IBU KOTA LAMA - 7
Setelah mendengar ada sebuah rumah dijual dengan harga yang memadai di dekat kuil Nanzenji, Tn.Takichiro mengajak istri dan anak gadisnya untuk pergi menengok rumah itu, sekalian jalan-jalan di tengah musim gugur yang indah.

Apa Ayah punya rencana untuk membelinya tanya istrinya.

Itu akan kuputuskan nanti setelah melihatnya. Ia pun tiba-tiba tampak menentang pendapatnya sendiri. Harganya memang cocok, tapi rumahnya kecil.

Ny.Shige tak menanggapi.

Paling tidak kita melewatkan waktu untuk berjalan-jalan. Bukankah ini menyenangkan

Yah... begitulah.

Ny.Shige merasa tak enak hati. Jika suaminya membeli rumah itu, apakah ia akan menglaju, pulang-pergi, dari dan ke toko Seperti Ginza dan Nihonbashi di Tokyo, beberapa pedagang grosir di Nakagyo telah mulai membeli rumah yang letaknya terpisah sehingga harus menglaju ke toko mereka. Mungkin ini tak merugikan. Toko keluarga Sada, Maruta, sedang bermasalah; tapi mungkin sudah cukup banyak uang di tabungan untuk membeli rumah kedua itu.

Tapi tidakkah Tn.Takichiro berencana untuk menjual toko itu dan mengungsi dari dunia ke rumah kecil itu Atau mungkin ia berpikir bahwa selama mereka mempunyai uang tabungan, ia akan melakukan sesuatu yang menantang. Tapi jika itu masalahnya, apa yang akan dikerjakan si tua itu dalam rumah kecil dekat biara Nanzenji Umurnya sudah lima puluhan akhir. Istrinya ingin agar ia hidup sesuai kehendaknya. Toko mereka akan terjual dengan harga yang cocok, tapi hidup mengandalkan bunga bank akan mencemaskan juga. Jika uang itu diinvestasikan dengan bijaksana, mereka bisa hidup dengan nyaman, tapi Ny.Shige tak bisa lagi mengurus masalah investasi.

Chieko tampak merasakan kecemasan ibunya meski ibunya itu tak bercerita. Chieko masih belia. Perasaan ingin menghibur terkilas di matanya saat menatap sang ibu. Ayahnya hanya menikmati kesenangan sendiri.

Ayah, kalau kita melewati jalan di sana, bisakah kita pergi sebentar ke Shorenin Pinta Chieko saat mereka berada dalam mobil. Di muka gerbangnya saja.

Pohon kusu no ki. Itu yang ingin kau lihat, ya kan

Benar. Chieko terkejut karena tebakan yang sungguh tepat itu. Pohon kusu no ki.

Baiklah. Mari kita pergi ke sana, seru ayahnya itu. Dulu ayah biasa duduk-duduk di bawah pohon-pohon kusu no ki itu, ngobrol bersama temanteman... Sekarang mereka sudah tidak tinggal di Kyoto lagi.

Chieko terdiam.

Seluruh kawasan itu membawa serta kenangan-kenangan.

Setelah membiarkan ayahnya terlena dalam kenangan masa muda beberapa saat, Chieko berkata, Saya belum pernah melihat pohon-pohon itu di siang hari sejak saya lulus sekolah. Ayah, kau tahu kan rute bus pariwisata Ia juga melewati kuil Shorenin. Ketika bus datang, beberapa pendeta keluar dengan

membawa lentera untuk menyambut para pengun-

jung.

Jalan kecil yang lurus, yang mengantarkan para pengunjung memasuki ruang depan kelihatan lebih panjang dalam cahaya lentera para pendeta. Tapi itu hanyalah masalah efek artistik yang ditimbulkannya.

Menurut brosur bus wisata, para biarawati akan menyajikan secangkir teh pada para pengunjung; tapi para wisatawan malah dibawa ke kedai teh.

Semua telah direncanakan untuk menjadi sebuah keramaian besar. Segerombol orang mengambil cangkir-cangkir yang berat, yang diletakkan dalam baki lebar, keluar dari dapur, meletakkan cangkircangkir kosong, lalu buru-buru pulang, kata Chieko sambil tertawa. Para biarawati seharusnya mempertunjukkan sesuatu, tapi yang betul-betul mengagumkan seperti permainan sulap; aku belum pernah melihatnya! Ini sungguh mengecewakan... dan tehnya pun tak begitu hangat.

Kita tak bisa berbuat apa-apa. Bukankah perlu waktu yang lama untuk bisa sesuai harapan kata sang ayah.

Ya, begitulah. Tapi juga tak apalah. Taman di sana begitu gemerlapan, dihiasi lampu di berbagai penjuru. Seorang pendeta tampil ke depan dan memberikan ceramah yang mengesankan, hanya sebuah penjelasan tentang serba-serbi Shorenin memang, tapi beliau begitu fasih berbicara. Tn.Takichiro diam saja.

Ayah bisa mendengar suara koto yang dimainkan di suatu tempat dalam kuil. Aku dan temanku bertanya-tanya penasaran, apakah ini permainan betulan ataukah hanya rekaman. Lalu kami pergi untuk melihat maiko di Gion, lanjut Chieko. Mereka menyajikan dua atau tiga nomor tarian di Kabuki Renba, tapi aku heran juga, maiko seperti apa mereka itu.

Mengapa begitu

Mereka mengenakan obi dengan begitu longgar, dan pakaian mereka kelihatan begitu kumuh.

Benarkah

Lalu dari Gion kami menuju ke Kadoya di Shimabara untuk melihat para selir agung kerajaan. Pakaian-pakaiannya seluruhnya asli... dan demikian juga yang dikenakan para gadis pelayan. Dalam cahaya seratus lilin bukankah ini disebut pertukaran piala Bagaimanapun juga mereka berpakaian seperti itu. Lalu mereka tampak dalam kostum bepergian. Oh, meskipun begitu kan banyak hal lainnya yang bisa dilihat, kata ayahnya.

Ya, lampu penyambutan yang ada di Shorenin dan Shimabara kelihatan begitu indahnya, seru Chieko. Tapi, sepertinya aku pernah cerita soal ini.

Lain kali kau ajak pula ibumu ini. Ibu belum pernah melihat Kadoya atau pelacur-pelacur besar. Mereka telah tiba di muka Shorenin saat ibu Chieko bicara.

