GOING TO HEAVEN - 7
Setiap hari, hampir disetiap waktu dan tempat, Ibnu menampakkan paras tak bersemangat, sebuah kata yang lebih halus untuk sebuah kata murung. Ia seperti sedang menyimpan beban hidup yang begitu berat. Beban yang selama ini baru petama kali dirasakannya, yang penyelesaiannya tidak semudah dengan apa yang ia baca dalam buku-buku psikologi. Sebuah beban yang entah kenapa seolah-olah menciptakan sebuah paradoks dalam hatinya. Disatu sisi ia ingin terlepas dari derita, disisi yang lain ia ingin terus memelihara rasa itu, rasa yang menurutnya merupakan kenikmatan yang begitu sempurna, keindahan hidup yang sesungguhnya.

Disekolah, dirumah, dimana saja ia berada, wajah ceria dan sikap percaya dirinya seolah sirna ditelan makhluk gaib. Ya, makhluk gaib itu adalah bayangan sosok kekasihnya, Nurussyifa. Kian waktu bergulir tak begitu lama, orang-orang terdekatnya merasakan ada sesuatu yang aneh sedang terjadi pada dirinya. Orang yang paling cepat merasakan perubahan sikapnya itu adalah sang ibu. Sang ibu yang merupakan ahli ilmu jiwa itu memiliki kepekaan yang sangat tinggi, mungkin karena ilmunya itulah yang menjadikannya sebagai seorang wanita yang peka terhadap jiwa orang lain. Apalagi yang sedang dirasakannya adalah anak semata wayangnya sendiri. Seorang anak yang begitu dicintai dan diharapkannya untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk ummat dan dunia ini.

Sebenarnya ketika pertama kali Ibnu merasakan jatuh cinta, sang ibu telah mengetahuinya. Mata batin Ibunya tak akan mungkin salah melihat apa yang sedang dialami anaknya. Seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya akan merasakan getaran-getaran dan bisikan-bisikan aneh yang masuk entah dari mana. Meskipun begitu, Ibunya tak serta merta menegur atau menanyakan feeling-nya tersebut pada anaknya. Untuk sementara sang ibu hanya mengamatinya dari kejauhan, melihat gerak-gerik dan perubahan sikapnya. Hari demi hari munculah keyakinan bahwa anak tercintanya tersebut sedang mengalami pergolakan batin. Sang ibu sudah bisa menduga pergolakan apa yang sedang dialami oleh anaknya, karena memang sudah waktunya anaknya itu mengalami hal yang pasti akan dialami oleh semua orang diusianya. Ketika seseorang mengalami gejolak tersebut, maka rasionya tak mampu berfungsi dengan semestinya. Seringkali id mengalahkan superego, dan waktulah yang akan menentukan apa yang akan terjadi pada anaknya tersebut.

Sang ibu membicarakan hal tersebut dengan suaminya, dan memutar fikiran untuk mencari jalan keluar atas cambuk asmara yang sedang mendera anak mereka. Akhirnya suami istri tersebut memutuskan untuk mengajak anaknya berbicara dari hati ke hati. Sang ibulah yang akan membicarakan hal tersebut empat mata. Tidak semua anak mau jujur menceritakan pengalaman cintanya kepada orang lain, apalagi didepan orangtuanya. Biasanya mereka merasa malu. Tapi sang Ibu mencoba untuk mengajak anaknya bersedia menceritakan masalahnya sehingga bisa dicari jalan keluarnya secara bijaksana. Sang Ibu memulai pembicaraan.

Umurmu sudah berapa yah, anakku yang ganteng

Kok tumben Ibu tanya umur padaku Biasanya tanya udah makan belum, udah baca buku belum

Ehmm, ya Ibu merasa kamu sudah kian dewasa. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat tanpa Ibu sadari. Belum buram dalam bayangan Ibu rengekan tangis ketika kamu masih bayi. Rasanya baru kemarin sore

Sementara Ibnu berbicara dalam hatinya. Apakah Ibunya juga tahu bahwa dirinya saat ini tidak jauh berbeda dengan seorang bayi mungil yang gemar menangis Tapi ia berusaha menyembunyikan apa yang sedang dirasakannya.

