adapun setiap sela masa aku terbunuh kala hujan sepi ini menerkam rasa badi,
suci yang aku cuba cari terbogel di hadapan mata aku sendiri, setiap hela sayu dan tiupan rindu, adalah nyawa abdi tersemat dalam jati sakti,
Sungguh
Aku tidak diperdaya dengan ragam waktu setiap ragu yang baru dari bibirmu,
Sungguh
Ketajaman sirna dari belai rasa rinduku tidak akan mati bersama hati bekumu,
Sungguh
Tiada raksa yang terbatil di setiap usur jahil ini menerawang ke pelusuk akalku,
Sungguh
Kau beri ciuman terakhir itu untuk ku dakap kemas liang seri
benang terakhir kau sisip di setiap akar jiwaku kau cantas, seberapa cepat, dan kau pacak kemas,
Biar...
Biar...
Biar...
Biar...
Dan dia hadir