Mengapa Chieko ingin melihat pohon kusu no ki itu Apakah ini karena ia pernah berjalan-jalan di tengah barisan pohon kusu no ki di kebun raya Apakah ini karena ia pernah berkata bahwa ia lebih menyukai pepohonan yang tumbuh alami di kampung sugi Kitayama, yang ditanam untuk kemudian dipanen hasilnya

Empat pohon kusu no ki berdiri dalam satu barisan di atas tembok batu pada pintu masuk Shorenin. Satu yang paling dekat dengan mereka tampak begitu tua.

Chieko dan orang tuanya berdiri terdiam menatap pepohonan kusu no ki. Mereka bisa merasakan kekuatan mengerikan pohon-pohon itu dengan melihat cara mereka menebarkan ranting-ranting dan kemudian menjalinkannya menjadi satu.

Nah, apakah kita bisa pergi sekarang seru Tn.Takichiro sambil mendahului berjalan menuju kuil Nanzenji.

Tn.Takichiro bertanya pada anak gadisnya itu saat ia mempelajari arah yang menuju ke rumah tersebut, yang tertulis pada sehelai kertas yang diambilnya dari dompet. Chieko, ayah tak tahu banyak tentang pohon kusu no ki; tapi bukankah kusu no ki itu tumbuh di tengah iklim yang hangat Bukankah itu pohon yang umumnya tumbuh di daerah selatan Bukankah mereka tumbuh subur di daerah seperti Atami atau Kyushu Pohon-pohon itu telah berusia tua, tapi tidakkah kau melihat bahwa mereka tampak seperti bonsai raksasa

Bukankah sudah sewajarnya begitu Seperti juga halnya dengan gunung-gunung dan sungai...

dan manusia pun begitu pula, ya kan kata Chieko.

Mungkin memang benar begitu, ayahnya pun mengangguk. Tapi tak semua orang. Manusia tak selalu seperti itu.

Chieko tak menanggapi.

Baik itu orang-orang zaman sekarang maupun orang zaman kuno.

Aku tahu.

Jika kita ikuti pendapatmu, Chieko, berarti semua yang ada di Jepang juga begitu

Chieko kagum melihat cara ayahnya membalikkan pendapatnya.

Ayah, jika ayah melihat batang pepohonan itu dari dekat, juga dahan-dahannya yang tersebar dengan aneh, tidakkah mereka tampak mengerikan, seolah mereka memiliki kekuatan dahsyat

Begitulah, tapi apakah seorang gadis seperti kau ini berpikiran seperti itu Ayahnya kembali melihat pepohonan itu. Lalu ia tatap anak gadisnya. Tepat, seperti yang kau katakan... dan bahkan kekuatan itu juga ada pada rambutmu yang lembut dan kemilau... tapi ayahmu ini telah berubah agak menjemukan. Mungkin ayah sudah mulai jompo.

Ayah, Chieko memekik, suaranya penuh keharuan.

Meski daerah pelataran kuil begitu luas dan tenang, seperti biasanya, selalu bisa didapati satu atau dua orang dalam gerbang utama kuil Nanzenji. Tn.Takichiro berbelok ke kiri sambil terus mempelajari peta letak rumah. Rumah itu begitu kecil, tapi terletak jauh di belakang jalan raya, dan pagar bumi yang mengelilingi cukup tinggi. Semak semanggi putih mekar, membentangkan mahkotanya lebarlebar ke arah sebelah kanan kiri jalan yang menuju ke pintu.

Lihat, betapa cantiknya. Tn.Takichiro berdiri bergeming di muka gerbang, tertarik akan keelokan semanggi putih. Tapi ia mulai kehilangan hasrat untuk menengok rumah yang ingin dibelinya; ia tahu bahwa rumah besar sejauh dua pintu dari rumah ini telah diubah menjadi penginapan.

Bahkan, ada sesuatu yang tersimpan dalam teratai itu, menyebabkannya berat untuk beranjak.

Bertahun-tahun sejak Tn.Takichiro terakhir kali mengunjungi Nanzenji, beberapa rumah di pinggir jalan di dekatnya telah diubah menjadi penginapan, dan kenyataan ini membuatnya terkejut. Rumahrumah telah dibangun ulang di sebelah dalamnya untuk mengakomodasi rombongan-rombongan dalam jumlah banyak. Pelajar-pelajar dari desa yang berkunjung ke Kyoto untuk berdarma wisata membuat keriuhan. Ada yang masuk, ada yang keluar penginapan.

Rumahnya cukup bagus, tapi yang ini tidak cukup, bisik Tn.Takichiro saat berdiri di muka pintu gerbang. Aku membayangkan jika suatu saat nanti Kyoto tidak akan dipenuhi apa pun kecuali deretan penginapan... seperti daerah sekitar kuil Kodaiji. Jalur antara Kyoto dan Osaka telah menjadi zona industri. Memang masih ada daerah tanah luas seperti di sekitar Nishinokyo, tapi meskipun kau betah hidup kesusahan, tinggal jauh dari rumah, siapa tahu rumah-rumah berkerah tinggi akan dibangun sebelah menyebelah, seru Tn.Takichiro, tak bisa menyembunyikan nada keputusasaan yang menampak di wajahnya.

Tampaknya Tn.Takichiro masih merasakan kedekatan dengan barisan semak semanggi itu. Ia berjalan tujuh atau delapan langkah meninggalkannya, lalu sendirian ia berbalik dan mengamatinya kembali. Ny.Shige dan Chieko berdiri menunggunya di pinggir jalan.

Pemilik rumah ini telah menanamnya sedemikian rupa sehingga bisa mekar begitu bagusnya, serunya sambil mendatangi istri dan anaknya. Ayah heran, apa ya rahasianya Mungkin pemiliknya menggunakan bilah-bilah bambu untuk menyangganya. Kalau hujan, kau tidak bisa berjalan di atas ubin tanpa kakimu basah karena daun-daunnya, kata Tn.Takichiro. Pemiliknya mungkin tak berpikiran untuk menjual rumah ketika ia mencoba menanamnya agar mekar pada tahun ini; tapi kalau sudah memutuskan akan menjual rumah, tentu ia takkan peduli apakah semanggi-semanggi ini menekuk atau jadi kusut.

Chieko dan ibunya diam saja.

