"Udahlah, Fei. Aku udah biasa koq. Kamu jangan nangis dong. Aku belum pernah melihat kamu nangis seperti ini. Aku jadi merasa bersalah, kamu menangis karena aku."
"Aku nangis karena aku baru sadar, koq bahagia tu susah amat dapatnya. Untuk senang-senang barang semalam aja, aku mesti berbohong, mesti dimarahi habis-habisan sama papa. Kamu beruntung sekali, Ndu." "Kamu welcome kapan aja ke rumahku, Fei."
Niken terdiam. "Aku dilarang keras ke rumahmu. Papa ngancam, kalo sampe kejadian malam ini terulang lagi, aku bakal dimasukin ke sekolah asrama. Mending mati aku daripada masuk asrama. Jadi malam ini adalah yang terakhir kali kamu melihat aku di rumahmu. Aku nggak berani lagi. Terima kasih buat malam yang indah tadi, Ndu. Aku nggak akan pernah lupa." kata Niken setengah terisak.
"Sudah. jangan nangis lagi, dong. Fei, aku percaya, di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Kamu harus yang sabar. Percaya deh, banyak jalan untuk meraih kebahagiaan. Tinggal kita mau ambil kesempatan yang ada atau nggak. Aku pasti bantu kamu, kapan saja."
Mendengar itu, Niken seperti mendapat separuh kekuatannya kembali. "Benar juga yang kamu bilang, Ndu. Setidaknya aku masih punya kamu." "Nah. gitu dong. Supaya kamu lega, sepertinya aku musti bilang sesuatu. Tadi, begitu aku pulang, aku langsung diinterogasi. Kayak kamu tu pacarku aja, Fei. Semua bilang kamu cantik. Malah Mas Adit bilang dia naksir kamu. Tapi kamu tadi memang manis deh, keliatan laen dari biasanya. Mungkin karena kamu pakai rok. Gimana Sudah tambah oke sekarang" tanya Pandu yang kata-katanya selalu terdengar manis di telinga Niken.
Niken tertawa kecil. "Ada-ada saja, ah. Tapi makasih Ndu. Aku udah nggak sedih lagi koq." "Sungguh, nih"
"Iya iya. Jangan kuatir. Bukan Niken namanya kalau nggak tahan banting." "Ya udah, kalo gitu aku udahan dulu. Ngantuk nih. Aku mesti pulang trus langsung bobok."
"Pulang Emangnya kamu ini di mana" tanya Niken bingung. "Di wartel non! Cari mati deh kalo aku telfon dari rumah. Rumah masih ramai sekali, lagi. Aku bisa habis digodain mereka seperti tadi. Mending jalan sedikit ke wartel." gerutu Pandu.
"Ya sudah, pulang sana. Makasih sekali lagi Ndu, dan maaf atas sikap papaku tadi."
"Nggak aku masukin hati koq. Selamat tidur, Fei Fei"
Siang itu, saat jam pulang sekolah, Wulan terengah-engah menghampiri Niken yang sedang sibuk di theatre, mengurus gladi bersih buat acara panggung Gelar Seni besok.
"Nik! Niken!!" panggil Wulan sambil berlari menuju panggung.
"Ada apa, sih"
Wulan sibuk mengatur nafasnya. Niken mengisyaratkan pada anak-anak soundsystem untuk istirahat sejenak.
"Pandu, Nik! Dia sama Jimmy ada di halaman parkir belakang, berantem kata anak-anak. Mereka pada ramai-ramai mau nonton di sana. Cepetan dong!" "Hah!" Niken spontan menaruh mapnya di tangga panggung, langsung lari menuju ke halaman parkir motor dan sepeda di belakang sekolah. Belum sampai halaman parkir, dari jauh sudah terdengar suara ribut-ribut. Niken mempercepat larinya. Wulan yang sudah kelelahan cuma bisa mengikutinya dari belakang.
Sesampai di situ, Niken tidak bisa melihat apa-apa, karena banyak orang berkerumun di situ.
Susah payah dia berusaha menembus kerumunan ke arah tengah.
Benar saja, Pandu dan Jimmy ada di tengah-tengah kerumunan. Pipi Pandu merah kena jotosan.
Ada darah di sudut bibirnya. Baju mereka kotor dan amburadul. Rambut keduanya acak-acakan.
