Setelah alisnya diwax, dibentuk dan dicabuti, ia berpikir matanya tak kan pernah berhenti mengeluarkan air mata. Kemudian tiba saat Lucie harus merawat kukunya, Lucie harus mengakui bahwa ia tak pernah melakukan perawatan kuku selain memotongnya saat kukukukunya tumbuh terlalu panjang, hal ini membuat teknisi kuku salon itu terkejut dan melihat Lucie seolah-olah Lucie adalah gelandangan sebelum akhirnya teknisi itu mulai merawat kukunya. Sekarang kuku-kukunya sudah licin, bebas dari kulit ari yang berlebihan, dan terpoles kuteks ungu gelap yang bernama Extreme Eggplant (terong ekstrim) yang tidak terdengar seperti nama suatu warna tapi lebih terdengar seperti masakan di Iron Chef America.
Tapi dari semua itu, Reid menyerahkan Lucie ke Trixie di Nordstrom's makeup dengan instruksi untuk mengajari Lucie bagaimana menggunakan makeup di situasi apapun. Setelah mempelajari bagaimana menggunakan semuanya, dari makeup lima menit hingga tampilan dramatis sesi photo shoot di sore hari, Lucie merasa percaya diri ia bisa semahir seorang makeup artis untuk rumah duka atau sirkus. Meskipun beberapa pelajaraan yang ia terima sangat tidak diperlukan, ia merelakan kepalanya kepada Trixie dan membiarkan Trixie bersenang-senang. Kegembiraan wanita itu terlalu manis untuk dihancurkan dengan kenyataan bahwa hanya seperempat dari apa yang ia pikirkan bahwa Lucie akan terlihat di siang hari. Ataupun malam.
Bagaimanapun juga, di akhir minggu ini, Lucie harus mengakui bahwa ia hampir terlihat... cantik. Ini tak masuk akal bahwa penyesuaian dari beberapa hal bisa membuat perbedaan luar biasa pada tubuh dan wajahnya. Atau, lebih tepatnya, diperlukan pelajaran kecantikan untuk merubahnya.
"Sangat cantik."
Lucie berputar membelakangi cermin tinggi di kamarnya untuk menemukan Reid bersandar pada kusen pintu, tangan menyilang di dadanya, karet elastis dari kaos polo hitam yang ia kenakan merenggang hingga batasnya di atas bisep. Motif dan sulur dari tattoo-nya terlihat seperti bagian dari kaosnya, membuat benda itu lebih terlihat seperti senjata futuristik dibandingkan dengan anyaman kapas. Jeans gelapnya membungkus pahanya yang berotot dan jatuh lurus ke pergelangan kakinya yang telanjang. Lucie menyadari seminggu ini bahwa Reid tak pernah mengenakan kaos kaki atau sepatu kecuali ia sangat memerlukannya. Dan dengan itu pula ia mendapat pelajaran betapa seksinya seorang pria dalam celana jeans dan tanpa alas kaki.
Reid membuat tampilan bad-boy terlihat tanpa cela. Rambutnya terbentuk seperti biasanya, tapi malam ini ujung rambutnya menjulur sedikit di dahinya membuat Lucie mengalihkan perhatiaannya ke mata Reid yang intens. Malam ini Reid mengenakan anting; berlian berpotongan persegi yang entah bagaimana membuatnya nampak lebih jantan, bukan sebaliknya. Saat Lucie melihat detail terakhir dan akhirnya membiarkan otaknya memeriksa secara keseluruhan penampilannya, mulut Lucie kering dan membuatnya harus menelan ludah sebelum ia bisa berbicara.
"Kau juga tampak sangat tampan," katanya. "Tapi aku masih tak mengerti mengapa kau mau datang ke acara pesta syukuran bayi Lizzie bersamaku." Lizzie adalah salah satu dari perawat terbaik di NNMC dan sebulan lagi ia akan melahirkan anak pertamanya, jadi teman-temannya membuat acara itu di salah satu steakhouse yang mewah. "Kau akan sangat bosan."
Ia menjauh dari kusen dan bergerak melewati ruangan. "Aku tak pernah bosan. Aku selalu bisa menghibur diriku. Ayolah, kita akan terlambat."