Sekarang kan Ibnu sudah besar, bu. Sudah 17 tahun jawab Ibnu cukup singkat.

Ya, menurut teori psikologi, anak seusia kamu sudah memasuki masa pubertas, menjelang masa adolesen. Biasanya terjadi pergolakan jiwa diusia kamu ini

Sejurus Ibnu sadar kalau sebenarnya Ibunya itu sedang memancingnya untuk menceritakan masalahnya. Ibunya bukanlah orang yang bodoh. Ia juga sadar kalau sikapnya akhir-akhir ini menunjukkan keanehan dari biasanya. Sepertinya ia tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya dihadapan Ibunya. Ibunya terlalu cerdas untuk dibohongi.

Ibnu tahu dengan maksud Ibu menanyakan hal itu. Memang Ibnu akui kalau Ibnu sedang mengalami masalah yang biasa dialami oleh seorang anak seumur remaja. Tapi Ibu tak perlu khawatir. Insya Allah Ibnu masih bisa mengatasinya sendiri. Bukankah ini adalah proses menuju dewasa

Kata Ibnu, bibirnya terasa begitu berat mengatakannya, tapi tetap berusaha meyakinkan Ibunya bahwa ia baik-baik saja. Sementara dalam fikirannya sebenarnya ia merasa ragu apakah ia akan bertahan melewati masa-masa seperti itu atau tidak.

Ibu percaya padamu, anakku. Ibu yakin kau lebih dewasa dari usiamu, sehingga kau mampu menyelesaikan masalahmu sendiri

Ibnu sangat kaget mendengar perkataan Ibunya. Begitu mudahkah Ibunya itu percaya dengan kemampuannya menyelesaikan masalah Ia justru heran dengan Ibunya. Apakah Ibunya tidak mampu membaca keraguan yang nampak dimatanya Apakah hanya seperti itu ilmu psikologi yang dikuasai oleh Ibunya sehingga sangat mudah percaya terhadap sebuah pernyataan Kenapa Ibunya tidak berfikir lebih kritis lagi

A apa Ibu yakin kalau Ibnu bisa menyelesaikan masalah ibnu sendiri

Ibnu menatap mata Ibunya. Ia seakan menemukan keyakinan yang begitu kuat dari sorot mata Ibunya. Sepertinya Ibunya itu benar-benar yakin dengan kemampuannya. Mata biru Ibunya yang indah itu sama sekali tak menampakkan sedikitpun keraguan.

Ibnu anakku, lihatlah mata Ibu baik-baik. Tahukah kau, duhai anakku. Kau adalah anugerah yang terindah yang diberikan Tuhan untuk Ibu. Ibu adalah orang tua yang paling berbahagia diseluruh dunia, karena Ibu bisa memiliki anak yang luar biasa sepertimu. Setiap saat, Ibu selalu yakin padamu

Ibnu tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Ibunya. Mendengar kata-kata tersebut, Ibnu tak kuasa menahan air mata. Air matanya tumpah, kepalanya tersungkur ke pangkuan Ibunya. Baru kali ini ia dihidangkan kata-kata cinta yang teramat indah, kata-kata cinta yang keluar dari bibir Ibunya, sebagai ekspresi kasih sayang yang benar-benar tulus terhadap anaknya. Kata-kata yang tak tercampur oleh hawa nafsu sebagaimana kata-kata cinta yang dikeluarkan untuk seorang perempuan yang bukan mahramnya. Meskipun selama ini Ibunya seringkali memujinya, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Entah kenapa ia ingin sekali menangis. Tak sadar ia berkata sambil merengek.

Maafkan aku bu.. maafkan aku bu anakmu ini tidaklah sebaik yang Ibu kira. Anakmu ini sungguh lemah. Anakmu ini telah kalah. Seharusnya Ibu tidak memiliki anak seperti Ibnu

Sang Ibu faham dengan apa yang sedang dikatakan oleh anaknya itu. Sambil mengelus-elus kepalanya dengan lembut, ibunya berusaha menenangkan anaknya dengan belaian kasih.

