untuk dikunjungi. Termasuk Lima Besar tempat terindah di negeri ini.
Karena belum paham secara persis arahnya maka modal utama untuk menemukan Bromo adalah dengan tidak malu bertanya. Menjelang Isya, kami baru sampai di Tretes. Menurut pemilik warung kopi yang kami tanyai, masih dibutuhkan waktu sekitar 3 jam lagi untuk sampai ke lokasi.
Semakin lama berjalan, sudah semakin terasa dingin udaranya. Tanjakan demi tanjakan ekstrem sudah terlewati. Suasana kanan kiri jalan terasa sangat sepi. Tidak ada mobil dan kendaraan yang berlalu lalang. Listriknya pun mati. Baru tersadar kalau penduduk sekitar gunung Bromo adalah pemeluk agama Hindu. Rupanya mereka masih merayakan Nyepi. Oalah, pantas dari tadi semua lampu mati.
Ketika memasuki gerbang area wisata Bromo, kami dicegat rombongan penduduk setempat yang berjaga.
Maaf, Pak. Bapak-bapak harus berhenti di sini dan menginap. Ini masih perayaan Nyepi, sehingga mobil tidak boleh naik. Baru boleh naik nanti jam 03.00 pagi, begitu kata pemimpin rombongan penduduk yang semuanya masih muda.
Kami dijelaskan panjang lebar soal penginapan dan paket wisata yang bisa dipilih. Harga sewa homestay Rp400 ribu semalam dan sewa 1 jeep untuk 1 rombongan sebesar Rp700 ribu.
Nanti jam 03.00 saya bangunkan, Pak, untuk siap-siap naik ke puncak, kata salah satu dari mereka.
Langit terlihat begitu cerah dengan banyak bintang bercahaya. Terasa dekat sekali bintang menggantungnya.
Begitu masuk homestay suasana malah jadi hidup walau tidak ada lampu yang menyala.
Rasakan sekarang. Tadi diajak makan, jawabnya nanti-nanti saja. Sekarang mau cari makan di mana Tidak ada warung yang buka, ujar saya membuka pembicaraan.
Tidak menyerah, teman saya menemui ketua rombongan untuk meminta tolong, dicarikan makanan.
Sambil menunggu, dengan harap-harap cemas, saya ambil air wudhu untuk sholat. Masya Allah, airnya lebih dingin dari air dingin dispenser kantor saya.
Tidak berselang lama, ada suara motor berhenti di depan homestay. Nah ini dia yang ditunggu-tunggu. Sepiring nasi goreng termasuk paling enak yang pernah saya makan. Bukan karena apa, tapi memang karena rasa lapar yang sudah menyerang. Selepas makan, semua langsung
202
terlelap, karena rasa kantuk yang tidak tertahan, badan yang sudah capek, dan sepiring nasi goreng yang mulai bekerja.
Sebelum dibangunkan oleh penduduk setempat, saya sudah terbangun duluan karena harus ke kamar kecil. Sekalian saja saya Tahajud, sambil menunggu kawan lain terbangun. Tidak berselang lama mereka bangun juga.
Tidak saya sangka, ternyata teman-teman saya pada mandi. Sesuatu yang sulit saya terima. Saya yang sudah terbiasa mandi begitu bangun tidur saja, kali ini tidak bisa melakukannya, saking dinginnya udara dan dingin pula airnya.
Perjalanan ke penanjakan, tempat paling tinggi di area Bromo memakan waktu sekitar 45 menit. Jalannya luar biasa curam. Sesampai di sana, sudah terlihat banyak jeep yang parkir. Rupanya kami termasuk rombongan terakhir yang sampai lokasi.
Untuk memburu waktu sunrise kami naik ojek agak lebih cepat sampai ke penanjakan setinggi 2.770 meter di atas permukaan air laut.
Udara dingin semakin terasa, apalagi ketika angin bertiup kencang. Tidak menunggu lama, sekitar pukul 05.15 Sang Matahari mulai bangun dari peraduannya. Langit tampak memerah indah sekali.
Di sebelah kanan, terlihat Gunung Bromo dengan kawahnya yang gagah, seolah berkata, Akulah sebagian kecil bukti kekuasaan TuhanMu, wahai manusia.
Dari kejauhan tampak pula lautan padang pasir yang luas di antara gunung dan bukit yang tinggi. Baru kali ini saya melihat secara dekat keindahan Bromo. Sebelumnya, saya hanya melihatnya pada kalenderkalender yang terpajang di tembok beberapa warung soto di Solo. Setelah berpuas diri di sana, tidak lengkap rasanya bila tidak menikmati kopi dan pisang goreng yang masih panas.
Kami lantas menuju padang pasir yang luas dan lantas naik ke kawah Bromo. Ada tawaran untuk naik kuda dengan bayaran Rp50 ribu hingga ke bibir anak tangga menuju kawah Bromo. Kami sepakat untuk berjalan kaki saja, sekalian olahraga dan tes stamina.
Sesampainya di puncak, tampak kawah Bromo yang meledak-ledak mengeluarkan banyak asap membubung tinggi ke langit.
Saya bicara kepada Mas Ondi, driver kantor, yang terlihat terpaku memandang kawah.
Apa jadinya kalau kita dilempar ke kawah itu, Mas Siapa yang akan bisa menolong
Mas Ondi menjawab, Nggih, Pak. Ini ndak ada apa-apanya dengan neraka, ya, Pak
Astagfirullah.
06 April 2014