A SHOULDER TO CRY ON - 7
HAKIM pengadilan agama mengetukkan palu. Persidangan kasus perceraian Imelda Azizah ditunda seminggu ke depan karena pihak tergugat tidak menginginkan adanya perceraian. Ini memang jelas terlihat dengan selalu absennya suami Imelda pada setiap persidangan.

Damara merapikan semua berkas di atas mejanya di ruang pengadilan. Matanya melirik sekilas pada Imelda yang duduk diam di sampingnya. Wajah Imelda terlihat agak pucat, lingkaran hitam begitu jelas di bawah kantong matanya. Wanita itu terlihat kurang sehat di mata Damara.

"Kita keluar sekarang" Damara bertanya sambil mendekati Imelda. "Anda sudah siap"

Imelda menoleh ke arah pintu masuk ruang persidangan yang sudah dikerubuti wartawan infotainment haus berita. Imelda mengangguk pelan, ia lalu berdiri dan berjalan pelan mendekati meja hakim untuk berjabat tangan. Tapi baru beberapa langkah saja, Imelda terlihat limbung, kakinya seperti tidak mampu menopang tubuhnya. Damara yang berdiri dua langkah dari Imelda refleks menyambar tubuh wanita itu sebelum jatuh membentur lantai.

Ruang pengadilan mendadak ricuh. Para wartawan yang semula bertahan di luar ruang persidangan memaksa masuk saat melihat Imelda jatuh pingsan. Mereka mengerumuni Imelda setelah berhasil melewati penjagaan petugas keamanan pengadilan. Damara sampai harus memeluk Imelda agar para wartawan yang lapar berita itu tidak melukai kliennya.

Entah seperti apa kekacauan di pengadilan tadi, yang jelas Damara akhirnya berhasil membopong Imelda. Dengan dibantu orang-orang bersafari sebagai pembuka jalan, Damara membawa Imelda keluar tanpa terhadang wartawan.

Sekarang Damara melajukan mobilnya di jalan raya Jakarta, setelah berhasil lolos dari kericuhan di persidangan. Imelda terbaring di jok belakang mobil Damara, masih terbaring tidak sadarkan diri. Handphone di saku kemeja Damara berdengung, layar LCD handphone-nya menunjukkan manajer Imelda yang masih tertinggal di pengadilan, menghubunginya.

"Ya, halo," kata Damara selesai memasang handsfree di telinganya. Kepanikan yang terdengar jelas pada nada suara manajer Imelda, mengharuskan Damara mengatakan bahwa Imelda baikbaik saja untuk menenangkan sang manajer. Namun sang manajer tetap meminta Damara membawa Imelda langsung ke rumah sakit di kawasan Pondok Indah.

"Oke, saya bawa dia ke rumah sakit sekarang juga... kita ketemu di sana." Damara menutup telepon dan mempercepat laju mobilnya.

"Jangan bawa saya ke rumah sakit..." Suara Imelda yang terdengar lirih dari kursi belakang mobil menyentak Damara.

Damara langsung menoleh ke jok belakang, tapi segera kembali menatap lurus ke jalan saat sadar bahwa ia sedang menyetir. Damara ganti melihat Imelda dari kaca spion di depannya.

"Anda baik-baik saja" tanya Damara cemas.

"Saya nggak apa-apa," jawab Imelda datar sambil berusaha mendudukkan dirinya. Lengannya naik merapikan rambut panjang hitam lurusnya dengan jemari.

"Lebih baik kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Anda. Manajer Anda sudah menunggu di sana."

"Kita nggak perlu ke rumah sakit," tegas Imelda, "ke tempat lain saja, asal bukan ke rumah sakit."

Dengan terpaksa Damara tidak membantah, segan berdebat dengan kliennya yang mungkin baru setengah sadar. Dipandangnya kembali Imelda dari kaca spion tengah, wanita itu masih terlihat pucat dan lemah, tapi keangkuhan tetap mendominasi raut wajahnya.

Mobil Honda CR-V silver milik Damara menepi di pinggir jalan, di sebuah area taman kota. Damara bersandar di sisi mobil. Lengan kemeja sudah digulung dan ikatan dasi yang tadi terpasang sempurna sudah dikendorkan. Di sampingnya Imelda duduk di ujung jok belakang, di dekat pintu mobil yang sengaja dibiarkan terbuka.

"Ini minum dulu..." Damara menyodorkan sebotol air mineral yang dibelinya di kios sekitar taman. Agak ragu Imelda mengambil botol air mineral dari tangan Damara, namun dengan segera langsung menenggaknya. Sepertinya ia memang sudah kehausan sedari tadi.