Aku heran mengapa manusia bisa seperti itu, seru Tn.Takichiro sambil sedikit mengerutkan keningnya.

Ayah, apakah kau begitu menyukai semanggi itu tanya Chieko, mencoba mencerahkan suasana. Kalau tahun ini memang sudah terlambat untuk menanamnya, tapi saya bisa mengusahakan desain dengan cetakan semak semanggi untukmu tahun depan.

Semanggi bisa juga dipakai sebagai pola pakaian wanita. Eh, tidak. Kalau wanita pola semanggi itu cocok untuk kimono musim panas.

Saya akan mencoba membuat sesuatu yang tak akan kelihatan ganjil meski itu dipakai oleh seorang wanita.

Oh, kalau begitu apa yang akan kau buat dengan cetakan pola semanggi itu Pakaian dalam Tn.Takichiro menatap anak gadisnya itu. Pikirannya tadi mencair dalam gelak tawa, sambil meneruskan, Dan karena kebaikanmu itu ayah akan membuatkanmu sehelai kimono atau jaket dengan pola pohon kusu no ki. Jadi seolah ayah membuat desain untuk dipakai hantu.

Tidak, tidak begitu.

Jadi kau mau mengenakan pola pucat remangremang seperti pohon kusu no ki itu

Ya. Di mana pun aku akan mengenakannya.

Hmm. Ayahnya menatap ke bawah. Ia tampak tenggelam dalam pikiran. Chieko, bukannya ayah tak suka pola semanggi putih. Tapi beberapa jenis bunga begitu menyentuh perasaan, tergantung dari kapan dan di mana ayah melihatnya.

Saya pikir juga begitu..., jawab Chieko. Ayah, karena kita telah datang jauh-jauh dan... Tatsumura kan dekat sini. Saya jadi ingin mampir.

Oh, toko itu untuk orang asing. Bagaimana ini,

Bu

Jika Chieko maunya begitu..., jawabnya dengan hati ringan.

Yah, lagipula obi Tatsumura jarang kita temui di toko-toko.

Toko itu bersebelahan dengan rumah-rumah tua di dataran rendah Kawaramachi.

Setelah memasuki toko, Chieko mulai melihatlihat kain sutera untuk wanita, yang ditumpuk berjajar-jajar sepanjang sisi kanan. Kain-kain itu bukan desain karya Tatsumura sendiri, tetapi ditenun oleh perusahaan Kanebo.

Ny.Shige mendekati anak gadisnya. Kau berencana mengenakan pakaian Barat

Tidak, Ibu. Saya hanya ingin tahu sutra jenis apakah yang disukai orang luar.

Ibunya mengangguk. Ia berdiri di belakang

anak gadisnya, kadang menyentuhkan tangannya pada sehelai sutra.

Di tengah ruangan dan di aula tergantung pa-kaian dari cita cap buatan Shosoin dan kain-kain bu-atan zaman kuno.

Ini adalah kreasi Tatsumura. Tn.Takichiro telah melihat kain pajangan Tatsumura beberapa kali, dan ia telah sering melihat kain-kain dan pola-pola klasik yang asli. Ia mengenalnya dari namanya dan dengan mengenal ciri-cirinya, tapi ia tak dapat menahan diri untuk memeriksa dari dekat.

Ini untuk menunjukkan pada orang asing bahwa kita bisa membuat benda-benda ini, seru seorang pegawai. Tn.Takichiro mengamati wajahnya.

Tn.Takichiro pernah mendengar penuturan itu saat terakhir kali ia berkunjung, tapi ia kembali mengangguk anggukan kepala. Zaman kuno memang mengagumkan

...lebih dari seribu tahun lampau..., katanya sambil memuji kain-kain Tiongkok reproduksi dari masa Dinasti Tang.

Toko itu tampaknya tak banyak menjual pakaian berpola kuno. Tn.Takichiro menyukai jenis kain tertentu dan ingin membeli beberapa obi yang terbuat dari bahan kain tersebut. Untuk istri dan anak gadisnya. Tapi toko ini mengutamakan barang-barangnya untuk dikonsumsi oleh orang-orang luar dan tampaknya tak menyediakan obi. Barang dalam wujud paling besar yang mereka jual adalah alas meja.

Pernak-pernik seperti tas, tempat kertas, kotak sigaret, dan pembungkus kain krep tertata dalam kotak-kotak berhias layaknya barang-barang hiasan.

Tn.Takichiro akhirnya membeli dua atau tiga dasi yang tampaknya bukan kreasi Tatsumura, dan juga sebuah tempat kertas Kikumomi. Kikumomi adalah pengembangan sebuah barang kerajinan yang disebut Daikukomomi tapi dalam bentuk kain, yang dibuat di Tategatake oleh Koetsu lebih dari tiga ratus tahun lampau.

Di Tohoku sebelah manakah ini Di sana ada sebuah tempat di mana orang-orang masih membuat sesuatu yang mirip ini dengan bahan kertas Jepang yang tahan lama, kata Tn.Takichiro.

Ya,ya, seru penjaga toko. Tapi saya tidak tahu banyak mengenai hubungan antara tempat kertas ini dengan Koetsu.

Di sana ada beberapa unit radio portable Sony yang tertata di atas kotak-kotak berhias di bagian belakang, yang tentu saja mengejutkan mereka bertiga, bahkan meski itu hanyalah barang kiriman yang tujuannya untuk memperoleh mata uang luar negeri.

Mereka bertiga kemudian dipersilakan menuju ruang bertemu di sebelah belakang, di mana mereka dijamu dengan secangkir teh. Pegawai itu mengatakan pada mereka bahwa beberapa bangsawan dari negara tetangga pernah duduk di kursi yang sedang mereka tempati.

Di luar jendela tampaklah serumpun pohonan sugi yang masih kecil, tapi kelihatan luar biasa.

Pohon sugi jenis apakah itu tanya Tn. Takichiro.

Saya tidak tahu persis, tapi saya kira itu sugi jenis Koyo atau semacamnya.

Bagaimana menuliskannya dalam huruf Tiongkok

Tukang kebun pun tak selalu tahu bagaimana menuliskan namanya. Tapi tidakkah ia jenis tumbuhan yang berdaun lebar Apa pun namanya, sugi jenis ini tumbuh di sepanjang Honshu ke arah selatan.

