MEMORIA - 62
Pediangan jiwamu yang dingin

Biar kuhangatkan dengan tarian,

Tabuh genderang dan pesta ladang.

Tangis bayimu yang lembut,

Adakah mencium amis udara

Ataukah tersedak air susumu

Tanah tempat ari-ari bayimu

Kaukubur dengan selembar doa,

Dari situlah kelak harus kaubiarkan

Sepasang sayap ratapmu terbang

Ke hadirat Tuhan yang mahabaik,

Sebelum kidung anjingmu meracau

Membuyarkan mimpi-mimpi para

Penduduk di ladang-ladang hidup.

Jiwa yang menari dalam diri

Ajarkan tarian pada perempuan

Lumpuh atau sematkan sepasang

Kaki pada langit senjaharinya,

Agar letih yang berdiam di situ

Kaubawa pergi ke dalam kabut.

Racau anjingmu kian melengking

Bersama tangis lembut bayimu.

Gemuruh halilintar dan kabut

Berkacak pinggang menanti titah.

Tengadahkanlah tangan pasrahmu;

Tangan yang telah kaupakai

Meletakkan semangkuk kental

Harapan bagi masa depanmu.

Biarkan langit membaptis bayimu

Dengan nama yang dipilihnya sendiri

Dengan rahmat dan berkat Tuhanmu

Sebelum genap hari kelimanya.

Engkaulah Sodom dan Gomora;

Tempat air mata Tuhan tumpah,

Tempat tangis agung-Nya pecah

Demi membasuh dosa-dosamu.

(Naimata, September 2011)