Lucie melirik ke jam di mejanya, mengkornfirmasi keterlambatan mereka. "Sial!"
Reid tertawa saat Lucie berlari ke lemari pakaiannya untuk mengambil sepatu hak tinggi dan dompet. "Tenanglah. Cinderella seharusnya memang datang telat ke pesta jadi semua orang akan menyadari kehadirannya saat ia berjalan masuk ke ruangan."
"Itulah yang selalu aku khawatirkan," kata Lucie saat ia memasukkan satu kakinya ke dalam sepatu dan menyesuaikan kakinya yang lain dan gagal melakukannya.
"Sini, biar aku saja." Reid mengambil sepatu silver itu darinya dan menurunkan tubuhnya untuk bersimpuh. Lucie berdiri sambil berpegangan pada tiang tempat tidurnya, terpesona pada tangannya saat tangan itu membantunya memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Kehangatan jemarinya saat tangan Reid memegangi pergelangan kakinya mengirimkan getaran ke kakinya dan menjalar ke sexnya sama seperti saat Reid menyentuhnya langsung.
Reid memegangi kaki Lucie dengan satu tangan saat tangan lainnya membuka, melepaskan rantai silver yang ia sembunyikan di tangannya untuk memasangkan di pergelangan kaki Lucie. Keterkejutan membuat Lucie tak dapat berkata-kata saat Lucie memperhatikan Reid memasangnya di pergelangan kakinya dan menguncinya.
Rantai itu tak berat, dan ia berpikir ia takkan merasakan rantai itu ada disana kalau saja jimat dan manik-manik tidak menghiasinya. Di bagian depan, seekor burung silver tergantung di rantai. Manik kristal berwarna biru langit tergantung setiap inci, melengkapi benda itu dengan kecantikan yang klasik.
"Ini sangat indah," kata Lucie. "Tapi kau sudah terlalu banyak memberikanku barang, Reid. Kau tak harus selalu memberikanku barang-barang."
"Aku tahu, tapi saat aku melihat benda ini aku langsung memikirkanmu."
"Benarkah Mengapa"
"Ini burung pipit." Ia melihat kebawah dan memegangi jimat burung itu. "Tidak seperti kebanyakan burung, saat burung pipit menemukan pasangan jiwanya, mereka akan tetap bersama hingga akhir hayat." Reid mengangkat kepalanya dan memandang Lucie. "Membuat mereka menjadi simbol dari menemukan cinta sejati."
Menemukan cinta sejati. Lucie sangat ingin menemukan pasangan yang sesungguhnya dan tidak berharap lebih tentang cinta. Bagaimanapun juga, itu adalah hal terindah yang pernah ia dengar, dan mengetahui bahwa Reid memikirkannya saat ia melihat benda itu, sangat menyentuh Lucie.
Reid dengan lembut menaruh kaki Lucie ke lantai dan bangkit menjulang melebihi tinggi Lucie. Lucie mencoba untuk berterima kasih tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya saat pandangannya menjelajah dari krah V terbuka kaos Reid yang menampilkan kulit kecoklatan di lehernya, ke atas rahang yang bersih sehabis bercukur dan bibirnya yang penuh, hingga pandangannya terjebak di matanya. Matanya berganti warna tergantung dari pakaian atau sekelilingnya atau bahkan pencahayaan. Sekarang matanya berwarna hijau lembut dengan goresan karamel, mengingatkannya pada gula-gula apel.
Reid Andrew benar benar sebuah enigma. Di Vegas Lucie tahu kehidupan Reid adalah seorang petarung playboy yang kaya raya, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlatih atau 'berkencan' dengan wanita yang tak ingin ia pikirkan. Tapi semenjak Reid pindah bersamanya untuk sebuah kesepakatan gila yang mereka jalani, Reid bukan apa-apa kecuali seseorang yang menarik, supportif, dan bijaksana. Seperti yang Lucie ingat tentang Reid dimasa mudanya dan saat ia jatuh cinta pada teman kakaknya itu. Jika ia pikir Reid yang dulu fantastik, kini Reid tumbuh lebih dari sekedar fantastik.