Kenapa batangnya berwarna seperti itu

Itu karena lumut.

Mereka pun mengerahkan pandangan ke arah suara radio yang baru saja dinyalakan dan melihat seorang pria menjelaskan sesuatu kepada tiga atau empat wanita Barat.

Itu kakak Shinichi, seru Chiko seraya berdiri.

Ryusuke, kakak Shinichi, melangkah mendekati Chieko. Ia membungkukkan kepala di hadapan kedua orang tua gadis itu.

Kau jadi pemandu wanita-wanita itu tanya Chieko. Saat keduanya saling mendekat, gadis itu merasa kesulitan untuk berakrab-akrab dengannya; berbeda jika ia berhadapan dengan Shinichi yang ramah itu. Ia merasa malu dan tak enak.

Bukan jadi pemandu. Temanku yang biasanya mendampingi, menjadi juru bahasa. Tapi karena adik perempuannya meninggal, aku pun menggantikan tempatnya selama beberapa hari.

Siapa Adik perempuannya

Ya. Padahal umurnya baru... kira-kira dua tahun lebih muda dari Shinichi. Ia gadis yang manis. Chieko terdiam.

Bahasa Inggris Shinichi sangat bagus. Tapi ia pemalu. Dan, emm, aku... sebenarnya tak perlu juru bahasa untuk pergi ke toko. Mereka ini mau membeli radio-radio portable. Mereka wanita Amerika yang tinggal di Hotel Miyako.

Oh.

Hotelnya dekat sini, jadi kami mampir saja. Aku berharap mereka akan melihat-lihat kain produksi kita, tapi ternyata... tidak. Yang dicari malah radio, bisik Ryusuke sambil tertawa. Tapi bagaimanapun juga tak apalah.

Baru pertama kali ini aku melihat ada radio dijual di tempat seperti ini.

Radio portable ataukah sutradolar tetaplah dolar. Jadi, sama saja mau beli yang mana.

Aku mengerti.

Tadi baru saja kami melihat-lihat taman. Ada banyak ikan mujair di kolam, beraneka warna. Aku bingung, bagaimana aku bisa menjelaskan perihal mujair itu jika mereka bertanya secara detail. Kupikir yang bisa kukatakan hanyalah beautiful, beautiful. Aku benar-benar senang bisa bertemu denganmu di tempat ini dan menjauh dari mereka. Aku tak tahu apa pun tentang ikan mujair. Aku tak mau tahu bagaimana menyebutkan warna dalam Bahasa Inggris. Some have spots... Ryusuke terdiam sesaat. Chieko, maukah kau pergi keluar dan melihat-lihat mujair

Bagaimana dengan wanita-wanita itu

Lebih baik meninggalkan mereka bersama pegawai toko, di sini. Mereka akan segera pulang ke hotel untuk minum teh. Mereka berharap bisa bertemu dengan suami mereka di sana untuk kemudian pergi ke Nara.

Aku akan bilang pada ayah dan ibu dulu.

Aku pun harus bicara pada turisku, maafkan aku. Ryusuke pergi menghampiri wanita-wanita itu dan mengatakan sesuatu. Wajah Chieko memerah.

Ryusuke segera kembali dan mengajak Chieko menuju ke taman.

Keduanya duduk dekat kolam dan menatap ikan mujair yang berwarna-warni menyenangkan. Keduanya terdiam beberapa saat.

Chieko, pegawai yang di tokomu itusejak bisnis keluargamu berbadan hukum, sekarang aku tak tahu kau menyebutnya manajer ataukah direkturkukira kau perlu mendekatinya dengan lebih meyakinkan dan mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Kau bisa melakukannya kan Aku bisa menemanimu jika kau mau.

Chieko tak mengira jika ia akan mendengar saran ini. Hatinya merasa segan.

Malam harinya, sepulang dari toko Tatsumura, Chieko bermimpi. Segerombol ikan mujair berbagai jenis berkumpul di sekitar kakinya saat ia berlutut di tepi kolam. Ikan-ikan itu saling tumpang tindih, menggelepar-gelepar saat menjulurkan kepalanya keluar dari permukaan air.

Seolah ia bisa berpikiran waras dalam mimpi itu. Itu terjadi di sebuah sore. Ikan-ikan itu mendekat ketika Chieko menyibak permukaan air dengan tangannya, membuat riak-riak kecil. Gadis itu terkejut, tapi ia merasa begitu sayang dengan ikan-ikan itu. Rasa sayang yang tak bisa diungkapkan.

Wangi apa... daya magis apa yang memancar dari tanganmu tanya Ryusuke.

Karena merasa malu mendengarnya, Chieko bangkit. Ikan mujair itu mungkin telah terbiasa dengan manusia.

Ryusuke memandang raut wajah Chieko.

Tepat di sana itu ada Higashiyama, kata Chieko, menghindari tatapan Ryusuke.

Tidakkah warnanya jadi agak berbeda Lebih mirip warna musim gugur tanya Ryusuke.

Setelah terbangun, Chieko tak ingat benar apakah Ryusuke ada di sampingnya dalam mimpi itu. Untuk beberapa saat ia tak bisa tidur.

Esok harinya, Chieko merasa ragu untuk melakukan apa yang disarankan Ryusuke itu.

Saat toko hampir tutup, Chieko duduk di muka daftar harga. Sebuah stan bergaya lama yang dikelilingi kisi-kisi tipis. Uemura, kepala pegawai, melihat Chieko tampak serius. Nona Chieko, apa yang Anda inginkan

Maukah kau menunjukkan beberapa kain kimono kita

Kain kimono kita Uemura tampak lega. Anda ingin mengenakan kimono yang ada di toko kita Jika Nona menginginkan sehelai, tidakkah ini untuk menyambut tahun baru Kimono untuk berkunjung atau yang berlengan panjang Coba kulihat dulu, tidakkah Nona biasa membeli kimono di toko pencelupan kain seperti Okazaki atau di tempat seperti

Eriman

Aku ingin kau menunjukkan padaku beberapa kain Yuzen kita. Ini memang bukan untuk tahun baru.

Saya akan menunjukkan seluruh koleksi kita. Tapi saya pikir apakah ada di antara koleksi itu yang memenuhi selera seorang gadis berpengalaman seperti Nona ini Uemura pun bangkit, memanggil dua orang pegawai, membisikkan sesuatu pada mereka. Mereka bertiga pun segera mengeluarkan sepuluh gulung kain lalu menggelarnya di tengah lantai, menyusun kain-kain itu dengan tangan mereka yang cekatan.

