup

/2/

Berapa banyak kelopakmu yang mekar

Di bawah senyum matahari yang membakar

Sebanyak usaha deduriku menjaga tetangkaimu.

Sebanyak air mata dedaunku mengalirimu.

Dan pemilik kebun yang datang

Adalah dia yang menanggalkan deduriku

Menebas rata dedaunku.

Malam nanti diadakan pesta,

Hanya kelopakmu yang layak baginya.

Disemprotkannya lagi sepercik air.

Disisipkannya kelopakmu di saku kiri bajunya.

Akankah seusai pesta

Ia mempertemukan kita kembali

Di pembuangan

Ataukah dihadiahkannya dirimu

Bagi perempuan pesta

Yang memikat hatinya

/3/

Hadiah malam adalah dirimu

Bagi pagi-pagiku yang dahaga.

Maka biarkan aku meresapkanmu

Sebelum angin gurun yang meniupmu

Datang bergemuruh bersama suara tangisku.

(Naimata, Agustus 2011)