Lucie berdehem dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu. "Terima kasih, Reid. Aku menyukainya."
"Terima kasih kembali. Mari berangkat. Aku tak tahan ingin melihat rahang dokter itu terlepas dari engselnya saat ia melihat apa yang selama ini sudah ia lewatkan." Saat Lucie mengerutkan hidungnya karena ragu, Reid mengecupnya dan bilang, "Percayalah padaku," dan menggenggam tangannya untuk membawanya keluar kamar.
Tigapuluh menit kemudian mereka sampai di restaurant dan seorang pramuria membawa mereka ke ruangan yang sudah di sewa dimana pesta itu dirayakan. Lucie menaruh kadonya untuk Lizzie di meja yang dihiasi dengan indah di dekat pintu dan dengan gugup melihat ke kerumunan orang.
"Berhenti gelisah," kata Reid di telinganya. Tangannya berada di punggung Lucie untuk membantu menenangkannya, tapi tak terlalu membantu.
"Aku tak gelisah."
"Ya, kau gelisah."
Reid benar. Lucie bernafas cepat dan tidak teratur. Dia sepertinya tak bisa berhenti. Mengapa ia merasa seperti ia sedang masuk ke sarang singa Orang-orang ini sudah ia kenal lama dan sudah nyaman beberapa tahun bersama. Tapi bagaimana bila mereka tidak menyukai penampilan barunya Atau bagaimana jika mereka berpikiran buruk tentang pergantian penampilan yang ia lakukan
Lucie sulit menahan cicitan kecil dari dadanya saat Reid menariknya keluar ruangan. "Hey!"
"Shh," perintahnya saat ia menariknya ke lorong, membawanya ke pojok, dan kemudian menjepitnya antara tubuhnya yang besar dan dinding. "Ketakutanmu tak beralasan, jadi aku akan mengajarimu satu trik yang aku gunakan sebelum bertanding."
"Reid, aku pikir-"
"Jangan berpikir. Bayangkan. Sebelum aku masuk ke kandang (ring bertanding) aku membayangkan setiap pukulan, setiap tendangan, setiap bantingan. Aku mengerti lawanku dengan baik dari mempelajari pertandingan yang telah ia lakukan sebelumnya. Aku mengantisipasi bagaimana ia akan bereaksi akan seranganku jadi aku akan siap untuk situasi apapun. Itulah yang aku ingin kau lakukan sekarang."
Lucie tahu dia sudah memandang Reid seolah Reid sudah gila, karena itulah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Bagaimana trik itu bisa membantunya berbicara dengan Stephen Jika Lucie butuh mengantisipasi pukulan seorang pria itu akan menjadi masalah yang lebih besar dibandingkan dengan menginginkan sebuah kencan.
"Tutup matamu." Melihat pandangan Reid yang serius - dan semua keinginan untuk menghapuskan rasa gugupnya - Lucie mematuhinya. "Aku ingin kau membayangkan dirimu sendiri berjalan masuk ke ruangan itu, dagumu terangkat tinggi, dan rasa percaya dirimu bahkan lebih tinggi lagi. Kau tahu kau terlihat luar biasa. Gaun ini pas di tubuhmu seolah memang didesain untukmu. Heels itu membuat kakimu terlihat jenjang dan semua pria di ruangan itu akan membayangkan kedua kakimu berada di pinggang mereka."
Lucie merasakan sedikit dingin dengan AC yang menyala dari ventilasi di atas mereka, tapi saat Reid meletakkan tangannya di pinggang Lucie, semua rasa dingin menghilang karena panas dari sentuhannya. Reid bergerak mendekat ke Lucie, payudaranya menyentuh lembut dada Reid yang keras dengan setiap hembusan nafas beratnya. Mata Lucie tetap menutup, tapi getaran dari kehadiran Reid sangat jelas. Fokus bukan menjadi masalah yang ia pikirkan lagi. Lucie tersambung dengan Reid sekarang, pikiran dan tubuhnya, entah ia menginginkannya atau tidak.