Yang ini kukira bagus. Ternyata Chieko tak butuh waktu lama untuk menjatuhkan pilihan. Biasanya kau mengerjakannya dalam lima hari ataukah seminggu Detailnya terserah kamu... garis warna dan semacamnya.

Uemura tercengang. Ini begitu mendadak.

Kita kan pengusaha grosir, jadi kita jarang mengambil bahan kemudian membuatkan; tapi tak apalah.

Dua pegawai toko itu menggulung kembali kain-kain itu dengan cekatan.

Ini ukurannya, seru Chieko sambil meletakkan sehelai kertas di atas meja Uemura, tapi tak segera beranjak. Tuan Uemura, saya ingin belajar tentang bisnis sedikit-sedikit suatu saat. Saya harap Tuan Uemura mau membantu, pinta Chieko dengan nada lembut, perlahan menundukkan kepalanya.

Tentu saja. Dan raut wajah Uemura menegang.

Dengan tenang Chieko meneruskan, Besok saya pikir bisa dimulai, tapi apakah Tuan Uemura mau menunjukkan buku kas induk juga

Buku kas induk Uemura tampak tersenyum penuh kepahitan. Apakah Nona akan belajar pembukuan

Tak seambisius itu. Kupikir aku hanya akan melihatnya sekilas. Aku tak tahu sedikit pun urusan bisnis, Anda tahu

Ya, memang buku kas induk itu meliputi banyak segi. Saya tak bisa menjelaskannya hanya dalam sekali duduk. Belum lagi di sana ada aturan seperti pajak dan lain-lain.

Apakah toko kita menggunakan buku kas in-

duk ganda

Apa maksud Nona Jika Nona tahu saya akan betul-betul minta bantuan Nona tentang segala seluk-beluk pembukuan ganda itu. Toko kita akan maju terus.

Kumohon tunjukkanlah padaku esok hari, Tuan Uemura, pintanya terus terang, lalu melangkah pergi.

Saya telah mengurus toko ini sejak Nona belum lahir, kata Uemura; tapi gadis itu tak hendak berpaling. Apa maksudnya ini..., tanya Uemura lirih. Lalu ia menggigit lidah. Aduh, punggungku sakit.

Ketika Chieko kembali pada ibunya yang tengah mempersiapkan makan malam, wanita tua itu begitu heran. Chieko, kau mengatakan sesuatu dengan yakin.

Tapi itu tak mudah.

Anak muda kadang memang mengkhawa-

tirkan, bahkan meski kau kelihatan lembut. Hatiku hampir tergoncang mendengar ucapanmu tadi.

Saya mendapat ide dari seseorang.

Sungguh Siapa

Kakak Shinichi, waktu di Tatsumura itu. Ayah Shinichi dan kakaknya masih bagus bisnisnya.

Katanya, di tokonya kini ada dua pegawai yang bagus; jadi jika Tuan Uemura berhenti, ia akan mengirimkan salah satu di antara pegawai itu ke sini atau bahkan dia sendiri.

Maksudmu Ryusuke.

Ya, ia memang mencoba berbisnis sekarang, namun demikian ia masih bisa konsentrasi untuk lulus ujian.

Begitukah seru Ny.Shige sambil menatap wajah putrinya yang berbinar-binar. Tapi Tuan Uemura tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia berencana untuk berhenti kerja.

Dan Ryusuke juga bilang, kalau rumah bagus yang di dekat semanggi putih itu dijual, ia akan meminta ayahnya untuk membeli rumah itu.

Aku mengerti. Dan sesaat ibu Chieko tak bisa berkata apa pun. Ayahmu telah begitu khawatir terhadap perkembangan dunia.

Ia juga bilang, Tidakkah itu bagus jika ayahmu yang menempati

Ryusuke bilang begitu

Ya. Oh, dan ibu mungkin mendengarnya waktu kukatakan itu pada Tuan Uemura. Tapi saya akan pergi untuk mengirimkan satu kimono koleksi toko kita kepada gadis di kampung sugi itu. Tak apa-apa kan

Tentu saja. Dan jaketnya, apa tidak sekalian

Chieko memalingkan pandang, kedua matanya tergenang basah.

Mengapa orang-orang menyebutnya mesin tenun tinggi Tentu saja karena bentuknya yang tinggi. Tanah tempatnya berdiri sedikit dilubangi, jadi mereka bisa lebih rendah. Ada juga yang mengatakan bahwa ini dilakukan kerena kelembaban tanah bagus untuk menjaga kualitas benang. Semula, penenun kadang duduk di atas mesin tenun, tapi mereka sekarang hanya meletakkan batu besar dalam keranjang lalu menggantungkannya di kedua sisi mesin.

Beberapa perusahaan tenun rumah tangga menggunakan sekaligus mesin tenun tangan dan mesin tenun mekanik.

Di tokonya, keluarga Hideo memiliki tiga mesin tenun tangan yang digunakan oleh tiga bersaudara: ia sendiri beserta dua saudaranya. Karena Tn.Sosuke ayah mereka juga menenun sesekali, maka usaha mereka berjalan baik di tengah banyaknya pengusaha kecil penghasil tenunan di Nishijin.

Kegembiraan Hideo bertambah ketika obi yang diminta Chieko itu hampir selesai. Mungkin karena ia mengerahkan seluruh jiwanya atau karena ia bisa merasakan kehadiran Chieko dalam gerakan buluhbuluh mesin tenun dan suara ribut yang dihasilkannya.

Bukan; bukan Chieko. Itu adalah Naeko. Obi itu bukan untuk Chieko tetapi untuk Naeko. Meskipun begitu, saat Hideo menenun, Chieko dan Naeko menjadi satu.

Ayah Hideo, Tn.Sosuke, berdiri di sampingnya beberapa saat, mengamati. Astaga, betapa obi yang indah. Dan betapa aneh polanya. Ia mengangkat pandangnya. Untuk siapakah

Ini untuk putri Tuan Sada, Chieko.

Lalu polanya

Chieko yang membuatnya.

