Di atas kasur, bertemankan kehilangan
Dan alfabet yang tak lengkap.
Adalah jawaban tugas-tugas adik
Yang perlahan dirunut kakek kembali
Dengan mulut renta dan mata tuanya.
Adalah sirih-pinang nenek
Ditawarkannya lembut pada tetamu
Dengan senyum dan keriput cantiknya.
Adalah mata mungil rumah yang berkaca
Menahan beratnya beban perpisahan
Bertualang di bawah terik matahari.
Adalah omelan khas ibu
Senantiasa kami rindukan
Ketika jarak memisahkan rumah.
Adalah tawa renyah ayah
Menyembunyikan punggung penuh luka
Melingkari meja makan malam ini.
(Naimata, Oktober 2011)