Umum Partai Demokrat tersebut akhirnya menjadi penghuni hotel prodeo KPK, menyusul koleganya yang terlebih dahulu berada di sana, yakni Nazarudin, Angie, dan Andi Malarangeng.
Proses hukum selanjutnya akan membuktikan, apakah dia tersangkut Kasus Hambalang yang disangkakan kepadanya atau tidak.
Terlepas nantinya terbukti atau tidak, apa yang menimpa Anas saat ini sudah termasuk naas. Sesumbarnya yang mengatakan siap digantung di Monas apabila terbukti korupsi sudah menantinya. Memang tidak mungkin hal itu terlaksana, karena di Indonesia tidak mengenal hukuman gantung, namun yang menimpanya saat ini sudah merupakan pukulan berat bagi diri, anak-anak, dan keluarga besarnya.
Tulisan ringan saya kali ini tentu tidak akan membahas kasus yang menimpa Anas tersebut dari sisi politik, karena memang saya tidak
184
paham politik. Namun, setidaknya saya mencoba untuk mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Ya, saya selalu berusaha mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang saya lihat atau apa pun yang saya alami setiap harinya.
Setidaknya, ada dua pelajaran yang bisa saya petik dari kasus Anas. Pertama, apa yang menimpa Anas adalah buah dari pilihan yang telah Anas tentukan sendiri. Mantan Ketua Umum HMI tersebut sudah menetapkan pilihannya untuk terjun di dunia politik.
Semua orang tahu, seperti apa dunia politik. Memang politik sebenarnya tidak selalu jahat. Terbuka luas juga untuk berbuat kebajikan dengan politik. Namun, dengan sistem demokrasi yang berjalan di negeri ini, tampaknya lebih banyak terbuka jalan dan godaan untuk berbuat kejahatan daripada kebajikan.
Patut selalu untuk kita ingat pesan Rasulullah akan besarnya pengar uh lingkungan di mana kita bergaul. Pesan beliau, Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memb erimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianm u. Kalau pun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.
Pelajaran kedua, kini saatnya Anas harus berani mempertanggungjawabkan apa yang telah dia perbuat. Dalam hal ini, tentulah harus melalui proses pengadilan yang jujur dan adil terlebih dahulu.
Jika dia memang terbukti dengan meyakinkan terlibat tindak pidana korupsi maka saatnya dia harus gentle untuk bertanggung jawab. Memang pahit dan berat jika harus mendekam di penjara yang sempit dan tidak bisa menghirup udara bebas. Namun, itu masih tidak ada
Belajar dan Belajar
apa-apanya jika dibandingkan dengan konsekuensi yang harus dipikul di Akhirat kelak.
Terkadang, justru ketika dipenjara, seseorang bisa beribadah dengan maksimal tanpa ada banyak gangguan. Dalam sejarah banyak karya besar dihasilkan ketika seseorang dipenjara. Karya terkenal Laa Tahzan-nya Aidl Al-Qarni, Fatawa-nya Ibnu Taimiyah, juga Tafsir Fi Dzilal Al-Qurannya Sayyid Qutb lahir dari balik penjara.
185
Anas seorang intelektual muda. Tidak tertutup kemungkinan, ia menghasilkan karya serupa. Ia dapat menyumbang pemikiran untuk kemajuan bangsa ini di masa mendatang.
Namun, apabila di kemudian hari, jika Anas tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi yang disangkakan maka karier politiknya akan kembali melejit. Peluang untuk menjadi salah satu kandidat pemimpin di masa mendatang di negeri ini kembali terbuka lebar.
Sepahit dan sepedih apa pun setiap episode dalam hidup kita, tidak ada yang sia-sia. Justru semuanya akan menjadikan kita semakin matang dan dewasa jika disikapi dengan benar dan bijaksana. Wallahu alam.
12 Januari 2014