Sungguh Ia sendiri Hmm... Tn.Sosuke menghirup napas dalam. Dipandangnya sekali lagi obi yang sedang ditenun itu, menyentuhnya dengan jemari. Hideo, tenunanmu begitu teliti. Bagus. Ia ragu sejenak. Hideo, ayah kira kau telah mendengarnya, bahwa ayah merasa berhutang budi pada

Tuan Sada.

Saya tahu, Ayah.

Ayah kira begitu, katanya, tapi kemudian melanjutkan. Karena, berkat uang pinjaman darinyalah maka ayah bisa membeli mesin tenun pertama dan mulai mendirikan usaha tenun sendiri. Setiap kali menenun, ayah biasa memberikannya pada Tuan Sada. Ayah begitu malu mengantarkan sehelai obi saja kepadanya sehingga ayah pergi ke sana diam-diam pada malam hari. Hideo terdiam.

Tuan Sada tak pernah kelihatan kecewa. Sekarang kita mempunyai tiga mesin tenun, dengan cara bagaimanapun, yah... kita bisa mengurusnya. Meskipun begitu, posisi sosial kita berbeda...

Saya tahu, tapi mengapa Ayah bicara seperti itu

Kau tampak begitu menyukai Chieko.

Begitukah Hideo menghentikan permainannya, tapi kemudian tangan dan kakinya kembali menyentuh mesin itu dan melanjutkan kerjanya.

Segera setelah obi selesai dibuat, Hideo bergegas menuju ke kampung sugi.

Siang hari. Seberkas pelangi tampak beberapa kali di tengah perjalanan menuju Kitayama.

Hideo melihat pelangi itu saat ia melangkah menapakkan kakinya seturun dari bus sambil menjinjing bungkusan berisi obi untuk Naeko. Pelangi itu lebar, namun warnanya pucat, dan bagian atas yang membusur itu lenyap. Hideo melangkah terus, dan saat ia menatapnya, warna-warna menjadi pucat seolah hendak menghilang.

Sebelum bus yang ia tumpangi memasuki daerah gunung itu, Hideo juga melihat sejenis pelangi, bahkan dua kali. Tak satu pun dari ketiga pelangi itu yang bentuknya sempurna hingga puncak lengkungan; ada bagian-bagian yang tampak tipis saja. Ini bukanlah jenis pelangi yang tak lazim, tapi hari itu Hideo agak berpikir-pikir juga. Apakah pelangipelangi itu pertanda keberuntungan ataukah sebaliknya

Langit tak bermendung, tapi setelah ia memasuki hutan tak bisa lagi ia berkata apa-apa jika ternyata pelangi yang tampak kali ini adalah karena gugusan-gugusan gunung mendesak tepian sungai Kiyotaki.

Hideo turun dari bus di kampung Kitayama. Naeko yang mengenakan pakaian kerja itu segera mendekati sambil mengusapkan tangannya yang basah pada apronnya.

Ia sedang membasuh sebatang kayu dengan pasir bodai secara hati-hati. Ini masih bulan Oktober, tapi air di gunung itu mungkin telah menjadi dingin. Kayu gelondongan terapung-apung di atas palung buatan. Air panas tampaknya mengucur dari sebuah ketel kecil di sisi tempat uap membubung naik.

Oh, terima kasih telah datang jauh-jauh ke belakang gunung ini. Naeko membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

Ini aku bawakan obi yang kau inginkan. Aku datang untuk memberikannya kepadamu.

Obi ini seharusnya yang menerima adalah Chieko. Aku tak ingin menggantikannya. Aku sudah cukup bahagia bisa berjumpa dengannya, seru Naeko.

Obi ini dijanjikan untukmu, bukan begitu Dan bahkan Chieko sendirilah yang mendesainnya.

Naeko menunduk. Kemarin lusa, Hideo, aku telah menerima barang-barang untuk dipakai bersama obi itu, dari kimono sampai sandal-sandal, seluruhnya dari toko Chieko. Di mana aku bisa memakai barang-barang seperti itu

Bagaimana jika saat Festival Jidai tanggal dua puluh dua nanti Bisakah kau keluar saat itu

Ya, bisa saja, jawab Naeko tanpa ragu. Orangorang akan melihat kita di sini. Ia terlihat berpikir. Mari pergi ke seberang sungai, lewat batu-batu pipih itu.

Tak pantas bagi mereka berdua untuk bersembunyi di antara pepohonan sugi seperti yang dilakukan gadis itu bersama Chieko.

Obi buatanmu ini akan menjadi barang kekayaanku sepanjang usia.

Oh, jangan. Aku akan membuatkan satu lagi untukmu.

Naeko terdiam.

Keluarga tempat Naeko tinggal sekarang, tentu saja, tahu bahwa Chieko mengiriminya sehelai kimono, jadi tak ada masalah jika Naeko membawa Hideo datang ke rumah. Tapi karena Naeko memahami keadaan Chieko sekarang dan tahu perihal toto itu, maka itu saja sudah cukup memuaskan hasratnya: mendambakan bertemu dengan saudaranya. Lagi pula, ia tak ingin membuat gadis itu terkena masalah.

Sungguh, karena keluarga Murase yang telah membesarkan Naeko dan kini tempat Naeko bekerja dengan sukarela adalah pemilik-pemilik tanah di gunung sugi itu, maka tak masalah bagi keluarga Naeko untuk menerima kebenaran yang nyata sekarang. Mungkin keluarga pemilik tanah di gunung sugi ini mempunyai posisi yang lebih stabil daripada keluarga pedagang grosir kelas menengah.

Maka, meski kasih sayang Chieko sangatlah menyentuh hati Naeko, ia tetap mencoba menghindari pertemuan atau bahkan pengenalan yang mendalam dengan gadis itu.

Naeko mengajak Hideo meniti batuan-batuan pipih di tengah sungai Kiyotaki. Bahkan di dasar sungai, bibit sugi bisa ditanam di antara batu-batu kecil.

Maafkan kelakuanku yang kasar, seru Naeko. Ia masih muda dan ingin sesegera mungkin melihat obi itu.

Gunung-gunung sugi tampak begitu indah, Hideo memuji, mengangkat pandangnya sambil menguraikan simpul pada kain katun yang membungkus, kemudian mengendurkan tali pengikat kertas pembungkus. Ini ikatan simpulnya dan ini kukira yang depan.

Oh. Naeko mengguncangkan obi itu untuk menguraikannya. Ini terlalu bagus untukku. Dan sepasang matanya cemerlang.

