MALAM MERUNJUNG - 7
di situ, Umar berdiri di sebuah pintu yang tak lagi berdaun pintu. Aku yang melepas daun pintu itu, memotong-motongnya dan membuat rak untuk menyimpan buku-buku yang kukumpulkan. Ba-

nyak dari buku itu yang tak bisa kumengerti karena memang ditulis dalam bahasa yang tak kupahami. Namun bekerja sebagai room service di sebuah hotel memberiku kesenangan kecil tiap kali menemukan buku-buku yang tertinggal. Sedikit sekali dari tamutamu itu yang menelepon kembali hotel kami dan menanyakan buku mereka yang tertinggal. Mereka akan melakukannya jika yang tertinggal adalah jam tangan, dompet, atau kamera. Tapi tidak untuk buku-buku.

Tanpa daun pintu, kamar belakang yang terhubung langsung dengan sumur menjadi lebih dingin. Sekarang Umar dengan tubuh kurusnya yang berdiri di situ, membuat ruangan ini beraroma tubuhnya. Dari bau mulutnya ketika ia bicara aku tahu ia belum pernah makan selama berhari-hari.

Kamu pernah mendengar cerita tentang seseorang yang suatu hari memutuskan untuk bertualang Ia mencari sebuah tempat yang akan memberinya ketenangan. Ia keluar dari rumahnya dan memutuskan untuk terus berjalan lurus ke depan. Mengarungi lautan dan melintasi berbagai negeri. Sampai suatu ketika, ia sampai di sebuah rumah dengan pintu belakang yang tak terkunci. Saat masuk ia merasa mengenali tiap barang yang ada di rumah itu. Ia mengenali tiap jendela di rumah itu. Merabai tiap perabot di rumah itu. Selama ini, tempat itulah yang terus ia cari dan membuatnya bertualang jauh. Saat itu pula ia tersadar kalau rumah itu memang rumah yang ia tinggalkan dulu. Kamu tahu

apa artinya cerita ini

Bumi itu bulat

Beruntunglah mereka yang masih punya rumah, ujarnya.

Aku tak meneruskan lagi. Tiap kali berbicara soal rumah, ia akan sampai pada taruhan yang membuatnya kehilangan semua yang ia punya. Bahkan sepatu yang ia kenakan itu, aku tahu itu bukan miliknya.

Aku sedang mau membeli makan, kataku. Ia terlihat salah tingkah ketika melirik ke arah magicom yang menganga kosong.

Tanpa mengiyakan ia mengekor di belakangku. Kami berdua keluar dari rumah yang terlihat jauh lebih tua dari apa pun. Dibangun di atas bukit, mestinya yang terlihat saat kami membuka pintu depan adalah laut. Namun ayah dari ayahku memilih membangunnya membelakangi lautan, dengan setapak kecil berputar yang mengitari bukit. Ujung setapak ini bertemu dengan jalan utama yang langsung mengarah ke pantai.

Malam ini mendung. Langit seperti kubah hitam. Kaki langit lenyap dan lautan di bawah sana terlihat seperti perpanjangan malam. Suara ombak yang tak henti memukul dermaga memberi tanda kalau di bawah sana masih ada pantai. Pas ang purnama telah membawa sampah dan isi lautan ke tepian. Kini hampir seminggu setelah pasang, hewan-hewan laut itu mulai membusuk. Sampahsampah membentang membentuk gunungan panjang di pesisir. Membuat angin laut yang beraroma garam berbaur dengan bau busuk. Jenis aroma yang mengingatkanku akan seseorang. Tentang laki-laki yang dulu pernah mengencingi kami di bekas pabrik es batu. Ia pernah mendiami pohon kami dan kini pohon itu sudah tak ada lagi. Bekas pabrik itu pun sudah tak ada lagi. Pemerintah kota telah menggusurnya bertahun-tahun lalu dan sekarang berdiri sebuah hotel, tempatku bekerja.

Kamu ingat laki-laki itu tanya Umar, sambil menghirup udara dalam-dalam.

Aku memutuskan untuk tak menjawab. Warung makan kecil tempatku hendak membeli makan ternyata tutup. Kita beli makan di pesisir saja, kataku.

Kamu ingat nomor yang tertera di saku bajunya itu tanya Umar, masih belum mau me nyerah. Sudah bertahun-tahun ia mencoba mengingat angka itu. Membeli nomer tiga digit dan mempertaruhkan semua yang dia punya. Sesekali ia menang. Tetapi sekarang, yang ia miliki cuma tubuhnya dan pakaian itu. Angka itu pasti berarti sesuatu, katanya kemudian. Pasti ada sesuatu di balik angkaangka. Yang kubutuhkan adalah hitungan yang tepat dan hasil yang tepat. Lalu aku bisa mendapatkan semuanya. Aku akan mendapatkan rumahku lagi.

Sambil mencari angka yang tepat, kamu bisa mencari pekerjaan. Hotel tempatku bekerja sedang membutuhkan cleaning service.

Aku lebih dari sekadar cleaning service, ujarnya.

Aku juga lebih dari sekadar pegawai room service, kataku. Kota ini sedang tumbuh. Banyak pekerjaan yang menunggu. Terutama tubuhmu itu.

Ayolah.

Ia melempar pandangan ke rumah-rumah nelayan. Rumah-rumah panggung yang terlihat murung di bawah temaram lampu. Kamu masih menulis katanya kemudian.

