Biar kuhangatkan dengan tarian,
Tabuh genderang dan pesta ladang.
Tangis bayimu yang lembut,
Adakah mencium amis udara
Ataukah tersedak air susumu
Tanah tempat ari-ari bayimu
Kaukubur dengan selembar doa,
Dari situlah kelak harus kaubiarkan
Sepasang sayap ratapmu terbang
Ke hadirat Tuhan yang mahabaik,
Sebelum kidung anjingmu meracau
Membuyarkan mimpi-mimpi para
Penduduk di ladang-ladang hidup.
Jiwa yang menari dalam diri
Ajarkan tarian pada perempuan
Lumpuh atau sematkan sepasang
Kaki pada langit senjaharinya,
Agar letih yang berdiam di situ
Kaubawa pergi ke dalam kabut.
Racau anjingmu kian melengking
Bersama tangis lembut bayimu.
Gemuruh halilintar dan kabut
Berkacak pinggang menanti titah.
Tengadahkanlah tangan pasrahmu;
Tangan yang telah kaupakai
Meletakkan semangkuk kental
Harapan bagi masa depanmu.
Biarkan langit membaptis bayimu
Dengan nama yang dipilihnya sendiri
Dengan rahmat dan berkat Tuhanmu
Sebelum genap hari kelimanya.
Engkaulah Sodom dan Gomora;
Tempat air mata Tuhan tumpah,
Tempat tangis agung-Nya pecah
Demi membasuh dosa-dosamu.
(Naimata, September 2011)