Ayah pulang, Kakak. Ayah pulang!
Dibawakannya sebingkis kenangan,
Seteguk harapan dan hati tualang.
Kau tersenyum padaku. Di pergelangan
Tanganmu ada amanat yang dititipkan
Ibu bagi hari-hari tuanya kelak.
Salib yang dulu direkatkan ayah dan ibu
Di dahimu sebelum kau memulai tualangmu
Memainkan lelayang ingatan di bawah
Langit cerah, kini berkilau laksana
Kunang-kunang yang beterbangan
Dalam setiap bisik doa ayah dan ibu.
/2/
Bantu aku menghitung bilangan ini,
Kakak. Ibu guru telah memintaku
Melipatgandakan senyum dan kebaikan
Dari hasil penjumlahan kunang-kunang
Dalam setiap bisik doa ayah dan ibu.
Kuambilkan kau jaring paling rapat.
Kuberikan kau malam paling pekat.
Adakah cahaya kunang-kunang terlihat
Tiadakah kepak mungil mereka mendekat
(Naimata, Oktober 2011)