Untuk saat ini aku mau menabung, kataku.

Menabung untuk sebuah perjalanan Klise sekali, ia terbatuk untuk menyembunyikan tawa. Seseorang yang pernah kutemui, di, ia mengernyit mengingat di mana ia bertemu dengan orang yang dimaksud. Kurasa di Nepal. Aku lupa namanya, tapi ia mengisahkan sebuah cerita yang akan membuatmu tertarik.

Kamu tak ingat siapa namanya dan di mana bertemu, tapi ingat apa yang dia ceritakan

Kita cuma mengingat apa yang ingin kita ingat. Lagi pula aku kembali ke kota ini gara-gara cerita yang satu ini. Aku pernah mendengarnya dulu. Tentang orang itu, kurasa ia sengaja membuat semua orang melupakannya.

Dia tidak terlihat seperti tokoh yang salah dalam cerita yang salah.

Benar. Sekarang ini, jarang sekali yang seperti itu. Sudah lama aku berhenti mencoba mencari orang-orang macam itu, katanya sesal. Tapi kalau dulu aku tidak mengikuti pedagang itu, aku tidak akan mengalami apa yang kualami sekarang. Sedikit sekali orang yang pernah bertualang. Petualangan dengan huruf P besar.

Beberapa warung makan yang menggelar dagangan di pesisir masih buka. Aku mengajaknya ke warung yang paling sudut, dekat kamar mandi umum dan karenanya sepi. Meskipun bau tak sedap dari hewan-hewan laut yang membusuk menguar di mana-mana, tetap saja orang cenderung menghindari warung yang buka di dekat kamar mandi umum. Andai saja aku tak ke sini bersama Umar, aku pun akan memilih warung yang lain.

Begitu duduk dan memesan makanan, Umar mengeluarkan secarik kertas dari saku baju kemudian sibuk sendiri membuat hitungan-hitungan. Membuat deretan angka tiga digit, entah berapa banyaknya. Mencoret yang satu lalu menuliskan yang baru. Ia sama sekali lupa dengan cerita yang akan ia ceritakan kepadaku.

Kamu sudah bertemu dengan perempuan

Hampir setiap hari, kataku, mengambil makanan yang disodorkan penjaga warung.

Bukan yang seperti itu. Tujuh lagi, ia menggerutu dan kembali sibuk menulis angka. Belum, berarti tujuh. Sudah, berarti delapan. Jika ia berpapasan dengan seekor anjing, berarti tiga. Jika pagi hari hujan, berarti sembilan. Entah dari mana ia mendapatkan rumus macam itu. Aku mengenal banyak orang yang tergila-gila pada judi dengan rumus-rumus yang sama sekali tak masuk akal. Tetapi Umar, sudah sampai pada level yang sangat mengkhawatirkan.

Ini akan menjadi taruhanku yang terakhir, katanya, masih belum mau menyentuh makanan yang sudah disodorkan penjaga warung.

Terakhir kali mengatakan kalimat yang sama, kamu kehilangan rumahmu, kataku dan langsung menyesal telah mengatakannya.

Kali ini aku akan mendapatkannya lagi. Kalaupun tidak, tak akan ada lagi tubuh yang perlu pulang. Kamu pernah dengar, tentang seseorang yang mati di depan televisi Dia mati bahagia. Aku kenal orang itu. Dia mati bahagia. Banyak sekali orang yang kukenal mati bahagia.

Ia melempar pandangan ke laut. Mendung membuat langit di sana seperti bentangan hitam yang menyatu dengan lautan. Pantulan lampu dari dermaga yang dipecah ombak terlihat seperti bintang-bintang di tepian galaksi. Kamu ingat tekateki kuno tentang bintang dan ikan

Mana lebih banyak, jumlah ikan di lautan atau bintang di langit

Sebenarnya ada sebuah cerita yang teramat panjang mengenai teka-teki itu, katanya. Sebenarnya cerita inilah yang membuatku ke sini lagi, matanya membelalak, seakan baru ingat tujuannya datang kemari. Seseorang yang pernah kutemui di, ia mulai mengernyit.

Mungkin kalau kamu mulai makan, kamu akan ingat, aku menunjuk makanan yang sudah dari tadi menganggur. Seperti teringat dengan rasa laparnya, ia melahap makanan yang mulai dingin. Untuk beberapa saat kami sibuk melahap makanan masingmasing. Aku berharap dia tak akan ingat lagi dengan cerita yang akan ia ceritakan. Namun ia tiba-tiba berhenti, dan sambil nyengir dia berkata, Ah, aku ingat di mana bertemu dengannya.

Ada ampas cabai yang menempel di gigi serinya. Kalaupun aku memberitahunya, dia tak akan peduli. Kami bertemu di Nepal. Dia tidak terlihat seperti orang yang salah dalam cerita yang salah.

Orang-orang yang dulu sering kita cari. Dia bercerita tentang sejarah bintang. Aku ingat, laki-laki di bekas pabrik es batu itu dulu juga ingin bercerita soal cerita ini. Tapi esoknya dia sudah pergi.

Aku sudah tak menemukan lagi jalan kembali. Ia sudah berhenti menyentuh makanan. Masih dengan ampas cabai di gigi serinya, ia pun bercerita.