"Stop, stop! Apa-apaan sih kalian ini" teriak Niken, karena suasana masih begitu bising.
"Dia yang mulai." Telunjuk Pandu mengarah ke Jimmy.
"Aku nggak mau tau siapa yang mulai. Sudah, ayo ikut aku ke UKS."
Keduanya tidak ada yang beranjak dari tempat mereka berdiri masing-masing.
Niken mengulangi lagi, "Mau ikut aku ke UKS apa nggak"
"Aku nggak akan pergi dari sini sebelum masalah ini diselesaikan." kata Jimmy ngotot.
"Masalah apa Dan bisakah itu diselesaikan dengan cara kayak gini" tanya Niken.
"Kamu masalahnya!" tuding Jimmy. Niken tersontak kaget. "Aku" tanya Niken.
"Iya. Kamu, Niken. Dia menuduh aku yang enggak-enggak sama kamu kemarin malam. Katanya aku ngerebut pacarnya. Dia bilang, Niken itu hak miliknya dia.
Nggak ada orang lain yang boleh sentuh dia. Aku bilang, Niken itu bukan hak milik siapa-siapa. Dan lagi, aku sama Niken cuma berteman. Eh. dia nggak percaya malah nantang." jawab Pandu emosi.
"Aku cuma bilang, kamu harus menjauhi Niken, dia milikku. Kamu ngotot nggak mau koq. Siapa yang nggak emosi" balas Jimmy.
"Stop. Sudah cukup. Muak aku mendengarkan argumen kalian. Jimmy, Pandu benar. Aku sama dia cuma teman, dan aku belum menjadi hak milik kamu. Aku juga nggak mau Pandu jauhi aku." kata Niken membela Pandu, setelah mengetahui duduk permasalahannya.
"Ya sudah kalo memang maumu begitu. Tapi aku nggak berani tanggung-jawab kalo papamu sampai tahu kamu belain Pandu dalam masalah ini." kata Jimmy setengah mengancam.
"Tunggu!" kata Pandu. "Jangan bawa-bawa papa Niken di sini. Ini masalah antara kita. Kamu nggak boleh campur aduk begitu, dong!" Anak-anak masih ribut. Niken merasa jengkel sekali. Apalagi setelah mendengar ancaman Jimmy tadi.
"Bubar! Semuanya bubar!" kata Niken dengan suara lantang.
Mereka semua lalu bubar jalan, Niken kalo sudah marah gempar, deh. Tinggal Jimmy, Pandu dan Niken yang ada di situ.
Niken merogoh saku bawahannya, lalu memberikan tissue, satu buat Pandu, satu buat Jimmy. "Jim, aku bener nggak ada apa-apa sama Pandu. Kita cuma teman baik. Aku nggak pernah larang kamu bergaul dengan siapapun, kan Kenapa kamu nggak beri aku kebebasan yang sama"
"Niken, akuilah. Kita pun nggak pacaran. Status kita cuma sedikit lebih baik dari kamu dan Pandu. Kamu bisa bilang kamu nggak ada apa-apa sama Pandu. Tapi kamu juga bisa bilang kamu nggak ada apa-apa sama aku. Aku cuma ingin kamu hargai aku sedikit."
"Apa yang kamu mau Pacaran sama aku Aku udah bilang, aku nggak bisa pacaran sama kamu, karena aku nggak cinta sama kamu."
"Itu karena kamu nggak pernah mau berusaha untuk itu." sanggah Jimmy.
Niken diam saja. Demikian juga Pandu.
"Kamu sama sekali nggak pernah tersenyum kalo ketemu aku. Apapun yang aku lakukan, kamu nggak pernah terhibur. Belakangan ini aku perhatikan, kamu selalu ceria setiap ketemu Pandu. Siapa yang nggak jengkel" "Kami punya banyak kesamaan,."
Belum sempat Niken melanjutkan kata-katanya, Jimmy sudah menyerobot. "Apa katamu Banyak kesamaan Yang aku lihat justru banyak perbedaan. Dia anak Jawa, Niken. Bukan chinese seperti kita." Muka Niken memerah. Telinganya memanas.
Niken nggak bisa bilang apa-apa karena jengkel sekali, sekaligus malu sama Pandu.