Bagaimana bisa terlalu bagus kalau yang menenunnya anak muda seperti aku ini Ketika kudengar bahwa aku harus mengerjakan pola sugi dan cemara ini, kupikir karena tahun baru sudah dekat maka bagian penyimpul semestinya adalah yang cemara; tapi Chieko bilang lebih baik sugi. Sekarang karena aku sudah berada di sini, aku menyadari mengapa ia pilih sugi. Ketika kau memikirkan pohon itu, kau membayangkan barisan pohon-pohon tua. Meski begitu mereka banyak manfaatnya. Di sini terlukis juga beberapa batang pohon cemara, untuk menjaga keselarasan warna.

Tentu saja warna batang pohon sugi pada obi itu bukanlah warna alam sebenarnya. Ada pertimbangan style dalam warna dan desain.

Obi ini sungguh menyenangkan. Terima kasih banyak. Tapi seorang gadis sepertiku kan tak bisa memakai obi yang begini mencolok.

Apakah cocok untuk dipakai dengan kimono yang dikirimkan Chieko

Kukira cocok. Sangat cocok.

Chieko telah mengenal dengan baik gaya-gaya kimono yang ada di Kyoto sejak ia masih kecil. Aku belum menunjukkan obi ini padanya. Entah bagaimana, aku jadi agak malu.

Tapi ini kan desain buatannya. Aku ingin ia melihatnya.

Kau akan memakainya di Festival Jidai kan tanya Hideo sambil melipat obi dan menempatkannya dalam kertas pembungkus.

Ketika selesai mengikat tali, ia berkata, Kumohon terimalah dengan senang hati. Aku yang menjanjikan untuk membuat obi ini, tapi sebenarnya Chiekolah yang memintaku untuk membuatnya. Kumohon anggaplah aku sebagai tukang tenun semata... Meski kucurahkan jiwaku ke dalamnya demi untukmu.

Hideo mengangsurkan obi itu ke dekat lutut Naeko. Gadis itu terdiam.

Chieko telah melihat bermacam ragam kimono. Ia akrab dengan bermacam gaya, dan aku yakin ini akan cocok dengan kimono yang dikirimkannya padamu... seperti yang kukatakan sebelumnya.

Aliran air di bagian-bagian dangkal sungai Kiyotaki di hadapan mereka mengalunkan suara yang lirih dan lembut. Hideo menebarkan pandangnya ke sekeliling, ke arah pepohonan sugi di tepian sungai itu. Aku kira batang-batang pohon yang berjajar sejenis saling berdampingan itu layaknya barang kerajinan tangan; bahkan daun-daun di ranting atas lebih tampak seperti kuntum-kuntum bunga, meski cukup sederhana dan berwarna suram.

Warna kedukaan tergores di wajah Naeko. Ayah gadis itu bekerja sebagai pemotong cabang dan ranting. Ia telah jatuh saat tengah meloncat dari pohon ke pohon. Apakah itu karena hatinya perih setelah meninggalkan anaknyaChieko Waktu itu, Naeko pun masih bayi; ia tak tahu apa pun. Orang-orang kampunglah yang memberi tahu setelah ia beranjak dewasa.

Dulu Naeko selalu berharap untuk bertemu dengan saudaranya jika memungkinkan, bahkan meski itu hanya sekilas pandang.

Rumah Naeko yang semula masih berdiri, sekarang ditinggalkan kosong, dimakan cuaca dan bobrok, sejak ia tak bisa tinggal sendirian di sana. Sudah lama ia tinggal bersama dengan suami istri setengah baya yang bekerja di gunung-gunung Sugi itu, juga anak gadis mereka yang masih duduk di sekolah dasar. Tentu saja ia tak perlu mengeluarkan uang; mereka bukan jenis orang yang bersedia menerima pemberian seperti itu.

Gadis sekolah dasar itu sangat tergila-gila pada bunga. Di pekarangan ada sebatang pohon zaitun kencana berbunga wangi. Ia akan datang meminta Kakak Naeko untuk memangkas pohon itu.

Biarkan saja, malah bagus seperti ini, jawab Naeko waktu itu. Saat keduanya melewati rumah itu, Chieko bisa merasakan wangi kuntum-kuntumnya, bahkan dari jarak yang lebih jauh dari kebanyakan orang. Saat menyadarinya, gadis itu merasa sedih.

Ketika Naeko mengangkat obi ke pangkuan, kakinya mulai terasa berat. Beban pikiran mengganggu perasaannya.

Sekarang karena aku sudah tahu di mana Chieko tinggal, aku pun sudah merasa cukup dengan pertemuan itu. Aku kenakan kimono dan obinya sekali ini saja. Kau mengerti kan, Hideo katakatanya keluar dari hati.

Ya, jawabnya. Kumohon datanglah saat Festi-

val Jidai nanti. Aku ingin Chieko melihatmu mengenakan kimono dan obi ini, meskipun aku tak mengundangnya. Pawai festival akan dimulai di Gosho, jadi aku akan menantimu di Gerbang Hamaguri di sisi barat. Kamu setuju kan

Pipi gadis itu bersemu merah, lalu ia mengangguk dalam-dalam.

Sebatang pohon kecil tumbuh di tepi sungai, agak jauh. Pantulan warna daun-daunnya yang merah tua gemetar di tengah aliran air dingin itu. Hideo mengangkat pandangnya. Pohon apa itu, daunnya bisa bertukar warna

Itu pohon pernis, jawab si gadis sambil mengangkat pandang. Saat itu pula,dengan sebelah tangan yang gemetaria himpunkan rambut dan menggulungnya, tapi kemudian terurai kembali jatuh ke punggung.

Oh.

Wajahnya memerah. Ia menggulung rambutnya dengan kedua tangan lalu menyimpulkannya dengan penusuk rambut yang terselip di bibirnya. Tapi penusuk rambut itu begitu kecilnya; ia menguraikan rambut satu-satu.

Hideo menyukai rambut dan gerakan gemulai gadis itu.

Kau membiarkan rambutmu tumbuh panjang, serunya.

Ya. Chieko pun begitu. Ia mengikatkannya, jadi orang tak tahu kalau rambutnya panjang, seru Naeko sambil buru-buru membalutkan handuk di kepalanya. Maaf.

Hideo tak menyahut.

