Namanya, Pak Haji Maskanda. Saya mengenalnya sekitar 5 tahun lalu semenjak gudangnya kami kontrak untuk usaha di Cirebon. Untuk menjaga komunikasi dengannya, ketika saya ke Cirebon terkadang saya sempatkan diri main ke rumahnya.
Minggu lalu saya menemuinya dan berkesempatan sharing dengannya. Di mata saya, Pak Maskanda adalah sosok orangtua teladan dan pengusaha yang sukses. Dia berhasil mendidik anak-anaknya dan menanamkan betapa pentingnya menuntut ilmu.
Dia ingin anak-anaknya mampu menimba ilmu setinggi mungkin. Dia berprinsip, kalau anak diberi uang yang banyak, bisa jadi itu akan habis
Belajar dan Belajar
dalam waktu yang tidak lama. Berbeda dengan ilmu, sampai kapan pun akan bisa bermanfaat. Sebuah prinsip yang bijak.
Bertempat di tempat kerjanya, sebuah gudang di Kawasan Plered Cirebon sekitar sejam saya berbincang dengannya. Sambil mengobrol, tak terasa saya sudah mengabiskan tiga gelas air mineral yang disuguhkan Pak Maskanda. Sharing dimulai dari cerita masa kecilnya hingga saat ini.
Pak Maskanda orangnya lugu. Karena tidak lulus SD, dia tidak bisa membaca dan menulis. Namun kendala itu tak menghalanginya untuk menjadi orang sukses. Saat ini, dia mengelola usaha jual beli kayu dan jasa pengeringan kayu. Dari usaha ini dia bisa mempekerjakan 8 orang tenaga kerja. Dia berujar, usahanya terus saja mendapat pesanan dari para pelanggannya.
187
Ketika saya tanya, apa resepnya, ia menjawab, Tidak ada resep khususnya, Mas. Saya hanya menjaga kualitas barang yang saya jual. Kalau malam minta kepada yang punya dan mengatur rezeki. Sudah, itu saja.
Pak Maskanda dikaruniai 4 orang anak. Si sulung sudah hampir lulus Unpad Bandung. Anak nomor 2 saat ini sudah semester 7 di Unwasgati
Cirebon. Sementara anak ketiga kelas 3 SMA, dan bungsu masih kelas 5 SD.
Sebagai orangtua, pria kelahiran 1966 ini berkeinginan anak-anaknya kelak akan menjadi orang yang berhasil. Untuk itu, dia sangat mendukung anak-anaknya kuliah sampai S1 bahkan S2.
Di sinilah uniknya Pak Maskanda. Dia menerapkan cara yang belum pernah saya dengar dari orang lain. Karena ingin anak-anaknya kelak berhasil, dia juga menuntut kesungguhan dari anak-anaknya. Pak Maskanda tidak mau kuliah hanya untuk main-main. Sebagai orangtua, dia tidak akan keberatan membiayainya. Bahkan jika uang yang dimilikinya
188
kurang, dia rela apa yang dipunyainya untuk dijual jika untuk biaya pendidikan.
Cara uniknya, sang anak yang sudah masuk bangku kuliah harus membuat perjanjian tertulis di atas materai. Saya senyam-senyum ketika diminta membaca perjanjian tersebut. Isinya kesanggupan untuk tidak merokok, menjauhi minuman keras, tidak terbawa pergaulan bebas, tidak berhenti di tengah jalan, dan yang terakhir adalah tidak menikah sebelum lulus. Di bawah pasal-pasal tersebut, Pak Maskanda bertanda tangan dengan anaknya sebagai bukti kesanggupan.
Tampaknya usaha Pak Maskanda berhasil. Saya lihat semua anaknya sopan dan baik perilakunya. Anak pertama dan keduanya juga sudah diajaknya pergi umroh.
Subhanallah, kembali saya dipertemukan dengan seorang guru kehidupan yang baik. Mudah-mudahan kelak saya juga mampu mengantarkan anak-anak saya menjadi orang berhasil. Baik akhlaknya dan banyak memberi manfaat pada sesama. Amin.
20 Januari 2014