Lama-kelamaan, semakin banyak saja pesertanya. Setiap kali ada kampanye, dari tahun ke tahun, saya sungguh terheran-heran. Mengapa masih saja memakai cara-cara seperti ini Berputar-putar keliling kampung dengan suara knalpot yang hampir memecahkan gendang telinga Di kantor, ketika saya sedang berbicara dengan staf jadi tidak terdengar. Begitu juga ketika ada telepon masuk ke handphone saya. Sungguh sangat mengganggu.
Belum lagi peserta kampanye yang tidak menghiraukan keselamatan dalam berkendara, tanpa helm, dan memenuhi semua ruas jalan. Seakan-akan hari itu jalan sudah mereka sewa mahal, sehingga orang lain tidak diperbolehkan memakainya. Lebih komplit lagi, beberapa di antaranya membawa es teh. Astagfirullah.
Saya tidak habis pikir, apakah tidak ada petinggi partai pengusung dan calon legislatifnya berkemauan keras untuk mengubahnya Saya sempatkan mencari arti kampanye di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di sana disebutkan, kampanye adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang memperebutkan kedudukan di parlemen untuk mendapatkan dukungan massa pemilih di suatu pemungutan suara.
Dari artinya saja sudah jelas bahwa tujuan kampanye adalah mendapatkan dukungan, simpati dari para calon pemilih. Apakah dengan gerakan yang saya sebutkan di atas para calon pemilih menjadi simpati, tertarik, dan pada akhirnya mereka nanti memilihnya Saya berkeyakinan, jawabannya tidak. Justru bisa jadi sebaliknya. Orang yang semula tertarik berubah menjadi antipati bahkan mengecam.
Coba kalau kampanyenya diganti dengan kampanye simpatik. Pilih saja yang murah meriah dan menyehatkan. Misalnya, bersepeda onthel keliling kampung dengan seragam yang kompak tanpa suara yang bising dan mengganggu. Kalau perlu mengadakan gerakan kebersihan sungai, gorong-gorong, atau jalan di lingkungan warga. Pasti masyarakat akan angkat jempol dan simpati.
Agar lebih meriah dan mandi keringat, peserta kampanye yang putri membuat dapur umum untuk memasak soto atau bakso yang panas dan pedas. Lantas warga sekitar kampung diundang untuk makan bersama. Dijamin pasti meriah dan mandi keringat.
Ah, sayang saya tidak jadi calon legislatif atau ketua tim suksesnya.
Kalau pun jadi, belum tentu juga ide saya ini bisa diterima.
21 Maret 2014