Damara tersenyum simpul melihat tingkah model yang biasa tampak begitu angkuh. Ternyata selain angkuh, Imelda bisa bertingkah konyol juga. "Setelah ini saya akan mengantar Anda ke rumah sakit. Manajer Anda sudah berkali-kali menghubungi saya, meminta saya segera membawa Anda ke sana."

Imelda turun dari mobil dan berdiri di samping Damara, membiarkan kakinya yang tanpa alas menyentuh aspal.

"Saya nggak mau pergi ke sana!" Imelda bersikeras.

Damara menoleh, nyaris tidak percaya sikap kliennya yang keras kepala.

"Anda baru saja pingsan di ruang persidangan. Sudah menjadi keharusan bagi saya membawa

Anda ke rumah sakit untuk diperiksa."

"Saya hanya pingsan, bukan kena serangan jantung. Jadi nggak perlu dibesar-besarkan," tandas Imelda, seraya menatap tajam ke arah Damara. "Dan satu lagi, Anda saya bayar untuk kasus perceraian saya, bukan untuk mengurusi kesehatan saya."

Damara mendengus pelan. Imelda memang sangat cantik, semua orang mengatakan ia nyaris sempurna. Tapi lihat sekarang, nilai Imelda tidak akan sesempurna itu kalau saja orang-orang yang mengaguminya tahu sifat keras kepala Imelda yang menjengkelkan.

"Kalau Anda mau tetap di sini, silakan, tapi maaf... masih banyak yang harus saya kerjakan."

Imelda tidak bergerak, seakan kehabisan kata-kata untuk membantah.

Damara menghela napas panjang menghadapi situasi seperti ini. "Oke, saya antar Anda ke rumah sakit sekarang, sebelum saya pergi." Damara melangkah melewati Imelda, menuju kemudi mobilnya. Namun sebelum sempat membuka pintu depan, Imelda meraih lengan Damara dan membuat Damara langsung menoleh.

"Bisa kamu temenin saya di sini, sampai saya merasa lebih baik" pinta Imelda sambil menunduk, seakan malu dengan permintaannya sendiri.

Damara tidak menjawab. Permintaan Imelda membuat Damara tercengang, sampai-sampai ia lupa untuk bereaksi. Tapi tak berapa lama, Damara mengangguk menyanggupi permintaan Imelda.

***

"Kenapa, Nu Kamu kok malas-malasan gitu sarapannya" tanya Damara saat mereka berdua duduk berhadapan di meja makan. Hari Minggu, seperti biasa, ada nasi uduk untuk Danu, dan secangkir kopi krim untuk Damara. "Ada yang sedang kamu pikirin"

Danu tidak menjawab. Wajahnya menunduk lesu sementara tangannya hanya mengaduk-aduk nasi uduk di piringnya.

Damara tersenyum melihat tingkah adiknya, ia tahu benar pasti ada yang sedang mengganggu pikiran sampai Danu murung begini. "Cerita aja sama Kakak kalau kamu ada masalah," kata Damara sambil melipat korannya agar lebih fokus pada Danu.

Danu mendongak pelan, dari raut wajahnya Damara sudah bisa memastikan apa yang dipikirkan Danu lumayan rumit.

"Nggak ada masalah, Kak," kata Danu pelan.

"Nggak usah bohong. Kakak kenal watak kamu. Nggak mungkin nggak ada apa-apa kalau penampakan kamu kayak begini."

Danu meletakkan sendok yang dipegangnya di atas piring, menghela napas berat, sebelum akhirnya bicara.

"Danu cuma lagi mikirin masalah Anka, Kak..."

"Anka Kenapa lagi dengan Anka"

"Kasihan Anka, Kak, dia lagi kesulitan uang. Biaya rumah sakit ibunya gede banget. Kemarin aja dia habis jual barang-barang di rumahnya buat tambahan, tapi masih kurang banyak, Kak," jelas

Danu. "Seminggu ini Danu bantuin dia cari kerja sambilan tapi belum dapat juga."

Damara meletakkan korannya di atas meja. Matanya kini fokus sepenuhnya pada Danu. Katakata Danu kembali mengingatkannya pada Anka, sahabat Danu yang beberapa minggu lalu tertimpa musibah. Rutinitasnya selama ini memang hampir membuatnya lupa dengan keadaan sekitar, dan nyaris membuatnya mati lelah menjalaninya.

"Anka lagi cari kerja" tanya Damara. Danu kembali mengangguk lesu. Damara berusaha mengingat-ingat, rasanya ia pernah mendengar seseorang sedang membutuhkan pekerja tambahan. Setelah beberapa saat, senyum Damara mengembang lebar saat ia menemukan jawabannya.