Pandu yang lalu menyahut, "Benar sekali kamu, Jim. Kamu cuma punya satu kesamaan sama Niken. Sama-sama bermata sipit. Lain dari itu tidak. Niken berjiwa besar, berhati mulia, temannya banyak. Kamu Jiwamu kerdil, hatimu busuk, temanmu cuma sebatas orang yang ingin memanfaatkan kekayaanmu!" Kata-kata Pandu tadi walaupun memang benar adanya, terdengar begitu pedas di telinga. Jimmy mulai bergerak mendekati Pandu, bermaksud menjotosnya lagi.
Niken mencegahnya. "Jimmy, sudahlah. Rasanya kita berdua nggak ada harapan lagi. Aku akan minta mama untuk membatalkan semuanya." "Niken Jangan bilang begitu dong. Maafin aku, aku tadi termakan emosi. Kamu boleh berteman dengan Pandu, ayolah. Maafkan aku." bujuk Pandu yang kaget mendengar kata-kata Niken.
"Pergilah, Jimmy. Sudah nggak ada apa-apa antara kita." Muak sekali Niken melihat wajah Jimmy.
Merasa sudah nggak bisa berbuat apa-apa lagi, Jimmy lalu berkata, "Baiklah, Niken. Tapi aku nggak akan pergi sebelum bilang sesuatu yang aku mau bilang dari dulu. Kamu perlu belajar mencintai orang, Niken. Kalau nggak, kamu nggak akan pernah bahagia."
Setelah Jimmy pergi, Pandu duduk di trotoar dekat Niken. "Kamu nggak papa, Fei"
Niken diam saja. Dia masih memikirkan kata-kata Jimmy barusan.
"Fei!"
"Hah Apa Kamu ngaget-ngagetin aku aja, Ndu!" Niken terkaget dari lamunannya.
"Kamu nggak papa, kan" Pandu mengulangi pertanyaannya.
"Yang papa tu kamu. Tuh liat, bibirmu berdarah gitu. Nggak sakit, apa" kata Niken sambil mengambil tissue satu lagi dari sakunya. Pelan-pelan luka di bibir
Pandu dia bersihkan dengan tissuenya.
"Aduuh.!" Pandu mengerang kesakitan.
"Sakit ya Salah sendiri, kenapa mesti berantem sama Jimmy Sekarang yang sisa tinggal sakitnya, kan"
"Pelan-pelan dong!" Pandu masih mengaduh-aduh.
"Ya ini udah pelan-pelan, tahu Kamu tahan sedikit lah. Manja bener."
Baru kali ini Pandu melihat wajah Niken begitu dekat. Dari dekat gini jadi tambah jelas manisnya. Wajah Niken bersih tanpa noda sedikitpun. Nggak ada jerawat, bisul, atau kurap.
Niken jadi sadar Pandu dari tadi memperhatikannya. "Kenapa" tanyanya.
"Jujur aja, kamu manis sekali, Fei. Cowok yang berhasil dapetin kamu bakal beruntung banget.
Aku juga nggak nolak kalo diberi koq." "Heh! Kalo ngomong yang bener!"
"Duh! Jangan kasar gitu dong, perih nih!" kata Pandu memegangi dagunya. "Makanya jangan macem-macem." kata Niken mengancam. "Aduh, iya deh. Iya." Pandu pasrah sambil memonyongkan bibirnya untuk dibersihkan lukanya.
Niken tiba-tiba teringat sesuatu, "Oh! Iya! Aku musti segera kembali ke theatre. Aku belum selesai ngatur gladi bersih buat besok. Aku mesti double cek ke Jabrique apa mereka jadi tampil. Kemarin sih mereka bilang jadi."
"Aku boleh ikut lihat gladi bersihnya"
"Lihat nggak boleh. Harus ikut bantu angkut-angkut."
"Kalau nggak males, ya... " katanya sambil mengikuti Niken ke theatre.
Untung anak-anak masih sabar nunggu di dekat panggung. Juned, salah satu anak yang tugas MC besok, melapor. "Niken, anak dekorasi hari ini mau ngelembur sampe malem. Speakerspeaker ini mau ditaruh dimana" "Ditaruh di belakang panggung aja, jadi besok gampang ngeluarinnya lagi. Kamu udah latihan sama Heni"
"Tuh di belakang panggung. Dia grogi banget, dia maunya semua naskah ditulis, katanya mau dihafalin di rumah. Aku udah bilang, itu nggak baik. Lupa satu nanti lupa semua. Mending rileks aja. Coba deh kamu yang ngomongin." "Ya kamu yang sabar ngelatih dia. Maklum lah, dia kan masih kelas satu, baru pertama kali ini dia MC di panggung. Aku nggak akan pilih dia kalo aku nggak yakin dia mampu. Kamu mesti bisa bikin dia nyante, lebih percaya diri. Oke" "Oke deh." kata Juned menuju ke belakang panggung.