Sudahlah anakku kau bukanlah anak yang lemah. Kau adalah anak yang kuat. Dalam hidup, terkadang kita diajarkan akan pahitnya kekalahan. Karena itulah kita akan merasakan nikmatnya kemenangan ketika mengalahkan musuh-musuh kita. Jika kau telah merasakan kemenangan melawan hawa nafsu, ketika itulah kau akan merasakan kenikmatan cinta yang sesungguhnya

Kata-kata ibunya laksana mantra yang bisa mengubah batu menjadi permata, mengubah api menjadi air, dan mengubah neraka menjadi syurga. Ibnu begitu tersihir dengan kekuatan kata-kata ibunya, yang begitu tulus menyajikan dekapan kasih. inilah cinta yang sesungguhnya, yang sejati.

Sejak itu, Ibnu mulai menata kembali hatinya. Ia berupaya keras untuk mengendalikan hasrat dalam dadanya, mengharmonisasikan jiwanya agar tidak kembali terjun dalam lembah asmara yang tak ada habisnya. Kata-kata Ibunya sangat menyentuh hatinya. Ia tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan orang tuanya terhadapnya. Orang tuanya begitu yakin terhadap dirinya. Ia juga sadar kalau ia adalah anak satu-satunya dari kedua orang tuanya, yang tentu saja diharapkan memiliki masa depan yang cermelang. Dipundaknyalah asa dan harapan orang tuanya diemban. Ia harus mewujudkannya dan tidak boleh mengecewakan mereka. Tidak boleh ada satu atau dua hambatan yang bisa menguasai dirinya sehingga melalaikan dirinya untuk menjadi orang yang menorehkan tinta emas dalam kanvas hidupnya. Bahkan meskipun hambatan itu bernama cinta.

***

Hari berganti hari, detik bergulir menjadi detik berikutnya. Rintik air hujan seringkali menyapa genting-genting disekitar rumah, jalanan-jalanan, pohoh-pohon dan rerumputan, sesekali langit mempertunjukkan lukisan pelangi yang berdandan begitu cantik. Warnanya merepresentasikan dinamika hidup dan kehidupan.

Dibalik jendela kamarnya, Ibnu termenung menatap langit. Fikirannya berkata, duhai hidup, hingga saat ini aku belum juga mengerti apa yang kau kehendaki.

Ia mencoba untuk merefleksikan perjalanan hidupnya selama ini, terkadang seseorang perlu menyediakan waktu untuk melihat kembali sejarah yang telah berlalu. Selama ini, ia telah mengalami banyak petualangan intelektual. Hampir semua buku karya orang-orang besar telah dilahapnya. Ia begitu mudah dan cepat dalam menyerap segala jenis pengetahuan yang ada. Untuk menjelaskan sebuah teori, ia hanya membutuhkan waktu setengah detik untuk menemukan jawabannya. Otaknya lebih cepat bekerja dibandingkan dengan komputer manapun diseluruh dunia. Tapi, tiba-tiba ia tersadar, bahwa otak yang jenius sekalipun, tidak cukup mampu untuk mengetahui apa itu makna hidup dan apa sesungguhnya yang dikehendaki olehnya. Ia bisa saja menjelaskan teori tentang perang dengan mengutip Shakespiere, mampu menjelaskan tentang cinta dengan mengutip Rumi dan Gibran, bisa mendeskripsikan masalah seni dengan mengutip kata-kata Da Vinci atau Michelangelo. Tapi, ia belum tentu mengalami, merasakan, menjiwai, menghayati dan meyakini semua keadaan itu. Selama ini ia baru sebatas menjadi seorang penyimpan informasi, penghafal kata-kata, namun bukan sebagai subjek kehidupan yang benar-benar merasakan segala warna warni kehidupan, hingga berujung pada sebuah tingkat makrifat kehidupan, memiliki ilmu hikmah dan menjadi manusia bijak. Menjadi manusia paripurna, menjadi insan kamil. Apakah ia mampu mencapai tingkatan itu Ia terus merenung.