"Bayangkan aku adalah dirinya. Aku tak bisa melayangkan pandanganku darimu sejak aku melihatmu. Aku berpikir bagaimana mungkin aku selama ini begitu buta tak melihat betapa anggunnya dirimu."
Tangan Reid dengan perlahan menjalar di sisi tubuh Lucie hingga jempolnya hanya beberapa milimeter jaraknya dari payudaranya. Lucie mengatakan pada dirinya sendiri seharusnya ia tak merasa kecewa saat Reid memutar tangannya ke punggungnya, memutuskan untuk menghindari bagian yang tak seharusnya. Suara Reid, rendah dan dekat dengan telinganya, terasa di kulitnya menyebabkan rambut kecil di belakang lehernya berdiri. "Aku memulai dengan obrolan kecil, berbicara mengenai pekerjaan, tapi sepanjang kau berbicara aku hanya memperhatikan bibirmu dan membayangkan seperti apa rasanya."
"Benarkah" tanya Lucie dalam desahan.
"Fuck yeah, benar." Tangan Reid yang bebas naik untuk memegang wajah Lucie dan kemudian mengelus pipi Lucie dengan hidungnya hingga Lucie menghadap ke samping. "Kau luar biasa seksi, Lucie, dan aku ingin membuka pakaianmu untuk mendapatkan hadiah di bawahnya. Aku ingin mengetahui apa yang kau sukai, yang tidak kau sukai - untuk mengetahui ketakutanmu dan mimpimu - dan aku berjanji untuk mengupas setiap lapisan cantik hingga akhirnya aku mengetahui semua hal tentang dirimu."
Jantung Lucie berdetak kencang hingga ia yakin bahwa pelayan bisa mendengarnya dari depan restaurant. Lucie ingin dimengerti seperti itu - secara fisik, emosional - sangat menginginkannya.
"Ya," kata Lucie. "Aku ingin hal itu."
"Maka ambil apa yang kau inginkan." Suara Reid terdengar parau di telinganya. Terdengar tersiksa. "Buat itu jadi kenyataan."
Lucie sangat mendalami gambaran di kepalanya, dia tak menyadari bahwa Reid sudah menjauh darinya hingga perasaan kehilangan menyapu dirinya. Membiarkan matanya terbuka ia terfokus pada Reid yang berdiri di depannya. Tangannya masuk kedalam kantong depan celananya dan ekspresi keras di wajahnya tidak sesuai dengan emosi gairah yang baru saja ia berikan pada Lucie.
"Semua yang harus kau lakukan adalah mengingat semua yang aku katakan padamu, dan berjalan masuk dari pintu itu." Sebelum Lucie bisa bertanya pada Reid apa semuanya baik-baik saja, Reid menggerakkan kepalanya ke arah ruangan pesta. "Masuk. Ini waktunya kau masuk ke ruangan, Cinderella."
Bayangan dari dirinya berjalan masuk ke ruangan dengan semua mata tertuju padanya tak lagi mengirimkan sinyal kepanikan padanya. Reid benar. Lucie mungkin tidak secantik selebriti, tapi Lucie sudah seratus persen lebih baik daripada dirinya seminggu yang lalu. Tak ada lagi alasan dia meragukan hal itu. Berjinjit, Lucie menanamkan kecupan di pipi Reid. "Terima kasih, Reid."
Satu sisi bibirnya terangkat. "Kapanpun, sweetheart."
Dengan keyakinannya yang baru ditemukan dan penampilannya yang juga baru, Lucie menarik bahunya kebelakang dan berjalan masuk ke dalam ruangan.
***
Reid menyapukan tangannya ke wajah sesaat setelah Lucie membelakangi tempat itu. Gym dan teman sparring yang kuat tak akan membuatnya tumpul seperti sekarang. Teknik visualisasi adalah sesuatu yang bisa dipakai di semua situasi jadi ia tahu bahwa teknik itu akan bekerja pada Lucie juga. Yang ia tidak ketahui adalah dampak dari teknik itu pada dirinya sendiri.