"Mber!" panggil Niken. Yang dia maksud Hengki, yang panggilan akrabnya memang 'comberan'. Itu gara-gara waktu perploncoan awal masuk SMA dulu, dia memaki diri sendiri waktu jatuh di comberan. Kebetulan salah satu orator berdiri di dekatnya. Dengan alesan itu comberan di SMA Antonius, termasuk barang langka, harus dicintai. Terus dia disuruh duduk di comberan, sambil minta maaf karena sudah memaki-maki comberan. Sejak itu dia dipanggil comberan.
Hengki itu yang dia tugaskan penanggung jawab tim dekorasi panggung. "Mber, kata Juned, anak-anak dekor mau ngelembur yah Kamu yakin betul mereka mau ngelembur Aku nggak mau mereka nanti mengomel di belakang lho."
"Bener koq, Niken. Mereka malah merasa nggak enak sendiri karena belum selesai sampe hari H minus satu. Mereka yang minta untuk diijinkan kerja sampe selesai. Tapi kayaknya nggak bakal sampe malem, koq. Paling sore nanti udah kelar semua."
"Baiklah kalo gitu. Aku nanti bilang Mas Manto, yang jaga sekolah." "O, iya, Niken. Sandra baru aja pulang. Dia kan kamu tugasi mengatur jalannya acara gladi bersih hari ini. Baru aja selesai setengah jam yang lalu. Dia pesan ke aku, dia harus pulang cepetan. Tapi pelaksanaan nggak jauh beda dari
jadwal. Nggak molor-molor. Semua band pendukung termasuk Jabrique juga sudah dia hubungi. Semua oke." "Bagus. Endang jadi menari besok"
"Wah, nggak tau. Sandra nggak bilang. Aku sih denger kalo dia sakit. Eh, Wulan tadi pesan, dia mau beli makanan buat anak-anak, nanti balik kemari lagi.
Tanya ke dia deh, mungkin dia tau."
"Oke. Aku nanti pulangnya sesudah anak dekor kelar, koq."
"Nggak usah, Niken. Kamu pulang aja. Kamu dari pagi tadi udah di sini terus.
Suara kamu aja udah serak-serak banjir begitu. Ntar besok nggak layak tampil lho."
"Nggak papa. Aku nggak bisa tenang sebelum segalanya selesai. Kalo pulang bisa-bisa aku balik ke sini lagi. Lagian aku kan bisa bantu-bantu."
"Silahkan aja. Eh, Ndu. Kita butuh tambahan tenaga dari regu perlengkapan.
Kita lagi dalam rangka mau mindah-mindahin perlengkapan band dari panggung, biar anak-anak dekor kerjanya lebih leluasa."
"Siap boss. Ruangan ini juga perlu dibersihin, apalagi sesudah kalian selesai ndekor nanti pasti tambah banyak sampahnya. Aku siap bantu sampai kelar nanti."
"Makan makaaaaaaann." teriak Wulan. Dengar kata makan, anak-anak menghambur ke arah Wulan dan dengan suka rela membawakan kantong-kantong plastiknya berisikan nasi goreng itu.
"Nggak salah kamu di seksi konsumsi, Wulan. Kamu nggak pernah biarin kita-kita ini kelaparan." puji Pandu.
Wulan menyeret Niken menjauh dari yang lain. "Nik, si Endang gak jadi nari besok. Acaranya diganti Sulis yang setelah dipaksa-paksa mau juga manggung komedi sendirian."
"Oh. ya sudah. Sebenere nggak usah diganti juga kita udah cukup punya banyak acara koq."
"Nik, tadi Jimmy sama Pandu gimana Sudah gencatan senjata" tanya Wulan dengan nada kuatir.
"Ruwet dah, Lan. Jimmy keterlaluan banget. Akhirnya aku suruh dia pergi.