Tiba-tiba fikirannya tertuju pada sosok seorang perempuan yang dicintainya. Sejujurnya ia belum mampu melupakan Nurussyifa sepenuhnya. Meskipun ia telah mampu mengelola hasratnya sehingga tidak meledak-ledak seperti sebelumnya, namun bayangan bidadari itu masih saja menari-nari dalam fikiran dan jiwanya. Setiap kali ia merasakan puncak penderitaan cinta, ia selalu berupaya untuk mengendalikannya, mencoba memaksakan rasionya untuk melawan hasratnya. Ia belum merasakan kemenangan jika hasratnya itu belum terkalahkan oleh rasionya. Tidak jarang, pertarungan antara rasio dan hasrat rindu dendamnya tersebut menghasilkan rasa sesak dalam dadanya, dan sesekali memuntahkan isi perutnya laksana seorang Ibu yang sedang hamil muda. Itulah harga dari sebuah rasa rindu yang harus dibayar. Rindu serindu rindunya. Tiba-tiba ia teringat dengan pesan terakhir kekasihnya.

Mas, besok Syifa akan berangkat. Jaga diri mas baik-baik

Kekasihnya itu pergi meninggalkannya, sampai batas waktu yang tak diketahui. Tanyalah pada rumput-rumput yang bergoyang, dan burungburung emprit yang berkicau dengan nada membosankan. Kalau saja ayah kekasihnya itu tidak pergi untuk kuliah S2 ke negeri kincir angin dan membawa pergi semua anggota keluarganya, mungkin saat ini ia bisa bertemu dengan cintanya. Tapi, takdir berkehendak untuk membawa jasad kekasihnya itu pergi bersama keluarganya, ke sebuah negeri nun jauh disana.

Seolah fikirannya memberontak kepada takdir, kenapa ia dijauhkan dengan kekasihnya itu. Kenapa cinta tak pernah menang dari dimensi ruang dan waktu Cinta selalu kalah olehnya.

Tiba-tiba ia memalingkan wajanya dari jendela kamarnya. Tepat didepan matanya sebuah buku. Ia ingat buku itu. Sebuah buku novel karangan Ghazali Ar Rusyd yang dihadiahkan padanya ketika mengisi acara training dimana pertama kali ia melihat paras kekasihnya itu. Hingga saat ini ia belum menyentuh kembali buku tersebut. Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi penasaran ingin membukanya. Iapun membaca setiap halaman, setiap kata demi kata yang terlukis dalam buku itu. Entah kenapa ia begitu menikmatinya, dan merasakan suasana hati yang begitu berbeda. Hingga akhirnya, dalam waktu yang tak begitu menyita waktu, iapun menamatkan setiap lembaran buku itu.

Entah kenapa, tidak disangka-sangka, ia menemukan sebuah jawaban atas pertanyaannya selama ini. Buku yang baru dibacanya ternyata begitu menginspirasi dirinya. Karya sastra tersebut memberikan sudut pandang yang begitu berbeda tentang cinta. Ya, cinta, sebuah kata yang begitu menyihir fikiran semua manusia sepanjang sejarah. Dalam setiap periode peradaban dunia, pastilah ada sebuah cerita cinta yang mengabadi.

Dalam buku yang ia baca, tertulis beberapa goresan kata:

Cinta, siapakah engkau Sepertinya tak ada seorangpun didunia ini yang mampu memahamimu. Sejujurnya, setiap goresan syairku dan semua omongan gombalku tak kuasa untuk mengerti hakekatmu. Tapi, tolonglah aku, fahamilah aku, cinta. Betapa aku ingin sekali memahamimu, tapi waktu tak mengizinkanku. Lantas, apa yang harus aku lakukan, cinta

Sungguh aku belum cukup dewasa untuk memahamimu. Usiaku masih terlalu pagi untuk mengajakmu berkenalan, berbincang sambil minum kopi di gubuk itu. Awalnya aku marah, dan ingin sekali membunuhmu, cinta. Dan membuangmu jauh-jauh dari penglihatan dan pendengaranku.

Tapi, ternyata selama ini aku salah. Kau begitu dekat, cinta. Karena begitu dekatnya, mungkin hatiku selama ini tak merasakannya. Aku mencari sesuatu, yang pada hakekatnya telah menyatu dengan diriku sendiri.

Dusun Karanggayam, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 7 Hari di November 2008