Jangan lagi kau tangisi tuk kepergiannya,
Jangan lagi kau harap dirinya untuk kembali...
Tersenyumlah hai dara ceriakan dunia...
Oh andaikan kau mau jadi milikku
Buka...bukalah matamu dan lihatlah banyak yang menantimu yang baik untukmu...
Jangan lagi kau tangisi tuk kepergiannya
Jangan lagi kau harap dirinya untuk kembali
Terdengar lagu Jeng Dara-nya Club 80s dari dalam otakku, lagu yang sering kunyanyikan untuk si cewek tetangga sebelah jutekku, mukanya selalu memasang tampang jutek permanen bila melihatku, hahaha abisnya aku jahil sih , bikin dia makin bete, tapi yang ada malah aku yang bete hari ini, karena undangan pernikahan bertuliskan namanya yang baru saja dilemparkan dari jendela kamarnya dengan batu sebagai pemberatnya, bikin aku kehilangan alasan untuk memasang seringai jahil khasku, kata orang-orang mukaku selalu dihiasi senyum jahil bandel yang lucu tapi juga menyebalkan, tapi gara-gara aku menyebalkan dan tak tau malu, akhirnya dia menyerah dan menerimaku jadi pacarnya, tapi juga karena aku sangat-sangat menyebalkan maka dua bulan kemudian dia memutuskanku, tapi biar kata kita putus, cuma aku satu-satunya cowok yang lebih banyak menghabiskan waktu dengannya, apapun katanya dia tetap Daraku, betapapun kesalnya dia padaku tak membuat kita kehilangan ritual ngobrol tengah malam dari jendela ke jendela sebelum tidur, yang selalu berakhir dengan perang mulut, karena, hahaha aku suka sekali melihat muka juteknya, muka jutek yang membuat aku jatuh cinta, sejak pertama berjumpa, di hari pertama kepindahanku ke rumah baru, rumah yang ternyata dulunya rumah sepupunya.
Ma, sama siapa si Dara kawintanyaku sok polos.
Baca aja undangannya! jawab Mamaku ketus, lagi ngambek sih, gara-gara Papa membuatnya kesal pagi ini (aku tau dari mana aku mewarisi sifatku).
Abisnya aku takut mataku nipu aku sih mah, coba baca deh mah, Dara dan Kiky kan aku memperlihatkan undanganya.
Iiiiihhhh Kiky! Dara nggak akal mau sama kamu, kasihan si Dara kalo nikah sama kamu, nasibnya ntar kayak mamah dijahilin mulu, dibikiiiiiiin kesel, dibikiiiiiiiiin sebel, kamu sama Papa kamu sama aja!
Yaaaaahhhhhh Mama, tapi seneng kan dijahilin, dibikin kesel, dibikin sebelaku menggoda Mamaku.Ma, kalo Dara jadi mantunya kan enak Ma, hidup Mama jadi lebih berwarna, Mamah sama Dara kan sama-sama cerewet, aku sama Papah sama-sama jail, komplet deh, nih rumah makin rame, jadi keluarga bencana deh kita, hehehe maksud aku keluarga bahaya, eh salah lagi!keluarga bahagia! Aku juga nggak bakalan repot-repot kalo Dara ngambek dan pulang ke rumah Ayahnya, kan aku nggak perlu jemput dia jauh-jauh!
Udah Kiky! Ngekhayal aja nih kamu kawinin si Dara, kawinannya udah di depan mata, calon suaminya dokter, cakep lagi, menantu favoritnya ibu-ibu, coba Mamah punya anak perempuan, yang kayak gitu yang bakal Mamah jadiin mantu, waduh Mamah malah punya kamu, siapa yang mau jadiin kamu Mantu, nakkerjaan nggak jelas, Mamah pengen kamu kerja kantoran, nak,pengen liat kamu make seragam rapi, itu rambut kriwil gondrong kamu, bikin kamu selalu kayak orang nggak mandi, Mamah malu sama temen-temen arisan. Mulai lagi si Mamah cerewetnya kumat.
Kalo malu, adopsi anak lain gih! Trus aku masukin panti asuhan, satu lagi Mah, aku tuh kerjaannya jelas, nge-DJ, penyiar radio, anak band, lagian aku juga punya Caf dan Coffee Shop, udah cukup bikin Dara hidup sejahtera, jangan bahas masalah rambut, mau kayak orang mandi atau nggak mandi aku tetap aja wangi, okay Mah, buat kawinan Dara, Mamah dandan yang cantik, Papah juga kudu rapi, pokoknya hari itu, apapun yang terjadi si Dara kawinnya sama Kiky, kacau-kacau deh tuh party aku bikin besok. Kataku sambil berlalu pergi.
Kiky! Jangan mulai lagi! teriak Mama histeris, dia kayaknya tau otak kacauku lagi nyusun ide jahil yeah, aku memang berniat mengacaukan sebuah perkawinan.