Dia bahkan tak yakin sedang jadi siapa saat mengatakan semua itu. Di satu titik dia merasa sedang keluar dari karakter. Dia tidak membayangkan Dr. Dipwad menatap bibirnya dan menciumnya. Dia membayangkan dirinya sendiri melakukannya.
"Aku butuh minum," gumamnya, berjalan masuk ke ruangan. Sesaat setelah Reid melewati pintu ia melihat Lucie. Seperti halnya Lucie kutub Utara yang selalu menjadi arah tatapan matanya. Gaun biru pucat yang simpel yang ia kenakan biasa saja namun sangat indah. Reid tetap menatap pada Lucie saat ia melangkah ke arah meja yang tersusun punch dan cocktails di atasnya. Mengambil salah satu minuman, ia memperhatikan bokong Lucie saat bergerak di bawah kain tipis di setiap langkah yang ia lakukan. Pandangannya turun ke arah lekukan kakinya yang lembut. Sialan, dia seksi.
Ia mengangkat gelas itu kemudian berhenti. Jika ia harus menebak dari minuman di pesta ini, Lizzie akan mendapatkan anak perempuan. Terlihat seperti versi gilanya Shirley Temple, merah muda terang dengan cherry yang di tusukan di peniti plastik yang terbuka menggantung di pinggir gelas.
"Pelecehan, kan"
Reid melirik ke arah kiri untuk melihat seorang pria Hispanik dengan tubuh terbentuk dengan baik berdiri di sampingnya dengan senyuman terhibur di wajahnya. Ia memegang dua botol Corona bukannya 'pelecehan' yang Reid sedang pegang.
"Bahkan tak ada alkohol di dalam minuman itu," kata pria itu.
"Sialan, ini tak dapat dimaafkan." Reid menaruh gelas itu kembali ke meja dengan tatapan jijik ke tatanan diatas meja. "Bagaimana mereka memutuskan melakukan ini"
Pria itu tertawa, dan menyodorkan birnya. "Ini adalah pesta bayi, bung. Itulah alasan yang mereka butuhkan untuk menarik semua barang-barang pria dari acara ini. Biasanya kita tak akan dibiarkan begitu saja masuk ke dalam cara seperti ini, tapi Lizzie salah satu favorit di antara semua staf rumah sakit. Semua orang suka padanya karena hal itu ini menjadi acara 'semua orang'. Aku Eric."
"Reid." Dengan rasa lega ia menerima botol itu, dia menjabat tangan Eric sebelum membuka tutupnya dan meneguk setengahnya sekaligus. "Terima kasih, bung. Kau penyelamat."
"Jangan risaukan hal itu."
Melihat melalui Eric, Reid melihat Lucie memeluk seorang gadis yang hamil dan kemudian berjalan kearah doktornya yang sedang berbicara dengan pria lain di meja seberang ruangan. Berpakaian pakaian mahal dan rambut gelapnya di gel dan disisir ke satu sisi, dia terlihat seperti bayi manja. Seseorang yang sudah memiliki banyak uang bahkan sebelum ia menjadi seorang dokter dan merasa sangat nyaman dengan kekayaan di hidupnya.
Dokter itu sedang berbicara saat ia menyadari Lucie. Saat itu benarbenar seperti di film. Ia melakukan kedipan dua kali dan matanya hampir meloncat keluar dari kepalanya saat lidahnya yang tergulung jatuh ke lantai seperti salah satu dari cuplikan di kartun lama.
Tapi Reid tak bisa menyalahkan pria itu. Lucie sedang berada di penampilannya yang langka. Di melintasi ruangan dengan tatapan intens yang sangat jelas. Seorang pemburu wanita mendekati mangsanya yang terjebak dengan sebuah senyuman tipis di ujung bibirnya. Reid hampir saja bisa mendengar Lucie berkata, Tak ada tempat untuk berlari... Aku mendapatkanmu sekarang.
Mann undur diri dari meja itu tanpa melihat pria yang tadinya sedang ia ajak bicara. Dalam dua langkah ia memperkecil jarak diantara dirinya dan Lucie. Meskipun ia bukan seorang pembaca bibir, Reid bisa menebak kemana arah pembicaraan itu.
Lucie, kau terlihat sangat cantik!