Di sini aku seperti mendandani batang sugi saat aku menggosoknya. Padahal aku sendiri tak berdandan.

Meski demikian, tampak seolah gadis itu mengoleskan warna tipis lipstik pada bibirnya. Hideo berharap gadis itu akan membuka handuk sekali lagi agar ia dapat melihat rambutnya jatuh ke punggung, tapi tak bisa ia meminta gadis itu agar melakukannya.

Gunung yang menancap jauh di sebelah barat lembah sempit itu tampak mulai agak gelap.

Naeko, kukira kau akan melanjutkan pekerjaanmu, seru pemuda itu sambil beranjak bangkit.

Hari-hari terasa semakin pendek. Dan hari ini memang pekerjaan sudah hampir selesai.

Hideo tengadah ke arah warna-warni keemasan cahaya matahari yang tersangkut di antara batangbatang sugi di puncak gunung sebelah timur lembah. Hideo, terima kasih. Terima kasih banyak. Naeko pun bangkit, membawa obi itu dengan gerakan yang lembut.

Jika kau harus berterima kasih, ucapkan itu pada Chieko,pinta Hideo. Meski begitu keriangan setelah menyelesaikan tenunan obi untuk putri sugi ini semakin terasa menghangatkan dada. Mungkin kedengarannya aku orang keras hati, tapi yakinkan dirimu untuk datang di gerbang barat Gosho, gerbang Hamaguri.

Tentu, Gadis itu mengangguk dalam-dalam. Aku akan merasa kikuk kalau mengenakan obi dan kimono pertama kali, tapi...

Festival Jidai yang diadakan tanggal dua puluh dua Oktober bersama dengan Festival Aoi di Kuil Kamigamo dan Shimogamo, juga Festival Gion disebut sebagai tiga festival besar ibu kota lama. Festival Jidai dirayakan di Kuil Heian, tapi pawainya dimulai dari Gosho, sebuah daerah di Kyoto.

Sejak awal pagi Naeko tak bisa menenangkan debaran jantungnya. Sekarang ia tengah menanti Hideo di bawah naungan bayang-bayang Gerbang Hamaguri. Setengah jam sebelum waktu yang mereka sepakati, ia sudah berdiri menanti. Inilah pertama kali ia menanti seorang laki-laki.

Beruntunglah, karena langit begitu cerah dan membiru.

Kuil Heian dibangun pada tahun 1895, yaitu tahun kedua puluh delapan masa kekaisaran Meiji, atau seribu tahun setelah perpindahan ibu kota dari Nara ke Kyoto. Jadi, tentu saja festival itu adalah yang paling muda di antara tiga festival besar. Karena festival itu diadakan untuk memperingati peresmian Kyoto sebagai ibu kota, maka perubahan adat kebudayaan sepanjang masa seribu tahun itu ditunjukkan dalam iring-iringan pawai. Setiap era diwakili oleh orang yang menggunakan pakaian tertentu, menggambarkan tokoh terkenal pada zaman itu.

Sebagai contoh, di sana ada Kaisarina Kazunomiya, penyair wanita Rengetsu, dan selir agung Yoshino. Ada pula Izumo No Okuni, pendiri Kabuki yang legendaris itu; juga Yodogimi, selir Hideyoshi. Puteri Tokiwa, Yokobue, dan Puteri Tomoe juga tampak, seperti juga Puteri Shizuka, Ono no Komachi, Murasaki Shikibu, dan Sei Shonagon.

Lalu masih ada lagi wanita-wanita Ohara dan Katsura. Mereka dan yang lain seperti para selir, para wanita pemain sandiwara, dan pedagang keliling bertebaran sepanjang pawai. Tentu saja ada tokoh pria seperti Kusunoki Masashige, Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, bangsawan istana kekaisaran, juga para prajurit.

Arak-arakan ini sangat panjang bagaikan gulungan tirai khas Kyoto yang diuraikan di hadapan pengunjung.

Para wanita ditampilkan dalam prosesi itu sejak tahun 1950, membuat pawai tampak lebih mencolok dan mengagumkan.

Berada di barisan terdepan dalam pawai itu adalah para pendukung setia restorasi Meiji dan pasukan Kitakuwada dari Tamba yang jumlahnya segunung itu. Di bagian belakang ada para pejabat sipil di masa Enryaku, berbaris seperti saat menghadap kaisar. Ketika arak-arakan kembali ke Gosho, doa-doa Shinto dipanjatkan di hadapan kereta kekaisaran.

Sebelum arak-arakan berangkat, kita bisa melihatnya dengan jelas di alun-alun Gosho. Itulah mengapa Hideo mengajak Naeko ke tempat ini.

Meski kerumunan orang mengalir datang dan pergi, seolah mereka tak mengetahui Naeko yang berdiri menunggu Hideo dalam bayang-bayang pintu gerbang. Tapi kemudian seorang wanita yang tampaknya istri seorang pemilik toko datang mendekat. Nona, betapa bagus obi yang kau kenakan. Di mana kau membelinya Kelihatan serasi benar dengan pakaianmu. Ia pun mulai menyentuhnya. Maukah kau menunjukkan simpulnya di bagian belakang

Naeko membalikkan tubuhnya. Ia terkejut juga, dan diamati seperti itu ia merasa senang.

Akhirnya datanglah Hideo. Terima kasih telah datang menunggu.

Seluruh tempat duduk di sepanjang jalan mulai dari Gosho itudi mana peserta pawai akan melintasditempati oleh pengunjung dari klub-klub perjalanan wisata dan dari lingkungan kuil. Tapi Hideo dan Naeko berdiri di belakang tempat duduk turis.

Inilah pertama kalinya Naeko melihat arakarakan dari sebuah tempat yang bagus. Ia asyik menonton, lupa akan pakaian baru dan pemuda di sampingnya.

Setelah tahu bahwa ternyata Hideo tak menonton arak-arakan, Naeko bertanya padanya, Hideo, kau sedang melihat apa

Kehijauan cemara... dan arak-arakan itu. Pohon-pohon itu menjadi latar belakang, membuat pawai tampak lebih bagus lagi. Taman-taman di Gosho ini luas dengan tanaman utama cemara hitam. Itu pohon kesukaanku... dan sebenarnya sejak tadi aku melirikmu. Tidakkah kau tahu Naeko menundukkan pandangnya.