"Kamu sekarang mandi, kita jemput Anka!"

Danu mendongak, menatap bingung ke arah Damara. "Maksud Kakak"

"Ya, kamu mau bantu Anka dapat kerja, kan"

***

Berkali-kali Danu menolehkan kepalanya ke arah ruang manajer kafe, tempat Anka sedang menjalani interview. Luar biasa gelisahnya Danu menunggu Anka keluar, sampai-sampai cheesecake bertabur cacahan stroberi menggiurkan di depannya pun diabaikan.

"Tenang aja, Nu... Anka pasti bisa kerja di sini," kata Damara yang duduk santai di depan Danu.

"Lama banget sih, Kak" Danu lagi-lagi menoleh ke pintu ruangan manajer. "Kira-kira Kak Rio nanya apa aja sama Anka ya, Kak"

Damara tersenyum melihat kegelisahan Danu. Ia mengangkat cangkir espresso-nya, meminumnya seteguk, lalu meletakkan cangkirnya kembali di atas meja, sebelum melirik potongan cheesecake utuh di depan Danu.

"Santai aja, Nu, nggak perlu kayak gitu. Kakak yakin Rio mau terima Anka bekerja di sini... Mendingan kamu makan cheesecake yang Kakak order buat kamu, itu cake paling enak di kafe ini."

Dengan malas-malasan Danu menarik piring cheesecake, memotong sebagian kecil dengan garpu di sisi piringnya, lalu memasukkan potongan kecil itu ke mulutnya. Potongan kecil itu tertelan begitu saja. Tidak ada kesan khusus karena kecemasannya menjadikan Danu kurang peka dengan rasa.

Anka keluar dari ruangan manajer kafe, diikuti Rio, manajer kafe yang setahu Danu sahabat baik kakaknya. Ekspresi wajah Anka terlihat datar-datar saja saat keluar, hingga Danu sulit menerka apa yang terjadi di dalam sana.

"Gimana, Ka" tanya Danu, segera berdiri menyambut Anka. "Lo diterima"

Anka diam sebentar, sebelum akhirnya senyum lebar yang melegakan Danu mengembang di wajah Anka, disusul anggukan kuat.

Danu hampir melompat saking senangnya. Ia nyaris memeluk Anka mengekspresikan kelegaannya, tapi urung saat ingat ada Damara di sampingnya.

"Selamat ya, Ka..." Damara mendekati Anka, mengulurkan tangannya.

"Terima kasih, Kak. Kalau bukan karena Kakak, saya nggak mungkin bisa diterima di sini." Anka tersenyum lebar saat menjabat tangan Damara.

"Jangan berlebihan, Kakak kan cuma bantu nganterin. Lain kali kalau kamu butuh bantuan jangan hanya bilang sama Danu, Kakak juga bersedia bantu kamu."

Senyum Anka mengembang semakin lebar. Entah berlebihan atau hanya perasaannya, Danu merasa tatapan Anka pada Damara berlebihan. Seperti tatapan setengah memuja, membuat perasaan Danu agak kurang enak.

"Thanks ya, Yo, lo udah mau bantuin temennya Danu." Damara beralih pada Rio.

"Santai aja lagi, Mar. Justru gue yang terbantu, lo nyariin karyawan... Oke, Anka, besok jam tiga sore kamu harus sudah ada di sini."

"Baik, Pak. Saya pasti datang tepat waktu," seru Anka penuh semangat.

"Oke, Yo, kalau semua sudah beres, gue antar mereka balik dulu," kata Damara akhirnya.

"Bentar, Mar..." Rio mendekati Damara, memelankan nada suaranya. "Bisa lo balik belakangan Ada yang mau gue omongin sama lo."

Damara terdiam sebentar, sudah menduga permintaan Rio setelah pembicaraan terakhir mereka beberapa hari lalu. Damara menghela napas berat sebelum akhirnya mendekati Danu. "Kalian pulang duluan ya. Kakak nggak bisa antar kalian," kata Damara seraya mengeluarkan lembaran seratus ribu dari dompet kulitnya lalu menyerahkannya pada Danu. "Antar Anka naik taksi, Nu... Jakarta panas banget hari ini."

Setelah Danu dan Anka berjalan meninggalkan kafe, Damara berbalik menghadap Rio. "Oke, sekarang apa lagi yang mau lo omongin"

"Kita omongin di ruangan gue."

Rio berjalan lebih dulu menuju ruangannya, dan Damara mengekori dengan sepenuhnya siap menerima hal paling buruk yang mungkin akan disemburkan Rio karena kecewa padanya.