Begitu kah, terima kasih, Stephen. Kau juga terlihat sangat tampan.
Well, masih seperti biasanya. Tapi kini kau sudah kembali ke kecantikan aslimu, kau benar-benar harus menemaniku ke pesta rumah sakit.
Aku pikir kau takkan pernah menanyakan hal itu. Tentu saja aku akan pergi ke pesta itu denganmu!
Kemudian kita bisa menikah dan kau bisa menjaga anak-anak kita saat aku bekerja untuk menyelamatkan dunia.
Oh, Stephen, itu terdengar seperti mimpi yang menjadi kenyataan!
Lucie tertawa pada sesuatu yang Mann katakan dan menyentuh tangannya perlahan. Kemudian saat Lucie berbicara kepada Mann, dia menyampirkan sejumput rambutnya kebelakang telinganya dan melihatnya dari bawah bulu matanya. Sialan, dia sangat natural. Reid sudah melepaskan monster.
Reid menghabiskan sisa birnya dan mencoba dengan keras untuk tidak berjalan ke arahnya dan menariknya pulang. Seharusnya dia tidak merayu Mann, seperti halnya ia menginginkan anak darinya. Di atas kertas mungkin pria itu adalah USDA terbaik, tapi Reid tak bisa menghapuskan perasaan bahwa Mann menyembunyikan cakar yang membuatnya tak lebih baik dari Ukuran Standar.
"Aku melihatmu datang dengan Lucie. Apakah kalian berkencan" Reid melihat kearah Eric di saat seorang pelayan menaruh satu ember penuh es dan botol di meja di samping tubuhnya. Dia tersenyum dan berkata, "Tebakan."
Mereka mengambil botol lain, menggunakan pembuka botol di samping ember, dan membuang tutupnya. Sambil menggoyangkan minuman di tangannya Reid berkata, "Lucie dan aku adalah teman lama. Aku tinggal bersamanya untuk beberapa saat selagi aku di kota ini."
Eric menunjuk ke arah Lucie dengan botolnya. "Well, semua hal tentang teman itu menjelaskan mengapa kau tidak mengklaim dirinya saat ia menggoda doktor yang baik disana. Tapi itu tidak cukup untuk menjelaskan tatapan matamu yang mengatakan kau akan senang membunuhnya dengan tangan kosong."
"Aku bertarung untuk hidupku, jadi itu sudah seperti kebiasaan," jawab Reid pelan.
"Apa kau juga seorang makeover artist atau perubahan tiba-tiba dari Lucie kami terjadi karena keberadaanmu"
Reid tidak suka akan arah pembicaraan ini. Eric terlalu teliti. Dia terlihat seperti pria yang baik, dan dia berbicara seolah-olah ia tertarik pada Lucie. "Apa kau sudah lama mengenal Lucie"
Eric melihat kearah Lucie yang masih berbicara dengan Mann. "Aku mengenalnya sejak bangku kuliah." Dia mengalihkan tatapannya kembali pada Reid. "Dia sudah seperti adik perempuanku."
Reid menganggukkan kepalanya dalam pengertian. "Pesan diterima, bung. Aku sahabat baik kakak laki-lakinya."
Senyuman puas mekar di wajah pria itu dan ia mengangkat birnya untuk menyenggolkannya ke botol Reid. "Senang mendengarnya."
Meminum beberapa teguk bir, Reid berpikir apakah ia bisa mencari tahu apa yang terjadi di beberapa tahun belakangan saat ia tidak ada. Seseorang yang membuat Lucie menjadi seperti sekarang. "Apakah kau ada saat Lucie menikah"
"Yeah," Eric menggertak. "Aku ada."
"Siapa pria itu Apa yang terjadi"
"Lucie bertemu dengannya saat mereka bertabrakan di luar kampus. Dia sedang berjalan keluar kelasnya, dan pria itu sedang terlibat dalam rapat damai yang membahas tentang masalah yang dialami kelompoknya satu minggu belakangan."
