YANG TERUCAP YANG TERTULIS - 64
Menjelang pemilu yang sudah di depan mata, mendadak banyak fenomena yang bisa kita temukan. Coba lihatlah di pinggir jalan, di pinggir sawah, di gapura masuk kampung,

dan di banyak pohon-pohon. Mendadak banyak poster Calon Legislatif (Caleg) yang menghias di sana dengan berbagai ekspresi.

Ada dua hal yang saya cermati ketika melihat poster-poster tersebut. Pertama, banyak orang yang sangat percaya diri menyebut atau melabeli dirinya dengan berbagai sebutan atau slogan. Misalnya, berani, jujur, amanah, merakyat, peduli, berjuang untuk rakyat, dan masih banyak lagi. Belum pernah saya temukan, ada yang menulis sebaliknya, seperti biasa saja, orang lugu, atau pas-pasan ilmunya.

Kedua adalah gelarnya. Saya cermati, terutama Caleg yang periode kemarin sudah duduk di kursi parlemen. Lima tahun lalu, saya ingat betul ketika mereka melakukan hal sama; hanya ada foto dan sloganslogan. Berselang 5 tahun mereka sudah banyak yang menggondol

Belajar dan Belajar

gelar S1 bahkan S2. Di antara gelar-gelar yang ada, gelar yang paling banyak adalah SE, SH, MH, dan MM.

Hebat, batin saya mengatakan demikian. Berarti di sela-sela kesibukan yang mereka punya, masih bisa membagi waktu untuk mencari ilmu dan akhirnya menggondol gelar sarjana.

Rupanya, fenomena ini tidak hanya terjadi pada para wakil rakyat dan calon wakil rakyat. Saya cermati terjadi juga di pejabat pemerintah dan PNS, terutama guru.

Tidak bisa dipungkiri, ada pertanyaan di batin saya. Sebegitu mudahkah mencari gelar sarjana sekarang ini Apakah mereka benar-benar ahli di bidangnya sesuai gelar yang mereka punya Bukankah ketika kita menyandang gelar itu merupakan legalitas kompetensi yang diakui

193

Atau jangan-jangan sebaliknya, hanya karena punya keinginan tertentu malah mangambil jalan pintas dengan membeli gelar Saya berdoa mudah-mudahan bukan hal terakhir ini yang terjadi.

Berkaca kepada diri sendiri, sebenarnya saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa semester 3, Jurusan Ekonomi Manajemen. Namun, karena saya telanjur pintar (baca: tidak bisa membagi waktu) maka saya putuskan untuk berhenti dulu. Dan sepertinya, berhenti untuk seterusnya.

Tidak mudah membagi waktu belajar dan kerja dengan tanggung jawab yang besar. Akhirnya, saya lebih memilih belajar sendiri dengan bukubuku dan banyak tulisan di internet. Tidak jadi soal tidak menyandang gelar sarjana, tapi ada ilmu yang langsung bisa diaplikasikan di tempat kerja. Sudah jelas, sekarang ini saya sedang menghibur diri sendiri.

Soal gelar sarjana, saya teringat kisah Bung Karno, ketika beliau diwisuda di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) tahun 1926. Saat itu, Sang Rektor berpesan kepada Bung Karno, Ir. Soekarno, ijazah

194

ini suatu saat bisa robek atau hancur menjadi abu. Dia tidak abadi. Yang abadi adalah ilmu dan karakter seseorang.

Atas ucapan Sang Rektor tersebut, Bung Karno mengatakan, Kenangan akan ilmu dan karakter itu akan tetap hidup. Saya tidak pernah melupakan pesan itu.

Mudah-mudahan semua yang bergelar sarjana ingat dan memahami benar pesan dari Sang Rektor ITB tadi, terutama para Caleg.

Tapi bagaimana mereka ingat dan paham kalau tidak tahu website saya dan membaca tulisan saya ini, ya

08 Maret 2014