Reid tahu dengan jelas tipe yang Eric deskripsikan. Ada beberapa kelompok seperti itu yang secara konstan menentang MMA. Mereka memanggil diri mereka sendiri aktivis manusia. Dia memanggil mereka orang-orang brengsek yang tidak berpendidikan. Reid mencoba membayangkan Lucie dengan pria seperti itu dan gagal. Kemudian, dia tak bisa membayangkan Lucie dengan pria seperti Mann, tapi yang jelas Lucie melihat sesuatu yang ia tak bisa lihat. "Okay, jadi pria itu aktivis, Lucie adalah mahasiswi, mereka bertemu. Kemudian apa yang terjadi"
"Hubungan mereka seperti angin puyuh. Satu hari mereka bertemu untuk makan siang dan hal selanjutnya yang kami tahu mereka mengumumkan pertunangan mereka dan terbang ke Vegas. Semuanya berjalan dengan sangat cepat sehingga membuat kepala kami pusing."
"Apakah itu alasan mengapa kau tidak menyukainya"
"Tidak," erang Eric. "Aku membencinya karena apa yang sudah ia lakukan pada Lucie. Lucie sangat terbutakan oleh gairahnya menyelamatkan dunia dan mimpi idealistiknya sehingga Lucie tak bisa melihat keburukan pria itu. Pria itu tak bisa memesan hanya satu makanan utama di sebuah restauran sama seperti halnya tidak bisa bertahan pada satu wanita. Pria itu tak lebih dari sekedar bajingan egois yang suka perhatian."
Reid tak bisa melihat kemana arah pembicaraan ini dan tangannya mengepal dengan gairah yang familiar untuk memukul wajah seseorang. "Katakan padaku apa yang ia lakukan," kata Reid dengan rahang yang mengatup.
Eric menegang dan melirik Lucie. Rasa sayangnya pada Lucie jelas dalam mata coklatnya saat ia berbicara. "Bajingan itu berselingkuh dengan gadis hippie beberapa bulan setelah pernikahan. Aku berani bertaruh gajiku setahun bahwa hal itu terjadi bukan hanya sekali - atau dengan seseorang saja. Kemudian, Lucie memergokinya berselingkuh. Di ranjang mereka."
Reid mengumpat dan harus menurunkan birnya sebelum kepalan tangannya menghancurkan botol itu. Pria macam apa yang melakukan hal itu kepada wanita yang manis dan lugu Atau kepada wanita manapun. Akhirnya semua menjadi jelas mengapa Lucie sangat ingin menemukan seseorang yang cocok dengannya. Mantannya adalah seseorang yang sangat berbeda darinya dan hubungan mereka tak lebih dari sekedar lelucon. Sekarang ia perlu menemukan hubungan yang berbeda, yang mana memerlukan orang yang sangat mirip dengannya. Seseorang, seperti pria yang sedang berbisik di telinganya saat ia tertawa. Dr. Stephen Mann, MD. "Tenang, amigo. Taringmu terlihat jelas."
Reid menatap Eric garang. "Apa yang kau bicarakan"
"Kau terlihat seperti kucing hutan yang siap untuk menanamkan gigimu ke leher seseorang."
Reid mempelajari pria itu, berpikir mengapa dia malah tersenyum seperti seorang idiot. "Benarkah"
"Benar. Dan meskipun aku akan senang mendengar alasannya darimu, aku harus puas dengan pikiranku sendiri."
"Mengapa"
Eric menganggukkan kepalanya ke satu sisi. "Karena Lucie sedang berjalan ke arah sini." Reid mengikuti arah pandangnya untuk melihat Lucie berjalan melintasi ruangan dengan senyum terlebar yang pernah Reid lihat terjadi padanya. "Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu, Reid. Sampai jumpa lagi."
"Kau juga, bung. Terima kasih atas birnya."
Sedetik kemudian Reid lupa semua penyataan Eric saat ia fokus pada Lucie. Reid merasa terbagi dua, antara ingin tahu semua detail tentang Mann dan ingin berpura-pura semua itu tak pernah terjadi. Tapi ia akan menjadi teman yang menyebalkan jika ia melakukannya, jadi ia menahannya dan melakukan hal yang benar. "Jadi apa yang terjadi Sepertinya kau mengait dirinya cukup dalam dari yang kulihat."
Lucie menyatukan tangannya di hadapannya, terlihat mencoba untuk tidak meledak. "Semua terjadi seperti yang kau katakan, Reid. Dia memperhatikanku, mengatakan aku terlihat cantik. Apa di sini panas" Lucie mulai mengipasi dirinya sendiri jadi Reid menyerahkan satu gelas minuman menggelikan itu. "Mm, terima kasih, aku sangat haus."
Setetes air kondensasi dari gelas jatuh di lehernya saat ia menenggak minuman itu. Reid harus mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya jadi ia tak mencoba menghapuskan tetesan itu dari leher Lucie.
"Omong-omong," lanjutnya, menaruh gelas kosong di nampan seorang pelayan yang lewat, "kami berbicara sebentar dan kemudian ia mengajakku berkencan. Bisakah kau percaya hal itu"
Reid memasang senyuman kaku di wajahnya dan berharap terlihat tulus. Reid memiliki keinginan gila untuk berjalan kesana dan memukuli pria itu di lantai. Mengapa Mann tidak menyadari keberadaan Lucie sebelum makeover Saat rambutnya acak-acakan dan dia mengenakan kacamatanya bukan contact lens dan pakaiannya tidak ketat di tubuh kecilnya. Mengapa semua hal itu membuatnya tidak terlihat di depan dokter itu beberapa tahun mereka besama
Saat Reid melihat Lucie pertama kali di kantornya, dia suka memperhatikannya mencoba merapikan rambutnya kembali ke tempatnya, hanya untuk membiarkan rambut itu terjatuh tepat setelah Lucie merapikannya. Reid pikir Lucie terlihat seksi dengan kacamatanya - semua hal tentang pustakawan nakal yang ia sukai - dan Lucie sangat lucu saat dia tidak sengaja mendengus karena tertawa terlalu keras atau menemukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Mann hanya seorang bajingan sombong yang tidak pantas mendapatkan Lucie, itu kesimpulannya. Tapi, Reid juga tidak pantas mendapatkan seseorang seperti dia. Reid tak bisa memberikan apa yang Lucie inginkan. Dia tidak bergaya hidup seperti yang Luci cari. Saat ia harus bertarung di kota lain, negara lain, dia lebih
pengembara dibanding orang lain. Dan meskipun itu bukan masalah, Reid masih tetap tak bisa bersamanya. Tidak seperti ini. Seorang pecundang. Seseorang yang kalah. Tidak, dia membutuhkan gelarnya dan status juaranya kembali jika ia ingin dianggap pantas
lagi. Tak ada yang menyukai pecundang. Ayahnya yang memberitahunya hal itu. Berulang kali.
"Reid Apa kau mendengar apa yang aku katakan"
Berkedip beberapa kali ia kembali melihat Lucie dengan fokus. "Yeah, aku mendengarmu. Tapi aku tidak terkejut. Aku kan sudah bilang pria itu akan tergila-gila padamu."
Lucie memekik kecil. "Aku benar-benar ingin memelukmu sekarang, tapi kau tahu, dia mungkin mempehatikan dan aku tidak ingin dia salah paham."
"Tidak," jawab Reid masam. "Kita tidak ingin hal itu terjadi."
Pelatihnya, Butch, selalu mencoba memberitahu Reid untuk menahan diri dalam pertandingan. "Harus tahu kapan menahan diri," katanya. Poinnya adalah untuk tetap tenang, jaga pikiranmu, dan biarkan lawan membuat serangan pertama jadi kau bisa bertahan dari serangan itu, dan kemudian balas dengan sesuatu yang lebih kuat. Reid tidak pernah cocok dengan ide menahan diri. Dia lebih nyaman di posisi sebagai penyerang.
Dia selalu membenci pelajaran menahan diri. Tapi saat malam bergulir dan dia dipaksa untuk melihat Mann mengelilingi Lucie seperti hiu, Reid harus mengingat pelajaran itu. Dengan menggunakan teknik mental Butch, dia memutuskan untuk menjaga jarak, yang berarti membiarkan Mann menampakkan giginya. Setidaknya untuk beberapa saat.